Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Friday, April 27, 2007

Surga Kartini

Dalam tulisan ini saya mencoba memunculkan kembali pemikiran keagamaan Kartini yang, menurut saya, sangat liberal. Sangat langka menemukan karya yang mengupas khusus tentang pemikiran keagamaan Kartini. Yang paling bagus adalah buku TH. Sumartana tentang Agama dan Iman menurut Kartini. Saya bangga, merasa terwakili dan sangat terinspirasi bila membaca pergolakannya yang ia ungkapkan lewat surat-surat tentang Tuhan, surga, neraka, takdir, dan bagaimana ia berislam.

Di tengah kesepiannya dalam pingitan, pandangan-pandangan dia tentang tema-tema keagamaan itu begitu mendalam. Kartini melakoni dan memahami Islam tidak taken for granted. Baginya berislam haruslah masuk akal dan sesuai dengan pemikiran. Ia mengakui kalau keislaman yang ia anut adalah semacam turunan dari nenek moyangnya. Seperti pada umumnya orang beragama, ia juga tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih agama apa yang ia kehendaki. Sehingga doktrin dan ritual diwariskan begitu saja.

Namun jiwa pencarian Kartini tak pernah mati, “tibalah waktunya jiwaku mulai bertanya: Mengapa aku lakukan ini, mengapa ini begini dan itu begitu?’” Pergolakan Kartini tentang keislaman begitu dahsyat sehingga ‘sesuatu’ yang menurutnya tak dia pahami dia tinggalkan. Dia lebih mengedepankan hal-hal yang masuk akal, hal yang bersifat substantif dibanding formalitas tapi tak dia mengerti. Kata Kartini, “jadi kami putuskanlah untuk tidak berpuasa dan melakukan hal-hal lain yang dahulu kami kerjakan tanpa berpikir, dan yang kami pikir sekarang ini tak dapat kami kerjakan. Gelap–kami merasa kegelapan–tak seorang pun mau menerangkan kepada kami apa yang kami tidak mengerti.”(Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C Abendanon)

Sikap keislaman seperti itu tak membuat Kartini meninggalkan agamanya. Bahkan proses pencarian ini semakin meneguhkan keyakinannya. Ia tetap menjadi Islam meski yang paling utama buat dia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Meski ia diperlakukan tidak adil karena posisinya sebagai perempuan, namun pandangan dia tentang Tuhan sangat positif. Kartini tak pernah menyalahkan Tuhan seperti saya, yang kadang menggugat Tuhan karena menciptakan saya berjenis kelamin perempuan. Kartini melakoninya sebagai sebuah takdir yang harus ia jalani dengan positif.

Bagi Kartini, takdir itu bukan fatalisme atau penyerahan diri sehingga kehilangan kepercayaan diri: hanya pasrah dan menerima kondisi kita. Takdir menurutnya bisa mewujud menjadi suatu upaya dan usaha terus menerus tentang tugas yang diberikan Tuhan untuk meningkatkan diri dan melakukan hal yang terbaik. Ia terus menerus berproses dan mencari. Makanya tak heran, meski dia dikungkung, namun pemikiran-pemikiran cerdas tetap keluar deras melaui tulisan-tulisan. Lewat pemahaman seperti ini, saya melihat, Tuhan di mata Kartini adalah kebajikan. Tuhan hidup dan hadir di dalam hati dan jiwa manusia.

Seperti yang diulas dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, pandangan Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik dibanding metafisik. Kata Kartini, “Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia.”

Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan Kartini ini. Buat saya, surga dan neraka ada di dunia, di diri kita. Dengan mencipta surga di dunia, kita mendapat motivasi yang luar biasa menjalani hidup ini, sesulit apapun, seperti hidup yang dialami Kartini. Meski ia hidup di era feodalisme jawa yang sangat kuat, yang mengagungkan superioritas laki-laki, yang tak memberi tempat dan kebebasan untuk perempuan, tapi ia masih bisa mencipta pemikiran-pemikiran cerdas yang tak akan pernah tuntas dikupas sepanjang masa. Kita tahu, di dunia nyata, mungkin hidup Kartini bagai di neraka: dipingit, tak bisa sekolah, dipoligami, tak ada kebebasan dll. Namun di dunia ide dan cita-cita, Kartini telah menemukan surganya.

Reference : www.islamlib.com, 30 April 2007

Friday, April 20, 2007

Membangun Fikih yang Pro-Perempuan

Judul Buku: Hal-hal yang tak terpikirkan
tentang isu-isu Keperempuanan dalam Islam

Penulis: Syafiq Hasyim
Penerbit: Mizan, Februari 2001

Judul Buku: Fiqh Perempuan
Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender

Penulis: KH. Husein Muhammad
Pengantar: KH. MA. Sahal Mahfudh
Dr. Andree Feillard
Editor: Faqihuddin Abdul Kodir, M.A.
Penerbit: Rahima, LKiS, The Ford Foundation; April 2001

Kedua buku ini mencoba membicarakan problematik posisi perempuan dalam Islam. Selama ini sebagian ulama dianggap cenderung menafsirkan hadis yang merugikan perempuan sehingga terbentuk "fikih patriarki".

BENARKAH seorang perempuan tak boleh menjadi pemimpin negara? Kontroversi tentang apakah seorang perempuan boleh menjadi pemimpin negara masih saja terjadi di kalangan umat Islam Indonesia. Masih hangat dalam ingatan kita saat Megawati mencuat namanya sebagai calon presiden. Padahal, sebagai ketua partai yang menang di Pemilu 1999, mestinya ia memperoleh posisi itu. Namun, yang terjadi adalah penolakan yang keras, khususnya dari kalangan Islam. Bukti dari penolakan itu misalnya deras bertebaran selebaran dalil-dalil Alquran dan hadis yang mengharamkan perempuan menjadi presiden. Mereka memunculkan kembali hadis-hadis dan cerita-cerita masa lalu tentang jeleknya bila perempuan menjadi presiden. Umat tersedot untuk meyakini bahwa perempuan memang tak pantas dan tak layak menjadi pemimpin negara. Tak hanya itu. Di kalangan parlemen, politisi muslim yang tergabung dalam Poros Tengah membangun aliansi kekuatan menolak perempuan menjadi presiden. Istilah ABM (asal bukan Mega) kemudian menjadi populer hingga akhirnya Megawati kandas menjadi presiden.

Halal atau haramnya perempuan menjadi pemimpin adalah perdebatan kalangan ulama sejak dulu. Ini disebabkan oleh perbedaan para ulama dalam menafsirkan Alquran. Sayangnya, dari dulu sampai saat ini, penafsiran Alquran didominasi oleh cara pandang laki-laki, yang akhirnya lebih menguntungkan kepentingan laki-laki dan merugikan perempuan. Begitu juga dengan hadis, yang menjadi sumber ajaran kedua setelah Alquran. Yang dimunculkan sebagian ulama adalah hadis-hadis yang misoginis (hadis yang merendahkan perempuan).

Bangunan dan hasil pemikiran atau ijtihad para ulama klasik terhadap penafsiran Alquran dan hadis atau biasa disebut fikih menjadi landasan legal-formal umat Islam dalam beribadah dan berkehidupan sosial. Dalam fikih itulah semua kehidupan umat Islam diatur, dari kehidupan pribadi seperti nikah, puasa, zakat, salat, dan khitan, hingga kehidupan sosial dan politik. Akibat dari kecenderungan menafsirkan Alquran oleh sebagian ulama yang didominasi laki-laki, dan hadis yang diambil adalah hadis-hadis misoginis—meminjam istilah Syafiq Hasyim—fikih menjadi fikih patriarki.

Karena itulah dua buku yang masing-masing berjudul Hal-Hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-Isu Keperempuanan dalam Islam karya Syafiq Hasyim dan Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender karya K.H. Husein Muhammad mencoba memunculkan kembali dan mengkritik persoalan-persoalan perempuan yang selama ini "tak terpikirkan" yang tertuang dalam fikih. Biasanya kritik atau dekonstruksi terhadap persoalan perempuan langsung menukik pada persoalan teologi, seperti yang sudah dikerjakan oleh Rifaat Hasan, pemikir perempuan Islam asal Pakistan. Padahal, fikih selama ini tidak lagi dipandang sebagai kerja intelektual yang memiliki kenisbian kebenaran dan kontekstual serta memiliki makna substansial dan rasional yang dikembangkan, tapi telah menjadi agama dengan kesakralan dan keabadian maknanya (Husein: hlm. xxiv).

Karena kesakralan dan keabadiannya itu, umat Islam tidak berani mengutak-atik rumusan fikih itu dan bersikap nrimo saja. Padahal, banyak persoalan perempuan dalam fikih, seperti yang ditunjukkan oleh dua penulis dalam dua buku ini, yang melakukan distorsi pesan-pesan kearifan dan kerahmatan agama. Pesan dan rahmat agama itu sebenarnya memperlihatkan kepada umatnya makna-makna humanitas universal dan ajaran-ajaran agama yang memberi makna humanitas kontekstual.

K.H. Husein, misalnya, mencontohkan tentang kepemimpinan perempuan dalam sebuah negara. Dalam fikih, hampir semua sepakat bahwa kepemimpinan perempuan tidak dibolehkan. Ini merujuk pada QS An-Nisa: 34, bahwa "Laki-laki adalah qawwam (pemimpin) atas perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." Posisi laki-laki dalam ayat ini sangat superior karena kata qawwam dan melebihkan. Kalangan mufasir seperti Ar-Razi, Ibnu Katsir, dan az-Zamakhsyari berpendapat superioritas laki-laki di situ mutlak adanya. Ar-Razi dalam tafsirnya, At-Tafsir al-Kabir, juz X 88, mengatakan kelebihan laki-laki atas perempuan meliputi dua hal: ilmu pengetahuan, pikiran, akal (al-'ilm) dan kemampuan (al-qudrah). Artinya, akal dan pengetahuan laki-laki melebihi akal perempuan dan untuk pekerjaan-pekerjaan keras laki-laki lebih sempurna dibandingkan dengan perempuan.

Menurut K.H. Husein, semua superioritas yang dimutlakkan tadi kini tak dapat dipertahankan lagi. Ini bukan saja karena hal itu dipandang sebagai bentuk diskriminasi yang tidak sejalan dengan dasar-dasar kemanusiaan universal, melainkan juga karena fakta-fakta sosial telah membantahnya. Sekarang, telah semakin banyak kaum perempuan yang memiliki potensi dan melakukan peran yang selama ini dipandang hanya dan harus menjadi milik laki-laki. Karena itu, karakteristik yang menjadi dasar argumen bagi superioritas laki-laki bukanlah sesuatu yang tetap dan berlaku sepanjang masa, melainkan merupakan produk dari sebuah proses sejarah yang berlangsung secara evolutif dan dinamis. Apalagi Alquran telah merekam kepemimpinan perempuan dalam cerita Ratu Balqis yang sukses secara gemilang memerintah negerinya, Saba' (Husein: 21).

Banyak hal menarik yang akan kita dapatkan dalam kedua buku ini. Pertanyaan yang cukup sensitif antara lain mengenai boleh-tidaknya perempuan menjadi imam di tengah makmum lelaki, boleh-tidaknya perempuan berazan di masjid seperti layaknya laki-laki, tentang khitan perempuan, batasan aurat, dan pemakaian jilbab. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan kita temukan di kedua buku ini.

Dalam buku Syafiq, kita akan menemukan berbagai macam pendapat dari kalangan ulama tradisional sampai pemikir Islam modern. Dalam setiap bab, dengan sistematis meski tidak begitu dalam, Syafiq merunut tokoh demi tokoh untuk menjelaskan setiap persoalan perempuan secara tematis dan historis. Dalam penutup tulisannya, Syafiq memberikan alternatif cara membaca fikih yang membebaskan, bukan fikih patriarki, yakni dengan meminjam metode aliran filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure, yaitu tazamuni (sinkroni) dan istqathi (diakroni). Dan Syafiq lebih memilih cara baca istqathi karena cara baca model itu, khususnya dalam konteks fikih, menggunakan makna-makna yang dikandung oleh teks-teks fikih masa lalu sebagai pengetahuan sejarah makna, bukan sebagai pengikat makna. Cara baca seperti itu diharapkan akan mengembangkan makna-makna teks fikih yang sesuai dengan kebutuhan sekarang, bukan kebutuhan masa lalu (Hasyim: 266).

