Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Friday, April 25, 2008

Kartini dan Islam

Riwayat Kartini telah menjadi sumber ilham yang tak pernah kering. Tiap tahun di hari kelahirannya pasti bermunculan ulasan tentang tokoh ini dari pelbagai perspektif. Selain pribadinya, hidupnya yang sarat dengan persoalan pun merupakan bahan kajian yang menarik. Kecerdasannya luar biasa. Bayangkan, di usianya yang masih sangat muda, dia berhasil merumuskan dan mendeskripsikan persoalan-persoalan yang terjadi pada bangsanya dalam korespodensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda.

Kartini beruntung karena menguasai bahasa Belanda. Dengan menguasai bahasa ini Kartini terus menerus mendiskusikan setiap pemikiran dan persoalannya dengan perempuan-perempuan dunia Eropa yang banyak menginspirasikan hidupnya. Kartini adalah jiwa yang menyaksikan kebangkitan sebuah masyarakat yang terlalu lama menderita. Dan ia sendiri menjadi bagian, bahkan salah seorang yang ikut andil dalam kebangkitan bangsa ini lewat goresan tangan dan kegelisahannya.

Saya mencoba membahas percikan pemikiran keagamaan Kartini khususnya soal Tuhan dan poligami. Sangat langka menemukan karya yang mengupas khusus soal ini karena selama ini Kartini lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan atau kebangkitan nasional. Padahal sebagai pribadi yang dilahirkan dari ibu yang keturunan kyai tapi dari rakyat biasa, pergulatan Kartini terhadap tema-tema keislaman sangatlah menarik. Yang pernah mengulas secara khusus pemikiran keagamaan Kartini adalah TH. Sumartana (alm) dalam buku yang berjudul Agama dan Iman menurut Kartini. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja juga sedikit menyinggung soal konsep Kartini tentang Tuhan.

Tentang Islam

Di tengah kesepian dalam pingitan, pandangan-pandangan Kartini tentang tema-tema keagamaan itu begitu mendalam. Kartini melakoni dan memahami Islam tidak taken for granted. Baginya berislam haruslah masuk akal dan sesuai dengan pemikiran. Ia mengakui kalau keislaman yang ia anut adalah semacam turunan dari nenek moyangnya. Seperti pada umumnya orang beragama, ia juga tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih agama apa yang ia kehendaki. Sehingga doktrin dan ritual diwariskan begitu saja.

Namun jiwa pencarian Kartini tak pernah mati, “tibalah waktunya jiwaku mulai bertanya: Mengapa aku lakukan ini, mengapa ini begini dan itu begitu?’” Pergolakan Kartini tentang keislaman begitu dahsyat sehingga ‘sesuatu’ yang menurutnya tak dia pahami dia tinggalkan. Dia lebih mengedepankan hal-hal yang masuk akal, hal yang bersifat substantif dibanding formalitas tapi tak dia mengerti. Kata Kartini, “jadi kami putuskanlah untuk tidak berpuasa dan melakukan hal-hal lain yang dahulu kami kerjakan tanpa berpikir, dan yang kami pikir sekarang ini tak dapat kami kerjakan. Gelap–kami merasa kegelapan–tak seorang pun mau menerangkan kepada kami apa yang kami tidak mengerti.”(Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C Abendanon)

Sikap seperti itu tak membuat Kartini meninggalkan agamanya. Bahkan proses pencarian ini semakin meneguhkan keyakinannya. Ia tetap menjadi Islam meski yang paling utama buat dia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Meski ia diperlakukan tidak adil karena posisinya sebagai perempuan, namun pandangan dia tentang Tuhan sangat positif. Kartini tak pernah menyalahkan Tuhan, ia melakoninya sebagai sebuah takdir yang harus ia jalani dengan positif.

Bagi Kartini, takdir itu bukan fatalisme atau penyerahan diri sehingga kehilangan kepercayaan diri: hanya pasrah dan menerima kondisi kita. Takdir menurutnya bisa mewujud menjadi suatu upaya dan usaha terus menerus tentang tugas yang diberikan Tuhan untuk meningkatkan diri dan melakukan hal yang terbaik. Ia terus menerus berproses dan mencari. Makanya tak heran, meski dia dikungkung, namun pemikiran-pemikiran cerdas tetap keluar deras melaui tulisan-tulisan. Lewat pemahaman seperti ini, saya melihat, Tuhan di mata Kartini adalah kebajikan. Tuhan hidup dan hadir di dalam hati dan jiwa manusia.

Seperti yang diulas dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, pandangan Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik dibanding metafisik. Kata Kartini, “Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia.”

Tentang Poligami

Dalam lingkungan kehidupan bangsawan Jawa, tempat Kartini hidup, praktek poligami merupakan hal yang lumrah. Kebiasaan dan adat istiadat yang hidup di kalangan masyarakat khususnya di kalangan priyayi Jawa yang berkedudukan tinggi, memang menempatkan kedudukan perempuan tidak sama dengan kaum lelaki. Perempuan hanya berharga apabila ia dihubungkan dengan soal perkawinan. Dan perkawinan itu pun malah menjadi puncak penderitaan perempuan. Karena meskipun menjadi istri sah dari suaminya, para perempuan dituntut dan diharuskan untuk berbagi suaminya.

Kartini melihat kenyataan tak adil ini dengan kegeraman, “…saya akan menyinggung kaum lelaki dalam sifat mereka yang selalu mementingkan diri sendiri, egoistis. Celakalah mereka itu,…yang menganggap egoisme lelaki semacam sesuatu yang sah dan adil!” Kartini tidak membesar-besarkan soal poligami ini, ia tidak berkhayal. Karena ia mengalami kepedihan akibat praktek yang menciptakan ketidak adilan ini di dalam keluarganya yang terjadi pada ibunya sendiri.

Ibu kandung Kartini yang bernama Ngasirah bukanlah raden ayu meski ia menjadi istri sah Bupati Sosroningrat, bapak Kartini. Meski menjadi istri sah dan telah melahirkan delapan anak, Ngasirah tak berhak tinggal di rumah utama dan tidak dianggap sebagai seorang ibu. Ia diperlakukan sebagai pembantu dan sekedar melahirkan anak. Ngasirah harus merangkak-rangkak dan menunduk-nunduk karena ia berasal dari kalangan jelata, sementara ia dan saudara-saudaranya karena berasal dari benih bangsawan bapaknya, harus dihormati dan disembah oleh ibu kandungnya sendiri. Sekalipun Kartini tidak pernah mengungkapkan secara terbuka penderitaan yang dialami ibu kandungnya, bias dibayangkan bagaimana perasaannya melihat keanehan kehidupan keluarganya. “…saya telah melihat neraka dari jarak dekat – malahan saya berada di dalamnya--…Saya telah menyaksikan penderitaan, dan merasakan sendiri kesengsaraan ibu saya, karena saya adalah anaknya.”

Perlawanan Kartini terhadap poligami di kalangan bangsawan Jawa pada akhirnya membawa dia pada kesadaran bahwa ia sendiri sudah hidup dalam bayang-bayang musuh besar yang sedang dilawannya. Ia sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang amat bengis dan kuat yang didukung adat istiadat bahkan juga dibenarkan oleh agamanya, Islam. Tulis Kartini, “Saya putus asa….Sebagai manusia saya merasa seorang diri tidak mampu melawan kejahatan berukuran raksasa itu, dan yang—aduh, alangkah kejamnya! Dilindungi oleh ajaran Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan sebagai korbannya! Aduh! Saya pikir mungkin pada suatu ketika nasib menimpa kepada saya suatu siksaan yang kejam yang bernama poligami itu! Saya tidak mau! mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali…”(Surat kepada Ny.Abendanon-Mandri tertanggal Agustus 1902).

Tragusnya tiga tahun kemudian setelah ia menulis itu, kejahatan besar yang selama ini ia lawan menimpa dirinya. Ia menikah dengan lelaki yang sudah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak. Sebulan sebelum ia menikah, ia menulis surat kepada Ny. Abendanon bahwa ia merasa telah mati sia-sia. Secara fisik dan moral telah patah, tak mempunyai kekuatan apa-apa lagi. Ia merasa gagal dalam perjuangannya, tak suatu pun hasil yang dicapainya. Semuanya, segala cita-cita telah runtuh oleh egoisme orang-orang karena dilandasi tradisi dan agamanya.

Setelah menikah, Kartini tidak memberontak lagi, tidak menjeritkan kegelisahan dan protesnya terhadap kedudukan dan nasib perempuan Jawa termasuk soal poligami. Nampaknya Kartini berusaha berdamai dengan keadaan yang dialaminya. Meski menurut saya, usaha itu tak berhasil. Kartini tetap lah tak bisa berlangsung lama dalam kehidupan pernikahannya. Empat hari setelah melahirkan anaknya, ia meninggal membawa cita-cita dan perjuangannya meski cita-cita dan perjuangannya itu tak akan pernah mati sampai detik ini.

** Dimuat di Koran Tempo, tanggal 22 April 2008

Monday, April 7, 2008

Kado Kartini dan Partisipasi Perempuan

Meski hari Kartini masih dua minggu lagi, namun ada kado yang sangat penting di hari Kartini tahun ini untuk tidak kita lewatkan. Kado itu adalah ditetapkannya kuota 30 persen untuk keterlibatan perempuan dalam proses politik yang secara legal masuk dalam UU Partai Politik. Pengesahan UU ini telah ditetapkan awal Desember tahun lalu. Semestinya saat ini partai politik sudah mulai bekerja dalam mencari perempuan-perempuan potensial yang layak dilibatkan dalam proses politik untuk memenuhi kuota 30 persen ini.

Beberapa kemajuan mendasar UU Partai Politik baru ini, pertama, pendirian partai politik (parpol) yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 2. Isinya menyatakan, pendirian dan pembentukan partai politik menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan.

Kedua, kepengurusan partai politik. Pasal 1 Ayat 5 menyatakan, kepengurusan parpol di tingkat pusat disusun dengan menyertakan sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan; Pasal 20 menyebut kepengurusan parpol di tingkat provinsi dan kabupaten/kota disusun dengan memerhatikan keterwakilan perempuan 30 persen yang diatur dalam AD dan ART partai.

Ketiga, kaderisasi. Pasal 31 menyatakan, parpol melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai ruang lingkup tanggung jawab dengan memerhatikan keadilan dan kesetaraan jender.

Ketiga aspek tersebut merupakan terobosan besar dalam sejarah produk perundang-undangan di Indonesia. Parpol berdasarkan UU Partai Politik Tahun 2007 ini dituntut penuh komitmennya untuk ikut mendorong tercapainya keadilan dan kesetaraan jender di Indonesia melalui pelibatan perempuan dalam politik yang tertuang pada aspek pendirian, kepengurusan, hingga pendidikan politik yang merupakan hulu proses perjuangan politik perempuan.

Adanya peraturan yang berupa affirmative action ini merupakan tantangan dan peluang bagi perempuan. Karena harus diakui Indonesia masih merupakan negara yang tergolong sangat minim dalam partisipasi perempuan di wilayah politik. Karenanya masih diperlukan kebijakan seperti ini.

