Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Friday, August 1, 2008

Tentang Cinta

Saat ini, hidupku seperti dalam mimpi, karena berbeda dengan dunia nyata yang selama ini kulalui. Tapi bisa juga, aku hidup di dunia nyata dan baru saja keluar dari alam mimpi. Hasrat-hasrat yang selama ini hanya bisa hadir dalam mimpi, kini menjelma dalam dunia nyata.

Aku hidup dalam dunia nyata tapi berbeda dengan sebelumnya, karena ada beberapa mimpi yang menjelma nyata. Tentu saja, aku saat ini tidak bermimpi tapi memimpikan. Namun jika ditanyakan esok, aku tidak tahu, apakah kenyataan saat ini akan tetap menjadi kenyataan esok hari, atau aku sedang terseret menuju alam impian yang merupakan ‘mimpi masa depan’. Saat ini, ia hadir di dunia nyata setelah sebelumnya berasal dari alam mimpi. Dan bagiku, menyanyangimu adalah mimpi sekaligus impian. Mimpi kemaren, dan impian mendatang.

Idealnya, mimpi menjadi nyata, baik saat ini, ataupun nanti dalam impian. Mimpiku selama ini adalah Cinta sedangkan impiannya adalah Kita. Saat ini yang nyata adalah Cinta namun belum membentuk Kita. Cinta adalah gagasan yang berasal dari mimpi, sedangkan Kita adalah bentuk impian dan harapan mendatang. Cinta telah mempertemukan ‘aku’ dan ‘Kamu’. Cinta ibarat simpul, menautkan dua utas tali. Seperti bejana dia akan mengumpulkan dua jiwa. Ibarat delta, ia adalah muara dari dua alur sungai perasaan. Dan Kita adalah sepasang dari dua raga, dan sekeping dari dua wajah.

Kita selalu memimpikan menjadi pasangan yang ideal. Saling memberi dan menerima, laksana langit dan bumi, seperti sebait yang diliris oleh Mawlana Jalaluddin Rumi dalam puisinya,Menurut akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita, apa saja yang diberikan oleh satunya, yang lainnya menerima.

Puisi di atas menggambarkan sebuah siklus kehidupan. Langit menurunkan hujan, bumi menerimanya untuk menyuburkan tanah, dari rahimnya tumbuh beraneka ragam tanaman, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk. Pada saat lain, air hujan yang melimpah-ruah, ditampung, diuapkan dan kembali menuju langit, menjadi gumpalan-gumpalan awan, berubah mendung, dan menurunkan hujan. Demikian seterusnya.

Pasangan bak ruh dan jasad, tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Jalaluddin Rumi melanjutkan puisinya, Ruh tidak bisa berfungsi tanpa badan, dan tanpa ruh, badan layu dan dingin badanmu tampak dan ruhmu tersembunyi keduanya inilah yang mengatur urusan dunia.

Dalam mimpi masyarakat Yunani klasik, cinta diklasifikasikan menjadi tiga. Yaitu, cinta Eros, Philos dan Agape. Tiga perasaan kasih sayang ini sering dikutip orang-orang yang berbicara tentang cinta. Mari kita bahas untuk mengingatnya lagi.

Cinta Eros adalah cinta sensual, cinta ini bersumber dari keinginan untuk memiliki, dorongan menuntut, mendesak, mengambil, bukan memberi. Cinta ini murupakan perwujudan dari ego seseorang yang ingin menunjukkah eksistensinya.

Menaklukkan dan memperbudak adalah tujuan dari cinta ini. Orang Yunani kuno melambangkan cinta ini dengan Cupid yang melepaskan anak panah beracun ke jantung manusia. Iqbal melukiskan cinta ini dengan kata-katanya, cinta adalah anak kecil yang bermain membentuk individualitas kita kemudia berkata lirih lepaskan!

Cinta Philos adalah cinta yang tumbuh dari persahabatan dan kebersamaan yang mendalam, orang jawa menuturkan witing tresna jalaran soko kulina (cinta bersemi, karena kebiasaan). Ia bergerak, mendesak jauh masuk ke dalam. Ia tidak hanya menuntut, tapi, berusaha membagi, berempati, memahami dan menaklukkan ego masing-masing. Keindahan bukan pada dataran material, tapi imaterial, yang menarik "kita" bukan bersumber dari hubungan individu tapi hubungan sosial, bukan senyuman, namun keakraban, bukan pemberian namun kebersamaan, tidak hanya sekedar simpati namun berempati.

Perbedaan bukan untuk dihilangkan namun dibentuk menjadi ritme-ritme musik kehidupan. Bukankah lagu yang indah berasal dari perbedaan tujuh tangga nada, do, re, mi, fa, so, la, dan si... Perbedaan untuk dipahami, dan dipertemukan. Jarak di sini dilambangkan dengan ruang dan waktu, tempat dan zaman yang memisahkan jasad-jasad. Namun, jarak terpenting yang harus diruntuhkan adalah jarak ruh, yang bersumber dari ego masing-masing pasangan. Pertemuan di sini adalah titik akhir dari proses pengertian dan pemahaman terhadap orang lain, dan diri sendiri, sehingga bisa memahami orang lain dan mampu meruntuhkan ego.

Cinta Agape adalah cinta yang paling tertinggi. Cinta ini ditandai dengan perhatian aktif pada orang yang kita cintai, keinginan untuk diterima di sisinya. Ada kedambaan yang membara untuk memberikan segalanya pada sang kekasih tanpa syarat dan pamrih. Agape adalah cinta spiritual yang jauh menyelam dari dataran badani ke dalam nurani. Jalaludin Rumi mengatakan mencari hati dan meninggalkan tulang. Cinta Agape adalah muara jiwa dari dua jenis cinta di atas, "semangat"nya mewakili cinta Eros dan "empati"nya mewakili cinta Philos. Namun kelebihannya, Agape berusa mencari dimensi-dimensi (sudut-sudut) yang belum diungkap oleh cinta Eros dan Philos. Cinta inilah yang akan memberikan
keabadian.

Tiga cinta ini bisa dilihat sebagai sebuah proses. Dari cinta Eros, mendaki menuju Philos: dan Agape sebagai puncak. Namun bisa juga dipahami sebagai satu-kesatuan karakter manusiawi yang harus ada dalam jiwa masing-masing pasangan. Kalau dalam bahasa Al-Quran—Surat al-Rum ayat 31—disebut istilah mawaddah dan rahmah. Mawaddah identik dengan cinta kasih (birahi?). Cinta ini menautkan perasaan antara laki-laki dan perempuan, dan bersumber dari masing-masing ego pasangan untuk memiliki dan dimiliki.

Sedangkan rahmah (kasih sayang) adalah perasaan sayang, yang bersumber dari empati. Cinta model ini melahirkan perasaan untuk mengayomi, melindungi, dan menyantuni. Seperti perasaan kasih sayang orang tua pada anak, kakak pada adik, saudara terhadap saudara yang lain, dan lain sebagainya.

Kedua dari perasaan ini mutlak diperlukan dalam pasangan yang mendambakan ketentraman. Ego dan empati sama-sama penting, dengan ego kita mempunyai kekuatan untuk saling memiliki, dengan empati kita mempunyai kekuatan untuk bersama, saling mengisi, dan menerima.

Akhirnya, semoga Tuhan menyemai cinta kasih-Nya dalam ego dan empati yang terhampar di hati Kita. (dun2!)

Tuesday, July 22, 2008

Wawancaraku dengan Ayu Utami

Setelah sempat off selama hampir 7 tahun, Ayu Utami kembali mengeluarkan novel terbaruya Bilangan Fu. Tentu saja pembaca jangan berharap novel ini akan semanis novel pertamanya, Saman. Dalam novel ini, kita akan melihat kematangan Ayu Utami menulis, bercerita, dan bagaimana dia menafsirkan cerita rakyat serta mengelola begitu banyak berita “ganjil” yang terjadi dalam masyarakat kita. Ayu berhasil merumuskannya menjadi manifesto sikap keagamaan yang ia tawarkan untuk kondisi sekarang: spiritualisme kritis.

Untuk acara peluncuran novel Bilangan Fu yang diluncurkan Minggu malam di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta, aku mewawancarai Ayu Utami seputar proses kreatif penulisan dan latar novel ini dicipta. Berikut petikannya:

Mbak Ayu, dibanding dengan novel-novel sebelumnya, saya melihat tema yang diangkat dalam novel ini cukup berat yaitu ingin mengritik 3 M: modernisme, monotheisme dan militerisme. Kenapa? Bisakah diceritakan proses awal kenapa mengambil tema ini? Bagaimana proses penulisannya?

Tentang 3M itu saya rumuskan sambil mendaki gunung Gede, olah raga rutin saya. Biasanya, sambil berjalan saya merenung-renung. Lalu, muncullah ide itu setelah pikiran saya berputar-putar sampai tak begitu bisa saya sadari lagi. Barangkali jalarannya begini. Pada masa Orde Baru, sebagai aktivis kemerdekaan pers, kami tahu bahwa musuh utama demokrasi adalah militerisme. Itu "M" yang pertama.

Nah, sekarang? Setelah Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, kita menghadapi ancaman baru. Yaitu, ancaman yang berasal dari ketidakbebasan pikiran. Keengganan bahkan ketakutan terhadap kebebasan pikiran. Ini rupa-rupanya berasal dari beberapa hal. Dalam kasus Indonesia: satu, ketakutan. Ketakutan pada apa? Ketakutan bahwa kemerdekaan akan menghilangkan identitas kita sebagai "bangsa timur", "bangsa beragama", atau apapun yang kita percaya sebagai identitas kita. Sedihnya, ketakutan ini ternyata dipelihara melalui-atau menggunakan-agama. Ditambah dengan meningkatnya kekerasan atas nama agama sepuluh tahun belakangan ini. Kebetulan Indonesia mayoritas muslim. Maka, itulah "M" yang kedua: monoteisme. Saya percaya bahwa Islam maupun Kristen, yakni agama-agama monoteis, memiliki persoalan mendasar dalam kapasitas menerima perbedaan. Ini harus diakui secara jujur tanpa takut. Dua, ketidakbebasan pikiran ini datang dari kemanjaan yang dipelihara oleh kapitalisme. Kapitalisme tak bisa dilepaskan dari modernitas. Itulah "M" yang ketiga. Modernitas.

Jadilah 3M yang saya sebut sebagai ancaman terhadap dunia postmodern: Militerisme, Monoteisme, Modernisme. Hahaha. Ini autokritik sesungguhnya. Sebab, saya punya idealisasi tertentu pada militer. Saya penyuka pria dengan military-look. Tegap. Cepak. Hehe. Saya juga menikmati buah kapitalisme. Saya juga lahir dari tradisi monoteis.


Saya ingin tanya lebih detail lagi. Apa sih yang anda maksud dengan modernisme itu?

Sebetulnya terminologi yang tepat adalah modernitas. Atau pemikiran modern. Bilangan Fu juga bercerita tentang persoalan lingkungan. Rusaknya lingkungan karena eksploitasi dari manusia modern yang kelewat batas. Dalam skala besar: pemanasan global. Tapi, novel kan harus mengambil skala yang lebih kecil dan terfokus. Maka saya bercerita tentang eksploitasi penambangan gunung gamping di pantai selatan Jawa.