Sementara itu, dalam buku K.H. Hussein, kita akan menemukan pergulatan dirinya sebagai kiai pesantren yang terganggu karena "agama" menjadi salah satu faktor penyebab ketidakadilan terhadap perempuan. Dengan bahasa pesantren yang menjadi gaya tulisannya ini, K.H. Husein mencoba membentuk sebuah pemikiran yang cukup utuh dan sistematis mengenai fikih perempuan dalam perspektif keadilan gender. Menariknya, buku ini disusun ala sistematik tematis fikih klasik: fikih ibadah, fikih pernikahan, sosial kemasyarakatan. Sebagai orang yang memiliki latar belakang tradisi kitab kuning yang cukup kuat, K.H. Husein mampu membaca dan memetakan berbagai ketimpangan hubungan laki-laki dan perempuan melalui berbagai ragam referensi secara teliti dan kritis.

Dua buku ini merupakan karya yang saling melengkapi dan memperkaya wacana Islam dalam kajian fikih. Pemikiran dan pendapat yang diulas di dalamnya memberikan nuansa dan masukan baru untuk ritual-ritual yang biasa dilakukan umat Islam, khususnya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan perempuan. Untuk sebuah awal, apalagi untuk Indonesia, kedua buku ini cukup berhasil membangun fikih yang pro-perempuan.

Reference: Majalan TEMPO NO. 22/XXX/30 Juli - 5 Agustus 2001

Sunday, April 8, 2007

Peraturan Daerah Syariat dan Perempuan

Di tengah trend peraturan daerah (perda) syariat saat ini yang terjadi di pelbagai daerah, tema perempuan kaitannya dengan syariat Islam seakan tak bisa dipisahkan. Berbicara tentang syariat Islam maka sebenarnya berbicara tentang pengaturan perempuan. Coba kita perhatikan, tak ada satu pun aturan dalam perda-perda tersebut yang tak mengatur tentang perempuan: bagaimana perempuan berpakaian, bersikap dan berperan. Karenanya saya sepakat dengan Muslim Abdurrahman dalam wawancaranya beberapa tahun lalu di website islamlib.com bahwa yang menjadi korban pertama penerapan syariat Islam adalah perempuan.

Di Indonesia, trend di atas bisa dibilang masih baru. Saya bersyukur menjadi perempuan Islam Indonesia. Terlepas dari tradisi Islam, peranan perempuan di Indonesia lebih maju dibanding negara-negara Islam. Kalau kita melihat di negara-negara yang berdasar Islam, nasib perempuan sangat memprihatinkan. Perempuan diperlakukan seperti mahluk yang lemah dan tak mempunyai akal pikiran; mahluk yang harus diatur, diarahkan dan berbahaya. Kita bisa baca pengalaman perempuan-perempuan di bawah rezim Taliban yang runtuh beberapa tahun lalu. Begitu juga di negara Arab Saudi atau Kuwait dan negara Arab lainnya. Perempuan benar-benar tidak dianggap sebagai manusia yang utuh, yang mempunyai kebebasan, pilihan, akal pikiran dan lainnya.

Pertanyaannya, benarkah perempuan dalam Islam seperti yang tercermin dalam dalam negara-negara Islam itu? Bagaimana sebenarnya Islam memosisikan perempuan?

Sebagai perempuan yang dilahirkan dari orang tua yang beragama & bertradisi Islam dan kemudian secara sadar memilih Islam sebagai agama yang saya peluk, tentu saya ”terganggu” dengan pemahaman Islam seperti ini. Saya tak percaya kalau agama yang saya anut mendiskriminasikan jenis kelamin saya, perempuan. Karena saya percaya tidak mungkin Allah, sang pencipta, menciptakan manusia (laki-laki & perempuan) dan kemudian bersikap tidak adil pada salah satu ciptaannya. Atas dasar itulah, saya mulai menelusuri literatur yang berkaitan tentang tema perempuan dalam Islam.

Ternyata yang saya jumpai dalam Islam, perempuan menempati posisi sangat istimewa. Apalagi kalau kita memahami bagaimana era sebelum Islam. Islam diturunkan di saat kondisi sosial sedang mengalami era kegelapan (jahiliyah) khususnya kepada perempuan. Saat itu, laki-laki memang segala-galanya, inilah yang disebut dengan sistem patriarkhi. Tidak ada penghargaan sama sekali pada perempuan. Dalam tradisi jahiliyah, terdapat tradisi menanam anak perempuan hidup-hidup (wa'du al-banât), anak perempuan tidak berhak menerima warisan bahkan sebaliknya anak perempuan seperti benda yang bisa diwariskan.

Poligami juga menjadi bagian tradisi jahiliyah itu. Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, ketika Ghilan bin Salamah al-Tsaqafi masuk Islam dia memiliki istri lebih dari sepuluh. Seorang sahabat lain, Qays bin al-Harits al-Asadi memiliki delapan istri. Rasulullah Saw memerintahkannya mereka berdua untuk memilih dari istri-istrinya empat orang dan menceraikan sisanya. Ketika Rasulullah Saw ditinggal istri tercintanya, Khadijah, Khulah bint Salimah al-Hakim menga¬jukan dua calon istri sekaligus, sebagai pengganti Khadijah, yaitu, Aisyah bint Abi Bakr dan Saudah bint Zam'ah. Dari “penawaran” ini menunjukkan poligami sudah bagian dari tradisi Bangsa Arab yang mendarah daging. (Binth Syathi, Nisâ' al-Nabî: 85)

Di tengah kondisi seperti ini, jelas Islam sangat revolusioner dalam mengangkat derajat dan posisi perempuan. Alquran, kitab suci agama Islam, diwahyukan kepada Nabi Muhamad penuh dengan cita-cita sosial dalam mendobrak keterbelakangan dunia di masa ketika ia ditumbuhkan. Nabi Muhamad Saw dengan ajaran barunya berusaha melepaskan belenggu tradisi jahili pada saat itu, yaitu menaikan harkat perempuan.

Bukti sejarah mencatat gebrakan-gebrakan yang dilakukannya. Ini terlihat dalam ayat-ayat Alquran dan perilaku Nabi terhadap perempuan, baik isteri-isterinya, anak-anaknya maupun sahabatnya. Konsep perempuan dalam Al-Qur’an secara jelas dan gamblang menyatakan posisi dan peran perempuan setara dengan laki-laki. Yang dimuliakan di sisi Allah bukan perbedaan jenis kelamin, akan tetapi nilai ketakwaan (QS. Al-Hujarat/49: 13). Begitu juga dalam pemberiaan pahala yang diberikan Allah terhadap amal perbuatan seseorang. Ini tidak ada perbedaan jenis kelamin. Allah hanya menilai besar kecilnya nilai amal tersebut (QS. Al-Ahzab/ 33: 35, QS. Al-Jin/72: 38, QS. Ali-Imran/3: 195, QS. An-Nisa/4: 124, QS. An-Nahl/16:97, QS. Al-Mu’min/40: 40, QS. At-Taubah/ 97: 2). Alqur’an juga jelas mengatakan perempuan adalah partner (pasangan, saudara kembar, saudara kandung). Begitu juga laki-laki adalah partner perempuan (QS. An-Nisa/4: 1, QS. An-Nahl/16: 72, QS. Al-Baqarah/2: 187, QS. Ar-Ruum/30: 21, QS. Al-A’raf/7: 189, QS. Asy-Syuara’/42:11, QS. At-Taubah/ 9: 71, QS. Al-Hujurat/ 49: 13).

Kalaupun ada nilai-nilai kuantitatif yang melebihkan keunggulan laki-laki dalam ayat-ayat Al-Qur’an, itu tidak mengurangi nilai kesetaraan. Karena ayat-ayat itu dipahami sebagai ayat yang sebenarnya punya nilai praktis atau kompromi yang sangat revolusioner dalam konteks Arab masa itu. Misalnya mengenai hak waris, saksi atau keunggulan laki-laki dalam rumah tangga. Padahal posisi perempuan pada saat itu, sangat tidak diharapkan kelahirannya (QS. At-Takwil/81: 8, QS. At-Taubah/ 9: 16, QS. An-Nahl/l6: 58-59).

Namun, dalam sepuluh tahun sesudah Rasulullah SAW wafat, perempuan kembali dihadapkan pada otoritas politik yang memapankan nilai androsentrisme. Masa inilah yang menjadi jembatan berlangsungnya sejarah androsentrisme dalam Islam dan dilembagakan secara halus melalui bahasa agama yang tercantum dalam kitab tafsir, hadis, dan fikih, serta dikembangkan pada masa kekuasaan Bani Umayah dan Abasiyah, bahkan hingga sekarang. (Nasaruddin Umar, 1999).

Berbeda dengan tradisi tasauf yang jauh dari lingkaran otoritas politik, perempuan menempati tokoh sentral yang diakui ketinggian spiritualitasnya bisa melebihi laki-laki. Seperti dikatakan Ibnu Arabi, sufi sejati adalah mereka yang mengubah sifat dirinya menjadi perempuan. Hal ini disebabkan sifat jamaliyah yang dimiliki perempuan (Haidar Baqir, 2002).

Bahkan, Abu Abdurrahman as-Sulami (wafat 1021) merincikan kesalehan 82 perempuan "kekasih Tuhan" dalam bukunya, Dzikir an-Niswah al Muta’abbidat ash-Shufiyyat, yang menunjukkan kualitas spiritualitas perempuan tidak terhalang karena jenis kelaminnya.

Menurut Gamal al-Banna dalam Bukunya al-Mar’ah al-Muslimah Bayna Tahrîr al-Qur’ân wa Taqyîd al-Fuqâhâ’, ada dua sebab kenapa kondisi perempuan menjadi terbelenggu lagi : Pertama, kuatnya adat dan budaya Jahiliyah yang sangat merendahkan martabat perempuan, dan Islam pun tidak bisa mengubahnya secara frontal, namun perlahan-lahan dan kadang “berkompromi”. Ini misalnya terlihat dari pengkuan Umar bin Khattab Wallahi ma kunna na’idd al-nisâ’a hatta anzala Allah fîhinna mâ anzala (Sumpah, kami dulu tidak pernah peduli terhadap hak perempuan, sampai Allah memerintahkan kami untuk peduli pada hak-hak mereka).

Diriwayatkan juga seorang perempuan mengadu kepada Rasulullah ditampar suaminya. Rasulullah menyuruh perempuan tersebut membalas tamparan sang suami sebagai realisasi ayat qishâsh al-Quran anna al-nafs bi al-nafs wa al-'ayna bi al-'ayn..., sekaligus bukti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dan masyarakat Arab waktu itu bereaksi keras, bagaimana mungkin perempuan yang sebelumnya tidak dihargai sama sekali, tiba-tiba diperbolehkan membalas perlakuan sama terhadap laki-laki? Sebagai "kompromi" turun ayat, al-rijâl qawwâmûn 'alâ al-nisâ'—yang sering dipahami laki-laki berkuasa atas perempuan.

Kedua, hilangnya kebebasan dari masyarakat Islam setelah meninggalnya Nabi dan Khulafa’ al-Rasyidin. Kebebasan itu hilang karena dua sebab.

(1) lahirnya kekuasaan dinasti-dinasti kerajaan yang otoriter dan despotik, yang selalu mengutamakan kekerasan. Ingat penyerbuan Madinah dan perusakan Ka’bah di Makkah oleh Yazid bin Muawiyah. Kondisi ini menciptakan masyarakat ‘patriarkhi’ yang identik dengan ‘kelelakian’ ‘kejantanan’: kekerasan, dan kediktatoran

(2) lahirnya ulama-ulama fikih yang dekat dengan kekuasaan dan mereka tidak hanya sekedar ulama fikih namun juga ‘legislator’ yang membuat aturan, dan undang-undang yang berpihak pada kekuasaan. Sejak zaman ini, perempuan dikekang dan dipasung melalui aturan-aturan yang ada dalam fikih. Ketika fikih sudah menjadi undang-undang positif, maka, fikih akan kaku dan beku, padahal hal ini bertentangan dengan kodratnya sebagai pemahaman (al-fiqh) yang subur akan penafsiran dan perbedaan.

Namun ada para ahli fikih lain yang menentang kedudukan ulama fikih di atas, yaitu ulama fikih yang tugasnya mengarang buku dan mengajar. Mereka sangat menentang menjadikan fikih sebagai hukum positif, seperti Malik bin Anas yang menolak ketika Abu Manshur, seorang khalifah Abbasiah, ingin menjadikan al-Muwaththa’ karangannya dijadikan hukum positif.

