<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970</id><updated>2011-08-02T00:21:56.615-07:00</updated><title type='text'>nong darol mahmada</title><subtitle type='html'>berproses mencipta Surga Dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1043111702090588932</id><published>2010-03-25T01:37:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T01:41:43.574-07:00</updated><title type='text'>Mari, Bicara Fatwa Haram</title><content type='html'>Belum lama ini, Forum Santri Putri Se-Jawa Timur mengumumkan hal yang mengagetkan. Pertemuan yang bertempat di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan dihadiri 258 santri dari 46 pondok pesantren besar itu menyimpulkan, ada tiga hal yang perlu diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bekerja menjadi tukang ojek dan menjadi penumpang ojek tidak diperbolehkan bagi wanita, karena berpotensi fitnah (hal-hal yang diharamkan). Kecuali, bila saat naik ojek, tidak terjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhtilath&lt;/span&gt; (persinggungan badan) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kholwah&lt;/span&gt; (berduaan melewati tempat sepi, yang menurut kebiasaan umum sulit terhindar dari perbuatan yang diharamkan). Selain itu, tidak boleh memperlihatkan aurat selain dalam batas-batas yang diperbolehkan, dan tidak terjadi persentuhan kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rebonding diharamkan bagi wanita lajang. Bagi wanita bersuami, rebonding dan mengeriting rambut juga haram, kecuali seizin suami. Ketiga, pemotretan pre-wedding diharamkan bagi calon mempelai (berikut fotografer). Karena, ikhtilath dan kholwah juga bisa terjadi pada pasangan pria dan wanita yang belum bersatu secara sah menurut agama. Tak butuh waktu lama, hal ini menuai reaksi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUDUTKAN WANITA?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya, umat Islam terikat oleh peraturan berdasarkan Alquran, hadis, dan fikih. Jadi, umat Islam sebaiknya taat pada dasar-dasar agama tersebut. Jika tidak sempat membacanya, taatilah fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh orang-orang yang memahami hal tersebut,” kata Hasanudin, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketiga fatwa tersebut di atas dikeluarkan di pesantren yang memang mempelajari aturan agama. Meski MUI belum meresmikannya, kata Hasanudin, fatwa tersebut boleh ditaati siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Nong Darol Mahmada, Program Manager Freedom Institute dan salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), menolaknya. “Fatwa tersebut tidak jelas maksudnya dan tidak mengatur hal yang mendasar. Tiga fatwa itu tidak menjawab persoalan kemasyarakatan dan keumatan, dan cenderung hanya untuk ‘mengatur’ dan membatasi kebebasan wanita, dalam hal ini santri putri. Buktinya, selain tentang foto pre-wedding, dua fatwa lain secara spesifik hanya mengarah pada wanita,” kata lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong menggarisbawahi, fatwa di atas merupakan hasil bahtsul masail (rapat) Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3). Jadi, sebenarnya hanya ditujukan untuk para santri putri di pesantren-pesantren yang menjadi anggotanya. ”Keputusan bahtsul masail-nya bukanlah merupakan fatwa yang mengikat, melainkan saran. Tetapi, karena dirilis kepada pers (dan diketahui masyarakat), maka seakan-akan berlaku untuk semua anggota masyarakat,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasanudin menanggapi, ketiga kegiatan itu (rebonding, ojek, foto pre-wedding) dibolehkan, namun bisa mengarah pada hal-hal yang dilarang agama. “Karena itu, diatur pelaksanaannya. Sifat fatwa adalah preventif (pencegahan): mengatur sebelum kejadian yang tak diharapkan terjadi,” jelasnya. Soal anggapan bahwa fatwa hanya menyasar wanita, menurutnya karena fatwa dikeluarkan oleh santri putri. Jadi, jelas saja yang diatur adalah keselamatan para wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong melihat ada yang agak ganjil dalam forum yang mengeluarkan fatwa ini. ”Semua pesertanya wanita (santri putri dan ustazah), tetapi narasumber dan juru bicaranya adalah para santri, ustaz, dan kiai (pria). Dalam konferensi pers terlihat, peserta wanita hanya bersikap pasif, seolah membiarkan kehidupan pribadinya diatur melalui keputusan para pria. Padahal, belum tentu pria tahu