Buku Data Pembuka Mata terbitan LIPI dan Unicef Mei 2001 menyebutkan bahwa ketimbang Laos, Indonesia masih kalah jauh dalam memberikan peluang bagi perempuan untuk berada duduk di eksekutif. Padahal Pemilu 1997 dan Pemilu 1999 jumlah pemilih perempuan lebih besar ketimbang pemilih lelaki. Tapi nyatanya potensi besar perempuan di Indonesia masih terabaikan kalau tidak mau disebut agak 'dipinggirkan'.

Berdasar data yang dikeluarkan CETRO tentang Data dan Fakta: Keterwakilan Perempuan Indonesia di Partai Politik dan Lembaga Legislatif, 1999-2001, jumlah perempuan di Parlemen juga tidak banyak meningkat, baik pada masa Orde Baru (periode 1997-2002) maupun pasca Orde Baru (1999-2004). Bahkan ketika pemilu di era Reformasi, penurunan keterwakilan perempuan sangatlah kecil. Perempuan Indonesia yang menjadi anggota DPR tak sampai 15 persen, begitu juga di lembaga MPR, jumlahnya masih minim, di bawah 20 persen.Bila dihitung secara matematis, dari setiap delapan anggota DPR hanya satu perempuan, begitu juga di lembaga MPR.

Bila dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia sedikit lebih baik ketimbang Myanmar yang mempunyai sekitar 1-2 persen perempuan di pemerintahan, tapi jauh tertinggal dari Laos, Brunei, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, apalagi Filipina.

Indonesia sampai 2004 hanya memiliki perempuan di Parlemen sekitar 9 persen, sedang di pemerintahan tak lebih dari dua persen, jauh tertinggal dibanding Filipina dengan 25 persen perempuan di pemerintahan dan 12 persen di parlemen.

Hambatan Partisipasi Perempuan

Hambatan yang paling besar untuk memenuhi kuota 30 persen adalah dari partai politik itu sendiri. Mereka beralasan hal itu dikarenakan kurang tersedianya perempuan yang “bagus” dan layak untuk bisa masuk ke parpol, apalagi untuk legislatif. Padahal saya melihat ini lebih dikarenakan parpolnya kurang punya keinginan kuat untuk mencari, meyakinkan, dan juga menawarkan programnya kepada perempuan-perempuan yang layak untuk terlibat di parpolnya. Seperti diketahui, baru-baru ini Pusat Kajian Gender UI meluncurkan hasil kajiannya yang menemukan dan mengumpulkan ratusan perempuan potensial dari 5 daerah yang sangat layak untuk dilibatkan dalam parpol sebagai jawaban atas persoalan ini .

Di sisi lain, dari kalangan perempuan pun ada kekecewaan terhadap parpol karena parpol dalam setiap aktivitas politiknya relatif minim melibatkan perempuan dalam persoalan-persoalan yang krusial khususnya yang berdampak pada isu publik. Persepsi tentang politik yang didominasi hanya untuk dunia laki-laki ini juga menjadi faktor yang dominan. Hal ini dipertegas lagi dengan hasil survey LSI yang memperlihatkan bahwa 65 persen partai politik tidak mewakili aspirasi perempuan untuk berbagai persoalan. Karena itu perempuan-perempuan ini kemudian lebih memilih bekerja dan beraktivitas untuk pemberdayaan masyarakat di luar parpol atau di luar kekuasaan.

Hambatan lainnya yaitu masih adanya keraguan di kalangan parpol dan masyarakat dalam menerima perempuan secara penuh. Akhirnya mereka selalu mempertanyakan soal kualitas untuk memperlihatkan keraguan itu atau sikap penolakan itu. Padahal, hal itu tidak terjadi sebaliknya, diberlakukan pada laki-laki. Tidak pernah ada pertanyaan akan kualitas laki-laki yang sebenarnya sudah terbukti gagal membangun sistem politik demokratis yang menyejahterakan rakyat.

Adanya aturan kuota 30 persen ini sebenarnya lebih memotivasi dan mengajak perempuan untuk mau bekerja di parpol sehingga ada keseimbangan dalam perumusan kebijakan publik khususnya yang terkait dengan perempuan. Karena itu pertanyaan mengenai kualitas tidaklah tepat dan relevan diajukan dalam kondisi di mana keterlibatan aktif perempuan dalam politik saja masih sangat rendah. Saat ini, perempuan bisa berpolitik saja sangat berat, apalagi selalu dibenturkan pertanyaan seputar kualitas. Pertanyaan tentang kualitas politik perempuan adalah pertanyaan yang keliru memahami upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam politik.

Fakta membuktikan, meski dengan jumlah partisipasi yang minim, kehadiran perempuan di parpol yang kemudian masuk legislatif telah memberikan beberapa hasil menggembirakan untuk kepentingan perempuan, antara lain lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Kewarganegaraan, dan Undang-Undang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Kajian di berbagai negara juga memperlihatkan, keterwakilan perempuan dalam jumlah 30persen dapat menghasilkan keputusan yang lebih memerhatikan kepentingan dan pengalaman perempuan yang selama ini kurang terwakili. Persoalannya sekarang adalah bagaimana meyakinkan parpol agar benar-benar memberikan tempat kepada perempuan. Karena ini akan berdampak sangat positif untuk parpol, kesejahteraan masyarakat dan perkembangan demokrasi di Negara kita tercinta.

Dimuat di koran Seputar Indonesia, minggu tanggal 6 April 2008

Wednesday, April 2, 2008

Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad

My name is Irshad. I’m a faithful muslim. I speak out against violance and human rights abuses in the name of God. Courage is not the absence of fear. Courage is the recognition that some things are more important than fear.

Bila kita membuka website www.irshadmanji.com, maka kalimat-kalimat di atas akan kita temukan dibanner website itu. Kata-kata yang tegas dan terang benderang itu terus menerus diulang, menggedor kesadaran dan keberanian kita untuk ikut berjuang seperti dia tanpa ada rasa ketakutan dalam melawan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia atas nama Tuhan dan agama.

Bagi kalangan kita di Indonesia nama Irshad Manji mungkin dianggap berjenis kelamin laki-laki. Yang benar Manji berjenis kelamin perempuan yang mengancam posisi laki-laki dengan gebrakan pemikiran dan tindakannya.

Hal ini diakui oleh Dr. Khaleel Mohammed, seorang Imam yang belajar Ilmu Syari’ah di Muhamad bin Saud University Riyadh dan sekarang menjadi Professor Islam di San Diego State University. Dia mengatakan dalam pengantar buku Irshad Manji: The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith bahwa semestinya dia membenci Irshad Manji. Karena Manji telah mengancam posisi dia sebagai Imam lewat pemikiran-pemikiran yang kritis tentang Islam. Bila umat Islam menerima pemikiran Manji maka peran dia sebagai Imam yang mempunyai peran penting dalam menggawangi dan merumuskan ajaran Islam, akan selesai dan tidak berguna lagi. Selain itu, kata Mohammed, Manji juga mengancam posisinya sebagai laki-laki karena Manji terang-terangan mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian, yang menurutnya, status itu jelas-jelas dilaknat Allah.

Namun Mohammed buru-buru menyadari kalau ia tak sepatutnya membenci Manji. Lewat proses kegelisahan yang cukup panjang akhirnya Mohammed mengakui kalau apa yang dilakukan Manji selama ini lewat gebrakan pemikirannya yang selalu mengajak umat Islam untuk bersikap terbuka, toleransi, mengkritik kalangan Islam radikal, dan menentang penindasan, termasuk penindasan-penindasan yang dirasionalisasikan oleh para imam, sheikh, mullah, professor dan siapapun dengan berani berijtihad, adalah benar adanya.

Meski Mohammed menegaskan bahwa dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran Manji, namun karena ajaran Islam itu sangat menghargai kebebasan berpikir maka usaha dan pemikiran Manji harus dipahami sebagai salah satu bentuk ijtihad dirinya yang meski dipuji dan dihargai. Apalagi tindakan Manji selama ini karena didasarkan pada ayat Alquran yang mengatakan: ” Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu..."(Quran, 4:135)

Pengalaman Masa Kecil Manji

Manji dilahirkan di Uganda pada 1968 dari pasangan Muslim yang keturunan Arab-Mesir dan India. Antara tahun 1971 dan 1973, keluarganya merupakan salah satu dari ribuan muslim Uganda yang hijrah ke Barat karena tekanan dikatator militer saat itu, Jenderal Idi Amin Dada. Saat itu Jenderal Idi Amin hanya membolehkan masyarakat kulit hitam saja yang menempati negeri ini. Untungnya, Ayah Manji dan adik-adiknya termasuk keluarga yang mempunyai status yang cukup tinggi karena memegang bisnis perdagangan sebuah merk kendaraan yang prestisius. Tahun 1972, dengan bantuan pemerintah British, keluarga Manji diboyong ke Vancouver British Columbia, tepatnya di daerah Richmond, sebuah daerah middle class di wilayah Vancouver. Manji saat itu berusia 4 tahun.

Sejak kecil Manji sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan selalu memrotes sesuatu yang membuat dia tidak bisa menerimanya, baik di lingkungan keluarga atau agamanya. Seperti yang ia ceritakan dalam bukunya The Trouble with Islam Today, bagaimana dia memrotes tindakan ayahnya yang memukul pembantunya yang bernama Tomasi, yang berkulit hitam. Ayahnya memperlakukan pembantunya seperti budak. Tindakan itu tidak bisa dia terima tapi dia dan ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya punya pemahaman bahwa dia bisa melakukan apapun terhadap budaknya itu. Begitu juga terhadap dia, ibu, dan saudaranya. Ibunya pernah dipukul ayahnya dan ia melarang Manji untuk membela dan mengobati luka-luka ibunya. Ayahnya juga mengancam Manji kalau Manji melaporkan perbuatannya itu ke polisi. Manji sendiri pernah dipukul ayahnya sewaktu ibunya tidak di rumah sehingga dia kemudian lari dan bersembunyi di atas atap rumahnya. Di atas atap itu, dia membayangkan bisa hidup secara bebas dan jauh dalam mengeksplorasi semua tindakan, pemikiran dan cita-citanya.

Manji menggambarkan ayahnya sebagai tipe laki-laki yang sangat keras, galak, berkuasa dan menganggap dirinya sebagai kepala keluarga yang setiap ucapan dan tindakannya harus dibenarkan. Tipe lelaki seperti ini adalah prototype lelaki yang dipahami dalam pemahaman Islam mainstrem bahwa ayah (laki-laki) adalah segala-galanya, tidak bisa dilawan dan harus dituruti terus. Istilah Manji ketika merumuskan sosok ayahnya itu, ”tak pernah aku mendapatkan dan menemukan nilai cinta & kebahagiaan darinya.”