Apa alasan ekspolitasi? Ekonomi! Alasan ekonomi semata. Nah, inilah alasan yang sangat khas datang bersama modernitas dan konconya, kapitalisme. Manusia memandang dunia dari sudut kepentingan ekonomi belaka. Dari sudut kepentingan dirinya belaka. Manusia modern tak punya rasa hormat pada alam.

Sederhananya begini. Dulu, ketika masih hidup dengan "takhayul" tentang roh-roh penunggu bumi, manusia bersikap hormat pada alam. Masyarakat adat biasanya tidak berburu atau menebang pohon kelewat batas. Mereka permisi sebelum masuk hutan. Nah, manusia modern-yang telah berpikir rasional dan tak lagi takut pada takhayul-kehilangan rasa hormat itu. Jika dulu manusia tradisional melihat alam sebagai subyek, kini alam semata-mata obyek. Dulu bumi harus disajeni, kini bumi hanya untuk dieksploitasi. Manusia modern telah demikian sombong.

Kritik saya yang terutama adalah bahwa pemikiran modern yang terlalu mengagungkan rasio atau akal telah terlampau jauh meremehkan nilai-nilai tradisi, yang sesungguhnya sangat positif terhadap alam, dan juga telah merendahkan bumi. Ah, kita juga tahu, dalam perdebatan filsafat, bahwa rasio itu tak lepas dari kepentingan. Tak lepas dari libido, kata Freud. Tak lepas dari kekuasaan. Akal sehat itu tidak sehat-sehat amat. Kerusakan bumi menunjukkan bahwa rasio telah menjadi alat dari kehendak berkuasa saja.

Nah, dari penjelasan anda tadi, apa sebenarnya yang ingin anda tawarkan dalam mengritik modernisme ini?

Tawaran saya: spiritualisme kritis! Manusia tak hanya punya kepentingan jahat. Manusia juga punya kepentingan baik. Sama seperti manusia tak hanya punya nafsu rendah, tapi juga nafsu luhur. Kita switch, kita alihkan saja. Jadikan akal instrumental itu alat dari kehendak baik. Apa yang mendesak sekarang? Menyelamatkan bumi! Bukan menyelamati akhirat! Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan kritis. Inilah yang patut disyukuri tiada habis dari modernitas, buah rasio. Ini yang saya kira harus kita genjot. Kita kritik diri kita. Kita kritik nafsu-nafsu berkuasa kita. Karena itu, saya menawarkan "spiritualisme kritis."

Kita tahu, ketika rasionalitas berkembang, mereka mencurigai habis-habisan agama. Tuhan sudah mati, kata Nietzsche. Tapi, kesalahan kaum sekularis-dengan menampik agama-adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Karena itu, kita butuh merebut kembali agama. Dan menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka. Kita harus lebih belajar dari agama-agama bumi. Yaitu, sekali lagi, untuk menyelamatkan dunia lebih daripada mendahulukan akhirat.

Anda juga mengritik monotheisme. Apa yang salah dengan konsep ini?

Menurut saya, ada yang salah dengan slogan monoteis ini: kami mencari akhirat, bukan dunia. Dalam Bilangan Fu, saya khususnya menyoroti secara prihatin kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Monoteisme-entah Kristen entah Islam-merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama-agama lokal ini memiliki penghormatan yang luar biasa pada alam. Dikotomi monoteis atas dunia dan akhirat harus dikaji ulang.

Salah satu contoh yang pantas membuat kita prihatin adalah, dua tahun lalu, segerombol pemuda dengan atribut Pemuda Persatuan Islam (Persis) di Jakarta memangkasi sebuah beringin tua di Harmoni. Alasannya karena pohon itu dianggap keramat, bahkan jalur busway pun tak boleh merobohkannya. Pemerintah kota juga mempertahankan pohon itu karena nilainya bagi lingkungan.

Ada sebuah cerpen yang sangat puitis dari Marguerite Yourcenar tentang seorang rahib Kristen Ortodoks yang menghanguskan hutan demi mengusir jin dan peri. Pada akhirnya jin dan peri itu bersembunyi di gua pada sebuah bukit cadas. Untuk memenjarakan mereka, sang rahib mendirikan gereja menutup mulut gua itu. Tapi, Perawan Maria membebaskan peri dan jin itu dari balik jubahnya sebagai burung-burung layang-layang. Buat saya: agama tak berhasil membebaskan manusia. Manusia memanjakan nafsu berkuasanya dengan agama, tapi yang suci memberikan kasihnya.


Mbak Ayu, setting dan tokoh dalam novel ini tentang pemanjat tebing. Kenapa anda mengambil setting dan tokoh tentang itu? Kenapa si akunya bukan perempuan?

Saya belum siap bercerita tentang diri saya sendiri. Hahaha… Saya masih ingin menyembunyikan pribadi saya. Hehehe…. Saya kira penulis justru leluasa untuk menjadi bukan dirinya.

Sesungguhnya awal cerita ini sangat pribadi dan sederhana. Yaitu, kisah masa lalu kekasih saya, Erik Prasetya. Ia memiliki sebuah periode sangat bahagia di masa mudanya, ketika ia menjadi pemanjat tebing, memiliki sahabat, sesama pemanjat, yang ia sayangi, serta kekasih yang ia cintai. Mereka membangun persahabatan yang istimewa antar tiga manusia. Sahabat itu mati dalam kecelakaan di tebing. Setelah itu, hubungan dia dan kekasihnya tak bisa sama lagi. Saya terkesan dengan hubungan yang puitis itu dan tragedi yang mengakhirinya. Betapa rentan manusia.

Tapi, sisa cerita dan pergulatan pemikirannya adalah bagian saya sendiri. Saya menulisnya di masa setelah reformasi. Keprihatinan saya adalah gangguan atas kedamaian dan hak sipil dari gerombolan yang memakai nama agama. Jadi, keprihatinan saya adalah ini: reformasi memberi kita kemerdekaan, tapi masyarakat tidak siap dengan kemerdekaan itu. Dan agama dipakai untuk menolak kemerdekaan.

Saya punya kesan novel Bilangan Fu dibanding novel Saman, sepertinya hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas karena soal tema yang diangkatnya cukup berat, orisinil, dan gaya bahasanya juga lebih berat dan penuh data, tidak secair seperti novel Saman. Apakah anda sengaja memilih seperti ini?

Saya kok tidak begitu sepakat. Struktur ceritanya sebetulnya sangat padat dan sederhana. Lebih sederhana daripada Saman ataupun Larung. Yaitu, tentang cinta segitiga yang istimewa. Tentang usaha menyelamatkan kawasan karst atau gamping. Memang Saman lebih manis. Karena si "aku" penceritanya adalah perempuan lugu yang sedang jatuh cinta dan melankoli. Larung lebih gelap karena karakter yang memiliki sejenis kegilaan. Bilangan Fu diceritakan oleh karakter yang sinis dan skeptis: Yuda. Memang ia punya cara pandang yang khas dan suka mengomentari banyak hal. Tapi, Yuda yang membuat struktur cerita yang sederhana menjadi tidak biasa. Yuda yang membuat hal sehari-hari jadi nampak aneh.

Mbak, kenapa sih judul novelnya Bilangan Fu? Banyak yang bertanya soal judul ini. Terus, apa sih Bilangan Fu itu?

Semula saya ingin menamainya Jalur 13. Semula ceritanya adalah jalur pemanjatan maut berangka 13. Angka yang dianggap sial. Lucunya, angka 13-yang dianggap sial di Barat ini-jika diurai dan dijumlah sebagai 1+3 hasilnya adalah 4. Yaitu Tsi, angka sial di Cina. Hehehe.

Saya semula memang ingin bermain-main dengan sebuah bilangan yang dianggap angker. Tradisi membuat saya berputar-putar pada bilangan 13. Ternyata akhirnya saya berakhir dengan sebuah bilangan yang memiliki properti 0 dan 1 sekaligus. Bilangan ketiga belas dalam sistem bilangan berbasis 12, bukan berbasis 10. Ada banyak hal menarik mengenai perbedaan bilangan berbasis 12 dan 10 ini. Semenarik fakta bahwa jari
kita sepuluh dan fakta bahwa bumi mengelilingi matahari dalam 12 bulan!

Apapun, bilangan fu adalah bilangan yang metaforis, bukan matematis. Spiritual, bukan rasional. Ia merupakan kritik bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme terlalu matematis. Ketika monoteisme dirumuskan, orang belum mengenal bilangan 0. Konsekuensinya, 1 yang dimaksud bisa sama dengan konsep mengenai 0, yaitu yang penuh sekaligus kosong, tidak terbatas, tidak rasional.

Kenapa "Fu"?

Semula karena ada alat musik tiup yang bernama Fu. Tapi, perhatikan, bunyi "fu", juga "hu", dan bunyi bersuara bilabial adalah bunyi dasar. Bilabial adalah bunyi konsonan yang dibuat dari aliran udara menggetarkan dua bibir. Kalau kita bernafas keras, kita mengeluarkan bunyi yang mirip ini. Buat saya, itu bunyi nafas. Bunyi kehidupan. Ya.
Bunyi hidup tapi bukan bunyi nafsu.

Berbeda dari "ma", seperti dalam "mama" atau "makan"; "pa", seperti dalam "papa" atau "pangan"; "da" seperti dalam "dada". "Ma", "pa", dan "da" adalah bunyi libido. Saya
tulis di Bilangan Fu, "ma" dan "pa" adalah bunyi perut, yang mencintai rasa kenyang. "Fu", atau variasinya "hu", dalah bunyi hidung, yang dari sana manusia bernafas. Fu adalah bunyi ruh.

Dalam novel ini juga banyak tersaji tentang cerita rakyat dan pewayangan. Apakah anda punya tendensi ingin menafsir ulang cerita-cerita tersebut?

Ya. Bagi saya cerita rakyat dan pewayangan, seperti juga kitab suci, terlalu kerap ditafsirkan dengan penyederhanaan berlebihan. Saya ingin menyumbang dalam tafsir yang seharusnya lebih kompleks.

Misalnya, saya ingat, ada seorang guru SD yang protes terhadap cerita rakyat. Menurut dia cerita rakyat itu bukan cerita anak-anak. Contohnya cerita Sangkuriang, yang bercerita tentang hubungan seks. Lha! Memang, cerita rakyat bukan cerita anak-anak. Tapi, bukan berarti tidak boleh diperkenalkan kepada anak-anak juga. Keistimewaan legenda adalah karena ia bisa disampaikan sebagai cerita segala umur, termasuk anak-anak.

Tetapi, di lapisan berikutnya ia mengandung bahan dan data yang lebih kompleks. Kita harus memelihara kekayaan itu. Lagi pula, setelah berumur, saya tahu dan percaya tak ada yang sungguh-sungguh baru di dunia ini. Jadi, kenapa tidak menggarap tema-tema klasik?

Berapa lama anda menyelesaikan novel ini?

Empat tahun penuh kegagalan. Setelah itu, sembilan bulan menuliskannya dalam bentuk yang sekarang ini dengan sangat lancar. Dalam empat tahun sebelumnya, sejak akhir 2003, saya mencoba menulis dan terus merasa gagal. Saya berlatih panjat tebing, penelusuran gua, dan pelbagai lain. Begitu banyak waktu, tenaga, dan uang yang saya habiskan, sesungguhnya.