Oleh karena itu menurut Khaled Abu el Fadl dalam bukunya Atas Nama Tuhan (2004), hukum Islam harus dibebaskan dari praktik ‘otoriter’ ini: mejadikan fiqh sebagai hukum positif. Karena hukum Islam secara kukuh menentang kodifikasi dan penyeragaman (Islamic law has staunchly resisted codification or uniformity). Metodologi hukum Islam memiliki ciri yang terbuka dan antiotoritarianisme (tradisional Islamic methodology has been its open-ended and anti-authoritarian character).

Namun, yang menjadi persoalan dewasa ini seperti yang saya gambarkan di atas: adanya perda-perda syariat yang memperlakukan syariat Islam sebagai perangkat aturan (ahkâm) berdampak pada aturan itu menjadi mapan, statis, dan tertutup sehingga tidak menyisakan ruang yang luas untuk pengembangan dan keragaman. Khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Singkatnya, hukum Islam pada era modern ini dipandang sebagai perangkat aturan (ahkâm), bukan sebagai sebuah proses pemahaman (fiqh). Kecenderungan ini berpotensi melahirkan otoritarianisme dalam memahami hukum Islam.

Semestinya perdebatan-perdebatan mengenai perempuan, haruslah diletakkan pada perdebatan fiqh; sebagai ilmu yang berusaha memahami dan menggali hukum-hukum syariat Islam. Baik perdebatan ini bersumber dari teks-teks Alquran maupun Hadis. Meski masih kuat adanya sikap misoginis dalam ajaran atau doktrin Islam seperti yang tergambar dalam Hadis namun hal itu tak menghapus nilai-nilai universal yang sangat jelas termaktub dalam Alquran. Dengan memperlakukan teks seperti ini, Islam tidak akan kehilangan semangat pembebasan terhadap perempuan. Dan perda syariat yang mengatur perempuan semestinya tak diperlukan lagi.

Referensi : Opini Koran Tempo, Sabtu 7 April 2007
my last safhah, terima kasih atas masukan dan diskusinya untuk tulisan ini..

Wednesday, April 4, 2007

Jalan Panjang menuju Pernikahan

Bulan April ini mas Hamid, koordinator Jaringan Islam Liberal, menikah. Tepatnya tanggal tujuh di Gedung Arsip Nasional. Buat saya, keputusannya ini luar biasa dan dahsyat. Tadinya saya menganggap pernikahan tidaklah penting untuknya. Sama seperti teman baik saya lainnya; mba Ayu Utami, mas Erik, dan Andy Budiman. Ternyata persoalannya bukan penting dan tidak penting, tapi belum menemukan jodoh. Iya, mas Hamid sering mengatakan itu kalau saya rewel bertanya tentang kehidupan pribadinya. Kenapa sih mas ga menikah? Kalau si ini gimana? Kalau si itu gimana? Selalu jawabnya, ah pegel, Nong. Nah, sekarang terjawab sudah siapa perempuan yang diinginkannya. Itulah Fathia Syarif. Hmmm, beruntunglah mba Fathia karena mendapatkan mas Hamid, jenis lelaki yang sedikit ada di dunia ini, yang bisa diajak apa saja dan bicara apa saja.

Sayang sekali, sampai saya berangkat ke Melbourne dan mereka menikah, saya belum pernah ketemu mba Fathia, perempuan yang dipercaya mas Hamid menemani hidupnya. Saya hanya mendengar ceritanya saja. Tiap hari saya mendengar tentangnya. Saat itu, mas Hamid memang sedang puncak-puncaknya kasmaran (semoga berada di puncak terus!). Mas Hamid berubah layaknya yang sedang kasmaran: wajahnya ceria, bersinar dan matanya berbinar-binar terus. Tak pernah terucap kata lelah atau mengeluh meski dia sering cerita kalau dia belum tidur sama sekali. Terus cerita dan cerita.

Sebelum mas Hamid ketemu dengan rumah hatinya, kita sering ngobrol soal pernikahan. Dia selalu mengeluhkan teman-temannya, termasuk saya, karena setelah menikah terus berubah. Pembelaan saya waktu itu, saya berubah karena harus toleran dan kompromi dengan teman hidup saya bila ingin langgeng. Ini bagian dari konsekuensi pilihan saya memilih suami saya, bagaimanapun dan siapapun dia. Trus mas Hamid bilang, “kalau nanti saya menikah saya ngga mau berubah. Hidup saya sih seperti ini ya pasangan kita harus terima. Kalau kamu, Nong, pegel banget.” Saya cuma tertawa kalau sudah dibilangin begitu. Apalagi kalau mas Hamid udah bilang kata pegel, hmm bikin saya kangen deh. Khas banget gitu loh!

Makanya ia sering mengingatkan lewat sms-smsnya bila saya bercerita tentang keluarga. Salah satunya smsnya kira-kira begini, “Nong, salah satu kesalahan Tuhan adalah menciptakan institusi pernikahan. Karena itu untuk menebusnya, Tuhan memberi kita Teman.” Dan saya menyetujuinya. Meski sekali-kali saya pegel karena urusan keluarga, saya beruntung punya teman-teman yang sangat baik khususnya dengan mas Hamid.

Di Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal, kita semua dekat seperti saudara. Yang menyatukan kita adalah kita benar-benar menjadi liberal yang kaffah. Kita merasa satu ide, satu perjuangan. Meski saya dan mas Hamid dari segi usia, pengalaman hidup dan intelektual berbeda, tapi itu tidak menjadi alasan kami untuk tidak menjadi teman dekat yang sangat baik. Saya tak merasa sungkan untuk bercerita tentang apapun. Saya kira, bukan hanya saya yang punya perasaan istimewa berteman dengan mas Hamid seperti ini, teman-teman yang lain pun merasakan hal yang sama, merasa cocok dan trust dengannya.

Suatu hari, mas Hamid datang ke ruangan saya, duduk di sofa seperti biasa dan langsung cerita tentang mba Fathia. Dia bilang, “aku lagi nunggu Fathia nih menjawab tawaranku menikah. Dia minta waktu seminggu”

“Bener nih, mas? Apa keputusan itu ngga terlalu cepat?”, Saya bertanya serius.

“Ngga, karena aku udah merasa banyak kecocokan dengannya. Nong, dia itu JIL banget loh. Pokoknya keren deh, ngga megelin. Dan lagian ngapain lama-lama pacaran untuk seusiaku. Dari dulu, aku kan pengen menikah. Kalau dia mau menikah, aku senang banget, kalau dia inginnya pacaran saja ya kita jalan aja. Tapi kalau bisa sih aku ingin cepat menikah. Pegel nong begini terus,” tuh kan mas Hamid bilang pegel lagi.

Alhamdulillah, tawaran mas Hamid diterima. Saya ikut senang dan bahagia ketika mendengar berita ini. Saya ngebayangin keputusan mba Fathia ini berdasarkan pertimbangan kiri kanan, depan belakang, dianalisa dari berbagai perspektif: filsafat, sosiologi, politik, sejarah, agama, sholat istikharah, tanya kyai khas, dan lainnya. Intinya dia bersedia dengan mantap diperisteri dan dinikahi mas Hamid. Saya percaya, pasti ini keputusan yang luar biasa juga untuk mba Fathia.

Setelah itu, “konstelasi politik” mas Hamid berubah dengan cepat. Tiap detik selalu ada yang berubah. Awalnya dia bilang akan menikah bulan Mei. Wow, tentu saya senang karena saya sudah ada di Jakarta dan akan ikut bersibuk-sibuk ria untuk pernikahan agung mereka. Eh, seminggu saya di Melbourne, saya di sms mas Hamid kalau pernikahan mereka dimajukan bulan April. Saya sempat protes kenapa waktu pernikahannya dimajukan. Saya berharap sekali, bisa melihat dan ikut menjadi saksi pernikahan mereka. Saya sedih, mungkin karena saya terlalu kegeeran, merasa menjadi teman baiknya.

Untungnya, tak berapa lama kemudian saya disms lagi olehnya, minta tulisan untuk souvenir pernikahannya. Kesedihan saya hilang oh ternyata mas Hamid masih menganggap saya sebagai teman baiknya. Saya masih bisa terlibat dalam pernikahan mereka meski sekedar lewat tulisan ringan ini.

Terakhir, selamat ya mas Hamid, selamat ya mba Fathia. Semoga bisa menjadi pasangan yang langgeng, bisa mencipta keluarga yang sakinah (Jangan lupa, mas Hamid selalu bilang kalau niatnya berkeluarga salah satunya ingin punya anak. Duhh, arabnya ternyata belum hilang mas!), mawaddah dan penuh rahmah. Doa dan harapan yang selalu diucapkan pada setiap pasangan yang akan menikah. Saya yakin, mas Hamid dan mba Fathia bisa mewujudkan harapan ini. Separoh lebih hidup mas Hamid dihabiskan untuk menunggu pilihan hidupnya dan akan sangat terasa pendek mewujudkannya bersama mba Fathia. Seperti ucapan mas Hamid yang sering dikatakannya ke saya, pernikahan dan keluarga tak selayaknya menjadi alasan kita berubah. Mas Hamid dan mba Fathia bisa membuktikan bahwa pernikahan bukanlah kesalahan dan hukuman Tuhan, tapi bagian dari kenikmatan Tuhan. Selamat berbahagia!

Saturday, March 31, 2007

Melbourne, Kebebasan dan Kursus Inggris

Sudah lima minggu lebih saya menikmati dan melewati hidup di Melbourne. Melbourne adalah kota multikultural dengan beragam orang, bangsa, polah, makanan dan lainnya; kota yang tiap minggunya ada pertunjukan seni, festival dari bermacam budaya dan bangsa; kota yang penuh dengan gedung-gedung cantik, modern dan juga tua; kota dengan transportasi publik yang sangat baik; kota yang dimana-mana tersedia taman yang nyaman dan terbuka untuk publik; kota yang betul-betul menghargai pentingnya keberadaan ruang publik untuk warganya; kota yang sadar dengan sejarah karenanya museum terserak dimana-mana; kota yang sungguh tertata dan terencana. Saya betul-betul menikmati kota ini. Saya beruntung bisa singgah 10 minggu lebih di kota ini dan saya masih punya lima minggu lagi untuk merambahi kota ini.

Saya bisa di sini karena bantuan dari TAF. Terima kasih saya haturkan untuk Douglas, mba Robin, John, kak Budhi, Kathleen dan teman-teman TAF lainnya. Dan juga dukungan yang penuh dan luar biasa dari mas Celi dan teman-teman Freedom Institute. Juga mas Indra yang menjaga Andrea. Karena merekalah saya di sini sekarang.

Awalnya saya tak yakin bisa pergi selama dan sejauh ini. Ketika saya mendapat kabar dari TAF kalau saya disetujui didanai ke Melbourne, saya sempat ragu, maju mundur. Bahkan sempat kepikiran belajar di Singapur saja. Lokasinya lebih dekat dan saya bisa bebas pulang kapan saja. Tapi beberapa teman menyarankan untuk tetap di Melbourne. Bahkan mas Celi bilang ‘kamu harus menikmati kebebasanmu sekarang, Nong. Kamu harus nikmati itu. Tak ada kemewahan selain kamu menikmati kesendirianmu. Kalau kamu tetap di Jakarta atau kamu milih Singapur, kamu akan tetap disibukkan dengan keluarga dan pekerjaanmu. Jadi, pergilah dan enjoy your freedom.” Meski saya sudah memilih Melbourne tapi saya tetap gamang. Aneh, kok diberi kebebasan malah seperti ini?

Tak pernah saya merasa segamang ini. Biasanya setiap saya mau pergi ke luar negeri, saya menyambut dan merayakannya dengan suka cita. Ada kebanggaan saya punya kesempatan mengenal langsung negeri lain. Saya sudah pergi ke US, Jerman, Jepang, Bangkok, London, dll dan saya antusias banget. Saya suka berpetualang dan banyak mendapat belajar hidup dengan mengunjungi tempat-tempat baru, asing, dan senang mengenal orang-orang baru. Tapi sekarang menjadi lain. Mungkin karena posisi saya sekarang sudah beda, bukan pribadi yang seperti dulu, saya sebagai ibu sekarang. Ini benar-benar sulit dan dilematis.