Dua tahun setelah beradaptasi hidup di Barat, ayahnya menemukan sebuah penitipan anak-anak (semacam chid care) gratis yang dikelola oleh Gereja Baptis Rose of Sharon. Setiap hari Minggu ia dititipkan ayahnya karena ia tidak suka dan tidak bisa melayani anak-anak sementara ibunya saat itu bekerja sebagai agen Avon (salah satu produk kosmetika perempuan) yang menjajakan produknya dari rumah ke rumah. Di gereja itu, Manji mendapatkan lingkungan yang cocok dengan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan dia yang dianggap nakal dan subversif selalu dijawab oleh para pelayan di gereja itu dengan sabar tanpa pernah dimarahi atau dilarang. Misalnya pertanyaan: Yesus datang darimana, kapan Yesus hidup, siapa yang dinikahinya dan lain-lain. Semakin banyak ia bertanya, semakin senang orang-orang gereja itu menjawabnya. Sampai-sampai karena keaktifannya bertanya ia dianugerahi sebagai Most Promising Christian of the Year. Ia mendapat edisi buku bergambar yang berjudul 101 Bible Stories. Manji mengakui kalau ia sangat beruntung dengan periode hidup ini karena ia tidak mengenal terlebih dahulu Alquran sebagai satu-satunya buku yang merupakan sumber kekayaan hidupnya.

Setelah ia mendapatkan anugerah itu, ayahnya langsung mengeluarkan Manji dari gereja itu. Ia kemudian dimasukkan ke sekolah umum, Burnett Junior High, dan juga sekolah agama, madrasah. Tadinya Manji membayangkan kalau lingkungan madrasah akan sama seperti gereja. Tapi ternyata berbeda sama sekali. Pertanyaan dan kegelisahan yang keluar darinya soal agama yang selalu dia tanyakan ke gurunya, Mr. Khaki, selalu dianggap berbahaya dan subversif. Ia bertanya soal isu-isu keperempuanan misalnya soal jilbab, soal kenapa perempuan yang tidak bisa menjadi imam dan pemimpin, pemisahan laki-laki & perempuan, soal kebencian Islam terhadap Yahudi dan lain-lain. Mr Khaki selalu menjawab kalau ajarannya memang sudah begitu dan meminta Manji membaca Alquran terus menerus. Karena rasa ingin tahunya yang sangat besar, Manji membaca Alquran dengan terjemahan Inggris dan kemudian ia mengajak Mr. Khaki untuk berdiskusi lagi. Eh, Manji malah dikeluarkan dari madrasah karena terlalu banyak bertanya. Hal ini berbeda ketika ia berada di lingkungan gereja yang ia jalani sebelumnya.

Pengalamannya di madrasah itu sangat berkesan pada Manji dalam memahami ajaran Islam. Tentu saja maksudnya kesan jelek yang mendalam. Akhirnya untuk dua puluh tahun kemudian Manji mendalami sendiri Islam di perpustakaan-perpustakaan dan melalui tutor Bahasa Arab.

Pada dasarnya Manji bukanlah berlatar belakang studi Islam. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas British Columbia dalam bidang Sejarah Ide. Di tahun 1990, dia mendapatkan penghargaan Governor General's Silver Medal untuk lulusan bidang kemanusiaan. Kemudian bekerja di Parlemen Kanada menjadi asisten legislatif, sekretaris media di Pemerintah Ontario dan menjadi penulis naskah pidato untuk pemimpin New Democratic Party. Di usia 24 tahun, ia menjadi editor nasional untuk Ottawa Cittizen, dan menjadi anggota termuda sebagai editor di Canadian daily. Ia juga menjadi host dan produser untuk beberapa acara televisi dan memenangkan Gemini, penghargaan bergengsi televisi di Canada. Tahun 2002, ia menjadi penulis di Hart House Universitas Toronto, dari sinilah Manji mulai menulis buku The Trouble with Islam Today yang membuatnya kontrovesial.

Sekarang bukunya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa seluruh Dunia. Tahun ini akan terbit dalam bahasa Indonesia. Sekarang Manji menetap di New York dan sedang memimpin sebuah program yang bernama Courage Moral Project, sebuah program yang dikhususkan untuk anak-anak muda seluruh dunia.

Menjadi Feminis Muslim yang Lesbian

Secara terbuka Manji mengakui kalau dia adalah seorang feminis yang lesbian. Tentu saja dia menyadari kalau pilihannya itu beresiko terhadap pemahaman dan keyakinan keislamannya. Karena dalam pemahaman mayoritas umat Islam, agama yang dianutnya, dan agama lain pun, tak menerima bahkan mengutuk pilihan orientasi seksualnya. Ia mengakui ada pergulatan dalam dirinya apakah tetap menjadi muslim karena pilihan orientasi seksualitasnya itu atau keluar dari Islam. Bagi dia, sangatlah tidak adil untuk membenturkan dua pilihan hidupnya: menjadi lesbian membuat dia merasa bahagia dan indah, di sisi lain Islam adalah agama yang ia pilih dan jalani secara sadar, bukan sekedar karena Islam adalah agama keturunan yang ia anut dari kecil dan dari orang tuanya. Islam membuat ia merasa bahagia ketika menjalaninya karena ia menemukan banyak sumber kehidupan yang ia dapatkan dalam Islam. Ia katakan bahwa kebanyakan umat Islam atau orang beragama memeluk agamanya karena turun temurun, given, bukan pilihannya sendiri.

Manji mengenal teman perempuan spesialnya ketika ia berusia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian ia memberitahu soal pilihannya ini kepada ibunya, Mumtaz Manji. Respon ibunya, kata Manji, sangat memahami psikis dan pilihannya, tidak ada kata protes, sesal atau gugatan. Dalam bukunya Manji mengakui kalau ia menjadi lesbian karena ia merasa hidup dalam keluarga yang penuh kesedihan di bawah seorang ayah (laki-laki) yang membenci keindahan dan mensabotase rasa cintanya pada laki-laki. Ia menemukan cinta dan kebahagian pada sosok perempuan.

Posisi Manji sebagai lesbian semakin terbuka ketika ia menjadi presenter dalam acara QueerTelevision untuk salah satu TV di Toronto, tahun 1998. Ia langsung mendapat banyak hujatan, kritikan dan cercaan dari penonton yang tidak suka dan tidak setuju dengan persoalan orientasi seksual yang ”lain” terutama dari kalangan agama khususnya Islam dan Kristen. Acara ini memang membahas secara tuntas soal-soal kehidupan LGBT (lesbian, gay, biseks, transeksual/transgender).

Awalnya Manji berharap acara yang dipandunya itu bisa menciptakan sebuah dialog atau rekonsiliasi yang baik tentang tema homoseksualitas dengan Islam. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, banyak yang menuntut agar Manji keluar dari Islam. Di tengah tuntutan itu, Manji menjawab bahwa sangatlah tidak adil untuk meminta dia keluar dari Islam karena pilihan orientasi seksualnya ini. Pertanyaan dia: jika Tuhan yang Maha Tahu dan Maha berkuasa tidak ingin menjadikan aku seorang lesbian, kenapa Tuhan tidak menciptakan orang lain untuk menggantikan posisiku? Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMaha Kuasaanya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?

Dalil yang selalu dikatakan dari kalangan Islam yang tidak setuju homoseksualitas adalah ayat Alquran dalam kasus Nabi Luth AS. Tapi Manji balik berargumen bahwa dalam Alquran pun Allah mengatakan: ”Sekiranya Tuhanmu berkehendak, Dia akan membuat kamu sebagai satu suku, tetapi Dia telah mencipta kamu bersuku-suku.” Manji mengakui kalau soal homoseksualitas ini betul-betul menguji keimananannya. Namun dia berkesimpulan bahwa perdebatan soal ini lebih karena penafsiran atas ayat Tuhan tapi bukan karena ayat Tuhan itu sendiri. Masing-masing pihak mempunyai landasan ayatnya sendiri-sendiri yang semuanya diakomodasi dalam Alquran.

Menjadi Muslim Refusenik

Dalam pencarian keislamannya, Manji menemukan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam umat Islam saat ini dalam memahami ajaran Islam yang semestinya. Hal ini, menurut Manji, dikarenakan penafsiran Islam yang literer dan dogmatis yang diajarkan oleh para imam dan otoritas keislaman lainnya. Inilah yang membuat, istilah dia, The Trouble with Islam today. Karena itu Manji berseru keras agar umat Islam harus berani berijtihad, membuka & menafsirkan ajaran Islam kembali dengan pemikirannya sendiri yang sesuai dengan konteks dan persoalan yang dihadapi sekarang ini.

Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam, Manji sangat nyaring menggaungkan pentingnya ijtihad di kalangan umat Islam saat ini. Meski Manji bukanlah seorang sarjana muslim yang sengaja dan secara spesifik belajar tentang Islam namun keberhasilan dia adalah dia telah dengan jujur dan berani serta bersikap untuk mengungkapkan sesuatu yang salah yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang "dipraktekkan" dalam masyarakat saat ini.

Karena itu, ia menyebut dirinya sebagai Muslim Refusenik. Identitas ini bukan berarti ia menolak untuk menjadi muslim tapi ia menolak bergabung dengan sebuah pasukan robot atas nama Allah, menentang penjajahan otoritas dan pemahaman serta penafsiran Islam yang dominan sekarang ini yang disebarkan oleh para mullah, imam, sheikh dan lain-lain. Islam yang menyebarkan kebencian kepada yang lain, Islam yang menghalalkan kekerasan hanya karena berharap bertemu bidadari dan masuk surga, Islam yang tidak ramah dengan perempuan untuk melanggengkan patriarkhi, Islam yang menolak hak asasi manusia dan sekulerasiasi untuk menegakkan teokrasi dan lain-lain.

Istilah Refusenik berasal dari kalangan Yahudi-Soviet yang memperjuangkan kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Pemerintah Komunis saat itu menindas dan menghalagi perjuangan dan hak mereka. Mereka menolak untuk pindah ke Israel dan akhirnya dihukum berat bahkan ada yang dibunuh. Namun perjuangan mereka mendapatkan kemenangan dengan tumbangnya kekuasaan Soviet.

Manji meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini akan mendapatkan hasilnya. Ia berharap umat Islam tidak akan terbelenggu lagi dengan pemahaman-pemahaman literer yang membuat Islam ini terpuruk dan tidak beradab. Manji masih lantang bersuara sampai sekarang. Ia menulis artikel dan buku, mengisi seminar dan diskusi, rajin berdiskusi dan menjawab pertanyaan siapa saja di blognya, wawancara di pelbagai media, bahkan ia membuat film dengan judul Faith without Fear yang diproduksi oleh PBS TV. Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidupnya dalam merekonsiliasi antara keyakinan agama dan kebebasannya (freedom).

Beberapa waktu lalu, Oprah Winfrey memberikan penghargaan Chutzpah karena keberanian, kelantangan dan keteguhan Manji dalam menyuarakan keyakinan dan perjuangannya. Majalah Ms menyebut Manji sebagai “Feminis Abad 21”, The World Economic Freedom Forum memilihnya sebagai Young Global Leader. Sementara The Jakarta Post menuliskan Manji merupakan salah satu dari tiga perempuan Islam yang memberi perubahan positif pada Islam saat ini.