Tapi saya puas. Saya merasa seperti pemanjat bersih. Yaitu, yang tidak memaksakan ide pada cerita. Seperti tidak memaksakan bor dan paku pada gunung batu. Saya merasa memanjat dengan jalur yang disediakan alam dan dengan peralatan yang tidak merusak tebing.

Mbak, apa saja hambatan dan tantangan yang dialami ketika menulis novel ini?

Tantangannya, saya tidak ingin mengulangi Saman dan Larung. Saman dan Larung ditulis di masa Suharto yang otoriter. Karena itu, saya ingin membebaskan diri dari linearitas bercerita. Dalam keduanya, saya ingin bercerita yang tidak lurus tidak padat, melainkan longgar. Bilangan Fu tidak. Saya ingin kembali kepada cerita yang sederhana. Apalagi di masa yang khaos dan ribut ini, saya ingin kembali kepada plot yang lurus. Ternyata tidak mudah memberi makna baru pada kesederhanaan.


Pertanyaan terakhir mbak. Adakah perasaan "terbebani" karena khawatir novel ini tidak sebagus atau tidak sesukses novel Saman?

Tidak. Sukses itu selalu separuh nasib. Nasib tidak bisa dipaksakan. Saman sukses karena dia yang pertama di zamannya. Dia pemberontakan. Dia menghantar pada masa perubahan. Dia diluncurkan sepuluh hari sebelum Suharto jatuh! Dia membawa gosip pula.

Selain itu, saya yakin bahwa Bilangan Fu lebih bagus daripada Saman. Paling tidak, saya lebih puas terhadap Bilangan Fu dibanding Saman. Secara struktur dia lebih kompak, lebih padat. Secara isi dia lebih berbobot. Saya juga senang bisa melibatkan gambar dari banyak khasanah, bisa memasukkan berita-berita koran yang absurd.

Memang, sekali lagi Bilangan Fu tidak manis dan lembut seperti Saman. Tapi, itulah hidup. Seperti anggur atau keju. Saya bertambah umur. Saya tidak bisa terus-menerus lembut seperti keju muda. Saya tak bisa terus-menerus manis atau jualan manis.

Friday, July 18, 2008

Irshad Manji dan Muslim Refusenik

April lalu, Irshad Manji berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya ini dalam rangka penerbitan bukunya dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Buku yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith ini sudah diterjemahkan dalam 30an bahasa di dunia. Karyanya ini mengguncang jagad pemikiran keislaman dan dianggap mengancam para otoritas keislaman karena gayanya yang blak-blakan tentang persoalan-persoalan Islam.

Hal ini diakui oleh Dr. Khaleel Mohammed, seorang Imam yang belajar Ilmu Syari’ah di Muhamad bin Saud University Riyadh dan sekarang menjadi Professor Islam di San Diego State University. Dia mengatakan dalam pengantar buku Irshad Manji: The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith bahwa semestinya dia membenci Irshad Manji. Karena Manji telah mengancam posisi dia sebagai Imam lewat pemikiran-pemikiran yang kritis tentang Islam. Bila umat Islam menerima pemikiran Manji maka peran dia sebagai Imam yang mempunyai peran penting dalam menggawangi dan merumuskan ajaran Islam, akan selesai dan tidak berguna lagi. Selain itu, kata Mohammed, Manji juga mengancam posisinya sebagai laki-laki karena Manji terang-terangan mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian, yang menurutnya, status itu jelas-jelas dilaknat Allah.

Namun Mohammed buru-buru menyadari kalau ia tak sepatutnya membenci Manji. Lewat proses kegelisahan yang cukup panjang akhirnya Mohammed mengakui kalau apa yang dilakukan Manji selama ini lewat gebrakan pemikirannya yang selalu mengajak umat Islam untuk bersikap terbuka, toleransi, mengkritik kalangan Islam radikal, dan menentang penindasan, termasuk penindasan-penindasan yang dirasionalisasikan oleh para imam, sheikh, mullah, professor dan siapapun dengan berani berijtihad, adalah benar adanya.

Meski Mohammed menegaskan bahwa dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran Manji, namun karena ajaran Islam itu sangat menghargai kebebasan berpikir maka usaha dan pemikiran Manji harus dipahami sebagai salah satu bentuk ijtihad dirinya yang meski dipuji dan dihargai. Apalagi tindakan Manji selama ini karena didasarkan pada ayat Alquran yang mengatakan: ” Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu..."(Quran, 4:135)

Pada dasarnya Manji bukanlah berlatar belakang studi Islam. Tetapi ia mempunyai riwayat hidup yang menarik dalam keluarganya yang mempengaruhi pemikiran dan pilihan hidupnya. Sebagai seorang lesbian, ia tidak merasa ”berdosa” atas pilihan orientasi seksualnya meski ia tahu bahwa agamanya tidak memberi tempat pada pilihannya itu. Pertanyaannya: jika Tuhan yang Maha Tahu dan Maha berkuasa tidak ingin menjadikan aku seorang lesbian, kenapa Tuhan tidak menciptakan orang lain untuk menggantikan posisiku? Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMaha Kuasaanya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?

Manji menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas British Columbia dalam bidang Sejarah Ide. Di tahun 1990, dia mendapatkan penghargaan Governor General's Silver Medal untuk lulusan bidang kemanusiaan. Kemudian bekerja di Parlemen Kanada menjadi asisten legislatif, sekretaris media di Pemerintah Ontario dan menjadi penulis naskah pidato untuk pemimpin New Democratic Party. Di usia 24 tahun, ia menjadi editor nasional untuk Ottawa Cittizen, dan menjadi anggota termuda sebagai editor di Canadian daily. Ia juga menjadi host dan produser untuk beberapa acara televisi dan memenangkan Gemini, penghargaan bergengsi televisi di Canada. Tahun 2002, ia menjadi penulis di Hart House Universitas Toronto, dari sinilah Manji mulai menulis buku The Trouble with Islam Today yang membuatnya kontrovesial. Sekarang ia menetap di New York dan memegang Moral Courage Project, sebuah lembaga non profit yang diperuntukkan untuk pemberdayaan anak-anak muda seluruh dunia.

Dalam pencarian keislamannya, Manji menemukan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam umat Islam saat ini dalam memahami ajaran Islam yang semestinya. Hal ini, menurut Manji, dikarenakan penafsiran Islam yang literer dan dogmatis yang diajarkan oleh para imam dan otoritas keislaman lainnya. Inilah yang membuat, istilah dia, The Trouble with Islam today. Karena itu Manji berseru keras agar umat Islam harus berani berijtihad, membuka & menafsirkan ajaran Islam kembali dengan pemikirannya sendiri yang sesuai dengan konteks dan persoalan yang dihadapi sekarang ini.

Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam, Manji sangat nyaring menggaungkan pentingnya ijtihad di kalangan umat Islam saat ini. Meski Manji bukanlah seorang sarjana muslim yang sengaja dan secara spesifik belajar tentang Islam namun keberhasilan dia adalah dia telah dengan jujur dan berani serta bersikap untuk mengungkapkan sesuatu yang salah yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang "dipraktekkan" dalam masyarakat saat ini.

Karena itu, ia menyebut dirinya sebagai Muslim Refusenik. Identitas ini bukan berarti ia menolak untuk menjadi muslim tapi ia menolak bergabung dengan sebuah pasukan robot atas nama Allah, menentang penjajahan otoritas dan pemahaman serta penafsiran Islam yang dominan sekarang ini yang disebarkan oleh para mullah, imam, sheikh dan lain-lain. Islam yang menyebarkan kebencian kepada yang lain, Islam yang menghalalkan kekerasan hanya karena berharap bertemu bidadari dan masuk surga, Islam yang tidak ramah dengan perempuan untuk melanggengkan patriarkhi, Islam yang menolak hak asasi manusia dan sekulerasiasi untuk menegakkan teokrasi dan lain-lain.

Istilah Refusenik berasal dari kalangan Yahudi-Soviet yang memperjuangkan kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Pemerintah Komunis saat itu menindas dan menghalagi perjuangan dan hak mereka. Mereka menolak untuk pindah ke Israel dan akhirnya dihukum berat bahkan ada yang dibunuh. Namun perjuangan mereka mendapatkan kemenangan dengan tumbangnya kekuasaan Soviet.

Manji meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini akan mendapatkan hasilnya. Hal ini terbukti dengan karyanya telah diterbitkan dimana-mana dan Manji pun diundang ke pelbagai belahan dunia. Ia berharap umat Islam tidak akan terbelenggu lagi dengan pemahaman-pemahaman literer yang membuat Islam ini terpuruk dan tidak beradab. Manji masih lantang bersuara sampai sekarang.

Sangat jarang menemukan orang yang berani seperti Manji di tengah konstelasi umat Islam saat ini. Karena pemikirannya yang dianggap mengancam itulah ia mendapat banyak cercaan dan ancaman termasuk diancam dibunuh dari kalangan Islam yang tidak setuju dengannya. Bahkan The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Namun Manji tidak takut mati karena ia punya keyakinan bahwa meski raganya mati tapi gagasan dan pemikiran tetap akan hidup dan tetap diteruskan oleh orang-orang yang setuju dengannya. Selamat datang Irshad Manji!

** Dimuat di Media Indonesia tanggal 25 April 2008

Monday, June 23, 2008

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

Saya muat dalam blog saya ini tulisan tentang pelurusan fakta seputar tragedi berdarah Monas. Sekarang ini isunya sangat simpang siur dan ada upaya pemutarbalikkan fakta dan fitnah keji terhadap AKKBB. Lihatlah bagaimana nama saya dipakai dalam email fitnah yang disebar kemana-mana tanpa saya bisa menghentikannya. email itu bilang kalau aksi damai AKKBB memang dalam rangka mengalihkan isu BBM. Subhanallah, keji sekali orang yang membuat email tersebut. kalau tidak ada penyerangan terhadap aksi kami yang damai ini, mana mungkin aksi kami diliput secara besar-besaran di media. Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk yang menulis dan menyebar email itu agar sadar dengan perbuatan kejinya ini.

Lihatlah juga komentar-komentar di blog saya ini, luar biasa kasar dan tidak beradabnya. Terus terang, saya jadi sedih kalau umat kita seperti ini. tapi saya biarkan saja karena saya yakin semua ini dalam proses belajar menjadi manusia yang baik.

Oh ya, artikel pendek ini ditulis oleh saidiman, yang pada aksi tersebut, menjadi dinamisator aksi damai peringatan hari Pancasila. Maafkan saya teman-teman, saya belum bisa & mampu menulis panjang dan berefleksi dengan peristiwa berdarah kemarin di blog ini.

----

Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.

Penyerangan, Bukan Bentrok

Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.

Tidak Ada Provokasi

Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.

Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.” Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.

Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”

Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.

Senjata Api

Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini, oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format damai.

Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet. Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan atribut serupa.

Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….” (Sabili No. 25 Th. XV).

Keluar Rute

Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke pelataran Monas.

Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.

Menipu Peserta

Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi peserta aksi. Ini juga adalah dusta.

Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai cara.

Pengalihan Isu BBM

Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa bukti disebut untuk mengalihkan isu.

Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang. Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan. Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.(www.saidiman.wordpress.com)

Tuesday, June 17, 2008

Indonesia

Ini catatan pinggir mas goen di Majalah Tempo minggu ini. Tulisan ini bisa jadi renungan kita bersama ketika membicarakan soal keindonesiaan kita. selamat membaca.
--------

Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: “SBY Pengecut!”

Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai “Amir” Majelis Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.

Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel pengap, atau dipancung.

Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2008.

Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, bahkan mengecam Kepala Negara.

Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati dan beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela diri; ia bukan hewan untuk korban.

Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba’asyir, sebab itu pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada hakim, jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang sebenarnya tak di tangan manusia.

Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman membentuk, dan dibentuk, sebuah etika kedaifan.

Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang tanpa konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik mengelola sengketa.

Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh orang-orang Indonesia yang prihatin: ”… ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir.”

Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut “bhineka-tunggal-ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.

Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.

Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.

Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.

Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan itu takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi lokal, “gotong-royong”. Kata itu kini telah terlalu sering dipakai dan disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: “gotong-royong” itu “paham yang dinamis,” lebih dinamis ketimbang “kekeluargaan”.

Artinya, “gotong-royong” mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan primordial, ikatan “kekeluargaan”. Sebab, ada tujuan yang universal, yang bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--“yang kaya dan yang tidak kaya,” kata Bung Karno, “yang Islam dan yang Kristen”, “yang bukan Indonesia tulen dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”

“Gotong-royong” itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap beradab, sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno sebagai “egoisme-agama.”

Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika “egoisme” itu dikobarkan. Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: “Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa.”

Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan Ba’asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa?

Goenawan Mohamad

Monday, June 16, 2008

Maklumat Ke-Indonesi-an

Maklumat ini disusun dan dibacakan dua tahun lalu, 1 Juni 2006. Isinya masih sangat relevan sekarang ini. Ayo, kita jaga Indonesia kita dari tangan-tangan orang dan kelompok yang bersembunyi atau terang-terangan, dengan cara halus atau memakai kekerasan, yang ingin mengubahnya.
--------

Kita bersama-sama di sini, untuk menegaskan kembali Indonesia tempat kita berdiri. Indonesia sebagai sebuah warisan yang berharga, tapi juga sebuah cita-cita. Indonesia yang bukan hanya amanat para pendahulu, tapi juga titipan berjuta anak yang akan lahir kelak..

Kita bersama-sama di sini, untuk menyadari kembali, bahwa Indonesia adalah satu prestasi sejarah namun juga proyek yang tak mudah. Dalam banyak hal, tanahair ini belum rampung. Tetapi sebuah masyarakat, sebuah negeri, memang proses yang tak akan kunjung usai. Seperti dikutip Bung Karno, bagi sebuah bangsa yang berjuang, tak ada akhir perjalanan.

Dalam perjalanan itu, kita pernah mengalami rasa bangga tapi juga trauma, tersentuh semangat yang berkobar tapi juga jiwa yang terpuruk.

Namun baik atau buruk keadaan kita, kita bagian dari tanahair ini dan tanahair ini bagian dari hidup kita: ‘Di sanalah kita berdiri, jadi pandu Ibuku’…

Di sanalah kita berdiri: di awal abad ke-21, di sebuah zaman yang mengharuskan kita tabah dan juga berendah hati. Abad yang lalu telah menyaksikan ide-ide besar yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, namun akhirnya gagal membangun sebuah masyarakat yang dicita-citakan. Abad yang penuh harapan, tapi juga penuh korban. Abad sosialisme yang datang dengan agenda yang luhur, tapi kemudian melangkah surut. Abad kapitalisme yang membuat beberapa negara tumbuh cepat, tapi memperburuk ketimpangan sosial dan ketakadilan internasional. Abad Perang Dingin yang tak ada lagi, tapi tapi tak lepas dari konflik dengan darah dan besi. Abad ketika arus informasi terbuka luas, tapi tak selalu membentuk sikap toleran terhadap yang beda.

Dengan demikian memang sejarah tak berhenti, bahkan berjalan semakin cepat. Teknologi, pengetahuan tentang manusia dan lingkungannya, kecenderungan budaya dan politik, berubah begitu tangkas, hingga persoalan baru timbul sebelum jawaban buat persoalan lama ditemukan.

Kini makin jelas-lah, tak ada doktrin yang mudah dan mutlak untuk memecahkan problem manusia. Tak ada formula yang tunggal dan kekal bagi kini dan nanti.

Yang ada, yang dibutuhkan, justru sebuah sikap yang menampik doktrin yang tunggal dan kekal. Kita harus selalu terbuka untuk langkah alternatif. Kita harus selalu bersedia mencoba cara yang berbeda, dengan sumber-sumber kreatif yang beraneka..

Sejarah mencatat, Indonesia selalu mampu untuk demikian – sebab Indonesia sendiri, 17 ribu pulau yang berjajar dari barat sampai ke Timur, adalah sumber kreatif yang tumbuh dalam kebhinekaan.

Para ibu dan bapak pendiri republik dengan arif menyadari hal itu. Itulah sebabnya Pancasila digali, dilahirkan, dan disepakati di hari ini, 61 tahun yang lalu..

Tidak, Pancasila bukanlah wahyu dari langit. Ia lahir dari jerih payah dalam sejarah. Ia tumbuh dari benturan kepentingan, sumbang-menyumbang gagasan, saling mendengar dalam bersaing dan berembug. Dengan demikian ia mengakui perbedaan manusia dan ketidak-sempurnaannya. Ia tak menganggap diri doktrin yang maha benar.

Tetapi justru itulah sebabnya kita menegakkannya, sebab kita telah belajar untuk tidak jadi manusia yang menganggap diri maha benar.

Maka Indonesia tak menganggap Pancasila sebagai agama – sebagaimana Indonesia tidak pernah dan tidak hendak mendasarkan dirinya pada satu agama apapun. Nilai luhur agama-agama menghilhami kita, namun justru karena itu, kita mengakui keterbatasan manusia. Dalam keterbatasan itu, tak ada manusia yang bisa memaksa, berhak memonopoli kebenaran, patut menguasai percakapan.

Maka hari ini kita tegaskan kembali Indonesia sebagai cita-cita bersama, cita-cita yang belum selesai. Maka hari ini kita berseru, agar bangun jiwa Indonesia, bangun badannya, dalam berbeda dan bersatu!

Jakarta, 1 Juni 2006.

Tuesday, June 3, 2008

Iklan Petisi Kita

Akhirnya iklan petisi “Mari Mempertahankan Indonesia Kita” dimuat di 9 Media. Saya bersyukur dan senang sekali dengan penerimaan kalangan media yang memuat iklan Kami. Awalnya teman-teman di aliansi pesimis dengan dimuatnya iklan ini karena tidak adanya dana dan kekhawatiran kalangan media takut memuatnya. Kalau pun akan dimuat iklan petisi ini hanya akan dimuat di 3 media yang dianggap berani saja. Tapi saya meyakinkan teman-teman aliansi kalau saya bisa memuatnya minimal di 7 media. Dan Alhamdulillah setelah negosiasi dan melobi pihak sana sini akhirnya iklan petisi ini berhasil dimuat di 9 media dengan ukuran yang cukup lumayan. Satu halaman di Koran Tempo (26/5), Majalah Tempo dan Majalah Madina (01/6); setengah halaman di Koran Rakyat Merdeka, Jawa Pos, Media Indonesia (26/5), Sinar Harapan & The Jakarta Post (27/5) serta seperempat halaman di Kompas (30/5).

Saya tak akan bisa melakukan ini semua tanpa bantuan dari FJ, orang yang saya sangat hormati untuk pemuatan iklan di Kompas, Jawa Pos, The Jakarta Pos, Majalah dan Koran Tempo. Juga Budi Rahman pemimpin umum Rakyat Merdeka, mas Kris pemimpin redaksi Sinar Harapan, kak ipung dan pak Alex untuk pemuatan di Media Indonesia, mas Kris untuk di Jawa Pos dan RB untuk di Kompas serta kak Icang untuk di Majalah Madina.

Banyak kritik dan masukan terhadap iklan petisi ini khususnya pembedaan nama-nama yang dikapital. Perlu saya sampaikan di sini, meskipun ini bukan argumen yang solid dan bagus, pengkapitalan nama itu bukan bermaksud diskriminasi tapi soal strategi media agar kalangan media mau memuatnya karena begitu banyaknya nama-nama yang masuk mendukung petisi ini. Saya juga minta maaf buat teman-teman sudah mengirim form ikut serta dalam petisi ini tapi nama-namanya belum dicantumin. Yang jelas, Aliansi masih terbuka menerima teman-teman untuk terlibat dalam petisi ini yang rencananya petisi ini akan kita serahkan kepada SBY dan JK.

Hari ini, selasa 3 juni, iklan petisi ini dilaporkan oleh ketua FPI, habib (?) rizieq ini karena dianggap sebagai pemicu penyerangan FPI terhadap aksi damai kami di monas kemarin oleh habib Riziek. Aih-aih kok bisa dia punya argumen seperti itu ya. itu namanya maling teriak maling, udah jelas-jelas kok mereka yang menyerang kita yang massanya didominasi ibu-ibu dan anak. Saya akan menulis tersendiri tentang aksi damai yang diserang Laskar Pembela Islam (duh, malu deh Islam dibawa-bawa di sini) di blog ini. tunggu ya, karena saya lagi sibuk mengurus korban pemukulan dan penyerangan “tentara Islam” ini.

Tuesday, May 27, 2008

Cinta

Dua cara aku cintaimu
Yang satu demi diriku
Yang lain sebab hanya kamu
yang Patut terima cintaku

Cinta demiku kutak mau
Hanya berpikir tentangmu
tak lain dari itu

Cinta suci adalah
Kala kau sibak
Tirai penghalang pandang penuh pesonaku
Tak perduli puja puji buatku
Bagimu saja segala pujian itu










** untuk yang sedang jauh..

Monday, May 12, 2008

Mari Pertahankan Indonesia Kita!

Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh Konstitusi.

Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita.

Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga mengatasnamakan umat Islam untuk menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat.

Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sudah sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain.

Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan Konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita.
Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

Marilah kita jaga Republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.


Jakarta, 10 Mei 2008

**Petisi ini dibuat dikarenakan adanya ancaman sekelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk membubarkan dan menghakimi keyakinan seseorang atau kelompok yang berbeda dengannya. Ada agenda dan kegiatan besar yang mengancam negara kita ini yang dilakukan segelintir kelompok untuk mengubah Indonesia yang berlandaskan Pancasila menjadi negara Islam yang berlandaskan kekhalifahan dan keImaman atau lainnya.

Saya menolak itu. Negara kita Plural dan beragam, dan tidak hanya mengakui satu agama dan keyakinan. Dalam setiap agama pun banyak keyakinan dan penafsiran. Jangan mau dipaksa untuk mengakui dan memeluk satu keyakinan dan penafsiran. Sekarang ini konstitusi kita yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 sudah terang benderang menghormati kebhinekaan dan menghargai serta membebaskan setiap keyakinan dan kepercayaan semua warganya. Agama dan keyakinan adalah soal pribadi. Tokh, kita masuk surga pun (kalau memang surga itu ada!) juga sendiri-sendiri. Yang penting, tidak saling mengganggu dan saling merusak. Hentikan kekerasan dan perusakan apalagi perusakan tempat ibadah dll.