Saya ngga bisa ngebayangin bisa ninggalin anakku karena aku sangat dekat banget. Andrea tidak akan tidur kalau mamanya belum datang dari kantor dan aktivitas kerjanya. Meski dia harus nunggu sampai jam 12 malam karena aku sering bikin dan ngehadiri diskusi dan ‘acara’ lainnya. Dia memang anak yang betul-betul ngerti pekerjaan dan posisi mamanya. Kedekatanku dengan anakku mungkin juga karena dia masih menyusui meski usianya sudah 2,5 tahun. Keberangkatanku ke Melbourne ini dijadikan cara untuk menyapihnya. Sebenarnya dari usia 1,5 tahun aku sudah coba menyapihnya. Berbagai cara sudah dilakukan tapi ngga mempan terus. Jadi waktu itu saya ngga bisa bayangin kalau saya tak ada di sisinya. saya khawatir dia ngga bisa tidur karena saya tak disisinya, khawatir dia sakit, khawatir dia kangen dan seribu kekhawatiran lainnya. tapi anakku memang benar-benar ngerti mamanya. Duh Ea, mama kangen banget…

Akhirnya saya putuskan dan niatkan belajar bahasa inggris di Melbourne. Saya pilih Hawtorn English Language Center (HELC) www.hawtornenglish.com, milik University of Melbourne. Saya sengaja memilih tempat ini karena letaknya tak terlalu dekat dengan pusat kota Melbourne. Saya juga homestay di North Balwyn yang jaraknya lumayan jauh dari City. Tempat kosku seperti di komplek perumahan Tanjung Barat, perumahannya cukup mewah, nyaman dan akses kemana-mana sangat mudah. Lokasiku ini penting agar saya tak terlalu terhanyut mengikuti hiruk pikuk pelbagai acara di city. Dan yang terpenting lagi, di HELC ini tidak terlihat ada orang Indonesianya. Di sini banyaknya orang Korea, Cina, Jepang, Middle East, Turki, Spanish, dan beberapa orang Prancis. Ada sekitar 6000-an siswa. Beda kalau di city, dimana-mana, di setiap sudut, kita menemukan orang-orang Indonesia. Jadi saya pengennya belajar, belajar dan belajar. Supaya ngga suntuk belajar, kadang Sabtu dan Minggu serta di waktu libur saya pergi ke city, ketemu dengan teman-teman dan berpetualang dengan keramaian hiruk pikuk Melbourne.

Bila ingat tujuan saya di sini itu belajar bahasa Inggris, kadang saya merasa sesak nafas karena sampai sekarang saya kok masih belajar Inggris aja. Hey, kemana aja selama ini? Dulu-dulu saya malas banget, bukannya ngga mau dan ngga tahu kegunaannya belajar inggris ini. Cuma megelin aja gitu loh. Kalau cuma sekedar baca, ngomong dikit dan ngerti omongan orang sih aku mampu. Tapi ternyata itu tak cukup bila ingin mendapatkan banyak hal di dunia ini. Saya nyesel banget sekarang, padahal teman-temanku udah melanglang buana studi dimana-mana karena inggrisnya udah bagus. Sementara saya masih begini-begini aja. Duh, ketinggalan banget deh. Tapi udahlah, masih untung aku diberi kesempatan seperti ini. (Jangan mengeluh terus, Nong…)

Hari pertama, saya di test penempatan kelas. Speaking, listening, reading ok semua. Perfect dan kamu sudah level advance, kata mereka. Eh, pas writing saya jatuh banget nilainya karena saya menulis sesuatu yang menurut mereka, tidak ilmiah dan tidak akademis. Karena aku homesick banget, aku menulis tentang perasaan kangenku ke dea. Trus, saya juga belum pernah ikut tes IELTS jadi ngga tahu kriteria writing itu seperti apa. Mereka minta aku memilih aku mau masuk kelas mana: English for Academic purposes (EAP) 1 atau EAP 2? Saya memilih yang pertama dengan pertimbangan saya udah lama tak belajar serius bahasa Inggris dan waktuku juga tak terlalu lama di sini, cuma 10 minggu. Buatku jadinya tak terlalu ngotot ngejar dan mengikuti kelas yang sudah lanjut. Saya khawatir, jangan-jangan saya tak bisa mengikutinya kalau saya masuk di EAP 2.

Ada sekitar 15 orang di kelasku. tiga orang Spanish (manis dan cantik), satu orang Turki (itu loh mba ade, yang dibelakangku yang ngacungin tangannya), empat orang Arab Saudi (pasti cowok semua dan megelin lagi. Mereka sok-sok banget, sombong karena merasa dari negara kaya), empat orang Korea dan satu orang Cina (pokoknya wajah dan ngomongnya Cina banget). Kelas ini diajar oleh 2 orang guru namanya Ivonne dan Katryn. Dua-duanya Oz dan ngomongnya oz banget gitu loh. Beda kalau kita dengerin inggris amerika dengan inggris oz, saya ngerasa lebih susah paham omongan mereka. Pronouncitionnya banyak beda dengan inggris amerika, kadang juga ada beberapa yang lain dengan inggris british.

Karena ini kelas untuk tujuan akademis, setiap hari kita diberi kiat bagaimana cara menulis, mengambil point-poin yang disampaikan dosen atau tulisan, meresume tulisan dan juga presentasi pakai power point. Setiap hari kita disuruh nulis esai dari mulai tema yang sangat sederhana sampai tema yang lumayan sulit. Minggu pertama saya disuruh menulis tentang Indonesia. Saya coba nulis dan saya dapat pujian (nanti saya tampilkan tulisan itu diblog ini). Trus kita disuruh nulis tentang small cars, animals, colour, membandingkan sesuatu antara di negeri kita dengan Melbourne (saya pilih membandingkan transportasi publik. Nanti saya masukkan juga di blog ini), censorship, pollutin, poverty, unemployment, women discrimination (saya menulis dalam konteks masyarakat Islam).

Saya sempat merasa sedikit stress karena harus nulis dalam bahasa inggris terus. Udah gitu dengerin orang ngomong bahasa inggris terus. Trus harus ngomong inggris terus. Kan cape ya, harus mikir terus. Ini benar-benar ngga biasa dan ngga pernah seperti ini. Saya jadi ingat Sahal ketika dia pulang beberapa bulan lalu. Badan dia tambah kurus dan langsing. Ketika saya tanya kenapa dia begitu dia jawab karena dia lari terus untuk menghindari ngobrol inggris. Ah sahal, ada-ada aja. Di Jakarta atau kalau saya diminta menulis dalam bahasa inggris, saya pasti minta diterjemahin orang. Saya selalu bilang, ini kerjaan Lanny hehehe…Jadi lima minggu ini saya merasa luar biasa banget.

Padahal kondisi perasaan saya masih naik turun karena kadang masih homesick dan kadang merasa kesepian dan belum terbiasa jauh dari anak, keluarga, kerjaan dan teman-teman. Ingat kebebasan? Ternyata kita memang tak pernah merasa bebas meski kebebasan itu udah kita genggam. Hmmm.. Dalam seminggu selalu ada satu masa dimana saya merasa kangen banget ama Andrea. Ini bener-bener ngga bisa dirasionalisasi dan dialihkan ke yang lain. Tiba-tiba muncul rasa kangen banget, ingin memeluknya dan karena ngga bisa, saya akhirnya menangis keras-keras, ngga bisa ngapa-ngapain. Padahal hampir setiap malam saya selalu melihatnya (terima kasih YM). Dalam lima minggu kemarin, itu terjadi tiga kali, di kelas. Saya lari ke toilet, nangis sekencang-kencangnya supaya lega tapi tetap tak bisa ngerjain apa-apa. Duh. kok anak bisa luar biasa gitu ya?

Belajar bahasa inggris 10 minggu tentu tak berharap mendapat banyak. Waktunya sangat pendek, padahal bahasa itu kebiasaan, tuntutan dan kebutuhan. Seperti halnya makan, minum, tidur dan gituan (hehehe..yang terakhir nggalah). Saya tetap berusaha dan melakukan yang terbaik untuk inggris saya meski kadang merasa terbebani karena khawatir tak mendapatkan apa-apa dari waktu 10 minggu ini. Padahal pengorbanan dan ongkosnya sangat mahal sekali. Btw, TAF nanti marah ngga ya? Kata Sukidi, “jangan kuatir, teh Nong, nanti bisa dilanjutin di Jakarta.” Bisa kah? Semoga bisa.

Friday, March 30, 2007

Ulang Tahun Jaringan Islam Liberal

Bulan Maret ini, tak hanya saya yang merayakan ulang tahun. Jaringan Islam Liberal (JIL), yang didirikan enam tahun lalu, juga merayakannya. Tak seperti ultah saya, sejak awal ultah JIL selalu kita rayakan. Bukan untuk merayakan JIL itu sendiri, tapi untuk merayakan dan mengingatkan pentingnya perjuangan kebebasan “berpikir” dalam beragama khususnya Islam. Tak hanya itu, kegiatan tahunan ini juga diperuntukkan sebagai ruang publik yang secara bebas mendedah dan mendiskusikan tema-tema yang dianggap ‘berbahaya” dalam perdebatan normatif dan doktrin Islam. Ruang seperti ini sangat mewah dan langka kita temukan sekarang.

Sejak awal didirikan, JIL dihadirkan untuk mengisi kelangkaan itu. Makanya tak heran bila kegiatan yang JIL lakukan “mengganggu” sebagian orang yang sudah merasa mapan dengan agamanya. Sejak awal JIL dianggap “mengancam”. Berbagai tuduhan negatif selalu ditimpakan ke JIL dan orang-orang yang terlibatnya. JIL menjadi stigma untuk orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran dan aktivitas JIL.

Kembali ke Ultah JIL. Setiap tahun kami berusaha selalu merayakan kegiatan tahunan ini. Meski ancaman datang menghadang dan keterbatasan dana yang kami miliki. Kegiatan ini sebisa mungkin kami rayakan dengan meriah sampai tiga hari bahkan pernah lima hari berturut-turut dengan memutar film, diskusi dan kadang ada bursa buku pilihan. Setiap tahun kami yang di JIL selalu membahas dan mendiskusikan terlebih dahulu tema dan film apa yang penting untuk kami munculkan di tiap ultah JIL. Bulan ini ultah JIL diselenggarakan dari tanggal 22 – 24 Maret dengan mengambil tema sekularisme. Menurut ceita teman-teman di JIL, peserta yang datang membludak dan antusias. Sampai-sampai Teater Utan Kayu (TUK), tempat diskusinya, tak cukup memuat banyaknya peserta yang ingin menghadiri dan menyimak diskusi JIL. Begitu juga Kedai Tempo terlihat penuh dan berdesak-desakan.


Dua tahun terakhir ini ultah JIL selalu berbarengan dengan ultah saya. Mestinya ultah JIL diselenggarakan awal Maret, persisnya tanggal 3 Maret, berbarengan dengan munculnya milis islamliberal@yahoogroups.com yang diasuh mas Luthfi.. Tahun lalu diselenggarakan pada tanggal sama seperti tahun ini karena disesuaikan dengan kedatangan TV ABC Australia yang ingin mengambil profil JIL. Mereka membuat acara Islam Indonesia dan mengambil JIL sebagai salah satu representasi Islam Indonesia http://www.abc.net.au/compass/s1765937.htm. Dan tahun ini diselenggarakan di tanggal itu karena menyesuaikan waktu TUK dan kesiapan teman-teman.

Tentu saja berbarengan ultah JIL dengan ultah saya bukan berarti JIL milik dan identik dengan saya. Ini untuk menjawab kekecewaan salah satu teman saya karena saya terlalu ‘dominan” perannya sekarang di internal JIL. Saya selalu tekankan, JIL milik semuanya bukan milik para pendirinya. Meski saya, mas ulil, mas luthfi, anick, burhan, sahal, mas Goen ngga ada, ngga terlibat dan ngga hadir di ultah JIL ternyata acara ultah JIL sukses luar biasa seperti yang diceritakan mas hamid dan novri dimilis internal kami. Ini menunjukkan JIL sekarang bukan punya siapa-siapa dan tak identik dengan siapa-siapa tapi milik semuanya. Seperti lampu yang menerangi kita, siapapun yang menikmati terangnya lampu itu tak perlu tahu siapa yang menemukan dan menciptakannya. Saya ingin JIL seperti itu. Saya yakin, JIL akan ada dan hidup terus karena banyak orang yang akan menjaga dan merawatnya.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, di ultah sekarang saya tidak hadir. Saya merasa betul-betul kehilangan moment ini. Seperti juga mas ulil, mas luthfi, anick, sahal, mas goen dan teman-teman yang tak bisa hadir. Makanya saya meminta teman-teman JIL menceritakannya untuk kami. Saya berterima kasih pada Novri yang dengan luar biasa kerennya menceritakan ultah JIL dengan detail. Saya udah meminta izin Novri kalau laporannya akan saya muat diblog ini. Terima kasih Novri. Terima kasih Lanny, Umdah, Guntur dan mbak Ade yang dengan kerja kerasnya berhasil menyelenggarakan ultah JIL sekarang. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung baik materi dan lainnya. Tak bisa saya sebutkan nama-namanya di sini, karena saking banyaknya.