Sangat jarang menemukan orang yang berani seperti Manji di tengah konstelasi umat Islam saat ini. Karena pemikirannya yang dianggap mengancam itulah ia mendapat banyak cercaan dan ancaman termasuk diancam dibunuh dari kalangan Islam yang tidak setuju dengannya. Bahkan The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Namun Manji tidak takut mati karena ia punya keyakinan bahwa meski raganya mati tapi gagasan dan pemikiran tetap akan hidup dan tetap diteruskan oleh orang-orang yang setuju dengannya.

Seperti halnya sikap Mohammed di atas, saya juga sangat setuju untuk tidak mempersoalkan pilihan orientasi seksual Manji yang berbeda dengan mainstream. Juga tidak menjadi dalih untuk menolak pemikiran dan usahanya selama ini dalam menghidupkan kembali ijtihad yang harus dilakukan umat Islam saat ini. Mengutip sebuah ungkapan Arab: undur ma qaala, wala tandur man qaala: lihat yang dia lakukan selama ini, jangan mempersoalkan bagaimana orangnya. Kita mesti mengapresiasi, mendukung dan mengikuti pemikiran dan perjuangannya selama ini. Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia.

**Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan, edisi Maret-April 2008

Monday, March 24, 2008

Usiaku Bertambah

Kemarin usiaku bertambah. Aku senang karena Andrea meniup lilin untukku dengan antusias. Banyak ucapan dan doa mengawali tambahnya umurku (duh, aku makin tua nih!). Aku ucapkan terima kasih buat orang-orang terdekatku, keluarga dan teman-teman semua.

Ada puisi yang dirangkai Dewi, sahabatku yang sekarang belajar di Jerman,untuk ultahku.

Perkasa Mahmada
Yang tak dinujum derita
Kepadanya tiada cita

Yang tak hujan dirasa
Kepadanya tiada lara

Lara itu indah Mahmada
Lara itu perkasa


Ada kata-kata bagus dari mbak gadis yang membuatku termotivasi:

learning year by year, moment by moment to be free in our minds and hearts, we make freedom posible every minute of our lives.

Ada kalimat-kalimat dari mbak Soe Tjen yang membuatku makin bangga dan bahagia menjadi ibu:

Terkadang, ucapan selamat seharusnya tidak hanya disuguhkan pada yang telah lahir. Namun juga pada yang melahirkan.

Karena pada saat itu, seorang ibu telah merelakan tubuhnya untuk manusia baru. Kepada Nong, yang telah berbuat banyak pada perempuanlainnya.

Jadi, selamat Nong dan selamat juga pada ibu Nong


Akhirnya, aku berharap, semua doa yang dipanjatkan keluarga dan semua temanku semoga terkabul, Amiiinnn...

Friday, March 21, 2008

Belum Ada Keinginan Kuat

INILAH.COM, Jakarta – Peran politik kaum perempuan semakin diharapkan. Undang-Undang Politik yang baru bahkan mewajibkan partai politik mengadopsi peran ini dengan mewajibkan partai politik memenuhi kuota sebesar 30%, baik dalam struktur kepengurusan partai politik maupun di parlemen.

Meski begitu, kewajiban ini tak ototmatis memuluskan jalan kaum hawa terjun ke dunia politik. Sebab tidak adanya keinginan yang kuat dan keras dari partai politik untuk melibatkan perempuan selama ini menjadi hambatan utama. "Pemenuhan kuota 30% untuk perempuan hanya bisa terealisasi bila ada kemauan kuat dari partai politik," kata Nong Darol Mahmada, Manajer Program Freedom Institute.

Kepada INILAH.COM, Nong mengutarakan pandangannya mengenai kesiapan politisi perempuan dalam menyambut tantangan itu. Berikut ini, petikan wawancaranya:

Sebenarnya seberapa siap politisi perempuan memenuhi kuota 30% baik di parlemen maupun di kepengurusan partai?

Sebenarnya, kalau misalnya ada keinginan yang kuat atau niat baik dari partai, kuota itu bisa terlaksana. Jangankan 30%, lebih dari itu sebenarnya juga bisa. Hanya saja selama ini nggak ada keinginan atau usaha yang sangat keras dari partai untuk merealisasikan itu semua.

Dalam penelitian yang dilakukan pusat-pusat kajian gender, partai-partai politik masih belum punya keinginan yang kuat untuk itu. Padahal potensi perempuan untuk mengisi kuota itu sangat tinggi.

Jadi potensi perempuan untuk terlibat dalam politik sebenarnya lebih besar dari 30%?

Sangat-sangat besar. Kalau ada keinginan dan usaha yang keras dari parpol, bisa melebihi 30%. Karena sekarang itu kan perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan pengalaman sudah semakin banyak. Begitu juga kalangan perempuan yang memegang sebuah organisasi atau berkecimpung dalam kegiatan kemasyarakatan.

Cuma itu, nggak ada keinginan dari parpol untuk secara kreatif mencari perempuan-perempuan yang potensial dan layak dalam menduduki posisi di parlemen dan partai politik mereka. Itu saja problemnya, menurut saya.

Apakan Anda melihat ada persoalan gender dalam hal ini, sehingga politik itu didominasi kaum laki-laki?

Sebenarnya bukan hanya persoalan itu saja. Persoalan patriakis itu kan sudah mengakar, itu kan persoalan budaya. Tapi, budaya politik di kita masih lebih melihat bahwa permainan politik itu lebih didominasi atau hanya milik laki-laki. Terus yang kedua, masih menggunakan politik sebagai kepentingan pribadi, bukan konstituen. Bahkan, hanya untuk kepentingan parpol saja. Konstituen selalu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pemilu.

Ada keterkaitan erat antara orientasi partai dengan kuota perempuan di partai politik?

Ya, kalau kita membaca usulan nama caleg perempuan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dalam pemilu kemarin kan umumnya begitu. Kita juga bisa melihatnya dari beberapa perempuan yang kini terlibat di beberapa partai politik, lebih seperti itu dibandingkan misalnya yang laki-lakinya.

Politisi perempuan seperti Maria Ulfah, salah satunya, lebih memiliki perhatian kepada konstituen ketimbang kepada partai politik. Malah mereka sering bentrok dengan partai politik, karena dianggap terlalu berkomitmen terhadap konstituen ketimbang partai politik. Saya melihatnya seperti itu.

Kalau partai politik menginginkan keterlibatan perempuan, apakah partai politik harus mengubah orientasi politiknya menjadi fokus terhadap kepentingan konstituen?

Sebenarnya kan partai politik itu memang seharusnya untuk konstituen kan? Artinya begini... saya melihat, ketika perempuan itu terlibat dalam parpol itu, perjuangannya cukup keras. Ia bukan hanya memperjuangkan suara-suara konstituen, tapi juga berjuang untuk di parpolnya.

Saya memakluminya. Buat saya, itu nggak masalah, karena kita semua kan baru menjalani sebuah tahap proses menuju ke kedewasaan politik. Tapi kita berharap bahwa suatu saat nanti partai politik benar-benar memperhatikan konstituen. Lebih berkomitmen ke konstituen tanpa harus mengurangi komitmennya terhadap parpol.

Artinya Anda melihat dominasi laki-laki di partai politik lebih berorientasi pada kepentingan pribadi ketimbang jika partai politik dipegang perempuan?

Benar. Itu yang dinamakan sebagai politik laki-laki. Jadi mereka bersaing keras untuk diri pribadi. Ini mungkin terlalu stereotip, tapi bisa juga dibilang bahwa kadang dalam keterlibatan laki-laki di politik kurang memaksimalkan emosional.

Padahal, emosional itu penting. Karena di situ yang namanya empati, simpati, erat kaitannya dengan menjaga hubungannya dengan konstituen ini. Jangan dianggap hal yang emosional itu negatif. Nggak, sama sekali. Itu bisa menyeimbangkan semuanya. Empati, simpati, dan perhatian.

Keterlibatan laki-laki di partai politik lebih menonjolkan unsur rasional. Kalau menilai, selalu hitam putih. Sedangkan perempuan kan nggak seperti itu. Nah, karena itu pentingnya perempuan di partai politik juga menyangkut soal-soal seperti itu. [P1]

sumber: http://www.innphotoes.com/berita.php?id=15414

Saturday, February 23, 2008

Kenyamanan dan Kemerdekaan

Malam ini, dua kata itu datang menggugatku. Ada sms yang mampir ke hpku dengan memakai dua kata itu. Aku tersentak, ingat jalan hidupku.

Aku pernah merasakan rasa nyaman yang luar biasa dalam beberapa waktu, tapi aku merasa tak punya kemerdekaan. Kemerdekaan yang aku jalani waktu itu harus dengan wajah ganda: aku tetap bertahan dengan kenyamananku supaya aku tak hilang kemerdekaanku. untuk menjalani kemerdekaanku aku butuh strategi agar tak menyakiti orang-orang yang tak suka dengan pemikiran dan pilihan hidupku. Bagi sebagian orang aku dibilang penakut dan munafik tapi waktu itu buatku adalah kompromi dan pilihan menjalani hidupku sendiri. GM pernah komentar tentang hidupku: takdirmu Nong, sejak menemukan kehidupanmu kamu selalu melakoni hidup dengan wajah ganda seperti itu.

Akhir-akhir ini, aku berontak. Mungkin persis seperti awal-awal Indonesia mau merdeka dari Belanda dulu. Untuk mendapatkan kemerdekaan ini aku perlu lobi, aksi dan yang lainnya (hehe..maksa banget gitu loh) Sekarang aku mendapatkan kemerdekaan itu. Namun aku alami sekarang malah sebaliknya. Aku merasa merdeka tapi aku tak merasakan kenyamanan. Banyak tuduhan macam-macam dan aku jadi merasa gelisah, tak nyaman. Sempat membuat hidupku terganggu tapi sekarang aku tak perduli lagi. Ini pilihan hidupku.

Kadang aku bertanya, apakah untuk hidupku dua kata ini harus terus menerus dihadap-hadapkan? Tak bisakah dua-duanya didapatkan?

Sebagai manusia biasa, sebenarnya aku ingin mendapatkan kenyamanan dan kemerdekaan sekaligus. Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkannya. Definisiku sementara, kenyamanan membuat kita lelap dan menganggap hidup ini selesai, tdk menantang lagi. Sementara kemerdekaan membuat kita terus mencari dan berpetualang.

Idealnya aku mendapatkan dua-duanya: kenyamanan dan kemerdekaan. Tapi kalau ngga bisa, aku memilih kemerdekaan. Dengan pilihan ini aku merasa terus menerus hidup dan berproses. Bukankah hidup ini memang berproses terus menerus sampai kita mati? semoga aku bisa dan Mari Kita Rayakan Kemerdekaan!