persis apa yang menjadi persoalan dan keinginan wanita,” kata Nong, menyayangkan. Kalaupun tahu, kata Nong lagi, para pria tersebut melihatnya dari sudut pandang dan keinginan pria saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasanudin mengungkapkan, rebonding bisa diharamkan karena dianggap perbuatan kebarat-baratan (mengacu pada budaya negara Barat) yang dilakukan oleh wanita tak berjilbab. ”Rebonding bisa disebut perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tidak baik-baik atau orang fasik, yaitu orang yang sering melakukan pelanggaran agama. Peraturan ini dikeluarkan untuk membentengi diri. Kecuali, bagi para wanita bersuami,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lugas Nong kembali menyampaikan ketidaksetujuan. “Kalau memang harus begitu, sebagai manusia, wanita tidak lagi punya kemandirian, tidak boleh memiliki keinginan dan kesenangan sendiri. Di situlah letak ketidakjelasan fatwa tersebut. Semuanya boleh, asal untuk kesenangan pria. Sifat fatwa tersebut jadi sumir,” tegas Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong melihat, dengan keluarnya fatwa ini, berarti wanita memang masih menjadi pihak yang perlu diatur, dianggap sebagai makhluk lemah, dan menjadi nomor dua setelah pria. ”Kita masih hidup dalam sistem patriarkat yang kuat terlegitimasi dalam agama dan budaya. Para ulama yang biasanya mengeluarkan fatwa masih didominasi pemahaman agama yang konservatif dan misoginis (orang yang membenci wanita). Wanita menjadi objek, bukan subjek, yang semua nilai kehidupannya harus diatur oleh agama dan tata krama. Membuat aturan dan hukum untuk wanita seolah sangat gampang, karena tolok ukur keberhasilan aturan itu secara kasatmata gampang terukur. Misalnya, berjilbab, rambut tidak di-rebonding, tidak keluar rumah, dan lain-lain,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERLU &amp; TIDAK PERLU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lisan al-Arab &lt;/span&gt;yang ditulis Ibn Mandzur, fatwa memiliki beberapa makna. Makna terpentingnya adalah ‘penjelasan atas persoalan yang muskil’ dan ‘jawaban atas pertanyaan yang diajukan’,” tutur Nong. Ulama fikih membangun terminologi fatwa, yang disarikan dari pendapat Ibn Hamadan dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Furuq&lt;/span&gt;. ”Disebutkan, fatwa adalah penjelasan dan pemberitahuan tentang hukum syariat tanpa ikatan kemestian–&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tabyîn al-hukm al-syar’i wal ikhbar bihi duna ilzâm&lt;/span&gt;. Dari terminologi ini, fatwa adalah penjelasan dan pemahaman, maqam-nya bukan maqam syariat, dan perlu batas yang tegas antara fatwa dan hukum syariat,” lanjut Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Fatwa dari seseorang atau lembaga tidak mesti diikuti. Kesimpulannya, sifat fatwa tidak mengikat karena ia ‘hanyalah’ penjelasan, kadarnya jauh di bawah hukum syariat. Hukum fatwa tidak mutlak, sebagaimana hukum syariat,” ungkap Nong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam hal ini Hasanudin berpendapat lain. ”Soal mengikat atau tidak mengikat, umat Islam sebaiknya mematuhi hukum Islam. Sesuatu yang dilarang selalu ada tingkatannya, dan hal-hal yang haram memang harus dihindari,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tetapi, fatwa tidak bisa menjadi hukum publik. Karena, seperti yang dikisahkan dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siyar A’lâm Nubalâ&lt;/span&gt;’ (Biografi Para Tokoh yang Mulia), ketika seorang khalifah Bani Abbasiyah meminta Imam Malik menjadikan kitabnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Muwaththa’&lt;/span&gt;, menjadi hukum negara, dan menggantungkannya di Ka’bah, dengan tegas Imam Malik menolak,” papar Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama fikih klasik di zaman dahulu pun, kata Nong, tidak memisahkan antara pentingnya fatwa sekaligus risiko dan dampak dari fatwa. Bagi mereka, ulama sebagai ahli waris para nabi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;waratsatul anbiyâ&lt;/span&gt;’) memiliki posisi yang penting untuk melayani permintaan dan menjawab pertanyaan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hadis yang diriwayatkan Al-Darami, misalnya, menyebutkan, ‘Orang yang paling berani berfatwa berarti paling berani masuk neraka’ (bila bersalah). Karena itulah, fatwa hanya berasal dari mereka yang unggul dalam