Ini dia laporan Novri, selamat membaca!

Hari Pertama
Pengunjung membludak, mungkin sampai 350-an orang. Sejak jam tiga sore, mereka sudah menyemut dan minum teh botol di kedai. Ada banyak orang mungkin dari STT Jakarta ataupun STF Driyarkara. Tapi orang yang tidak kita kenal benar-benar banyak. Saya lihat lebih banyak dari tahun kemarin. Orang seakan penasaran, ada apa dengan JIL.

Tamu khusus yang diundang JIL emang dikit yang datang. Hanya ada Pak Fikri Jufri, Mas Tosca Santoso, Pak Zulkifli Lubis, Qodari, Rahman Toleng, Bu Tini Hadad, Zumrotin, Amanda, dll. Sejak awal saya sudah suruh Rusdi (operator TUK) agar nyetel liputan TV ABC Australia yang meliput ultah JIL tahun lalu tentang Islam Indonesia. Kita cuma setel yang edisi progresif yang menampilkan senyum Mas Luthfi, Syafii Anwar, Dhani Dewa, dan Nong Darol Mahmada. Film itu diluncurkan ke layar dengan volume yang sengaja dikencangkan agar ketahuan kita lagi kenduri.

Selesai menyaksikan film, Mas Hamid Basyaib, Koordinator JIL, mulai sambutan soal betapa tidak seberapanya usaha yang dilakukan JIL di tengah gelombang konservatisme di Indonesia, dan betapa beratnya merawat oase kebebasan yang kita ciptakan. JIL memang tidak kehabisan moral, tapi material memang tidak ada. Karena itu, Mas Hamid mengetuk hati orang-orang untuk juga sumbangsih material di samping moral.

Saiful Mujani atau yang akrab kami panggil kak ipung, ketua yayasan JIL, selanjutnya ngomong soal perlunya "bersedekah" gagasan untuk menjaga keseimbangan neraca moderasi Islam di Indonesia. Kalau ada yang ekstrem di kanan, harus ada yang ekstrem di kiri agar yang tenggah-tengah tetap stabil. Tapi yang lebih penting dari itu, Kak Ipung berpesan agar yang tengah-tengah ini jangan mau enak sendiri; tidak berbuat apa-apa, oportunistik.

Pak Zul pertama ingin menanya apa prestasi jil dalam beberapa tahun ini. Tapi melihat kompleksitas perkaranya, dia lebih suka melihat proses, bukan hasil. Ini masih on going process. Pendek kata, dia tetap support JIL karena menghidupkan suasasa komunitas utan kayu. Pak Fikri Jufri saya agak lupa dia ngomong apa karena waktu itu saya sedang ngobrol sama Trisno. Terakhir Bu Zumrotin yang kasih selamat, dan minta nggak banyak sambutan, tapi langsung makan-makan aja. Tentu hadirin sepakat amin... Kita makan, stok kurang, karena dipesan hanya 150 porsi. Tapi ada banyak kue dari simpatisan yang datang, dari Mbak Amanda dan Emak yang konon isteri Direktur Astra.

Tibalah saatnya diskusi. Wah, teater penuh sesak. Sampai hanya tersisa ruang setengah meter dari meja pembicara untuk tempat saya moto-moto. Mungkin banyak fans Franky B. Hardiman, Ioanes Rakhmat, dan Kak Ihsan Ali-Fauzi yang datang. Sampai-sampai, di luar pintu banyak juga yang hanya bisa liat-liat suasana diskusi di dalam. Franky bicara soal mayarakat post-secular. Ioanes hanya memberi memaparkan pendapat Berger dan satu orang lagi tetnang sekularisme. Maklum, dia baru dihubungi empat hari sebelum acara untuk menggantikan Eri Seda yang harus ke Singapura ngantar ibunya berobat. Kak Ihsan bintangnya malam itu. Penjajakan teoretis tentang sekularisme dipaparkan dengan banyak referensi dan analisis yang baik dari Kak Ihsan. Tapi waktu sesi diskusi agak kurang greget karena penanya banyak yang nggak mutu. Tapi dari sisi kuantitas pengunjung, kita menang malam itu. Jamaah bertambah, hati kita dibesarkan oleh antusiasme banyak orang...

Hari Kedua
Film Jesus Camp diputar jam 2 dan Soldier of God setelahnya. Penonton sekitar 50 orang saja. Tapi diskusi dengan Rizal “Celi” Mallarangeng, Samsurizal Panggabean dan Dick van der Meij sungguh menarik. Dick bilang ke saya kalau dia justru banyak dapat pengetahuan dari diskusi malam itu ketimbang memberi pengetahuan tentang sekularisme dalam prakteknya. Mas Celi tentulah bintang di forum apa pun. Tapi Rizal Pangabedan tak kalah menggigit dan kocaknya.

Oh ya, peserta di hari ini agak berkurang. Tapi hanya susut setengah meter dari depan meja pembicara dari pada malam sebelumnya. Tapi kualitas diskusi malam ini benar-benar punya greget. Mas Celi dapat porsi pertanyaan paling banyak tentang praktek sekularisme di Amerika dan tantangan di Indonesia dengan adanya perda-perda syariah. Seperti biasa, Celi adalah orang yang selalu optimis kalau modernisasi akan tetap memperkuat sekularisasi walau di Indonesia saat ini aspirasi agama di tingkat kultural makin menguat.

Karena dia dianggap orang dalam istana, peserta banyak juga yang berpesan agar pemerintah lebih tegas terhadap aspirasi-aspirasi syariah yang sudah mewabah di beberapa daerah. Itu terutama disampaikan Yenni Rosa Damayanti. Tapi Celi mengingatkan pentingnya bersabar, kayak ustad aja, mungkin karena sebelumnya ketemu Kiai Gontor dengan saya, dan pentingnya mempertimbangkan sensitifitas masalah. Celi juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemberontakan daerah dan karena itu harus lebih arif menghadapi masalah. Dia juga mengingatkan betapa perlunya tetap menghargai kompromi-kompromi sejarah yang telah dicapai para founding father kita dengan mengakomodasi nagara ketuhanan, depertemen agama, pesantren, dan undang-undang seperti perkawinan yang sebetulnya tidak ideal juga.

Syamsurizal Panggabean juga tampil memikat. Dia banyak cerita tentang kontradisksi-kontradiksi yang terjadi dalam penerapan syariah di banyak negara, dan terutama di Aceh. Kocak betul abang kita ini malam itu. Mereka yang rewel-rewel dengan syariah itu, belum sampai saja ilmunya, katanya. Dia juga mengingatkan, inilah masa di mana kita melihat Indonesia sebenarnya, dengan segenap warna-warninya sembari optimis bahwa aspirasi agama yang ngawur-ngawur di mana-mana itu tak akan mengubah apa-apa.

Pak Dick tampak puasa bicara dan tidak komentar banyak. Tampaknya, filolog ini lebih banyak ingin mendengar ketimbang berkomentar. Dan dia salut besar dengan diskusi kita dan berpesan pada saya untuk selalu mengundangnya dalam acara-acara kita.

Oh ya, Franky tampaknya terkesan betul dengan forum diskusi kita. Dia juga merasa bahwa dia merasa mendapat tempat yang betul-betul menantang untuk diskusi karena tesis-tesis dia, terutama tentang post-secular society, dan dia menganggap masyarakat Indonesia sudah sampai ke situ, banyak mendapat tantangan. Dia minta rekaman audio-visual diskusi kemarin, katanya untuk introspeksi.

Hari ke 3
Kiranya diskusi tentang sekularisme sudah berakhir dengan optimisme Celi dan Rizal Pangabean yang menyimpulkan sekularisme tetap akan berjaya dengan modernisasi. Rupanya tidak. Pada hari ketiga, keempat pembicara kita, Saiful Mujani, Gadis Arivia, Martin Sinaga, dan Dadi Darmadi benar-benar memikat. Pengunjung pun tak susut, bahkan tampak lebih banyak dari hari kedua. Jika pada hari kedua jarak yang tersisa antara pembicara dan peserta jadi satu meter, pada hari ketiga ini, jaraknya menyusut jadi 75 centi.

Iklan sponsor Tolak Angin rupanya menginspirasi Saiful Mujani untuk membuka pembicaraan. Di situ tertulis kalimat, Orang Pintar Sayang Keluarga. Nah, Saiful mengubahnya jadi Orang Sekuler (Mesti) Sayang Keluarga. Itu penting karena nasib sekularisme bergantung pada keluarga. Keluarga menentukan tingkat populasi. Dalam hitung-hitungan demografis, bagi Saiful, dalam hitungan ratusan tahun yang akan datang, sekularisme akan mati. Sebabnya sederhana, orang sekuler tidak sayang keluarga.

Sebaliknya, orang non-sekuler justru berkembang-biak dengan begitu cepat, bahkan perkembangbiakan itu tidak hanya dari satu betina, tapi dari banyak betina. Orang non-sekuler ini, taruhkan PKS, memacu jumlah populasi mereka dengan cepat. Saya jadi teringat salah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan Israel saat ini adalah cepatnya pertumbuhan populasi orang Arab-Israel berbanding orang Israel umumnya yang sekuler, maju, dan terdidik.

Ini bukan lelucon, kira-kira begitulah Saiful mewanta-wanti. Sebab selama ini, orang sekuler tidak perhatian terhadap keluarga, sibuk dengan aktivitas mereka, malas kawin, dan kalau kawin pun, malas punya anak. Karena itu, bagi Saiful, optimisme Celi dan Rizal P sehari sebelumnya pantas untuk diragukan. Diskusi terbuka kembali. Saiful yang membuka tabir itu. Ia bagai mendapat wahyu lalu memberi fatwa tepat saat berada di meja presentasi.

Bagi saya pribadi, tesis besar Saiful itulah pusat pembicaraan yang perlu didiskusikan. Tapi Gadis Arivia yang tampil sebelum Saiful bicara soal pasca-sekularisme, hampir mirip dengan pembicaraan Franky sebelumnya. Saya merasa, Gadis bicara apa yang seharusnya, bukan apa yang seadanya. Ia berkaca pada kasus Iran dan Afganistan lewat dua novel Reding Lolita in Teheran dan Kite Runner. Tampak ia mengkhawatirkan nasib sekularisme sembari berharap kita semestinya sudah melampaui itu. Tapi uraiannya mengena pada tema malam itu, tentang tantangan sekularisme. Katanya, kita hanya ingin menjaga jernihnya kolam kita bersama untuk tetap bisa dimasuki dan direnagi oleh semua kalangan, baik yang sekuler maupun nonsekuler, yang berjilbab maupun tidak berjilbab. Tapi, di Indonesia kini, banyak indikasi ingin mencemari kolam itu.

Kita memang ingin melampaui sekularisme, tapi faktanya kita belum melampaui itu, kata Saiful. Ungkapan Saiful ini sekaligus membantah harapan Gadis dan juga tesis Franky tentang masyarakat pasca-sekularisme. Saiful menandaskan bahwa masa depan sekularisme cukup gelap. Tapi apakah kita akan menyaksikan orang-orang mengucapkan rest in peace terhadap sekularisme?

Bagi Martin, menanggapi saya yang bertanya pada Saiful yang bagi saya mengandaikan sejarah akan berjalan linear dan seakan-akan tidak ada dinamika dan perubahan orientasi pada kedua pihak, yang tumbuh sekuler dan nonsekuler, mengingatkan, studi Yudi Latif tentang Perkembangan Inteligensia Muslim Indonesia justru menunjukkan bahwa dalam seratus tahun terakhir, intelektual Islam di Indonesia justru merasa baju Islam terlalu sempit. Dia mengutip ungkapan Amien Rais. Karena itu, Martin merasa, dalam tubuh umat Islam pun ada pergulatan dalam memilih baju yang sesuai.

Selebihnya, Martin lebih fokus pada pembicaraan bagaimana pandangan dunia sekuler tumbuh dalam konteks kekristenan Indonesia sejak zaman Belanda. Untuk melompat ke masa sekarang, setelah reformasi, orang Kristen Indonesia justru menyaksikan fundamentalisme yang tidak hanya anti-sekularisme, tapi juga anti-Kristen, terutama dalam kasus-kasus kekerasan terhadap umat Kristen sejak reformasi bergulir.