Thursday, February 21, 2008

Kamu-Kamulah SURGA

tahukah kamu kuciumimu
di saat terlelap
tahukah kamu kudekap kamu
saat kamu bermimpi

tahukah kamu ya cuma kamu
pemilik hatiku
tahukah kamu hatiku ini
adalah hatimu

tahukah kamu di setiap tidurku
ku kagumi wajahmu
nanti kau kan tahu
nanti kau dengar bahwa aku begitu

reff:
kamu, kamu adalah surga yang ada
dalam hidupku dalam kenyataanku
kamu, aku adalah penghuni surga
ucapkan salam pada hidup dan mati

tahukah kamu saat kamu menangis
adalah air mata ku yang jatuh berlinang
tahukah kamu saat kamu tersakiti
adalah aku yang pertama terluka

tahukah kamu ya cuma aku
yang punya cinta untukmu
tahukah kamu ya cuma aku
yang rela mati untukmu


**Lagu ini ciptaan Ahmad Dhani yang sekarang lagi populer dengan band baru pimpinannya, The Rock.

Thursday, January 17, 2008

Slamet

Rabu kemarin (16/1) lagi-lagi ada berita yang menyayat hati kita semua. Slamet seorang pedagang gorengan di Pasar Badak Pandeglang Banten terpaksa mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Saya sedih karena saya juga berasal dari kebupaten yang sama, Pandeglang. Saya yakin, Slamet bukannya ngga tahu kalau bunuh diri dalam agamanya itu dosa, tapi ia sudah tak tahan dengan tekanan hajat hidup yang semakin berat. Sebagai pedagang kecil pendapatannya terus menurun, sementara minyak tanah semakin sulit didapat dan harganya terus naik. Ditambah melonjaknya harga bahan-bahan pokok dagangannya: tempe, tepung terigu, tepung tapioka, sayuran dan minyak goreng.

Kita tahu, Slamet adalah satu dari ribuan pedagang makanan yang terkena dampak dari buruknya pemerintah mengatur negeri ini. Tidak pernah jelas sampai sekarang bagaimana program pemerintah membantu masyarakat miskin. Dulu saya pernah ikutan menandatangani persetujuan untuk pengurangan subsidi BBM karena akan dialihkan subsidinya ke rakyat miskin berupa kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial lainnya. Namun pada prakteknya hal itu sulit sekali. Ternyata banyak kebijakan pemerintah semakin membuat masyarakat miskin susah. Banyak slamet-slamet di negeri ini dan saya tak mampu melakukan apa-apa untuk membantu mereka.

Berita tentang Slamet dan lainnya terabaikan. Semua perhatian dan berita dicurahkan ke Soeharto, termasuk doa. Nasib Slamet semakin terpinggirkan, dan mungkin akan terlupakan. Peristiwa Slamet ini mengetuk hati kita, dan menggugah nurani bahwa hari demi hari masa depan rakyat kecil semakin tak pasti di negeri ini. Slamet adalah tumbal dari pembiaran dan ketidakpedulian, serta kesewenang-wenangan Pemerintah yang terus menerus berlangsung.

Hari Rabu siang itu saya mampir ke Utan Kayu dan bertemu dengan Mas Goen. tiba-tiba mas goen meminta saya untuk membuat acara doa dan renungan untuk Slamet. Tentu saja saya menyanggupinya meski acara dan persiapannya sangat mendadak. Saat itu juga langsung dibicarakan tehnis acaranya dan siapa aja yang akan diundang untuk memimpin doa.

Tadi malam, sekitar 50 orang hadir di Kedai Tempo, Komunitas Utan Kayu, Kamis 17 Januari. Kita larut dalam kesedihan dan keprihatinan. Kematian Slamet yang tragis memanggil dan membuat kita berkumpul di Kedai Tempo. Saya terharu karena dalam waktu yang sangat mendadak dan tidak terjadwal sama sekali, tokoh-tokoh agama dan masyarakat lintas agama itu datang untuk berdoa dan menyatakan keprihatinan. Berkali-kali saya menyeka air mata saya mendengar doa dan ungkapan keprihatinan yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh agama yang memimpin doa.

Siti Musdah Mulia dari ICRP memulai dengan doa, ungkapan duka, dan keprihatinan. Selanjutnya diikuti dengan tokoh-tokoh lintas agama yang lain, Zafrullah Pontoh (JAI), Pdt Albertus Patty dari GKI, Pdt Martin Sinaga dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Pdt Gomar Gultom dari PGI, Bikhu Bhadravidya dari Majelis Buddhayana Indonesia, Romo Benny Susetyo dari KWI, Romo Jus Felix Mawengkang, MSC, dan ditutup Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal.

Dalam acara malam itu juga dibacakan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang ditulis Tahun 1986 “The Death of Sukardal”, kisah tukang becak yang gantung diri karena becaknya dirampas oleh petugas. Goenawan Mohamad juga memberikan orasi: menceritakan sosok Slamet yang meninggalkan seorang istri, empat orang anak dan hutang yang belum
terbayar. Slamet memiliki hutang 5 juta dan baru terbayar 2.5 juta. Slamet tak mampu lagi membayar sisanya.

Acara tersebut ditutup pemutaran sebuah film berjudul “Kematian di Jakarta” karya Ucu Agustin yang mengisahkan kematian orang-orang terlantar di Jakarta.

Di acara itu, saya juga secara spontan meminta sumbangan untuk membantu keluarga yang ditinggalkan Slamet, minimal untuk membayar utangnya. Malam itu terkumpul dana sebesar 2 juta rupiah. Rencananya, sumbangan ini akan terus dilanjutkan pengumpulannya oleh Radio Utan Kayu Jakarta dan kemudian akan langsung diberikan ke keluarga Slamet. Semoga tak ada lagi Slamet atau Sukardal lainnya di negeri ini. Meski sepertinya harapan itu sangat sulit terjadi mengingat kondisi bangsa dan kebijakan pemerintah kita masih seperti ini.

Tuesday, January 15, 2008

Umi

Aku kangen Umi. Rasa ini membuatku selalu berdoa dan pasrah menjalani hidup, ngga ngoyo dan ambisius. Rasa ini membuatku rehat dari kelelahan mengejar keinginan hidupku yang menggebu-gebu, apapun itu.

Kemarin, aku membuka-buka kembali diaryku ketika umiku sakit. Waktu itu aku masih kuliah di IAIN sekitar tahun 1997. Umiku bersabar dan bertahan dengan kesakitannya selama 8 tahun, menurutku waktu yang sangat lama sekali untuk sebuah penderitaan, yang akhirnya di pertengahan Januari 2004 Tuhan mengakhiri kesakitannya.

Sampai sekarang, aku tak habis pikir dengan ulah Tuhan yang memberi kesakitan yang lama untuk umiku. menurutku, ini benar-benar ngga adil. sering kali aku kemukakan gugatan dan kemarahanku itu kepada Umiku bila aku bermanja-manja sambil tidur-tiduran di sampingnya ketika ia masih hidup. Jawaban umi, "Allah sayang sama Umi, Nong. Kamu jangan begitu sama Allah. Ambil hikmahnya aja." Aku tak seperti Umi, aku marah besar saat itu sama Tuhan. terus terang, aku tak pernah menemukan hikmahnya dari itu semua, selain aku melihat penderitaan umi dan kemudian kehilangan umi. Buatku kalau pun Tuhan menghukum Umiku, mestinya tak sekejam itu. Umiku orang yang sangat baik, berkorban banyak untuk ibu, saudara-saudaranya, suami dan anak-anaknya dan betul-betul mengabdi untuk masyarakatnya. kenapa Tuhan tega sama umiku?

Desember lalu, ada pidato kebudayaan D. Zawawi Imron, penyair senior dari Madura. selesai pidato, dia membacakan puisi IBU. Zawawi membacakannya dengan penuh seluruh. Aku bergetar, menangis, aku ingat Umiku.. langsung aja aku ingin mendapatkan teks puisi itu. tadi malam, puisi itu dikirimkan oleh guntur, orang Madura juga. terima kasih gun..

Ibu

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
aku ingat sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa aku bayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang akan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

1966
dari buku : Madura, Akulah Darahmu

Saturday, December 22, 2007

KH. Ilyas Ruhiyat, Guruku, Telah Tiada

Selasa (18/12) jam 16.30 saya mendapat sms dari Pak Abdul Khobir, salah seorang menantu KH. Ilyas Ruhiyat yang juga guru saya di SMA dulu: “Innalillahi wainna ilaihi roji’un, telah wafat bapak kita tercinta Pak Ilyas Ruhiyat hari ini di Cipasung Tasikmalaya. Mohon dimaafkan semua kesalahan dan kekhilafannya”. Saya langsung membalas: Allahummaghfirlahu warhamhu….

KH Ilyas Ruhiyat, pimpinan Pesantren Cipasung dan mantan Rais ‘Am PBNU, meninggal dunia di usia 73 tahun 11 bulan. Ia meninggal karena sakit stroke dan penyakit komplikasi lainnya. Setelah sempat dirawat Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama 40 hari dan kemudian dipulangkan ke rumahnya Cipasung karena dianggap kondisinya membaik. Namun kondisi itu hanya berlangsung dua minggu. Dengan didampingi dua putrinya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah Rahayu serta beberapa santrinya, beliau menghembuskan nafas terakhir.

Di mata para santrinya dan kalangan nahdhiyin, pak Ilyas (sejak di pesantren saya selalu memanggilnya Bapak) merupakan kiai besar atau dalam istilah sunda ajeungan, yang penuh kharisma dan sangat bewibawa. Pembawaannya yang kalem, nada bicaranya yang sangat datar dan senyumnya yang selalu tersungging di bibirnya merupakan ciri khas beliau. Dalam kepribadiaannya itu tersimpan ketegasan dan kekonsistenannya dalam bersikap. Sejarah mencatat bagaimana sikap beliau yang tidak mau terkooptasi kekuasaan saat beliau menjadi Rais ‘Am mendampingi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Muktamar di Cipasung tahun 1995. Saat itu, negara begitu kuat mengintervensi semua ormas termasuk NU. Di tangan pak Ilyas, NU bisa tetap bersikap independen meski terus dikuyek kuyek. Pak Ilyas pun dikenal sebagai pribadi yang tidak haus kekuasaan dan posisi. Meski ditawarkan untuk tetap menjabat Rais ‘Am, tapi ia lebih memilih berhenti, konsentrasi ke pesantren, dan menyerahkan posisi itu kepada KH. Sahal Mahfoudz.

Pak Ilyas memang tidak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis, melontarkan pendapat di media, atau sering menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam seminar-seminar dan Konferensi namun, mengutip tulisan Ulil Abshar Abdalla di milis Jaringan Islam Liberal, pak Ilyas adalah sebuah mazhab tersendiri. Gaya kekiaian pak Ilyas adalah salah satu di antara corak kekiaian yang berkembang dalam tubuh NU. Pesantren Cipasung yang diasuh olehnya merupakan contoh pelaksanaan dari prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU, al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi 'l-jadid al-aslah, memelihara yang lama yang baik, menyerap yang baru yang lebih baik.