hal bekal ilmu pengetahuan. Beberapa riwayat hadis menyebutkan, mereka yang mengeluarkan fatwa namun ‘tanpa ilmu’ diancam hukuman berlapis: ‘dilaknat malaikat langit dan bumi’, ‘didudukkan di atas api neraka’, dan ‘menanggung dosa dari manusia yang mengikuti fatwanya’,” tutur Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong menyayangkan fatwa saat ini, yang kebanyakan hanya memunculkan doktrin bahwa ulama adalah ahli waris nabi. Sementara, kewajiban dan kriteria sang ahli waris nabi sendiri terbenam dalam-dalam. Para ulama sekarang, katanya lagi, kurang mempertimbangkan akibat dari fatwa yang mereka keluarkan, dan sebaliknya, lebih mempertimbangkan kepentingan ulama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kriteria ulama yang mampu berfatwa ini raib dari percakapan publik. Tak heran bila fatwa malah menimbulkan kekacauan. Maka, sudah saatnya dibenahi. Hal ini harus dimulai oleh pemerintah, karena sepanjang sejarah, majelis fatwa tak terpisah dari pemerintahan,” lanjut Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Majmû&lt;/span&gt;’ karya Imam Al-Nawawi menegaskan, pemerintah wajib menyeleksi para mufti (ahli agama) lewat ‘uji kelayakan’. Sayangnya, hal ini tidak terjadi di negeri ini. Padahal, semestinya, ungkap Nong, uji kelayakan ini perlu diterapkan pada lembaga fatwa mana pun, termasuk Majelis Ulama Indonesia. De­ngan begitu, martabat dan integritas organisasi itu pun terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasanudin mengatakan, kualitas kelembagaan dan latar belakang pendidikan para anggota lembaga cukup menjadi dasar yang kuat, sehingga sebuah fatwa bisa diikuti umat. Misalnya, lembaga yang mengeluarkan fatwa tersebut terdiri dari orang-orang yang memahami Alquran, hadits, dan fikih secara ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Nong mengingatkan, fatwa dikeluarkan bila umat memang membutuhkan jawaban atas persoalan-persoalan tertentu. “Kalau suatu hal dianggap bukan persoalan, maka fatwa tidak bisa dikeluarkan. Lagi pula, tidak semua persoalan harus diatur dengan fatwa. Perlu kehati-hatian dalam mengeluarkannya,” kata Nong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENCINTAI KEINDAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter dan model Shahnaz Haque (38) menyetujui perlunya kehati-hatian dalam menyikapi fatwa. ”Setiap fatwa butuh sosialisasi lebih dahulu. Perlu dijelaskan mengapa fatwa perlu dikeluarkan dan bisa diterapkan dalam kondisi seperti apa,” katanya. Dengan begitu, menurut Shahnaz, fatwa tidak menjadi lelucon atau bahan tertawaan, yang akhirnya merugikan agama Islam. Contohnya, belum lama ini beredar pembicaraan, bahwa banyak ustaz sendiri yang belum mengerti arti rebonding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lagi pula, apa salahnya rebonding, kalau ternyata seseorang memang jadi lebih nyaman dengan rambut lurus? Bukankah dengan demikian dia menyenangkan orang di sekitarnya?” ujar Shahnaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disetujui Arzetti (38), peragawati dan model. Menurutnya, agama Islam mengutamakan hubungan pada Tuhan dan sesama. ”Salah satunya, menghormati orang lain dengan tampil rapi. Kalau seseorang merasa rapi dengan rambut lurus, tidak salah, ‘kan?” kata Arzetti. Menurutnya, fatwa penting untuk mengatur kehidupan umat. ”Tetapi, kalau foto pre-wedding diharamkan, itu berlebihan. Sebab, hal itu bisa dilakukan dengan pakaian sopan dan pose yang baik. Apalagi niatnya untuk mengabadikan kenangan,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong menambahkan, pengemudi dan penumpang ojek tak perlu diatur. ”Karena, alasan dilakukan hal itu sudah terang benderang, yaitu mencari penghasilan karena tidak ada alternatif pekerjaan yang lain. Dan, naik ojek sekarang ini telah menjadi alternatif terbaik untuk menembus kemacetan lalu lintas secara cepat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Hasanudin, jika kita peduli pada ajaran Islam, setiap fatwa adalah penting, walaupun selalu ada pengecualian. Menjadi pengendara ojek sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian buat keluarga, tentu dibolehkan. ”Tetapi, usahakan mencari penumpang wanita. Jika menjadi penumpang ojek, berusahalah mencari yang pengendaranya wanita. Semua fatwa haram itu ada dasarnya. Jika dibaca secara utuh, kita akan mengerti tujuannya,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai fatwa yang menyatakan bahwa ojek itu haram, Shahnaz menganggap kurang relevan, karena sarana transportasi masih jauh dari memadai. Padahal, tak ada agama yang bermaksud menyulitkan umatnya. Arzetti pun berpendapat, jika ojek dilarang untuk wanita, angkutan umum mana pun bisa jadi difatwa-haramkan juga. Karena, di setiap ruang publik, besar kemungkinan orang bersentuhan dengan orang lain yang bukan muhrimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Islam mencintai keindahan. Islam adalah agama yang ‘mudah’, maka sebaiknya janganlah dibuat sulit,” kata Nong. Hasanudin menanggapi, setiap orang memang berhak untuk menyikapi setiap fatwa haram dengan cara berbeda. Namun, yang perlu diingat, setiap fatwa dikeluarkan untuk menutup pintu-pintu atau sarana yang bisa membuat orang melakukan perbuatan yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Penulis: Asteria Elanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari femina 7 / 2010]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1043111702090588932?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1043111702090588932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2010/03/mari-bicara-fatwa-haram.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1043111702090588932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1043111702090588932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2010/03/mari-bicara-fatwa-haram.html' title='Mari, Bicara Fatwa Haram'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8432067661377499181</id><published>2010-01-23T22:40:00.000-08:00</published><updated>2010-02-23T23:14:21.389-08:00</updated><title type='text'>Tubuh Perempuan, Moralitas, dan Hukum di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/S4TPp-9xPnI/AAAAAAAAAb0/C51nnZZHSFo/s1600-h/pertaruhan+poster.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 284px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/S4TPp-9xPnI/AAAAAAAAAb0/C51nnZZHSFo/s320/pertaruhan+poster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441702569954066034" /&gt;&lt;/a&gt;Film Pertaruhan adalah film antologi berisi empat cerita tentang perempuan. Film ini sebuah dokumenter karya bersama hasil workshop 'Project Change! 2008' yang merupakan program kerjasama Kalyana Shira Foundation, Dewan Kesenian Jakarta, dan The Body Shop. Sutradara terpilih dari program ini difasilitasi untuk merealisasikan film mereka lewat bendera Kalyana Shira Films dibawah pimpinan Nia Dinata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sutradara dalam film ini adalah Ucu Agustin yang menggarap film Ragate Anak, Lucky Kuswandi dalam film Nona Nyonya?, Iwan Setyawan dan M Ichsan menggarap film Untuk Apa?, dan Ami Ema Susanti yang menggarap film Mengusahakan Cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film ini kita bisa melihat bagaimana realitas perempuan di Indonesia dalam pelbagai aspek kehidupan. Dari mulai kalangan bawah seperti dalam film Ragate anak, kalangan agamawan dan budaya dalam film Untuk Apa?, Kalangan buruh migran dan homoseksual dalam film Mengusahakan Cinta, dan kalangan perempuan kelas menangah yang mandiri dalam film Nona Nyonya. Film ini sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam mengangkat persoalan perempuan. Dalam film sebelumnya kita tahu, Nia Dinata yang menjadi produser dalam film ini, juga telah mendedahkan secara apik persoalan perempuan seperti dalam film ’Berbagi Suami’ dan ’Arisan’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/S4TPqLJjzWI/AAAAAAAAAb8/MDDAZhcLLgg/s1600-h/foto+nia+dinata.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 88px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/S4TPqLJjzWI/AAAAAAAAAb8/MDDAZhcLLgg/s320/foto+nia+dinata.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441702573224742242" /&gt;&lt;/a&gt; Namun yang menarik dan kelebihan dari film Pertaruhan ini adalah kejadiannya berdasar pada fakta yang betul-betul riil. Seperti pengalaman saya yang terlibat dalam salah satu film di atas, sutradara tidak menyetir maupun mendramatisir sebuah fakta. Sutradara sekadar merekam kenyataan itu apa adanya. Film ini betul-betul menjadi dokumen dari persoalan-persoalan yang memang terjadi di sekitar kita. Dari film ini, kita bisa melihat dengan jelas bahwa persoalan perempuan selalu dikaitkan dengan persoalan tubuhnya. Tubuh seakan-akan menjadi titik sentral dari segala kewajiban