Dadi Darmadi tidak banyak mengeluarkan pandangan baru. Dia hanya mengutip kekhawatiran Paus Benediktus yang tampak gundah akan sekularisme dan mengharapkan umat Katolik menemukan kembali identitas dirinya. Kediktatoran relativisme, itulah yang dilihat Paus dalam sekularisme. Selebihnya dia ngomong kurang terfokus, mungkin karena dia juga baru dihubungi untuk bicara tiga hari sebelumnya, untuk menggantikan Saiful. Eh, ternyata Saifulnya juga datang dan justru menjadi bintang yang tiada taranya malam itu.

Sesi tanya jawab dan tanggapan tidak banyak yang menarik, kecuali munculnya beberapa penanggap dari suporter Gadis Arivia dan aktivis Kapal Perempuan yang terus bilang "Jangan berwacana terus". Mari aksi! Mahasiswi filsafat UI yang cakep-cekep juga datang untuk memberi support kepada godmother mereka, Gadis Arivia. Mereka inilah yang tampaknya dapat disebut sejumput masyarakat pascasekular yang diomongin Gadis sebelumnya. Tapi mereka berada dalam samudera masyarakat antisekularisme dan mungkin juga prasekularisme.

Pendek kata, diskusi malam terakhir itu tak kalah menariknya dari malam sebelumnya, kalau bukan malah lebih menarik. Moral JIL terus terangkat, dan jemaah tampak terus bertambah. Mbak Amanda ingin acara seperti itu terus diadakan tiap bulan. Mbak Tamalia Alisyahbana juga berharap hal serupa. Saya minta Amanda mencarikan uangnya, katanya akan membantu. Intinya, JIL never die. Panjang umur Jaringan Islam Liberal...!

Monday, March 26, 2007

Di Melbourne Usiaku Bertambah


Jumat 23 Maret, ketika saya lagi istirahat sekolah saya mendatangi ruang komputer. Iseng-iseng buka email dan saya mendapat ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman di milis internal JIL : “Selamat ulang tahun Mba Nong”. yang menarik ada ucapan selamat dari mas ulil yang bilang “keren kamu ya Nong, ulang tahunnya di Melbourne. Padahal biasanya di Pandegalang.” Persisnya sebenarnya Labuan, bukan Pandeglang, tempat saya dilahirkan dan menjalani masa kecil saya.

Iya, bulan ini saya ulang tahun. Ada yang berbeda dibanding ulang tahun sebelumnya. Seperti kata mas Ulil, saya sekarang berada di Melbourne sejak tanggal 22 Februari lalu. Saya dapat beasiswa short course dari TAF. Kalau di Jakarta, saya ngga punya waktu dan selalu ada alasan untuk tak bisa belajar. Karena kerja lah, aktif di sini di sana, ngurus anak dan lain-lain. Di sini saya benar-benar dipaksa belajar. Meski saya harus pontang panting mengendalikan perasaan yang tercabik-cabik. Duh, kenapa ya kalau lagi belajar pasti banyak godaannya?

Di Melbourne, saya tinggal bersama keluarga imigran England-Jepang. Di sini susah banget nyari yang benar-benar OZ, kebanyakan pendatang. Bahkan walikotanya pun orang Cina. Keluarga yang saya tempati ini suami orang England namanya Alvin. Sedang isterinya orang Jepang, namanya Tami. Mereka udah puluhan tahun tinggal di Melbourne dan udah mapan. Tami tipe isteri rumahan yang pandai masak terutama masakan Jepang (jelaslah namanya juga orang Jepang :-)). Saya betah dan enjoy banget karena makannya enak terus dan mereka berdua baik banget.

Kembali ke laptop eh ultah. Di moment yang cukup penting dalam hidup saya ini, saya jauh dari keluarga dan teman-teman. Tengah malam, saya sempat terbangun: sedih, ingat Umi saya yang sudah meninggal, ingat andrea (anakku yang lagi lucu-lucunya), keluarga, teman terdekat dan tiba-tiba merasa kesepian sekali. saya telpon indra, suami saya, dan dia langsung ngucapin selamat ulang tahun dan berdoa untuk kebaikanku. Di kamar yang sunyi dan sendiri, saya juga berdoa untuk hidup saya dan mereka semua. Setelah itu, pikiran saya enteng memasuki fase baru dengan bertambahnya usia saya. “Wah, saya makin tua nih. Harus tambah dewasa dan tidak boleh terbawa perasaan terus,” tekadku. Saya review kembali hidup saya: Apa ya yang sudah saya perbuat selama ini? Adakah hidup saya ini berguna untuk orang kebanyakan? Adakah prestasi saya? Jawabannya, ternyata saya belum banyak melakukan apa-apa. Hidupku masih begini-begini aja.

Paginya, seperti biasa saya sekolah. Saya sudah tak mengharapkan ada perayaan, ucapan, atau apalah di ultah tahun ini. Yang terpenting, saya sudah berdoa dan bertekad menjalani dan melakoni kehidupan yang lebih baik di tahun ini dan seterusnya. Lagian sebenarnya dalam tradisi keluarga saya pun tak pernah ada perayaan ultah-ultahan. Bahkan tanggal lahir anak-anaknya pun kadang ngga jelas. Versi A begini, versi B begitu. Keluarga saya santri banget yang tak terlalu perduli dengan pernak pernik kelahiran. Bagi Abah dan Umi saya (panggilan untuk orang tua saya), merayakan ultah dengan meniup lilin itu tradisi Kristen, tradisi Barat katanya. Saya ingat, waktu kecil saya merengek minta ke Umi dirayain ulang tahun dengan mengundang teman-teman. Umi saya bilang, “Jangan nong, tradisi Kristen kok diikuti. Pamali.” Pamali itu artinya berdosa. Makanya di keluarga saya, ngga ada itu perayaan ultah-ultahan. Malah sebaliknya, tradisi kita selalu merayakan kematian. Ada 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun dan seterusnya. Tiap tahun terus menerus dirayakan.

Saya baru merasakan ultah saya dirayakan dan dianggap berarti ketika saya bersuami. Keluarga suamiku sangat menghargai kehidupan. Setiap ultah anggota keluarga pasti dirayakan dan disyukuri bersama-sama. Itu yang membuat saya merasa kehilangan di tahun ini.

Tapi ternyata perasaan saya salah. Hari itu, saya sengaja pulang terlambat dengan berkubang dulu di perpustakaan. Pulang sekolah ternyata keluarga Alvin sudah mempersiapkan pesta ultah yang cukup meriah. Semua keluarganya berkumpul dan beberapa temanku diundangnya. Duh, saya begitu terharu. Ternyata di muka bumi ini kita tak pernah benar-benar sendiri. Semua orang menyayangiku.

Malam itu, rumah benar-benar meriah. Tami masak makanan Jepang: sushi, sashimi, sabu, sop dan lain-lain. Alvin membuat cake ulang tahun, salad, dan Pizza vegetarian. Semua minuman tersedia: champign, wine, bir, soft drink sampai air zam-zam he..he.. Pokoknya malam itu benar-benar meriah. Ketika mereka meminta saya meniup lilin, saya menghela napas dalam-dalam, mata saya terpejam dan berdoa suatu saat saya diberi kesempatan bisa membalas kebaikan mereka, trus puuuh… lilin-lilin itu saya tiup...mereka semua memberi selamat dan mendoakanku. Suasananya jadi begitu mengharukan.

Usai perayaan ultah di keluarga Alvin, indra menelpon kalau andrea, anakku, ingin tiup lilin untuk mamanya. Maka cepat-cepatlah aku menyalakan laptopku dan connect internet. di layar laptopku, andrea sudah manteng dengan lilin ulang tahun dan pizzanya. "Met ulang tahun, mama," kata andrea dan suamiku. aku jadi makin terharu.

Seperti kata mas Ulil, buatku ultah sekarang memang benar-benar keren. Bukan sekedar ultahnya di Melbourne tapi juga karena ultah saya dirayakan oleh orang-orang yang tadinya saya anggap mereka tak perduli saya, bukan saudara, bahkan sebagai teman pun baru ketemu dan kenal. Ternyata saya salah. Mereka dan keluargaku luar biasa. Meski jauh dari keluarga & teman terdekat, ulang tahun sekarang benar-benar berarti dan berkesan. Terima kasih Alvin, terima kasih Tami, terima kasih dea, terima kasih mas in, terima kasih semuanya…

Saturday, March 24, 2007

Is There a Rainbow in Islam?


In 1997, Nong Darol Mahmada became furious with God. Her mother-who had been active in organizing Islamic prayer meetings in her neighborhood in Labuan, Banten, West Java-was struck with an incurable illness that would leave her crippled for life. Nong thought that God had abandoned them. "My mother was a good person and a devoted wife. Why would God let her suffer? When she became ill, everything fell apart." At Nong's father's pesantren religious school, the enrollment dropped from around 500 to 100. "My mother used to take care of everything," Nong says. "No one could replace her. I thought, why doesn't God see that by making my mother sick He was losing so many people who had praised Him?' I was very angry."

Nong's relationship with God has been a passionate affair. As a young woman, she desired only to devote herself to religion. As a middle-school student at her father's pesantren, she dreamed of leaving the school to live alone in a rented room where she could spend more time in solitary praise of God. Nong found her inspiration in Rabi'ah al-Adawiyah, an 8th century woman Sufi from the area that is now Iraq, who was well-known for her concept of divine love. "Rabi'ah didn't marry, she spent all her time performing wirid," says Nong, referring to the practice of reciting the Qur'an to praise God, usually done after completing the five daily prayers or h.

Nong lost interest in school, preferring to spend her time reciting the Qur'an and praying. One night in the middle of her devotions, she got up and left her room. She walked alone through the dark streets until she arrived at the small prayer room (musholla) at the bus terminal. She prayed there alone until dawn. That incident led her teacher to reprimand her, warning that a bus terminal was a dangerous place for a young woman.

This was not Nong's first scolding. She had grown up in a very strict religious environment under her paternal grandmother, since her parents were busy running the religious school. Nong's grandmother believed in a literal adherence to Islamic scripture. It was she who made sure that Nong wore a jilbab, the scarf worn by many of Indonesia's Muslim women to cover the hair, neck and chest. Nong remembers her grandmother warning her, "If you don't wear a jilbab and cover your hair, when you die your hair will burn in the fires of hell." Once she watched her grandmother yank the hair of her older sister, which had been fashionably curled and styled in a ponytail. "Hey, you're going to hell! You'll be burned up!" her grandmother shouted, pulling on her granddaughter's offending coiffure.

It was not until Nong entered university at the Syarif Hidayatullah State Academy for Islamic Sciences (IAIN) in Jakarta that she was introduced to interpretations of Islam that challenged her grand`mother's thinking. Exposed to a new world of books and Qur'anic interpretations, she came across the works of Fatima Mernissi, a Moroccan Muslim feminist.

"Fatima says that the jilbab exists for the political self-interests of men," Nong says. "I became convinced that the command to wear the veil was very political. I saw the revelation of the Qur'anic verse about the veil to have been meant not as a requirement but as an appeal. It was revealed during the time of the Prophet Muhammad, when people harassed Muslim women as a way of attacking the Prophet. But now there is no difference if I wear jilbab or not. It's a warning. The Prophet saw the clothing traditions of the Quraishi women at the time, and he said, 'pull your coverings over your chests.' There was no command to cover your hair. I wear modest clothes that don't attract people's attention-that's my jilbab."

On campus, Nong began to participate in discussions with her new friends, and she felt that her previous understanding of Islam had been backward. "All that I experienced in the pesantren made me restless at university. It seemed that what I had understood to be true wasn't right. How, I asked myself, could I have accepted those kinds of teachings? I felt really out of it."

Like Nong, Ulil Abshar-Abdalla was raised in an orthodox Islamic tradition. His father was the head of a pesantren in Pati, Central Java, and believed that formal schooling was syakkun fil Rab, a symptom of doubt in God. Ulil's father was distressed to see his son reading books written in Latin letters rather than the holy texts written in Arabic. For Ulil's father, true knowledge was contained in these Arabic texts.