Saya mengamini pernyataan Ulil ini. Pak Ilyas tidak pernah alergi dan sangat terbuka menerima gagasan progressif dan baru yang datang dari luar. Apalagi gagasan itu untuk memajukan pemikiran santrinya dan kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren. Setiap tamu dari kalangan mana pun, NU atau non NU, Islam atau non Islam, pasti disambutnya dengan ramah. Makanya tak aneh bila di lingkungan Pesantren Cipasung banyak santri dan pengurus pesantren, termasuk anak-anaknya pak Ilyas, yang aktif di LSM-LSM yang bergerak dalam pemikiran dan pemberdayaan masyarakat. Di sini, santri dikondisikan tak hanya belajar mengaji saja tapi juga dituntut berpikir kritis dan menjadi aktivis.

Saya beruntung karena selama saya nyantri di Cipasung enam tahun saya tinggal di rumah beliau, di Asrama Esa. Saya bisa melihat secara langsung bagaimana pak Ilyas menjalankan kehidupan rumah tangganya, mendidik dan memperlakukan anak-anaknya serta “mencuri” dengar setiap pembicaraan dengan tamu-tamunya. Sebagai santri yang masih junior, saya belum banyak mengerti dan belum sempat diajar ngaji langsung olehnya. Sebagaimana layaknya kyai besar, pak Ilyas hanya memegang santri kelas advent dan pengajian khusus kyai-kyai seluruh Tasikmalaya. Hubungan saya dengannya seperti ayah dan anak. Kalau saya dianggap “nakal” olehnya pasti saya dimarahi langsung.

Ibu Hj Dedeh Fuadah, istri pak Ilyas yang meninggal enam bulan lalu (allahumaghfirlaha), buat saya sudah seperti ibu sendiri. Beliaulah yang menjadi guru mengaji pertama saya di pesantren ini. Kepada isterinya ini, pak Ilyas sangat mencintai dan menyayanginya sampai akhir hayatnya.

Sebagai seorang ayah, saya melihat, Pak Ilyas merupakan figur ayah yang moderat dan toleran bahkan sangat moderen untuk ukuran kyai NU. Biasanya seorang kyai besar yang memiliki pesantren besar seperti beliau ini “memaksa” anak-anaknya hanya belajar di pesantren dan kuliah di sekolah agama misalnya IAIN atau perguruan tinggi di Timur Tengah, agar menguasai ilmu-ilmu agama supaya bisa melanjutkan posisinya. Atau untuk anak perempuannya, dijodohkan atau dianjurkan menikah dengan anak kyai besar dan pintar mengaji. Tradisi seperti ini biasa kita lihat dalam pola pendidikan dan cara pernikahan di keluarga pesantren-pesantren besar di NU.

Namun hal itu tidak terjadi dalam keluarga pak Ilyas. Anaknya yang pertama, Acep Zam Zam Noor dikenal sebagai seniman, pelukis dan penyair besar lulusan seni rupa ITB. Ia menikah dengan perempuan dari keluarga yang tak berbasis pesantren. Dua anak perempuannya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah Rahayu kuliah di IKIP Bandung dan bersuami bukan berlatar belakang pendidikan pesantren. Meski tak menguasai kitab kuning dan hanya berpendidikan sekuler, anak-anak dan menantunya kini bahu membahu memajukan Pesantren Cipasung.

Satu hal lagi kesan mendalam saya ketika nyantri di Cipasung adalah hubungan yang sangat baik antara Pesantren Cipasung dan umat Ahmadiyah. Hal ini dikarenakan sikap pluralis dan toleran pak Ilyas dalam membina hubungan dengan masyarakat sekitarnya termasuk dengan umat Ahmadiyah. Sekitar 500 meter dari pesantren Cipasung berdiri komplek pemukiman Ahmadiyah. Dulu, saya sering iseng main ke tempat itu. Ketika Muktamar NU di Cipasung tahun 1995, pemukiman ini juga dijadikan tempat menginap bagi sebagian peserta muktamar. Bila Ahmadiyah dianggap sesat dan salah, semestinya dari dulu pak Ilyas dan pesantren Cipasung sudah menyesatkannya dan berdakwah untuk mengembalikan akidah umat Ahmadiyah di situ. Tapi hal itu tak terjadi. Malah saya melihat hubungan antara mereka dari dulu sangat harmonis. Bahkan ada kerabat dekat pak Ilyas dari turunan ayahnya yang menjadi kaum Ahmadi.

Namun sekarang hubungan baik yang sudah terjalin lama itu dihancurkan dengan adanya penyerangan oleh kelompok yang merasa akidah dan dirinya paling benar. Ironisnya penyerangan kaum Ahmadi saat itu dilakukan ketika keluarga besar Cipasung sedang dirundung duka karena Ibu Hj Dedeh Fuadah, isteri tercinta pak Ilyas meninggal Juni lalu. Ini betul-betul memperlihatkan bahwa yang melakukan penyerangan itu adalah bukanlah orang Tasikmalaya atau masyarakat sekitarnya. Saya perlu menyinggung hal ini karena untuk mengingatkan kembali sikap pak Ilyas yang sangat toleran terhadap umat Ahmadiyah di saat kelompok ini sekarang sedang dalam proses penghabisan oleh kelompok-kelompok yang merasa paling benar.

Kini kita kehilangan ajeungan yang menjadi panutan untuk semuanya. Ribuan orang berduyun-duyun menghantar kepergiannya. Proses pemakamannya dilakukan dengan estafet dari mesjid ke komplek pemakaman yang berjarak 300 meter dan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Beberapa orang bersaksi bahwa langit pun ikut serta menghantarkan kepergiannya ke rumah abadinya. Terlihat di langit ada pelangi yang sangat indah, meski saat itu hujan tak turun.

Rabu malam kemarin saya mendapat sms dari Pak Khobir lagi: Semoga anak-anak dan cucu-cucunya bisa meneruskan perjuangan beliau.” Saya kira, tak hanya anak dan cucunya yang harus meneruskan perjuangannya, kita juga wajib turut meneruskannya dan mencontoh sikap dan tindakannya untuk kelangsungan hidup bangsa ini.

Tuesday, December 11, 2007

Menjadi Perempuan Baik-Baik

Bertrand Russell, sang filosof dari Inggris, pernah menulis satu artikel tentang Bahaya menjadi Manusia baik-baik. Menurut Russell, manusia baik-baik berbahaya karena kehilangan kedirian dan kekritisan dirinya. Manusia diatur oleh diluar dirinya, manusia yang ditundukkan oleh moralitas yang berlaku di masyarakat. Sehingga kita harus jaim (jaga image, jaga citra diri) untuk menutupi kedirian kita. Akhirnya kita bisa menjadi hipokrit supaya tetap terjaga citranya di mata publik.

Tiba-tiba aku gelisah dengan diriku: apakah aku termasuk perempuan baik-baik? Sebenarnya pertanyaan ini biasa-biasa aja dan sedikit norak. Tapi untuk situasiku sekarang yang kebetulan aku berstatus perempuan dan ditengah munculnya kembali RUU Porno akan disahkan, trend perda Syariah yang mewajibkan perempuan menutup tubuhnya dan tidak keluar malam dll, ujug-ujug soal ini menjadi krusial. Betulkah aku telah menjadi perempuan baik-baik? Aku sangat perduli dengan istilah “baik-baik” ini sekarang.

Lazimnya, tak mesti perempuan yang menjadi baik, lelaki pun harus baik. Tapi coba perhatikan di sekeliling kita. Tuntutan yang menyerukan agar menjadi manusia yang baik lebih banyak diperuntukkan kepada yang berjenis kelamin perempuan. Baca kitab suci, baca nasihat ulama, dengar ceramah agama, lebih banyak anjuran dan kewajiban yang dikhususkan buat perempuan.

Sejak kecil pun aku selalu diwanti-wanti untuk menjadi perempuan baik, almaratu sholihah. Sehingga aku, dibanding dengan saudaraku yang laki-laki, banyak diwanti-wanti untuk tidak bolehnya dari pada bolehnya. Kata nenekku, perempuan itu banyak pamalinya. Makanya dalam Islam misalnya akhirnya perempuan harus ”ditutupi” supaya tidak macam-macam, supaya terlindungi, atau tidak ”menggoda” ke lawan jenisnya.

Menurutku, banyaknya aturan terhadap perempuan untuk menjadi baik-baik tidak sesuai dengan imbalannya. Kalau pun masuk surga, perempuan cuma jadi pendamping suami atau malah jadi bidadari dari lelaki yang masuk surga. Tidak independen dan tidak bebas lagi layaknya lelaki yang masuk surga dengan mendapat banyak bidadari minimal 40 bidadari, karena ujung-ujungnya tetap menjadi ”milik” lelaki. Hahaha...Betulkah? nanti kita buktikan di surga. Kalau aku sudah gila begini, aku berpikir, mending aku hidup dan menikmati surga dunia aja. Persoalannya, adakah surga dunia? Ya, kita nikmati dan rasakan aja surga menurut persepsi kita sekarang ini.

Ditengah kegelisahan itu, aku mengsms beberapa teman. Aku menanyakan persepsi teman-temanku soal apa itu perempuan baik-baik. Jawabannya ada yang serius dan ada yang main-main. Responnya malah banyak yang mengkhawatirkanku. Kamu kenapa, Nong? Ada apa, Nong? Dan lain-lain. Seakan-akan aku lagi punya persoalan serius banget. Padahal aku biasa-biasa aja, cuma sekedar gelisah. Hidup kan kadang seperti ini. Dinamika hidup, hehehe...

Tapi kesimpulan dari jawaban teman-temanku: perempuan baik-baik adalah ukuran, definisi dan konstruksi lelaki dengan memakai aturan agama dan aturan lain-lain, wow!

Inilah jawaban sms teman-temanku. Terima kasih atas replynya:
Dian Islamiati Fatwa (temanku di Melbourne, dia ini liberal abiz deh meski bapaknya konservatif): Baiknya tergantung konteks. Pake jilbab di Banten akan dibilang baik kalau di Aussie bisa dicurigai militant.

Sarah ”Aci” Santi (teman baikku di Freedom Institute. Aku banyak belajar hidup darinya): Istilah itu cuma definisi sosial. Bentukan budaya dalam satu sisi tidak adil pada perempuan karena ekspetasi yang berlebihan terhadap perempuan. So pertanyaannya kalau gitu perempuan boleh keluar dari definisi itu? Tetap ada koridor etika, Nong. Koridor itu buatku adalah hati hatimu, nurani. Maka sering-sering tengok diri sendiri dan berdialog dengan hatimu.

Trisno S. Sutanto (teman gendutku yang senang minum bir dan makan celeng. orangnya cerdas dan kalau sudah menulis, bagus. Katanya dia Kristen Liberal): Istilah itu dari lelaki dan tergantung kebutuhan, baik-baik di ranjang, di dapur, punya dan melihara anak, sopan berpakaian (pake jilbab), kerja domestik dll. Seharusnya perempuan sendiri yang menetukan tapi agama dan masyarakat kan milik lelaki.

Ayu Utami: Di Utan Kayu, banyak plang kos-kosan isinya ”hanya menerima wanita baik-baik”, kalau kamu pasti ga bisa masuk di kosan itu. (apa maksudnya coba?)