dan aturan yang dikenakan pada perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya tubuh merupakan ranah hakiki setiap manusia sebagai ajang ekspresi diri atas kreativitasnya. Namun, tidak dengan tubuh perempuan. Tubuh perempuan tidak pernah dipunyai dirinya sendiri. Perempuan kehilangan raganya. Tubuh perempuan selalu menjadi area publik untuk dikontrol, dilabel, dinilai, diobjektivikasi, termasuk dikriminalisasi melalui pelbagai aturan, baik yang berdasarkan agama maupun peraturan  yang dikontrol negara seperti UU Pornografi dan perda-perda syariah yang marak sekarang ini. Otonomi perempuan atas tubuhnya dirampas oleh nilai yang tidak pernah mengindahkannya sebagai makhluk setara. Oleh karenanya, dengan rasa terancam dan terkungkung, perempuan pasif untuk mengalami kekerasan sebab ia tidak memiliki kemerdekaan atas tubuh, pikirannya, dan geraknya. Sedari itu, perempuan tidak mampu menciptakan sejarah sebagai manusia sempurna karena nilai selalu melekat pada tubuh perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lahir, perempuan dibebankan lebih sebagai penjaga moral, namun di lain sisi, publik tidak pernah mempercayai moralitas perempuan. Akibatnya, tubuh perempuan kerap dipantau oleh siapapun sepanjang hidupnya dan tubuh perempuan dijadikan indikator moralitas di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kalau kita melihat film Pertaruhan, misalnya dalam bagian film ”Untuk Apa?” tentang kasus khitan perempuan. Sejak awal diyakini dan dipercayai kalau perempuan tidak dikhitan maka perempuan itu  akan liar dan nakal (apa hubungannya coba??). Untuk menghindari supaya perempuan tidak liar dan nakal maka harus dikhitan. Karena itu salah satu bagian tubuh perempuan dan itu merupakan sentral dari bagian tubuh perempuan yaitu vagina harus dipotong meski hanya simbolis maupun ”betulan”, bahkan di beberapa negara Islam, vaginanya dihilangkan. Padahal secara rujukan teologinya khitan tersebut hanyalah dianjurkan (sunnah) tapi secara tradisi dan budaya yang sangat patriarki menjadi kewajiban. Bahkan kalau dilihat secara medis khitan untuk perempuan tidak ada gunanya sama sekali malah sangat berbahaya karena bisa infeksi dan perempuan kehilangan dan tidak akan pernah merasakan kenikmatan berhubungan seks. Berbeda dengan khitan untuk laki-laki, secara medis pun itu disarankan dan secara teologis diwajibkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam bagian film ”Mengusahakan Cinta”, diceritakan bagaimana seorang laki-laki meski laki-laki tersebut sudah pernah beristri dan punya anak, tapi laki-laki itu masih mempersoalkan keperawanan calon istrinya. Padahal calon istrinya kalau pun kehilangan perawannya bukan karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;intercoust&lt;/span&gt; dengan laki-laki lain tapi karena kesehatannya. Kejadian seperti ini banyak terjadi. karena soal keperawanan penting maka tak heran bila kita melihat operasi ”keperawanan” menjadi bisnis yang marak. Di sini kita melihat bagaimana sebagian laki-laki masih menganggap keperawanan identik dengan moralitas perempuan meski perempuan itu secara moral dan tindakan sangat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah perawan sebagai indikator perempuan yang baik juga bisa kita lihat dalam film ”Nona Nyonya?”. Pihak rumah sakit dan sebagian besar dokter kandungan yang semestinya netral, di film ini diperlihatkan, masih menganggap "aneh" bila perempuan single mau dipepsmear (pemeriksaan dalam rahim). Pepsmear gunanya untuk mengetahui kondisi kesehatan rahim. Adanya anggapan aneh ini karena pemahaman publik yang dominan menganggap bahwa pemeriksaan pepsmear hanya diperuntukkan buat perempuan yang sudah bersuami. Sementara perempuan yang single, meski ia sudah melakukan hubungan seks atau karena keputihan atau alasan lainnya, dianggap aib, dosa dan aneh dan seakan-akan tidak punya hak untuk memeriksakan rahimnya. Sehingga akhirnya perempuan enggan memeriksakan alat reproduksinya padahal pemeriksaan tersebut sangat vital untuk kesehatan reproduksinya. Makanya tidak heran bila kita lihat dalam film ini, rumah sakit akan menanggapi secara negatif minimal dengan menanyakan hal-hal macam-macam dan bahkan yang lebih ekstrim lagi ”didakwahi” oleh dokternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling tragis dan ironis bila kita melihat kondisi perempuan dalam film ”Ragate Anak”. Dalam film ini kita