Bergabunglah bersama kami, mempertahankan Indonesia yang Plural dan Bhineka, mempertahankan Indonesia kita..Silahkan kunjungi website Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan (AKBB) di http://akkbb.wordpress.com/petisi/

Friday, April 25, 2008

Kartini dan Islam

Riwayat Kartini telah menjadi sumber ilham yang tak pernah kering. Tiap tahun di hari kelahirannya pasti bermunculan ulasan tentang tokoh ini dari pelbagai perspektif. Selain pribadinya, hidupnya yang sarat dengan persoalan pun merupakan bahan kajian yang menarik. Kecerdasannya luar biasa. Bayangkan, di usianya yang masih sangat muda, dia berhasil merumuskan dan mendeskripsikan persoalan-persoalan yang terjadi pada bangsanya dalam korespodensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda.

Kartini beruntung karena menguasai bahasa Belanda. Dengan menguasai bahasa ini Kartini terus menerus mendiskusikan setiap pemikiran dan persoalannya dengan perempuan-perempuan dunia Eropa yang banyak menginspirasikan hidupnya. Kartini adalah jiwa yang menyaksikan kebangkitan sebuah masyarakat yang terlalu lama menderita. Dan ia sendiri menjadi bagian, bahkan salah seorang yang ikut andil dalam kebangkitan bangsa ini lewat goresan tangan dan kegelisahannya.

Saya mencoba membahas percikan pemikiran keagamaan Kartini khususnya soal Tuhan dan poligami. Sangat langka menemukan karya yang mengupas khusus soal ini karena selama ini Kartini lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan atau kebangkitan nasional. Padahal sebagai pribadi yang dilahirkan dari ibu yang keturunan kyai tapi dari rakyat biasa, pergulatan Kartini terhadap tema-tema keislaman sangatlah menarik. Yang pernah mengulas secara khusus pemikiran keagamaan Kartini adalah TH. Sumartana (alm) dalam buku yang berjudul Agama dan Iman menurut Kartini. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja juga sedikit menyinggung soal konsep Kartini tentang Tuhan.

Tentang Islam

Di tengah kesepian dalam pingitan, pandangan-pandangan Kartini tentang tema-tema keagamaan itu begitu mendalam. Kartini melakoni dan memahami Islam tidak taken for granted. Baginya berislam haruslah masuk akal dan sesuai dengan pemikiran. Ia mengakui kalau keislaman yang ia anut adalah semacam turunan dari nenek moyangnya. Seperti pada umumnya orang beragama, ia juga tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih agama apa yang ia kehendaki. Sehingga doktrin dan ritual diwariskan begitu saja.

Namun jiwa pencarian Kartini tak pernah mati, “tibalah waktunya jiwaku mulai bertanya: Mengapa aku lakukan ini, mengapa ini begini dan itu begitu?’” Pergolakan Kartini tentang keislaman begitu dahsyat sehingga ‘sesuatu’ yang menurutnya tak dia pahami dia tinggalkan. Dia lebih mengedepankan hal-hal yang masuk akal, hal yang bersifat substantif dibanding formalitas tapi tak dia mengerti. Kata Kartini, “jadi kami putuskanlah untuk tidak berpuasa dan melakukan hal-hal lain yang dahulu kami kerjakan tanpa berpikir, dan yang kami pikir sekarang ini tak dapat kami kerjakan. Gelap–kami merasa kegelapan–tak seorang pun mau menerangkan kepada kami apa yang kami tidak mengerti.”(Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C Abendanon)

Sikap seperti itu tak membuat Kartini meninggalkan agamanya. Bahkan proses pencarian ini semakin meneguhkan keyakinannya. Ia tetap menjadi Islam meski yang paling utama buat dia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Meski ia diperlakukan tidak adil karena posisinya sebagai perempuan, namun pandangan dia tentang Tuhan sangat positif. Kartini tak pernah menyalahkan Tuhan, ia melakoninya sebagai sebuah takdir yang harus ia jalani dengan positif.

Bagi Kartini, takdir itu bukan fatalisme atau penyerahan diri sehingga kehilangan kepercayaan diri: hanya pasrah dan menerima kondisi kita. Takdir menurutnya bisa mewujud menjadi suatu upaya dan usaha terus menerus tentang tugas yang diberikan Tuhan untuk meningkatkan diri dan melakukan hal yang terbaik. Ia terus menerus berproses dan mencari. Makanya tak heran, meski dia dikungkung, namun pemikiran-pemikiran cerdas tetap keluar deras melaui tulisan-tulisan. Lewat pemahaman seperti ini, saya melihat, Tuhan di mata Kartini adalah kebajikan. Tuhan hidup dan hadir di dalam hati dan jiwa manusia.

Seperti yang diulas dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, pandangan Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik dibanding metafisik. Kata Kartini, “Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia.”

Tentang Poligami

Dalam lingkungan kehidupan bangsawan Jawa, tempat Kartini hidup, praktek poligami merupakan hal yang lumrah. Kebiasaan dan adat istiadat yang hidup di kalangan masyarakat khususnya di kalangan priyayi Jawa yang berkedudukan tinggi, memang menempatkan kedudukan perempuan tidak sama dengan kaum lelaki. Perempuan hanya berharga apabila ia dihubungkan dengan soal perkawinan. Dan perkawinan itu pun malah menjadi puncak penderitaan perempuan. Karena meskipun menjadi istri sah dari suaminya, para perempuan dituntut dan diharuskan untuk berbagi suaminya.

Kartini melihat kenyataan tak adil ini dengan kegeraman, “…saya akan menyinggung kaum lelaki dalam sifat mereka yang selalu mementingkan diri sendiri, egoistis. Celakalah mereka itu,…yang menganggap egoisme lelaki semacam sesuatu yang sah dan adil!” Kartini tidak membesar-besarkan soal poligami ini, ia tidak berkhayal. Karena ia mengalami kepedihan akibat praktek yang menciptakan ketidak adilan ini di dalam keluarganya yang terjadi pada ibunya sendiri.

Ibu kandung Kartini yang bernama Ngasirah bukanlah raden ayu meski ia menjadi istri sah Bupati Sosroningrat, bapak Kartini. Meski menjadi istri sah dan telah melahirkan delapan anak, Ngasirah tak berhak tinggal di rumah utama dan tidak dianggap sebagai seorang ibu. Ia diperlakukan sebagai pembantu dan sekedar melahirkan anak. Ngasirah harus merangkak-rangkak dan menunduk-nunduk karena ia berasal dari kalangan jelata, sementara ia dan saudara-saudaranya karena berasal dari benih bangsawan bapaknya, harus dihormati dan disembah oleh ibu kandungnya sendiri. Sekalipun Kartini tidak pernah mengungkapkan secara terbuka penderitaan yang dialami ibu kandungnya, bias dibayangkan bagaimana perasaannya melihat keanehan kehidupan keluarganya. “…saya telah melihat neraka dari jarak dekat – malahan saya berada di dalamnya--…Saya telah menyaksikan penderitaan, dan merasakan sendiri kesengsaraan ibu saya, karena saya adalah anaknya.”

Perlawanan Kartini terhadap poligami di kalangan bangsawan Jawa pada akhirnya membawa dia pada kesadaran bahwa ia sendiri sudah hidup dalam bayang-bayang musuh besar yang sedang dilawannya. Ia sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang amat bengis dan kuat yang didukung adat istiadat bahkan juga dibenarkan oleh agamanya, Islam. Tulis Kartini, “Saya putus asa….Sebagai manusia saya merasa seorang diri tidak mampu melawan kejahatan berukuran raksasa itu, dan yang—aduh, alangkah kejamnya! Dilindungi oleh ajaran Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan sebagai korbannya! Aduh! Saya pikir mungkin pada suatu ketika nasib menimpa kepada saya suatu siksaan yang kejam yang bernama poligami itu! Saya tidak mau! mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali…”(Surat kepada Ny.Abendanon-Mandri tertanggal Agustus 1902).

Tragusnya tiga tahun kemudian setelah ia menulis itu, kejahatan besar yang selama ini ia lawan menimpa dirinya. Ia menikah dengan lelaki yang sudah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak. Sebulan sebelum ia menikah, ia menulis surat kepada Ny. Abendanon bahwa ia merasa telah mati sia-sia. Secara fisik dan moral telah patah, tak mempunyai kekuatan apa-apa lagi. Ia merasa gagal dalam perjuangannya, tak suatu pun hasil yang dicapainya. Semuanya, segala cita-cita telah runtuh oleh egoisme orang-orang karena dilandasi tradisi dan agamanya.

Setelah menikah, Kartini tidak memberontak lagi, tidak menjeritkan kegelisahan dan protesnya terhadap kedudukan dan nasib perempuan Jawa termasuk soal poligami. Nampaknya Kartini berusaha berdamai dengan keadaan yang dialaminya. Meski menurut saya, usaha itu tak berhasil. Kartini tetap lah tak bisa berlangsung lama dalam kehidupan pernikahannya. Empat hari setelah melahirkan anaknya, ia meninggal membawa cita-cita dan perjuangannya meski cita-cita dan perjuangannya itu tak akan pernah mati sampai detik ini.

** Dimuat di Koran Tempo, tanggal 22 April 2008

Monday, April 7, 2008

Kado Kartini dan Partisipasi Perempuan

Meski hari Kartini masih dua minggu lagi, namun ada kado yang sangat penting di hari Kartini tahun ini untuk tidak kita lewatkan. Kado itu adalah ditetapkannya kuota 30 persen untuk keterlibatan perempuan dalam proses politik yang secara legal masuk dalam UU Partai Politik. Pengesahan UU ini telah ditetapkan awal Desember tahun lalu. Semestinya saat ini partai politik sudah mulai bekerja dalam mencari perempuan-perempuan potensial yang layak dilibatkan dalam proses politik untuk memenuhi kuota 30 persen ini.

Beberapa kemajuan mendasar UU Partai Politik baru ini, pertama, pendirian partai politik (parpol) yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 2. Isinya menyatakan, pendirian dan pembentukan partai politik menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan.

Kedua, kepengurusan partai politik. Pasal 1 Ayat 5 menyatakan, kepengurusan parpol di tingkat pusat disusun dengan menyertakan sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan; Pasal 20 menyebut kepengurusan parpol di tingkat provinsi dan kabupaten/kota disusun dengan memerhatikan keterwakilan perempuan 30 persen yang diatur dalam AD dan ART partai.

Ketiga, kaderisasi. Pasal 31 menyatakan, parpol melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai ruang lingkup tanggung jawab dengan memerhatikan keadilan dan kesetaraan jender.

Ketiga aspek tersebut merupakan terobosan besar dalam sejarah produk perundang-undangan di Indonesia. Parpol berdasarkan UU Partai Politik Tahun 2007 ini dituntut penuh komitmennya untuk ikut mendorong tercapainya keadilan dan kesetaraan jender di Indonesia melalui pelibatan perempuan dalam politik yang tertuang pada aspek pendirian, kepengurusan, hingga pendidikan politik yang merupakan hulu proses perjuangan politik perempuan.

Adanya peraturan yang berupa affirmative action ini merupakan tantangan dan peluang bagi perempuan. Karena harus diakui Indonesia masih merupakan negara yang tergolong sangat minim dalam partisipasi perempuan di wilayah politik. Karenanya masih diperlukan kebijakan seperti ini.