Goenawan Mohamad (Wartawan senior sekaligus filosof, Suhu saya dalam menjalani hidup ini): Perempuan baik-baik adalah perempuan yang menyerah kepada ukuran ”baik” yang berkuasa di masyarakat.

Martin Sinaga (Pendeta yang sangat liberal, yang tidak mau kehilangan Tuhannya): terjemahan kata itu adalah ”perempuan dengan integritas”. Kalau liberal ya konsisten liberal, kalau puritan ya tetaplah puritan.

Ucu Agustin (penulis dan filmmaker otodidak, gaya hidupnya menjadikan hidupku lebih hidup): Teh Nong perempuan baik-baik. Semua perempuan itu baik. Yang jahat dan salah pasti lelaki, hehe...itu sih kuyakin sudah lama.

Hidayat ”Wedhatama” (Temanku yang arif dan bijaksana dalam menjalani hidup): Saat nurani telah menjadi imam bagi setiap orang, maka tak ada yang lebih berhak menjawab pertanyaan moral selain diri yang bersangkutan.

Ari ”ape” Perdana (laki-laki yang baik, yang hidupnya selalu lurus): Nong, di sebelah rumahku ada kos dengan plang ”menerima wanita baik-baik”. Jadi menurutku, perempuan baik-baik itu yang diterima di kost itu, hahaha....

Aku tidak mau menjadi perempuan baik-baik bila ”berbahaya” seperti yang digambarkan Russell. Bila aku memilih definisi mas Goen, aku sekarang berproses tidak menyerah dan mencoba keluar dari ukuran yang sudah terdefinisikan dan terkonstruksi itu. Bisakah itu? waktu yang akan menjawabnya. Kalau pun aku kalah, ngga apa-apa. Yang penting aku sudah mencobanya sebagai ijtihad hidupku dan tahapan hidup yang harus aku jalani. Jadi teman-teman, menurutmu apa yang dimaksud dengan perempuan baik-baik itu?

Thursday, December 6, 2007

Nabi Itu Monogami

Terbitnya buku ini tak kalah kontroversinya dengan poligami Aa Gym beberapa waktu lalu yang berakibat pesantren dan usaha bisnisnya makin sepi. Meski penulisnya menolak kalau ia menulis buku ini bukan lah karena faktor itu. Konon saking kontroversinya, buku ini sempat ditarik dari peredaran karena membuat gerah aktivis dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski yang memberi pengantar buku ini adalah istri pertama Presiden partai tersebut, Sri Rahayu Tifatul Sembiring. Wajar saja karena buku ini ditulis oleh Ustadz Cahyadi Takariawan yang merupakan salah seorang anggota Majelis Syuro PKS. Majelis ini menempati posisi tertinggi dalam struktur partai yang berideologi Islam ini. Sementara sudah jadi rahasia umum kalau ikhwan partai ini lazim melaksanakan praktek poligami dengan tujuan untuk perluasan dakwah Islam. Mereka juga meyakini bila poligami merupakan solusi ideal relasi suami istri bila sang suami ”tergoda.”

Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Isinya memang benar-benar menelanjangi praktek poligami yang banyak menyengsarakan kaum istri dan anak serta lebih khusus lagi kata penulis, berakibat buruk pada dakwah Islam. Artinya penulis mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan sebagian besar koleganya di partai. Dalam pendahuluannya, penulis mengakui bahwa sebenarnya tema ini merupakan tema yang selalu dia hindari karena supersensitif bahkan hipersensitif. Menurutnya, menulis masalah poligami bukanlah wilayah aman untuk mengungkapkannya. Keputusan penulis untuk tetap menulis tema ini, tentulah sangat tidak populer. Bahkan cenderung menentang arus, atau mungkin juga kebijakan partai.

Sedari awal penulis menekankan bahwa ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Hal ini dikarenakan banyak fakta dan kasus yang akhirnya ia sendiri punya kesimpulan kalau poligami itu bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga tapi malah menghancurkan institusi keluarga khususnya perempuan dan anak. Meski penulis mengakui pada kasus-kasus tertentu seperti menolong janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi kenyataannya sangat jarang suami yang berpoligami karena alasan tersebut. Mayoritas berpoligami karena perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar dan lebih segalanya dibanding istri pertamanya. Buku ini banyak mengungkap data dan fakta yang didasarkan pada kasus-kasus praktek poligami yang memang menjadi kecenderungan partai dimana penulis terlibat dan dari pengaduan para kliennya karena profesinya sebagai konsultan pernikahan dan keluarga di Jogja Family Center (JFC).

Karena itulah penulis menyarankan agar suami membahagiakan dan memaksimalkan diri dengan satu istri. Dari situ, penulis mengeksplorasi argumen-argumen doktrin Islam tentang monogami yang menurut saya argumen tersebut mendekonstruksi argumen tentang poligami dalam Islam.

Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya tersebut pada dua hal: Alquran surat al-Nisa ayat 3 yang membolehkan poligami sampai empat dan mengikuti Sunnah Nabi. Padahal kata penulis, bila kita melihat kehidupan keluarga Nabi secara cermat, sesungguhnya Nabi itu melakukan monogami. Karena dalam kurun waktu kehidupan rumah tangga Nabi, Nabi itu sangat monogami. Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah itu berlangsung 25 tahun, sementara Nabi mempraktekan poligami itu hanya 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu lebih dikarenakan menolong janda-janda sahabat beliau yang meninggal akibat perang untuk membela Islam. (hal xviii)

Sementara ayat Alquran yang menjadi acuan poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil, bukan pada bolehnya praktek poligami tersebut. Sikap adil susah sekali ukurannya karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kepuasan materi dan seksual semata. Anugerah perasaan inilah yang merupakan salah satu kelebihan manusia. Seperti yang diulas dengan bagus oleh Bintu Syathi Aisyah Abdurrahman dalam bukunya Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis, malah cenderung penuh intrik dan saling cemburu karena mereka saling bersaing untuk memperebutkan perhatian Nabi. Untuk sekualitas lelaki seperti Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, Beliau cukup kerepotan mengelola perasaan dan menghadapi isteri-isterinya. Apalagi untuk manusia biasa seperti kita semua. Karena itu kata penulis, kita ini bukan Nabi, isteri kita pun bukan Aisyah. Makanya jangan coba-coba berpoligami. (hal 238)

Ada juga yang berargumen berpoligami itu karena untuk menghindari zina. Istilahnya, dari pada selingkuh kan lebih baik poligami. Menurut penulis, kok bisa poligami dibandingkan dan disejajarkan dengan zina (selingkuh). Penyejajaran seperti ini kata penulis, merupakan cara berpikir yang tak nyambung, dan ungkapan tersebut tidak pada tempatnya sebagai alasan untuk melakukan poligami. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain poligami. Misalnya dari pada suami berpoligami lebih baik berpuasa untuk menjaga diri atau konsentrasi dan fokus ke isteri atau onani dan masturbasi atau berkebiri atau berlari-lari untuk membuang energi atau bertobat setiap hari atau aktif dalam kegiatan berorganisasi atau segera naik haji atau banyak pilihan erbuatan yang lebih baik dan positif. Jadi bagi penulis, suami tak mesti berpoligami, atau lebih ekstrim lagi berselingkuh, karena pilihan untuk tetap beristri satu tetap yang paling realistis. (hal.99)

Penulis mengakui, banyak yang bertanya kenapa ia tak berpoligami. Jawabannya karena ingin bahagia dengan satu istri. Dengan memarodikan lagu Aa Gym, penulis menjawab:

Jagalah istri, jangan kau sakiti
Sayangi istri, amanah ilahi
Bila diri kian bersih, satu isteri terasa lebih
Bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi

Bila suami berpoligami
Dakwah akan terbebani
Demarketing menjadi jadi
Dakwah bisa dibenci

Jagalah istri, jangan khianati
Jagalah diri, tak perlu poligami


Buku ini jelas-jelas diperuntukkan untuk suami baik yang punya niat berpoligami atau tetap monogami. Bagi yang berniat poligami, setelah membaca buku ini pasti tak akan jadi menambah istrinya. Bagi yang setia dengan satu istri, pasti akan semakin membahagiakan istrinya. Bagi yang sudah berpoligami, ada dua kemungkinan: membenarkan atau menolak mentah-mentah isi buku ini.

Tentu saja buku ini tak hanya layak dibaca para suami atau lelaki meski isinya memang lebih banyak diperuntukkan untuk kaum Adam. Bagi perempuan pun, buku ini sangat bermanfaat karena banyak kiat dan nasihat agar para istri tidak dipoligami. Sayang sekali, bukunya sangat sulit untuk didapatkan sekarang. Salut untuk Ustadz Cahyadi...

Tulisan ini dimuat di majalah GATRA, 5 Desember 2007

Tuesday, November 20, 2007

Andrea

Namanya Andrea Azalia Ardhani-Wibowo. Panggilan sayangnya Dea atau Ea. Ada ceritanya kenapa anakku aku beri nama Andrea. Sehari sebelum aku melahirkan ketika aku berangkat ke RS. Bunda untuk operasi Ceasar, aku mendengar lagu The Corrs. Terus terang aku gugup dan takut mau melakukan operasi ini. Seumur hidup aku belum pernah sakit yang serius dan merasakan tinggal di rumah sakit. Kalaupun aku nginap di RS itu pun nungguin yang sakit misalnya ketika teh neng dan umi di rawat di rumah sakit. Ketika dokterku memutuskan aku ga bisa melahirkan normal dan harus dicesar, ih kebayang deh alat-alat dan kamar operasi yang serem.

Di saat nervous seperti itu, aku merasa tenang dan damai ketika mendengarkan lagu-lagu The Corrs. Aku ngefans banget ama grup musik bersaudara ini, yang personnilnya cantik-cantik –yang ganteng satu-- dan kemampuannya yang oke, ini menurutku yang awam dengan musik. Apalagi si vokalisnya yang bernama Andrea. Nama yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari tersisih karena moment tiba-tiba ini. Ujug-ujug aku ingin menamakan anakku seperti vokalis the Corrs yang menurutku nama itu genderless, bisa untuk laki-laki dan cantik untuk perempuan. Sewaktu aku beritahu nama anakku ke teman-teman di Utan Kayu, mereka khususnya Ging Ginanjar, langsung heboh kalau anakku bernama Andrea Harono, plesetan dari Andreas Harsono, yang menekuni jurnalisme sastrawi sekarang www.andreasharsono.blogspot.com . Hehe..aku cuma mesem-mesem aja mendengar plesetan itu.

Lain lagi respon orang tuaku khususnya Ema, istri abahku sekarang. Dia protes karena nama anakku tidak islami. Kok namanya tidak ada Siti-nya atau islamnya sama sekali seperti Aisyah, Fatimah, Mahmadah seperti ibunya? Padahal Azalia itu berasal dari kata Arab yang artinya suci, azali he..he..he.