melihat bagaimana perempuan hanya dihargai sepuluh ribu untuk tubuhnya. Padahal perempuan melakukan pekerjaan tersebut untuk menghidupi keluarga dan bertahan hidup di tengah lapangan kerja yang sangat sulit. Namun kita melihat di lapangan, perempuan tidak hanya sekedar tubuhnya yang tidak dihargai bahkan mereka dieksploitisir dan ”dikerjain”oleh para lelaki yang menjadi kiwir dan calo yang ”mengompas” dan memanfaatkan mereka baik raganya maupun materinya. Para lelaki itu pun berkomplot dengan aparat untuk kelancaran usaha mereka. Semestinya fungsi aparat melindungi warganya tapi kita melihat malah sebaliknya, mengkriminalkan dan tidak memfasilitasi serta melindungi warganya dalam menyediakan lapangan kerja kalau memang pekerjaan PSK dianggap tidak diperbolehkan dan memalukan. Setelah adanya film ini lokasi Bolo ditutup dan ”isinya” dibiarkan terlunta-lunta. Alasannya daerah ini tidak sesuai dengan syariat dan membuat aib warga Temanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film Pertaruhan, kita seperti melihat ”taman mini” persoalan perempuan di Indonesia. Harus diakui bahwa perempuan masih sangat jauh dari kondisi baik dalam mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan dari negara lewat hukum yang mengatur kehidupan bernegara. Perundang-undangan di Indonesia buat saya masih sangat bias laki-laki. Lihat saja perundang-undangan yang ada seperti UU Ketenagakerjaan, UU Sistem Politik, UU Kesehatan, UU Pornografi dan lainnya. Saya kira, teman- teman PSHK lebih ahli dalam mengeksplorasi persoalan ini. Bahkan yang terbaru ada informasi bahwa akan ada RUU Perkawinan yang isinya melegalkan suami beristri empat (poligami). Belum lagi maraknya perda-perda syariat yang isinya mendomestikasi dan menutup peran perempuan lewat kriminalisasi tubuh dengan cara "menutup" perempuan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang luput dan semestinya disadari oleh pembuat kebijakan adalah semestinya  substansi hukum mempertimbangkan prinsip kesetaraan dan keadilan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dan bukannya berlindung di balik objektivitas dan netralitas. Alih-alih untuk melindungi perempuan, aturan-aturan yang ada seperti UU Pornografi, perda-perda syariah bahkan fatwa ulama yang keluar akhir-akhir ini tentang perempuan malah sebaliknya, mengkriminalkan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini menjadi tantangan buat kita semua untuk melakukan dan bekerja lebih baik dan keras lagi untuk kesetaraan dan keadilan buat perempuan. Kalangan civil society harus berusaha keras dengan konsolidasi dan kerja sama terus menerus memberi masukan dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pressure&lt;/span&gt; kepada pembuat kebijakan seperti DPR dan pemerintah agar bisa merumuskan dan merevisi UU dan kebijakan yang pro perempuan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wallahu'alam bissawab &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** tulisan ini sebagai pengantar diskusi Film Pertaruhan di Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), 12 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8432067661377499181?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8432067661377499181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2010/01/tubuh-perempuan-moralitas-dan-hukum-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8432067661377499181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8432067661377499181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2010/01/tubuh-perempuan-moralitas-dan-hukum-di.html' title='Tubuh Perempuan, Moralitas, dan Hukum di Indonesia'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/S4TPp-9xPnI/AAAAAAAAAb0/C51nnZZHSFo/s72-c/pertaruhan+poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5297461661635586816</id><published>2009-10-14T10:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T10:50:52.638-07:00</updated><title type='text'>lebaran di rumah Mbah</title><content type='html'>Lebaran di rumah mbah di banten asik banget: kumpul dengan semua keluarga, bermain di kampung, kebun dan pantai, ziarah ke rumah umi, kejar2 ayam dan bebek..pokoknya seru abizz&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO5kLms_I/AAAAAAAAAbg/xcdxHrz9D34/s1600-h/IMG_5183.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO5kLms_I/AAAAAAAAAbg/xcdxHrz9D34/s320/IMG_5183.