But Ulil was drawn to read widely, despite his father's warning that such books would lead him astray. By the time he was of middle-school age, Ulil had read h (Upheaval in Islamic Thinking), the journal of Ahmad Wahib, a young Indonesian Islamic intellectual writing in the 1970s and who died at a young age. Wahib introduced Ulil to the notion of freedom of thought, not yet a popular concept among Indonesian Islamic thinkers. In the introduction to his journal, Wahib wrote, "I believe in God, but God is not a land forbidden to thought. God exists not in order for his existence to be un-thought. God takes shape not in order to hide from the light of critique." Wahib believed that God was living, fresh and flexible: "He does not want to be fixed in place."

Wahib's writings fuelled Ulil's search for new thought. Ulil also found a teacher to offer him encouragement. He says, "Kyai Sahal [Mahfudz] introduced me not only to modern Arab thinkers but also to the thought of Cak Nur [Nurcholish Madjid, a progressive Indonesian Muslim thinker] and Gus Dur [Abdurrahman Wahid, a leader of Nahdlatul Ulama, the largest Muslim organization in Southeast Asia and former president of Indonesia]. It gave me a sense of pride in Islamic thought. He also introduced me to Western philosophy. Many kinds of books were available in his school library back then." (Sahal Mahfudz is now the head of the Majelis Ulama Indonesia, an organization of Indonesian Islamic intellectuals.)

Books, however, were not enough to give Ulil a clear path. He also sought a social environment that could provide an answer to his restless questioning. "I entered the fundamentalist milieu and became a member of their religious community. For two years I was one of them."

The fundamentalist outlook inspired Ulil to even greater devotion. Previously he had followed Islam simply as a social tradition; now he grew to see Islam as not just a set of religious rules but as a compass to guide society and state. He remembers thinking at the time, "This is amazing."

But Ulil's perspective changed again after listening to a lecture by a young Islamic intellectual, Imanuddin Abdurrahim, at the Salman Mosque in Bandung. "[Imanuddin] had once been jailed by Suharto's New Order government. I listened to him speak and I read his books, and it was very inspiring. His background was in physics and he had a very logical way of thinking. He said that the law of God is natural law, having an objective quality, and that it does not discriminate between one group or another."

Imanuddin gave an example that stuck in Ulil's mind. "There are two buildings, one a mosque and the other an office," Ulil recounts. "The office installs a lightning rod, but the mosque does not. When a storm comes, the mosque will be hit by lightning, even though it is a place for the worship of God. Because it does not follow the [natural] law of God, it will face the consequences. This means that if Muslims want to progress, they cannot depend only on religious texts that were produced in a certain social and historical context, as if they were God's law, without considering how social laws have developed. Social law is not static. The mistake of the fundamentalists is to see it as static."

Ulil came to see fundamentalism as archaic. He became more deeply convinced of this in the midst of political shifts following the fall of Suharto in 1998. Radical Islamic movements, such as the Islamic Defenders' Front (FPI) and Laskar Jihad, injected religious emotion into political conflicts that had been brewing across the nation during Suharto's thirty-three-year regime-often they advocated violence as a moral response. In areas such as Ambon and Poso in eastern Indonesia, the issues at stake became colored as an inter-religious war. In Javanese cities, vigilante squads of the FPI attacked cafés and discotheques, claiming that they were protecting the public from sin. There were raids and "sweepings" in boarding houses in Central Java, enforcing curfews in the name of preventing immoral acts.

"This fundamentalism comes from a sense of desperation, a feeling of disappointment," says Ulil. "They're disappointed because Muslims once knew a golden age and now they feel degraded. They are experiencing political fragmentation, they are being left behind in science and economics. Looking at American policy in Palestine, they become spectators of injustice. 'Has God left us out?' That's their fundamental question. They feel belittled. Fundamentalism gives them a sense of pride. The real challenge, though, is regain their pride by confronting the roots of the backwardness in certain fields, not to withdraw into a conservative group."

Nong interjects, "Fundamentalist Muslims are unproductive, exclusive and they don't follow the developments of the times. As Ulil says, religion is a living organism that makes us feel enthusiasm. If we feel enthusiasm, then what Nietzsche said, 'religion is already dead,' that couldn't possibly happen."

Hamid Basyaib adds, "These days people just react to situations, which at the level of discourse are dominated by aggressive Islam or uneducated Islam," adds Hamid Basyaib. "These movements aren't terrifying, but they do promote rigidity, backwardness and literalist thinking."

In 1999, Ulil, who graduated from the Institute for Islamic and Arabic Knowledge in Jakarta, met with a number of friends, including Goenawan Mohamad, Luthfi Assyaukanie, Ihsan Ali Fawzi, Nong Darol Mahmada, Ahmad Sahal and Hamid Basyaib, all of whom shared many of Ulil's views and his determination to address Indonesia's growing fundamentalism. Ulil says, "We've seen radical Islam grow militant, systematic and organized, while liberal Islam has been unorganized, weak-seeming, not militant, not resistant and unassertive in giving voice to its perspectives. The Liberal Islamic Network was in fact motivated by the appearance of these radical Islamic movements."

It's January 4, 2001 in Jakarta, and a meeting is underway in a wood-floored study with dark blue walls, the office of Goenawan Mohamad, a columnist for the Indonesian newsmagazine Tempo and one of the founders of the Jakarta-based Institute for the Study of the Flow of Information (ISAI). The space is furnished simply with a table and six black-varnished wooden chairs, and a long wooden bench covered in red pillows. The walls are decorated with paintings and posters from European art exhibitions. An easel stands near the door, holding drafting paper covered with pen strokes. The seven people in the room have been engaged in serious discussion for hours.

Goenawan picks up a phone and calls Dahlan Iskan, the Chief Editor of the Jawa Pos newspaper, to ask him for some space to publish liberal Islamic thought. They have already agreed to appoint Nong Darol Mahmada to work on a funding proposal, while Luthfi Assyaukanie will be in charge of planning and managing a mailing list for discussing liberal Islam on the Internet.

"The Liberal Islamic Network was born in that meeting," says Nong. "All we want is to provide a choice for interpreting Islamic teachings."

"A lot of people don't realize that reading the Qur'an cannot be value-free," Ulil adds.

"In other words, the Qur'an can be read from different perspectives or angles. Each angle has its own validity. Even though each of these angles is valid, that doesn't negate the possibility of mutual critique. Without mutual critique, there's no possibility of us learning from each other."

These days, Islamic liberal thinkers take inspiration from many sources, including the work of Charles Kurzman, whose book Liberal Islam: A Sourcebook differentiates between those Islamic revival movements which reject modernity and claim to be searching for the pure Islam practiced in the time of the Prophet Muhammad, and liberal Islam, which supports a division between state and religion in its search for a route to modernity. Ulil explains, however, that even within the liberal Islamic community there are varying opinions about secularism. Some argue that an attempt to separate politics and religion is impossible in today's world, or even that it is an old-fashioned notion belonging to another era when secularism seemed much simpler. In today's modern society, religion carries with it a cultural identity, and despite attempts to marginalize it, it returns in much more complex forms.

"This makes it difficult to find the point at which liberal Islam diverges from literal Islam-that's our term for the fundamentalist movements. On some matters our positions meet-about pornography, for example, because pornography does damage ideals about the family, and our religion places a great emphasis on the family. Just like the Christian conservative George Bush, their rhetoric is filled with references to family values," Ulil says.

However, as Kurzman explains, a respect for the rights of women and non-Muslims, freedom of thought, anti-theocracy and support for democracy provide liberal Islam with a wide space in which to move.

Indonesia's Liberal Islamic Network spreads their viewpoints not only by publishing newspaper articles and hosting mailing list debates, but also by sponsoring radio talk shows and Friday bulletins, and they have plans to launch their own magazine. Funds for their operations come from The Asia Foundation and The Freedom Institute, a nonprofit organization headed by the Indonesian pro-democracy figure Rizal Mallarangeng. The Liberal Islamic Network has found that of all these channels for publicizing their thought, it is syndicated media that has been the most effective to date.
Ulil says, "People's reactions to the articles we published in the Jawa Pos were amazing. I didn't realize it until I visited local communities, especially in East Java and Eastern Indonesia."

Not everyone, however, has had a positive reaction to the Liberal Islamic Network. The most heated response came after Ulil published an article in the Kompas newspaper entitled "Freshening Up Islamic Understanding" (Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam)on November 18, 2002.

At seven o'clock in the evening, several weeks after the article appeared and two days before the Muslim holiday of Idul Fitri, Nong received a call on her cell phone from Hamid Basyaib. Hamid was in Jakarta, but Nong had already returned to her parents' home for the holidays.

"Nong, Ulil has had a death fatwa issued against him. Look at Detikcom [a news website]. I've been trying to call Ulil but I can't get through. His cell phone isn't ringing. Ulil has to hear this. You let him know, okay, Nong? Try to call him."

"Okay, I'll contact him later," Nong replied easily.

After talking to Hamid, Nong opened her laptop and logged onto the Detikcom website. Sure enough, she found a news item saying that a group of religious scholars called the Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) in Bandung, West Java had issued a fatwa calling for Ulil's death. Trying not to panic, Nong interrupted her father, who was busy watching television. "Father, a death fatwa has been issued against Ulil. Did you have anything to do with it?" Nong's father replied that he had known about the plans for the group of religious scholars to meet, but that he didn't know anything about a fatwa concerning Ulil. Her father assured her that the fatwa wasn't really serious.

Meanwhile, Ulil was in a car driving through Central Java on the road home for the holidays with his wife and child when his cell phone rang with a message: "What about those religious teachers in Bandung? How should it be followed up in Bandung?" Ulil did not understand the message.

"What I imagined at the time was that it wouldn't be the FUUI who would execute Ulil, but that it would be taken up by radicals on the street and they would kill him," Nong remembers.

Ulil stood accused of insulting the Muslim community and spreading enmity and hatred through society by way of his writings. But Athian Ali Muhamad Dai, head of the FUUI, denied that his organization had issued such a fatwa against Ulil. "We never issued a death fatwa especially about Ulil in our press release. We only called upon the state apparatus to dissolve that network, then we noted that whoever insulted Islam could reasonably expect the death penalty." Athian stated that he had already turned over Ulil's case to the police, complaining that what Ulil wrote in his article was an evil act against religion. Athian says he had reported Ulil to the police based on complaints from the Muslim community in Bandung. "Around 700 people complained. We distributed a questionnaire for this purpose-this was also what the police wanted, proof of how much influence this act had on society. Some people who were so fed up that they wanted to see Ulil hang."

For his own part, Athian considered Ulil's thinking dangerous for, he argued, it positioned the human mind above God. "It's a perfect example of insulting Islam," he said. "Ulil dares to say there is no law of God, there is only the law of man. He calls the Islamic punishment of stoning to death and other matters things that 'not meaningful'." Athian claimed that he would not forbid Ulil from having an alternative interpretation of Islam as long as he did not spread his ideas by writing in the mass media. "If Ulil wants to scream and shout in his room or with his own group, that's not a problem. If Ulil wants to say he has no religion at all, that's not a problem. But don't say those things while claiming to be a Muslim."

Fauzan Al-Ashari from the Majelis Mujahidin Indonesia-a fundamentalist organization that counts among its members Abu Bakar Baasyir, the man accused of complicity in several terrorist bomb blasts in Indonesia-said that he disagreed with the plan to issue a fatwa against Ulil. "I heard about that," he said, "but the fatwa doesn't exist. It's just a speculative thing." Fauzan said he was, however, among those who supported the FUUI in its attempts to have the police investigate Ulil. He suggested that the way out of the debate was to muhabalah-to leave the decision in God's hands.

"For example," explained Fauzan over the telephone, "we ask for a sign from Allah within three days, that one of us should be struck by lightning and that's how we'll know which of us is wrong."

Kedai Tempo, an open-air Jakarta cafe, feels relaxed this March 24th afternoon. It is near the Jaringan Islam Liberal offices, and Nong and her friends like to meet here, drinking coffee or bottled tea, enjoying the breeze that wafts in from the open sides of the café. But Nong Darol Mahmada's cell phone rings often and she looks tired. She's organizing a campaign against the U.S. war on Iraq, a campaign involving the Liberal Islamic Network and a number of well-known Indonesian performers, including Iwan Fals, Franky Sahilatua and Trie Utami.

"When the Bali bombings occurred," Nong says, "I thought the fundamentalist groups would fade, because people would see that they were wrong. But now the Iraq war becomes a new justification for the fundamentalist attitude toward America or the West. Everything we've been working for-democracy, freedom of thought-all seems in vain."

She turns to Ulil. "What are we going to do now?"

"Well, you know, we'll just continue with our agenda," he answers, already on his feet.