Buku Data Pembuka Mata terbitan LIPI dan Unicef Mei 2001 menyebutkan bahwa ketimbang Laos, Indonesia masih kalah jauh dalam memberikan peluang bagi perempuan untuk berada duduk di eksekutif. Padahal Pemilu 1997 dan Pemilu 1999 jumlah pemilih perempuan lebih besar ketimbang pemilih lelaki. Tapi nyatanya potensi besar perempuan di Indonesia masih terabaikan kalau tidak mau disebut agak 'dipinggirkan'.

Berdasar data yang dikeluarkan CETRO tentang Data dan Fakta: Keterwakilan Perempuan Indonesia di Partai Politik dan Lembaga Legislatif, 1999-2001, jumlah perempuan di Parlemen juga tidak banyak meningkat, baik pada masa Orde Baru (periode 1997-2002) maupun pasca Orde Baru (1999-2004). Bahkan ketika pemilu di era Reformasi, penurunan keterwakilan perempuan sangatlah kecil. Perempuan Indonesia yang menjadi anggota DPR tak sampai 15 persen, begitu juga di lembaga MPR, jumlahnya masih minim, di bawah 20 persen.Bila dihitung secara matematis, dari setiap delapan anggota DPR hanya satu perempuan, begitu juga di lembaga MPR.

Bila dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia sedikit lebih baik ketimbang Myanmar yang mempunyai sekitar 1-2 persen perempuan di pemerintahan, tapi jauh tertinggal dari Laos, Brunei, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, apalagi Filipina.

Indonesia sampai 2004 hanya memiliki perempuan di Parlemen sekitar 9 persen, sedang di pemerintahan tak lebih dari dua persen, jauh tertinggal dibanding Filipina dengan 25 persen perempuan di pemerintahan dan 12 persen di parlemen.

Hambatan Partisipasi Perempuan

Hambatan yang paling besar untuk memenuhi kuota 30 persen adalah dari partai politik itu sendiri. Mereka beralasan hal itu dikarenakan kurang tersedianya perempuan yang “bagus” dan layak untuk bisa masuk ke parpol, apalagi untuk legislatif. Padahal saya melihat ini lebih dikarenakan parpolnya kurang punya keinginan kuat untuk mencari, meyakinkan, dan juga menawarkan programnya kepada perempuan-perempuan yang layak untuk terlibat di parpolnya. Seperti diketahui, baru-baru ini Pusat Kajian Gender UI meluncurkan hasil kajiannya yang menemukan dan mengumpulkan ratusan perempuan potensial dari 5 daerah yang sangat layak untuk dilibatkan dalam parpol sebagai jawaban atas persoalan ini .

Di sisi lain, dari kalangan perempuan pun ada kekecewaan terhadap parpol karena parpol dalam setiap aktivitas politiknya relatif minim melibatkan perempuan dalam persoalan-persoalan yang krusial khususnya yang berdampak pada isu publik. Persepsi tentang politik yang didominasi hanya untuk dunia laki-laki ini juga menjadi faktor yang dominan. Hal ini dipertegas lagi dengan hasil survey LSI yang memperlihatkan bahwa 65 persen partai politik tidak mewakili aspirasi perempuan untuk berbagai persoalan. Karena itu perempuan-perempuan ini kemudian lebih memilih bekerja dan beraktivitas untuk pemberdayaan masyarakat di luar parpol atau di luar kekuasaan.

Hambatan lainnya yaitu masih adanya keraguan di kalangan parpol dan masyarakat dalam menerima perempuan secara penuh. Akhirnya mereka selalu mempertanyakan soal kualitas untuk memperlihatkan keraguan itu atau sikap penolakan itu. Padahal, hal itu tidak terjadi sebaliknya, diberlakukan pada laki-laki. Tidak pernah ada pertanyaan akan kualitas laki-laki yang sebenarnya sudah terbukti gagal membangun sistem politik demokratis yang menyejahterakan rakyat.

Adanya aturan kuota 30 persen ini sebenarnya lebih memotivasi dan mengajak perempuan untuk mau bekerja di parpol sehingga ada keseimbangan dalam perumusan kebijakan publik khususnya yang terkait dengan perempuan. Karena itu pertanyaan mengenai kualitas tidaklah tepat dan relevan diajukan dalam kondisi di mana keterlibatan aktif perempuan dalam politik saja masih sangat rendah. Saat ini, perempuan bisa berpolitik saja sangat berat, apalagi selalu dibenturkan pertanyaan seputar kualitas. Pertanyaan tentang kualitas politik perempuan adalah pertanyaan yang keliru memahami upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam politik.

Fakta membuktikan, meski dengan jumlah partisipasi yang minim, kehadiran perempuan di parpol yang kemudian masuk legislatif telah memberikan beberapa hasil menggembirakan untuk kepentingan perempuan, antara lain lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Kewarganegaraan, dan Undang-Undang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Kajian di berbagai negara juga memperlihatkan, keterwakilan perempuan dalam jumlah 30persen dapat menghasilkan keputusan yang lebih memerhatikan kepentingan dan pengalaman perempuan yang selama ini kurang terwakili. Persoalannya sekarang adalah bagaimana meyakinkan parpol agar benar-benar memberikan tempat kepada perempuan. Karena ini akan berdampak sangat positif untuk parpol, kesejahteraan masyarakat dan perkembangan demokrasi di Negara kita tercinta.

Dimuat di koran Seputar Indonesia, minggu tanggal 6 April 2008

Wednesday, April 2, 2008

Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad

My name is Irshad. I’m a faithful muslim. I speak out against violance and human rights abuses in the name of God. Courage is not the absence of fear. Courage is the recognition that some things are more important than fear.

Bila kita membuka website www.irshadmanji.com, maka kalimat-kalimat di atas akan kita temukan dibanner website itu. Kata-kata yang tegas dan terang benderang itu terus menerus diulang, menggedor kesadaran dan keberanian kita untuk ikut berjuang seperti dia tanpa ada rasa ketakutan dalam melawan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia atas nama Tuhan dan agama.

Bagi kalangan kita di Indonesia nama Irshad Manji mungkin dianggap berjenis kelamin laki-laki. Yang benar Manji berjenis kelamin perempuan yang mengancam posisi laki-laki dengan gebrakan pemikiran dan tindakannya.

Hal ini diakui oleh Dr. Khaleel Mohammed, seorang Imam yang belajar Ilmu Syari’ah di Muhamad bin Saud University Riyadh dan sekarang menjadi Professor Islam di San Diego State University. Dia mengatakan dalam pengantar buku Irshad Manji: The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith bahwa semestinya dia membenci Irshad Manji. Karena Manji telah mengancam posisi dia sebagai Imam lewat pemikiran-pemikiran yang kritis tentang Islam. Bila umat Islam menerima pemikiran Manji maka peran dia sebagai Imam yang mempunyai peran penting dalam menggawangi dan merumuskan ajaran Islam, akan selesai dan tidak berguna lagi. Selain itu, kata Mohammed, Manji juga mengancam posisinya sebagai laki-laki karena Manji terang-terangan mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian, yang menurutnya, status itu jelas-jelas dilaknat Allah.

Namun Mohammed buru-buru menyadari kalau ia tak sepatutnya membenci Manji. Lewat proses kegelisahan yang cukup panjang akhirnya Mohammed mengakui kalau apa yang dilakukan Manji selama ini lewat gebrakan pemikirannya yang selalu mengajak umat Islam untuk bersikap terbuka, toleransi, mengkritik kalangan Islam radikal, dan menentang penindasan, termasuk penindasan-penindasan yang dirasionalisasikan oleh para imam, sheikh, mullah, professor dan siapapun dengan berani berijtihad, adalah benar adanya.

Meski Mohammed menegaskan bahwa dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran Manji, namun karena ajaran Islam itu sangat menghargai kebebasan berpikir maka usaha dan pemikiran Manji harus dipahami sebagai salah satu bentuk ijtihad dirinya yang meski dipuji dan dihargai. Apalagi tindakan Manji selama ini karena didasarkan pada ayat Alquran yang mengatakan: ” Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu..."(Quran, 4:135)

Pengalaman Masa Kecil Manji

Manji dilahirkan di Uganda pada 1968 dari pasangan Muslim yang keturunan Arab-Mesir dan India. Antara tahun 1971 dan 1973, keluarganya merupakan salah satu dari ribuan muslim Uganda yang hijrah ke Barat karena tekanan dikatator militer saat itu, Jenderal Idi Amin Dada. Saat itu Jenderal Idi Amin hanya membolehkan masyarakat kulit hitam saja yang menempati negeri ini. Untungnya, Ayah Manji dan adik-adiknya termasuk keluarga yang mempunyai status yang cukup tinggi karena memegang bisnis perdagangan sebuah merk kendaraan yang prestisius. Tahun 1972, dengan bantuan pemerintah British, keluarga Manji diboyong ke Vancouver British Columbia, tepatnya di daerah Richmond, sebuah daerah middle class di wilayah Vancouver. Manji saat itu berusia 4 tahun.

Sejak kecil Manji sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan selalu memrotes sesuatu yang membuat dia tidak bisa menerimanya, baik di lingkungan keluarga atau agamanya. Seperti yang ia ceritakan dalam bukunya The Trouble with Islam Today, bagaimana dia memrotes tindakan ayahnya yang memukul pembantunya yang bernama Tomasi, yang berkulit hitam. Ayahnya memperlakukan pembantunya seperti budak. Tindakan itu tidak bisa dia terima tapi dia dan ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya punya pemahaman bahwa dia bisa melakukan apapun terhadap budaknya itu. Begitu juga terhadap dia, ibu, dan saudaranya. Ibunya pernah dipukul ayahnya dan ia melarang Manji untuk membela dan mengobati luka-luka ibunya. Ayahnya juga mengancam Manji kalau Manji melaporkan perbuatannya itu ke polisi. Manji sendiri pernah dipukul ayahnya sewaktu ibunya tidak di rumah sehingga dia kemudian lari dan bersembunyi di atas atap rumahnya. Di atas atap itu, dia membayangkan bisa hidup secara bebas dan jauh dalam mengeksplorasi semua tindakan, pemikiran dan cita-citanya.

Manji menggambarkan ayahnya sebagai tipe laki-laki yang sangat keras, galak, berkuasa dan menganggap dirinya sebagai kepala keluarga yang setiap ucapan dan tindakannya harus dibenarkan. Tipe lelaki seperti ini adalah prototype lelaki yang dipahami dalam pemahaman Islam mainstrem bahwa ayah (laki-laki) adalah segala-galanya, tidak bisa dilawan dan harus dituruti terus. Istilah Manji ketika merumuskan sosok ayahnya itu, ”tak pernah aku mendapatkan dan menemukan nilai cinta & kebahagiaan darinya.”