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392513985950430194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO5IMpCGI/AAAAAAAAAbY/-BshbLtg1oc/s1600-h/IMG_5193.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO5IMpCGI/AAAAAAAAAbY/-BshbLtg1oc/s320/IMG_5193.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392513978438584418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO44coj8I/AAAAAAAAAbQ/jMKTn_W83iw/s1600-h/IMG_5184.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO44coj8I/AAAAAAAAAbQ/jMKTn_W83iw/s320/IMG_5184.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392513974210695106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO4X7A1LI/AAAAAAAAAbI/6qcRhyWJjQw/s1600-h/IMG_5191.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO4X7A1LI/AAAAAAAAAbI/6qcRhyWJjQw/s320/IMG_5191.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392513965479744690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5297461661635586816?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5297461661635586816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/10/lebaran-di-rumah-mbah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5297461661635586816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5297461661635586816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/10/lebaran-di-rumah-mbah.html' title='lebaran di rumah Mbah'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYO5kLms_I/AAAAAAAAAbg/xcdxHrz9D34/s72-c/IMG_5183.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8825054503311589353</id><published>2009-08-10T10:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T10:52:47.950-07:00</updated><title type='text'>Andrea Birthday</title><content type='html'>hari minggu tanggal 9 agustus lalu, tepat andrea berusia 5 tahun. seperti biasa dia nagih untuk meniup lilin ultahnya yang ia minta jauh2 hari selain ia bilang akan bobo sendiri kalau udah 5 tahun, berangkat sekolah sendiri, makan sendiri pokoknya semuanya sendiri. buat andrea, life begin at fifth hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andrea memang hobi tiup lilin. sehari sebelumnya lilin ultah salihara aja yg banyak itu ditiupnya :) untuk menemaninya tiup liln dan sedikit merayakan ultahnya saya undang sepupu2nya plus nabila. serunya lagi abis tiup lilin anak2 yg lucu ini pada langusng ingin berenang, byyuuurrr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat ulang tahun anakku, moga panjang umur, selalu kuat menjalani hidup ini dan kamu selalu mendapat yang terbaik untuk hidupmu, aminnn ya robbal 'alamin..&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMYFLV5xI/AAAAAAAAAa4/BrsOw4SYnbg/s1600-h/edit12.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMYFLV5xI/AAAAAAAAAa4/BrsOw4SYnbg/s320/edit12.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392511211668891410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMXkgLeII/AAAAAAAAAaw/yXoqUOxM_xc/s1600-h/edit8.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMXkgLeII/AAAAAAAAAaw/yXoqUOxM_xc/s320/edit8.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392511202897918082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMXBDC27I/AAAAAAAAAao/wdVxf7Q6uPQ/s1600-h/edit5.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMXBDC27I/AAAAAAAAAao/wdVxf7Q6uPQ/s320/edit5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392511193380477874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMW2PByvI/AAAAAAAAAag/tTFCL0KgIqY/s1600-h/edit7.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMW2PByvI/AAAAAAAAAag/tTFCL0KgIqY/s320/edit7.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392511190477949682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMWa8nlmI/AAAAAAAAAaY/CRsVyG6TI0o/s1600-h/edit6.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMWa8nlmI/AAAAAAAAAaY/CRsVyG6TI0o/s320/edit6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392511183152977506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8825054503311589353?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8825054503311589353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/10/andrea-birthday.