**Linda Christanty is a journalist and writer.
Reference : Latitudes, July 2003

Syahidah


Minggu, 27 Januari 2002. Seorang perempuan yang mengenakan mantel modern bergaya barat, selendang di leher dan dagu, bermata cokelat bagai kulit rusa, berambut ikal panjang, dilengkapi make up yang sempurna, tersenyum hangat dan riang ketika memasuki pusat perbelanjaan di Yerusalem. Ia mendatangi toko sepatu dan pakaian seraya melihat-lihat seperti layaknya pengunjung lain. Tak seorang pun mengira kalau di tas punggungnya terdapat sepuluh kilogram bahan peledak yang dibubuhi banyak paku. Sebuah bom yang mematikan.

Tiba-tiba dia gugup dan bergegas menuju pintu toko, berhenti, lalu memasukkan tangannya ke ransel untuk mengambil bedak dan lipstik. Ketika berusaha menahan pintu dengan satu kaki agar pintu itu tetap terbuka sambil memegang cermin untuk merapikan make up-nya, tasnya tersangkut. Ia berusaha memutar posisi untuk melepas tas, namun tas itu langsung meledak. Bum! Perempuan itu langsung tewas beserta satu orang Israel yang sudah tua serta ratusan orang yang terluka.

Perempuan itu bernama Wafa Idris. Dia menjadi pelaku bom bunuh diri perempuan pertama dalam Islam. Di pagi hari sebelum bom meledak, almarhum Yasser Arafat, pemimpin Palestina saat itu, berpidato mengobarkan semangat kesyahidan kepada lebih dari seribu perempuan Palestina, “Kalian adalah Pasukan Mawarku yang akan menghancurkan tank-tank Israel.” Kalimat itu langsung direspons Wafa di sore harinya. Ia menjadi syahidah pertama, Pasukan Mawar Arafat. Peran yang mungkin luhur dan mulia. Kisah ini diceritakan dengan detail oleh Barbara Victor dalam bukunya Army of Roses.

Sejak saat itu, peran perempuan Palestina berubah. Mereka tak lagi menjadi ibu yang terpaksa melepas putranya ditawan, isteri yang merelakan suaminya raib, saudari yang menyaksikan saudaranya tewas diterjang peluru atau meledakkan diri. Mereka mulai memilih opsi meledakkan diri dan mengambil posisi setara dengan lelaki yang selama ini melakukan peran itu. Mereka konon akan mendapat imbalan yang sama: kemuliaan hidup di surga.

Untuk perempuan seperti Wafa yang miskin dan dicerai suami karena tak bisa punya anak—alasan yang cukup untuk membuat perempuan merasa tidak berharga—kesetaraan dan imbalan surga adalah inti dari harapan yang benar-benar memikat. Bom bunuh diri menjadi jalan satu-satunya untuk menjadi perempuan sempurna (al-mar’ah al-kamilah).

Namun, kesetaraan untuk Wafa benar-benar pantas diragukan. Seperti ditulis Barbara, di tempat dimana pemahaman Islam masih sangat konservatif, tak sepenuhnya laki-laki dapat menerima perempuan sebagai sesama, atau menghormati mereka sebagai prajurit yang berkedudukan setara dengan mereka. Hubungan antara calon syahidah dan laki-laki yang merekrut, membujuk, serta melatihnya, sudah berbeda sejak awal hanya karena ia perempuan. Perempuan seperti Wafa mungkin hanya “dimanfaatkan” untuk menjadi martir.

Begitu pula dengan imbalan surga. Tak ada imajinasi tentang surga buat perempuan. Selama ini, tata kehidupan surgawi digambarkan dengan sangat maskulin. Tak heran bila laki-laki yang memilih bom bunuh diri sangat mendambakan kehidupan di sana. Mereka meyakini, ketika jasad lepas dari raga, empat puluh bidadari akan menyambut dan mereka akan tinggal di sana selamanya dengan pelayanan bidadari-bidadari itu. Kita tak tahu, bagaimana nuansa surga tatkala menerima jasad syahidah. Akankah ia disambut empat puluh bidadara (istilah nenek saya ketika menyebut bidadari laki-laki)?

Saya menghormati Wafa karena keberaniannya memilih cara mati seperti itu. Mungkin juga itu sesuai dengan kondisi negerinya. Namun pilihan Wafa itu hendaknya tidak menginspirasi perempuan-perempuan lain untuk ikut serta. Pilihan medang juang untuk setara, tentu banyak jalannya. Begitu juga dengan cara berjihad. Ada banyak pintu menuju surga, kata Cak Nur. Kita pun tak pernah tahu, seperti apa surga buat kaum perempuan. Jadi, sudah selayaknya kita membuat surga di dunia. []
^ Kembali ke atas

Referensi: http://islamlib.com/id, 19/03/2007

Moderate Indonesian Muslim Rejection of the US Attack on Iraq


In this essay, I reflect on how moderate Muslims in Indonesia came to terms, in late 2002, with George W. Bush’s zealous preparations to attack Iraq. The topic is quite important, as Indonesia is well known to have the world’s largest Muslim population, and the majority of Indonesia’s Muslims are moderate and tolerant in their religious views. At the time, there were “pro” and “contra” views of the planned attack. The fundamentalist camp saw it as ammunition – proof that the United States of America was indeed the Great Satan. The fundamentalists could not differentiate between U.S. citizenship and U.S. government policy. Consequently, they pursued U.S. citizens on the streets in what are known locally as “sweepings,” although no major or violent incident ensued.

Meanwhile, the moderate Muslim camp saw the U.S. plan as having the potential to destroy the image and future of Islam, which it had worked extremely hard to develop as part of a mature civil society. For some time, Muslim organizations like Nahdhatul Ulama (NU, the nation’s largest), Muhamadiyah (the second largest), and my own Liberal Islam Network (Jaringan Islam Liberal, JIL) have launched numerous and various activities to create an Islamic community that is tolerant, moderate, pluralist, and emancipative. These are activities that have received American support through USAID. In bringing the danger posed by U.S. war plans to the attention of the Indonesian public, Muhamadiyah leader Dr. Syafi’I Maarif carefully focused his harsh criticism on Bush administration policy.

In early October 2002, in my capacity as JIL representative, I contacted friends representing “moderate” Islamic organizations. These included elements from the NU – Lakpesdam, Muslimat, Fatayat, and others; from Muhammadiyah – Pemuda Muhamadiyah (its youth wing), Mahasiswa Muhamadiyah (students), Aisyiyah (women), and others; and campus-based groups such as those from the State Islamic University (Universitas Islam Negeri) and Paramadina Mulya Universitas in Jakarta. I felt the need to survey their attitudes towards the planned attack on Iraq, and to my surprise, they all expressed the same opinion, rejecting this U.S. policy. JIL itself, long before these inquiries were made, had condemned and rejected the planned attack through interviews on our weekly radio talk shows and articles published on our website and syndicated media.

However, JIL’s serious objections conveyed through media were deemed insufficient. A more tangible action was needed so that all parties would see this condemnation in concrete form. We finally decided upon October 8 as the date to express our objections through a mass demonstration at the U.S. Embassy in Jakarta. At that time, not one organization or institution had demonstrated at the Embassy against the planned attack. If we may so claim, “moderate” Islamic organizations pioneered these demonstrations.

Many were were surprised, never expecting such an action plan from us. The U.S. Embassy called me the day before the action. There was concern that the planned demonstration would provide justification for violent acts by fundamentalist groups that had long despised the United States. I replied that the demonstration would prove positive for the moderate Muslim community, because the insane U.S. plan had to be rejected outright, and that this matter had no connection whatsoever to the actions of fundamentalist groups. Indeed, if the moderate Muslim camp remained quiet and did not react to the planned attack, its lack of action would boomerang and set a bad precedent in the ongoing development of Islam in Indonesia. Further, our demonstration aimed to underline to fundamentalist groups that the planned attack was the policy of the Bush administration, which should not be equated with the American people, most of whom rejected this policy of their own government. We chose to see the planned attack on Iraq in terms of humanitarian concerns, as such an attack would represent a threat to world peace and cause unnecessary civilian deaths.

Fundamentalist groups were also surprised about our planned demonstration. They primarily believed that no such action could issue from and be coordinated by JIL. Their reason: JIL and its like-minded friends were considered very pro-American because we agree with and campaign for what they call the “western ideas” of tolerance, pluralism, and democracy; and furthermore the U.S. government had funded some of our activities. Naturally, we viewed this as a feeble argument. Just because JIL, the NU, and Muhamadiyah had received funds from the United States did not mean we could shut our eyes to the arbitrary policy of its government. What we rejected and despised was the policy of the Bush administration to attack Iraq, not Americans per se. Accordingly, we condemned the “sweeping” actions launched against U.S. citizens by fundamentalist organizations at the time.

The Basis of our Rejection

For us, all the statements and official documents issued by the U.S. government about the planned attack on Iraq were illogical and full of contradictions, displayed a pervasive hatred and a lust for war, and failed to make any connection to the September 11 tragedy, “Al Qaida,” or even the “war on terror.”

Moreover, the plan contravened the United Nations Charter, whose Preamble pledges nations to “save succeeding generations from the scourge of war” and which was established to “take effective collective measures for the prevention and removal of threats to the peace” (Article 1 section 1).

We believe that the reasons put forth in the official document outlining the “preemptive attack” (the “Bush Doctrine”) violate international law. The UN Charter prohibits unilateral cross-border military actions without the justification of self defense, yet there was not a single reason for the U.S. government to need to defend itself against Iraq. UN Security Council Resolution 678 also prohibits any country from invading another without that body’s consent.

Finally, this attack would be undertaken after Iraq had endured more than ten years of economic sanctions that caused suffering to millions of Iraqi civilians, particularly women and children, because the sanctions had destroyed access to clean water. Such economic sanctions themselves stand in direct contradiction to the Additional Protocols to the Geneva Convention of 1977, which prohibits the use of economic blockades against civilians as a method of war. Economic sanctions are perhaps responsible for more deaths in Iraq than the murders committed throughout history with the use of what are known as weapons of mass destruction (John and Karl Muller, Foreign Affairs, May/June 1999).

The Weakness of Bush’s Position

The reason the U.S. government gave for the attack was that the Iraqi regime was developing weapons of mass destruction – chemical, biological, and nuclear weapons – that threatened international security. This reason was proffered repeatedly, although, in fact, these weapons were in evidence only in the past, during the Iran-Iraq war, when their development received the full support of the United States government itself in the form of raw materials, storage facilities, and technical expertise. These facts have been underlined by agencies of the United Nations, international NGOs, and even sources within the U.S. Congress.

Now the so-called weapons of mass destruction claimed to be in Iraq’s possession have failed to surface. Indeed, even if Iraq had possessed such weapons, the United States would have had no right to attack, just as Iraq has no right to attack the U.S., despite the latter’s possession of weapons of mass destruction in far larger number and scale.

In our view, this war was perpetrated for no other reason than to fulfill American hegemonic and imperialistic ambitions, and this is clearly indicated by the “Bush Doctrine.” The war was waged to make all other nations vassals to the American Empire, parties to an eventual Pax Americana. Considered from the perspective of “threat,” it is the U.S. ambition to become a global empire that represents the true “clear and present danger” to peace, welfare, and humanity on earth.

With our demonstration, we took the following stance:

1. We opposed the planned devastation of the Iraqi state and people – we opposed it in the highest and most steadfast terms. This in no way implies that we supported the dictatorship of then-president Saddam Hussein in all its manifestations, which had for almost a quarter century caused great suffering to the vast majority of Iraq’s people.

2. We appealed to U.S. and world leaders to heed a very clear lesson from history – that war leads only to disaster and misery; that it would serve no purpose but to increase suffering in the world in this time of heightening tension. War causes deep wounds in our civilization because it not only causes suffering for the victims, but also betrays the spirituality and humanity of the perpetrators.

I am convinced that war, in the sense of one country attacking another, will surely never produce a clear winner and that the combatants will reap only failure – failure as human beings and the failure of cultural backwardness. War is not the way to ring in the twenty-first century. After the experience of the previous twenty, this century should be devoted to perfecting the humanity of all people; it should bring us greater consciousness that we are all bound together in one great humanity; and it should demonstrate the logic of cooperation, not confrontation, between the inhabitants of our earth.

Such are my reflections, subjective though they may be, on the U.S. attack on Iraq. As one member of one organization working toward a better future for the millions of Indonesia’s Muslims, I hope to see no further attacks by one country on another in the name of world peace or the democratization of the other.

Reference: http://kyotoreview.cseas.kyoto-u.ac.jp, March 2004