Dua tahun setelah beradaptasi hidup di Barat, ayahnya menemukan sebuah penitipan anak-anak (semacam chid care) gratis yang dikelola oleh Gereja Baptis Rose of Sharon. Setiap hari Minggu ia dititipkan ayahnya karena ia tidak suka dan tidak bisa melayani anak-anak sementara ibunya saat itu bekerja sebagai agen Avon (salah satu produk kosmetika perempuan) yang menjajakan produknya dari rumah ke rumah. Di gereja itu, Manji mendapatkan lingkungan yang cocok dengan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan dia yang dianggap nakal dan subversif selalu dijawab oleh para pelayan di gereja itu dengan sabar tanpa pernah dimarahi atau dilarang. Misalnya pertanyaan: Yesus datang darimana, kapan Yesus hidup, siapa yang dinikahinya dan lain-lain. Semakin banyak ia bertanya, semakin senang orang-orang gereja itu menjawabnya. Sampai-sampai karena keaktifannya bertanya ia dianugerahi sebagai Most Promising Christian of the Year. Ia mendapat edisi buku bergambar yang berjudul 101 Bible Stories. Manji mengakui kalau ia sangat beruntung dengan periode hidup ini karena ia tidak mengenal terlebih dahulu Alquran sebagai satu-satunya buku yang merupakan sumber kekayaan hidupnya.

Setelah ia mendapatkan anugerah itu, ayahnya langsung mengeluarkan Manji dari gereja itu. Ia kemudian dimasukkan ke sekolah umum, Burnett Junior High, dan juga sekolah agama, madrasah. Tadinya Manji membayangkan kalau lingkungan madrasah akan sama seperti gereja. Tapi ternyata berbeda sama sekali. Pertanyaan dan kegelisahan yang keluar darinya soal agama yang selalu dia tanyakan ke gurunya, Mr. Khaki, selalu dianggap berbahaya dan subversif. Ia bertanya soal isu-isu keperempuanan misalnya soal jilbab, soal kenapa perempuan yang tidak bisa menjadi imam dan pemimpin, pemisahan laki-laki & perempuan, soal kebencian Islam terhadap Yahudi dan lain-lain. Mr Khaki selalu menjawab kalau ajarannya memang sudah begitu dan meminta Manji membaca Alquran terus menerus. Karena rasa ingin tahunya yang sangat besar, Manji membaca Alquran dengan terjemahan Inggris dan kemudian ia mengajak Mr. Khaki untuk berdiskusi lagi. Eh, Manji malah dikeluarkan dari madrasah karena terlalu banyak bertanya. Hal ini berbeda ketika ia berada di lingkungan gereja yang ia jalani sebelumnya.

Pengalamannya di madrasah itu sangat berkesan pada Manji dalam memahami ajaran Islam. Tentu saja maksudnya kesan jelek yang mendalam. Akhirnya untuk dua puluh tahun kemudian Manji mendalami sendiri Islam di perpustakaan-perpustakaan dan melalui tutor Bahasa Arab.

Pada dasarnya Manji bukanlah berlatar belakang studi Islam. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas British Columbia dalam bidang Sejarah Ide. Di tahun 1990, dia mendapatkan penghargaan Governor General's Silver Medal untuk lulusan bidang kemanusiaan. Kemudian bekerja di Parlemen Kanada menjadi asisten legislatif, sekretaris media di Pemerintah Ontario dan menjadi penulis naskah pidato untuk pemimpin New Democratic Party. Di usia 24 tahun, ia menjadi editor nasional untuk Ottawa Cittizen, dan menjadi anggota termuda sebagai editor di Canadian daily. Ia juga menjadi host dan produser untuk beberapa acara televisi dan memenangkan Gemini, penghargaan bergengsi televisi di Canada. Tahun 2002, ia menjadi penulis di Hart House Universitas Toronto, dari sinilah Manji mulai menulis buku The Trouble with Islam Today yang membuatnya kontrovesial.

Sekarang bukunya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa seluruh Dunia. Tahun ini akan terbit dalam bahasa Indonesia. Sekarang Manji menetap di New York dan sedang memimpin sebuah program yang bernama Courage Moral Project, sebuah program yang dikhususkan untuk anak-anak muda seluruh dunia.

Menjadi Feminis Muslim yang Lesbian

Secara terbuka Manji mengakui kalau dia adalah seorang feminis yang lesbian. Tentu saja dia menyadari kalau pilihannya itu beresiko terhadap pemahaman dan keyakinan keislamannya. Karena dalam pemahaman mayoritas umat Islam, agama yang dianutnya, dan agama lain pun, tak menerima bahkan mengutuk pilihan orientasi seksualnya. Ia mengakui ada pergulatan dalam dirinya apakah tetap menjadi muslim karena pilihan orientasi seksualitasnya itu atau keluar dari Islam. Bagi dia, sangatlah tidak adil untuk membenturkan dua pilihan hidupnya: menjadi lesbian membuat dia merasa bahagia dan indah, di sisi lain Islam adalah agama yang ia pilih dan jalani secara sadar, bukan sekedar karena Islam adalah agama keturunan yang ia anut dari kecil dan dari orang tuanya. Islam membuat ia merasa bahagia ketika menjalaninya karena ia menemukan banyak sumber kehidupan yang ia dapatkan dalam Islam. Ia katakan bahwa kebanyakan umat Islam atau orang beragama memeluk agamanya karena turun temurun, given, bukan pilihannya sendiri.

Manji mengenal teman perempuan spesialnya ketika ia berusia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian ia memberitahu soal pilihannya ini kepada ibunya, Mumtaz Manji. Respon ibunya, kata Manji, sangat memahami psikis dan pilihannya, tidak ada kata protes, sesal atau gugatan. Dalam bukunya Manji mengakui kalau ia menjadi lesbian karena ia merasa hidup dalam keluarga yang penuh kesedihan di bawah seorang ayah (laki-laki) yang membenci keindahan dan mensabotase rasa cintanya pada laki-laki. Ia menemukan cinta dan kebahagian pada sosok perempuan.

Posisi Manji sebagai lesbian semakin terbuka ketika ia menjadi presenter dalam acara QueerTelevision untuk salah satu TV di Toronto, tahun 1998. Ia langsung mendapat banyak hujatan, kritikan dan cercaan dari penonton yang tidak suka dan tidak setuju dengan persoalan orientasi seksual yang ”lain” terutama dari kalangan agama khususnya Islam dan Kristen. Acara ini memang membahas secara tuntas soal-soal kehidupan LGBT (lesbian, gay, biseks, transeksual/transgender).

Awalnya Manji berharap acara yang dipandunya itu bisa menciptakan sebuah dialog atau rekonsiliasi yang baik tentang tema homoseksualitas dengan Islam. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, banyak yang menuntut agar Manji keluar dari Islam. Di tengah tuntutan itu, Manji menjawab bahwa sangatlah tidak adil untuk meminta dia keluar dari Islam karena pilihan orientasi seksualnya ini. Pertanyaan dia: jika Tuhan yang Maha Tahu dan Maha berkuasa tidak ingin menjadikan aku seorang lesbian, kenapa Tuhan tidak menciptakan orang lain untuk menggantikan posisiku? Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMaha Kuasaanya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?

Dalil yang selalu dikatakan dari kalangan Islam yang tidak setuju homoseksualitas adalah ayat Alquran dalam kasus Nabi Luth AS. Tapi Manji balik berargumen bahwa dalam Alquran pun Allah mengatakan: ”Sekiranya Tuhanmu berkehendak, Dia akan membuat kamu sebagai satu suku, tetapi Dia telah mencipta kamu bersuku-suku.” Manji mengakui kalau soal homoseksualitas ini betul-betul menguji keimananannya. Namun dia berkesimpulan bahwa perdebatan soal ini lebih karena penafsiran atas ayat Tuhan tapi bukan karena ayat Tuhan itu sendiri. Masing-masing pihak mempunyai landasan ayatnya sendiri-sendiri yang semuanya diakomodasi dalam Alquran.

Menjadi Muslim Refusenik

Dalam pencarian keislamannya, Manji menemukan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam umat Islam saat ini dalam memahami ajaran Islam yang semestinya. Hal ini, menurut Manji, dikarenakan penafsiran Islam yang literer dan dogmatis yang diajarkan oleh para imam dan otoritas keislaman lainnya. Inilah yang membuat, istilah dia, The Trouble with Islam today. Karena itu Manji berseru keras agar umat Islam harus berani berijtihad, membuka & menafsirkan ajaran Islam kembali dengan pemikirannya sendiri yang sesuai dengan konteks dan persoalan yang dihadapi sekarang ini.

Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam, Manji sangat nyaring menggaungkan pentingnya ijtihad di kalangan umat Islam saat ini. Meski Manji bukanlah seorang sarjana muslim yang sengaja dan secara spesifik belajar tentang Islam namun keberhasilan dia adalah dia telah dengan jujur dan berani serta bersikap untuk mengungkapkan sesuatu yang salah yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang "dipraktekkan" dalam masyarakat saat ini.

Karena itu, ia menyebut dirinya sebagai Muslim Refusenik. Identitas ini bukan berarti ia menolak untuk menjadi muslim tapi ia menolak bergabung dengan sebuah pasukan robot atas nama Allah, menentang penjajahan otoritas dan pemahaman serta penafsiran Islam yang dominan sekarang ini yang disebarkan oleh para mullah, imam, sheikh dan lain-lain. Islam yang menyebarkan kebencian kepada yang lain, Islam yang menghalalkan kekerasan hanya karena berharap bertemu bidadari dan masuk surga, Islam yang tidak ramah dengan perempuan untuk melanggengkan patriarkhi, Islam yang menolak hak asasi manusia dan sekulerasiasi untuk menegakkan teokrasi dan lain-lain.

Istilah Refusenik berasal dari kalangan Yahudi-Soviet yang memperjuangkan kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Pemerintah Komunis saat itu menindas dan menghalagi perjuangan dan hak mereka. Mereka menolak untuk pindah ke Israel dan akhirnya dihukum berat bahkan ada yang dibunuh. Namun perjuangan mereka mendapatkan kemenangan dengan tumbangnya kekuasaan Soviet.

Manji meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini akan mendapatkan hasilnya. Ia berharap umat Islam tidak akan terbelenggu lagi dengan pemahaman-pemahaman literer yang membuat Islam ini terpuruk dan tidak beradab. Manji masih lantang bersuara sampai sekarang. Ia menulis artikel dan buku, mengisi seminar dan diskusi, rajin berdiskusi dan menjawab pertanyaan siapa saja di blognya, wawancara di pelbagai media, bahkan ia membuat film dengan judul Faith without Fear yang diproduksi oleh PBS TV. Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidupnya dalam merekonsiliasi antara keyakinan agama dan kebebasannya (freedom).

Beberapa waktu lalu, Oprah Winfrey memberikan penghargaan Chutzpah karena keberanian, kelantangan dan keteguhan Manji dalam menyuarakan keyakinan dan perjuangannya. Majalah Ms menyebut Manji sebagai “Feminis Abad 21”, The World Economic Freedom Forum memilihnya sebagai Young Global Leader. Sementara The Jakarta Post menuliskan Manji merupakan salah satu dari tiga perempuan Islam yang memberi perubahan positif pada Islam saat ini.

Sangat jarang menemukan orang yang berani seperti Manji di tengah konstelasi umat Islam saat ini. Karena pemikirannya yang dianggap mengancam itulah ia mendapat banyak cercaan dan ancaman termasuk diancam dibunuh dari kalangan Islam yang tidak setuju dengannya. Bahkan The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Namun Manji tidak takut mati karena ia punya keyakinan bahwa meski raganya mati tapi gagasan dan pemikiran tetap akan hidup dan tetap diteruskan oleh orang-orang yang setuju dengannya.