Proses melahirkan Andrea aku rekam utuh dengan minta bantuan suster yang membantu operasiku. Ketika aku memperlihatkan ke keluargaku saat mereka menengokku di RS, Abahku menangis tersedu-sedu melihat film itu. Ia teringat umiku yang sudah meninggal beberapa tahun lalu dan karena kengeriannya melihat perutku “dibuka” dan berdarah-darah. Abahku tadinya merupakan seorang figur bapak yang sangat patriarkhi, sangat keras, prototype suami kyai-jawara, yang tak pernah perduli dengan kesulitan & kerepotan yang dialami istrinya. Baginya isteri itu harus merawat, melayani suami meski umiku sangat kerepotan dengan anak-anaknya dan sejuta kegiatan rumah tangga lainnya. Belum lagi kegiatan umi di luar sebagai guru. Abahku juga sangat berjarak dan tidak pernah dekat dengan anak-anaknya. Semuanya sungkan dan takut kepada abah. Kalau ada keinginan apa-apa, kami selalu menyampaikannya ke umi.

Tapi setelah umiku sakit terserang stroke, sifat-sifat abahku berubah total. Abah menjadi sangat egaliter dan sangat memahami kemauan umi dan anak-anaknya. Apalagi setelah umiku meninggal, abah sangat mengerti dan menghormati pemikiran anak-anaknya. Beliau hanya Tut wuri Handayani aja, setiap tindakan & keputusan anak-anaknya merupakan tanggung jawab anak-anaknya dan tidak pernah mengintervensinya.

Pernah ada wartawan salah satu majalah Islam datang ke Abah. Ia hendak wawancara abahku berkaitan dengan pemikiran dan keterlibatanku di JIL. Si wartawan ini sebelumnya mewawancarai dan mengambil foto-fotoku. Aku tak mengira kalau laporan tentang JIL itu sampai harus melibatkan abahku. Selama ini, di rumah dan di hadapan Abah karena aku sangat menghormati abah, aku selalu memakai kerudung. Dengan membawa foto-fotoku yang tak berjilbab, si wartawan ini cerita ke abahku kalau aku di Jakarta sudah melepas jilbab dengan bukti foto-foto yang dibawanya dan juga tulisanku serta transkrip wawancaraku. Abahku dengan enteng menjawab: “Abah bangga punya anak seperti Nong. Ngga sia-sia abah nyekolahin dia tinggi dan jauh. Dia punya cita-cita dan idealisme yang berdasar pendidikan dan hasil pergulatannya selama ini. Abah ngga akan pernah mempersoalkan Nong selama dia bisa mempertanggungjawabkannya bahkan abah akan selalu dukung anak abah ini.” Saya ngebayangin mungkin wartawan ini lemes dengar kata-kata abah ini.

Kembali ke anakku. Kini, Deaku berusia 3 tahun 3 bulan. Dia sudah bisa diajak ngobrol dan makin memahami kondisi mamanya. Namun sifat manjanya makin menjadi-jadi, apalagi bila menjelang tidur. Aku selalu menemaninya tidur meski proses untuk tidur bareng aku sulitnya luar biasa. Berbeda kalau ditidurin mbaknya, tidurnya cepat banget. Denganku, tak cukup dengan membacakan buku-buku cerita, dengerin musik lullaby atau nonton film-filmnya sambil dia muter-muter lari-lari di tempat tidur dan aku menerangkan isi film itu, bahkan terkadang minta digendong pakai kain panjang keliling taman di apartemenku lantai 4. Padahal berat badannya sudah hampir 18 kg. Kadang kalau dia udah bete banget karena susah tidur, dia maksa minta nenen (bayangin, udah usia 3 tahun lebih masih minta ngenyot payudara mamanya. Apa yang didapatkan wong air susunya udah ga ada lagi. Duh anakku!). Meski kegiatan-kegiatan menjelang tidur itu melelahkan tapi aku sangat menikmatinya. Yah, kadang-kadang aku cape karena seharian penuh dengan kegiatan tapi untuk Deaku, aku enjoy banget.

Sebelum aku berangkat kerja, aku juga mengantarkan dia sekolah. Sekarang dia sekolah tiap hari. Udah hampir dua bulan ini dia ngelakoni rutinitas seperti itu. Kadang-kadang ia ngambek ngga mau sekolah, mungkin karena bosen. Sejak usia setahun, dea aku “sekolahin” di Tumble tot Ambassador. Sebelumnya 2 kali seminggu kemudian bertambah di tahun berikutnya 3 kali seminggu. Bila ngambek ngga mau sekolah, maunya ikut ke kantor. Untung kantorku ngga ketat-ketat banget dan sangat family care. Jadi aku bisa leluasa mengajaknya. Menjelang tidur siang, anakku aku pulangkan dan aku kembali dengan aktivitas kantor dan kegiatanku. Begitulah kehidupan aku dan anakku satu-satunya, Andrea.

Monday, September 24, 2007

Bubar

Sekarang ini lagi ramai di milis-milis tuntutan pembubaran Komunitas Utan Kayu yang ditandatangani oleh Muzakir HS dan Elisia Purba atas nama Garda Depan Pembebasan. Dua nama ini tak pernah kedengaran sebelumnya, begitu juga organisasinya. Saya ngga tahu, apakah saya yang kuper selama ini atau memang mereka yang tidak terkenal namanya. Kata Guntur, mereka orang gila..(jangan gitulah gun..) Tapi saya penasaran juga. makanya saya cari-cari namanya di google dan di yahoo, nama-nama itu tak ketahuan. Yang saya tahu cuma Garda Kemerdekaan, yang kebetulan saya ikut mendirikannya, dan Garda Bangsa, yang punya PKB Gus Dur.

Saya ngga tahu, apakah tuntutan ini telah diajukan ke polisi atau aparat yang terkait atau hanya sekedar gertakan aja. Saya juga belum dengar pernyataan ini ada konferensi persnya atau ngga.

Teman-teman, sebelum saya berkomentar lebih lanjut, silahkan baca tuntutan mereka itu:

Bubarkan Komunitas Utan Kayu!
(1) Seniman Garda Depan Pembebasan (GDP) dengan ini mendesak kepada Pemerintah untuk membubarkan Komunitas Utan Kayu (KUK).
(2) Kami mengimbau pihak kepolisian supaya menutup areal di jalan Utan Kayu 68H itu agar tidak digunakan bagi kegiatan kesenian yang mengancam martabat bangsa.
Telah diketahui luas, bahwa KUK adalah tempat penyebaran ide-ide liberalisme yang mengutamakan humanisme universil dengan mendatangkan seniman-seniman asing secara besar-besaran. KUK juga menjadi tempat berkumpulnya kelompok Islam Liberal dan bekas-bekas tapol G30S/PKI yang ateis dan Marxis.
(3) Kami menuntut agar dominasi KUK dalam bidang sastra harus diakhiri.
(4) Kami menuntut agar Goenawan Muhammad diusut.
(5) Kami menuntut agar Harian Kompas memecat Hasif Amini sebagai redaktur budaya dan diganti oleh Saut Situmorang yang jelas-jelas berprinsip "sastra untuk rakyat tertindas".
(6) Kami menuntut agar Koran Tempo memecat Nirwan Dewanto sebagai redaktur budaya dan diganti oleh sastrawan yang ditunjuk oleh Saut Situmorang serta DEWAN penandatangan Manifesto Ode Kampung.
(7) Kami menuntut agar jurnal Kalam dilarang terbit.
Bersama ini pula kami menyerukan apabila Polisi gagal bertindak, para seniman boemipoetera yang progresif mengambil alih areal Jalan Utan Kayu 6H, termasuk stasiun radio dan teater, dan membuang jauh-jauh buku-buku liberalisme dan marxisme-leninisme dari perpustakaannnya.
SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!!!
GARDA DEPAN PEMBEBASAN (Mudzakir H.S. Ketua & Elisia Purba, Sekretaris I)

Gimana setelah baca tuntutan ini teman-teman? Mengerikan kan? Main bubar, main pecat, main ambil alih dan main buang (he..he..he..kayak syair lagu dangdut Kucing Garong). Memangnya mereka ini siapa? Gimana kalau mereka megang negara ini ya? Tak terbayangkan deh diktatornya dan fasisnya mereka itu.. Kata Mariana Amiruddin, teman saya di Jurnal Perempuan, "gila nih orang. Orde Baru banget sih, pake bawa-bawa PKI segala. Gaya-gayanya persis kayak FBR or FPI yang bisanya main gertak. Indonesia mundur seribu langkah kalau begini terus."

Perhatikan kata-katanya, mereka cuma bisa menuntut dan menuntut, bukan bekerja, baca, berpikir, menulis dan berkarya untuk meruntuhkan dominasi (kalau memang ada dominasi) TUK. Mestinya mereka bersaing dong dengan karya, bukan minta bantuan polisi atau aparat pemerintah untuk membubarkan KUK. Duh, pegel!

Saya ingat ketika Jaringan Islam Liberal (JIL) dituntut untuk bubar dan diusir dari Utan Kayu. Saya dan teman-teman serta didukung banyak pihak melawan dan menghadapinya. Meski pihak mereka berbondong-bondong bawa pasukan dengan mengatasnamakan Tuhan dan kebenaran, kami tidak takut karena kami juga punya Tuhan dan kebenaran kami. Bagi kami, tak ada seorang pun yang berhak membubarkan dan mengusir kami. Kami tak pernah melakukan onar, kejahatan kriminal dan kejahatan-kejahatan lain yang melanggar hukum. Kami, di JIL, pekerjaannya hanya membaca, berpikir, menulis, dan berkarya, memproduksi ide dan gagasan sesuai dengan kemampuan dan kebisaan kami. Apakah itu salah? Soal bahwa pemikiran kami dianggap berbeda, mestinya itu saja yang dicounter. Toh kami memakai forum yang terbuka. Mereka yang tidak setuju bisa melakukan cara-cara yang baik untuk mengekspresikan ketidak setujuannya. Lihat saja di toko buku, begitu banyak buku yang tidak setuju dan mengkritik JIL, begitu juga dikhutbah-khutbah Jumat atau pengajian. Kami pun diancam dibunuh lewat telepon atau sms. Respon kami? Kami tak pernah marah, mencak-mencak bahkan menyerang siapapun. Alhamdulillah, kami biasa-biasa aja tuh.

Begitu juga dengan Teater Utan Kayu dan KUK secara umum. Jadi buat yang tidak setuju dengan KUK atau TUK, pakailah cara-cara yang elegan dan berbudaya (maksudnya apa ya?). Berkaryalah! Seperti kata mas Goen (sapaan akrab Goenawan Mohamad) dalam tulisannya ketika meresponi orang-orang yang tidak setuju terhadap TUK: kalau cara mengkritiknya ke TUK seperti sekarang ini misalnya bikin majalah Boemipoetra yang bahasanya kacau balau dan vulgarnya ga karuan; nyebarin fitnah di milis-milis, ”maaf kami sekarang sedang sibuk bekerja dan berkarya.” saya membenarkan itu, Komunitas Utan Kayu itu memang ngga pernah sepi dari bekerja dan berkarya. Kalau ngga percaya, datanglah ke Utan Kayu. Hidup mas Goen!