Seperti halnya sikap Mohammed di atas, saya juga sangat setuju untuk tidak mempersoalkan pilihan orientasi seksual Manji yang berbeda dengan mainstream. Juga tidak menjadi dalih untuk menolak pemikiran dan usahanya selama ini dalam menghidupkan kembali ijtihad yang harus dilakukan umat Islam saat ini. Mengutip sebuah ungkapan Arab: undur ma qaala, wala tandur man qaala: lihat yang dia lakukan selama ini, jangan mempersoalkan bagaimana orangnya. Kita mesti mengapresiasi, mendukung dan mengikuti pemikiran dan perjuangannya selama ini. Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.

**Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan, edisi Maret-April 2008

Monday, March 24, 2008

Usiaku Bertambah

Kemarin usiaku bertambah. Aku senang karena Andrea meniup lilin untukku dengan antusias. Banyak ucapan dan doa mengawali tambahnya umurku (duh, aku makin tua nih!). Aku ucapkan terima kasih buat orang-orang terdekatku, keluarga dan teman-teman semua.

Ada puisi yang dirangkai Dewi, sahabatku yang sekarang belajar di Jerman,untuk ultahku.

Perkasa Mahmada
Yang tak dinujum derita
Kepadanya tiada cita

Yang tak hujan dirasa
Kepadanya tiada lara

Lara itu indah Mahmada
Lara itu perkasa


Ada kata-kata bagus dari mbak gadis yang membuatku termotivasi:

learning year by year, moment by moment to be free in our minds and hearts, we make freedom posible every minute of our lives.

Ada kalimat-kalimat dari mbak Soe Tjen yang membuatku makin bangga dan bahagia menjadi ibu:

Terkadang, ucapan selamat seharusnya tidak hanya disuguhkan pada yang telah lahir. Namun juga pada yang melahirkan.

Karena pada saat itu, seorang ibu telah merelakan tubuhnya untuk manusia baru. Kepada Nong, yang telah berbuat banyak pada perempuanlainnya.

Jadi, selamat Nong dan selamat juga pada ibu Nong


Akhirnya, aku berharap, semua doa yang dipanjatkan keluarga dan semua temanku semoga terkabul, Amiiinnn...

Friday, March 21, 2008

Belum Ada Keinginan Kuat

INILAH.COM, Jakarta – Peran politik kaum perempuan semakin diharapkan. Undang-Undang Politik yang baru bahkan mewajibkan partai politik mengadopsi peran ini dengan mewajibkan partai politik memenuhi kuota sebesar 30%, baik dalam struktur kepengurusan partai politik maupun di parlemen.

Meski begitu, kewajiban ini tak ototmatis memuluskan jalan kaum hawa terjun ke dunia politik. Sebab tidak adanya keinginan yang kuat dan keras dari partai politik untuk melibatkan perempuan selama ini menjadi hambatan utama. "Pemenuhan kuota 30% untuk perempuan hanya bisa terealisasi bila ada kemauan kuat dari partai politik," kata Nong Darol Mahmada, Manajer Program Freedom Institute.

Kepada INILAH.COM, Nong mengutarakan pandangannya mengenai kesiapan politisi perempuan dalam menyambut tantangan itu. Berikut ini, petikan wawancaranya:

Sebenarnya seberapa siap politisi perempuan memenuhi kuota 30% baik di parlemen maupun di kepengurusan partai?

Sebenarnya, kalau misalnya ada keinginan yang kuat atau niat baik dari partai, kuota itu bisa terlaksana. Jangankan 30%, lebih dari itu sebenarnya juga bisa. Hanya saja selama ini nggak ada keinginan atau usaha yang sangat keras dari partai untuk merealisasikan itu semua.

Dalam penelitian yang dilakukan pusat-pusat kajian gender, partai-partai politik masih belum punya keinginan yang kuat untuk itu. Padahal potensi perempuan untuk mengisi kuota itu sangat tinggi.

Jadi potensi perempuan untuk terlibat dalam politik sebenarnya lebih besar dari 30%?

Sangat-sangat besar. Kalau ada keinginan dan usaha yang keras dari parpol, bisa melebihi 30%. Karena sekarang itu kan perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan pengalaman sudah semakin banyak. Begitu juga kalangan perempuan yang memegang sebuah organisasi atau berkecimpung dalam kegiatan kemasyarakatan.

Cuma itu, nggak ada keinginan dari parpol untuk secara kreatif mencari perempuan-perempuan yang potensial dan layak dalam menduduki posisi di parlemen dan partai politik mereka. Itu saja problemnya, menurut saya.

Apakan Anda melihat ada persoalan gender dalam hal ini, sehingga politik itu didominasi kaum laki-laki?

Sebenarnya bukan hanya persoalan itu saja. Persoalan patriakis itu kan sudah mengakar, itu kan persoalan budaya. Tapi, budaya politik di kita masih lebih melihat bahwa permainan politik itu lebih didominasi atau hanya milik laki-laki. Terus yang kedua, masih menggunakan politik sebagai kepentingan pribadi, bukan konstituen. Bahkan, hanya untuk kepentingan parpol saja. Konstituen selalu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pemilu.

Ada keterkaitan erat antara orientasi partai dengan kuota perempuan di partai politik?

Ya, kalau kita membaca usulan nama caleg perempuan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dalam pemilu kemarin kan umumnya begitu. Kita juga bisa melihatnya dari beberapa perempuan yang kini terlibat di beberapa partai politik, lebih seperti itu dibandingkan misalnya yang laki-lakinya.

Politisi perempuan seperti Maria Ulfah, salah satunya, lebih memiliki perhatian kepada konstituen ketimbang kepada partai politik. Malah mereka sering bentrok dengan partai politik, karena dianggap terlalu berkomitmen terhadap konstituen ketimbang partai politik. Saya melihatnya seperti itu.

Kalau partai politik menginginkan keterlibatan perempuan, apakah partai politik harus mengubah orientasi politiknya menjadi fokus terhadap kepentingan konstituen?

Sebenarnya kan partai politik itu memang seharusnya untuk konstituen kan? Artinya begini... saya melihat, ketika perempuan itu terlibat dalam parpol itu, perjuangannya cukup keras. Ia bukan hanya memperjuangkan suara-suara konstituen, tapi juga berjuang untuk di parpolnya.

Saya memakluminya. Buat saya, itu nggak masalah, karena kita semua kan baru menjalani sebuah tahap proses menuju ke kedewasaan politik. Tapi kita berharap bahwa suatu saat nanti partai politik benar-benar memperhatikan konstituen. Lebih berkomitmen ke konstituen tanpa harus mengurangi komitmennya terhadap parpol.

Artinya Anda melihat dominasi laki-laki di partai politik lebih berorientasi pada kepentingan pribadi ketimbang jika partai politik dipegang perempuan?

Benar. Itu yang dinamakan sebagai politik laki-laki. Jadi mereka bersaing keras untuk diri pribadi. Ini mungkin terlalu stereotip, tapi bisa juga dibilang bahwa kadang dalam keterlibatan laki-laki di politik kurang memaksimalkan emosional.

Padahal, emosional itu penting. Karena di situ yang namanya empati, simpati, erat kaitannya dengan menjaga hubungannya dengan konstituen ini. Jangan dianggap hal yang emosional itu negatif. Nggak, sama sekali. Itu bisa menyeimbangkan semuanya. Empati, simpati, dan perhatian.

Keterlibatan laki-laki di partai politik lebih menonjolkan unsur rasional. Kalau menilai, selalu hitam putih. Sedangkan perempuan kan nggak seperti itu. Nah, karena itu pentingnya perempuan di partai politik juga menyangkut soal-soal seperti itu. [P1]

sumber: http://www.innphotoes.com/berita.php?id=15414

Saturday, February 23, 2008

Kenyamanan dan Kemerdekaan

Malam ini, dua kata itu datang menggugatku. Ada sms yang mampir ke hpku dengan memakai dua kata itu. Aku tersentak, ingat jalan hidupku.

Aku pernah merasakan rasa nyaman yang luar biasa dalam beberapa waktu, tapi aku merasa tak punya kemerdekaan. Kemerdekaan yang aku jalani waktu itu harus dengan wajah ganda: aku tetap bertahan dengan kenyamananku supaya aku tak hilang kemerdekaanku. untuk menjalani kemerdekaanku aku butuh strategi agar tak menyakiti orang-orang yang tak suka dengan pemikiran dan pilihan hidupku. Bagi sebagian orang aku dibilang penakut dan munafik tapi waktu itu buatku adalah kompromi dan pilihan menjalani hidupku sendiri. GM pernah komentar tentang hidupku: takdirmu Nong, sejak menemukan kehidupanmu kamu selalu melakoni hidup dengan wajah ganda seperti itu.

Akhir-akhir ini, aku berontak. Mungkin persis seperti awal-awal Indonesia mau merdeka dari Belanda dulu. Untuk mendapatkan kemerdekaan ini aku perlu lobi, aksi dan yang lainnya (hehe..maksa banget gitu loh) Sekarang aku mendapatkan kemerdekaan itu. Namun aku alami sekarang malah sebaliknya. Aku merasa merdeka tapi aku tak merasakan kenyamanan. Banyak tuduhan macam-macam dan aku jadi merasa gelisah, tak nyaman. Sempat membuat hidupku terganggu tapi sekarang aku tak perduli lagi. Ini pilihan hidupku.

Kadang aku bertanya, apakah untuk hidupku dua kata ini harus terus menerus dihadap-hadapkan? Tak bisakah dua-duanya didapatkan?

Sebagai manusia biasa, sebenarnya aku ingin mendapatkan kenyamanan dan kemerdekaan sekaligus. Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkannya. Definisiku sementara, kenyamanan membuat kita lelap dan menganggap hidup ini selesai, tdk menantang lagi. Sementara kemerdekaan membuat kita terus mencari dan berpetualang.

Idealnya aku mendapatkan dua-duanya: kenyamanan dan kemerdekaan. Tapi kalau ngga bisa, aku memilih kemerdekaan. Dengan pilihan ini aku merasa terus menerus hidup dan berproses. Bukankah hidup ini memang berproses terus menerus sampai kita mati? semoga aku bisa dan Mari Kita Rayakan Kemerdekaan!

Thursday, February 21, 2008

Kamu-Kamulah SURGA

tahukah kamu kuciumimu
di saat terlelap
tahukah kamu kudekap kamu
saat kamu bermimpi

tahukah kamu ya cuma kamu
pemilik hatiku
tahukah kamu hatiku ini
adalah hatimu

tahukah kamu di setiap tidurku
ku kagumi wajahmu
nanti kau kan tahu
nanti kau dengar bahwa aku begitu

reff:
kamu, kamu adalah surga yang ada
dalam hidupku dalam kenyataanku
kamu, aku adalah penghuni surga
ucapkan salam pada hidup dan mati

tahukah kamu saat kamu menangis
adalah air mata ku yang jatuh berlinang
tahukah kamu saat kamu tersakiti
adalah aku yang pertama terluka

tahukah kamu ya cuma aku
yang punya cinta untukmu
tahukah kamu ya cuma aku
yang rela mati untukmu


**Lagu ini ciptaan Ahmad Dhani yang sekarang lagi populer dengan band baru pimpinannya, The Rock.