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8825054503311589353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8825054503311589353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/10/andrea-birthday.html' title='Andrea Birthday'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYMYFLV5xI/AAAAAAAAAa4/BrsOw4SYnbg/s72-c/edit12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7968839409508524231</id><published>2009-04-20T10:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T11:00:06.266-07:00</updated><title type='text'>Muslimah Feminis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYRld-gHiI/AAAAAAAAAbo/Z8ejAWqFEPE/s1600-h/cover+teh+neng.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYRld-gHiI/AAAAAAAAAbo/Z8ejAWqFEPE/s320/cover+teh+neng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392516939222359586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buku ini penting terutama karena ia menawarkan pembacaan baru terhadap hubungan Islam dan feminisme. Melalui penceritaan pengalaman pribadi, Neng Dara Affiah membuktikan bahwa menjadi seorang feminis tulen tidak harus menanggalkan identitas primordial. Feminisme, di sini, tidak lagi sesuatu yang asing dan datang semata-mata dari Barat, melainkan lahir dari kesadaran kultural Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga penting, karena ia adalah pelopor penulisan kehidupan keagamaan tradisional yang ternyata tidak tunggal. Di dalamnya, aneka warna kehidupan keberagamaan saling berkelindan membentuk nuansa kehidupan anak manusia. Neng Dara, seorang mantan murid sekolah agama yang juga menjadi sekolah teroris Imam Samudra, membeberkan dengan sangat baik bagaimana dia mencoba mengambil ketegasan sikap di antara banyak pilihan hidup yang kadang menjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting lagi buku ini ditulis oleh Neng Dara Affiah, kakakku tercinta :) selamat ya teh neng atas bukunya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7968839409508524231?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7968839409508524231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/muslimah-feminis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7968839409508524231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7968839409508524231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/muslimah-feminis.html' title='Muslimah Feminis'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/StYRld-gHiI/AAAAAAAAAbo/Z8ejAWqFEPE/s72-c/cover+teh+neng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1838698538698786985</id><published>2009-04-17T02:50:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T03:08:59.893-07:00</updated><title type='text'>Demi Masa Depan Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SehU__lWh8I/AAAAAAAAAaQ/Sx92gDtn6dw/s1600-h/koran_jkt.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SehU__lWh8I/AAAAAAAAAaQ/Sx92gDtn6dw/s400/koran_jkt.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325600017742202818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Aku percaya tujuan mereka mulia, tapi mungkin caranya yang kurang tepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi aktivis dan gemar berdiskusi adalah kesenangan bagi Nong. Namun itu semua bukan tanpa tujuan. Tak lain, apa yang dilakukannya untuk buah hatinya. Ingin terbuka dengan puterinya, ke mana-mana dia rajin menggandeng tangan kecil bocah perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam sebelum Nong Darol Mahmada pulang kampung ke desa kelahirannya di Labuan, Banten, kami berbincang-bincang hangat dengannya. Blouse merah yang dikenakannya kontras dengan kulitnya yang putih. Kacamata dengan bingkai merah gradasi hitam tampak sesuai dengan busananya saat itu, celana hitamnya dan sandal bertali dengan tumit tak terlalu tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlalu ramai. Hanya beberapa meja dengan bangku-bangku yang diduduki sekumpulan orang. Kami duduk di meja bulat. Udara dingin. Sejak pagi cuaca memang tak cerah, meski tak hujan. Lampu-lampu di teras depan Salihara tak terlalu terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tak ada pertunjukan seni, masih ada orang yang bercengkerama di dalamnya. Sekadar bertemu sahabat, mengobrol, bahkan diskusi yang biasanya ditemani makanan ringan. Juga Nong, panggilan akrabnya, kerap mengunjungi tempat itu. Dia mengaku hobi berdiskusi dengan orang-orang yang dikenalnya. “Di sini tempatnya asyik yah buat ngobrol,” kata Nong yang sering meluangkan waktunya untuk ngobrol di luar kesibukannya di kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau hanya obrolan yang omong kosong. Baginya, dengan banyak berinteraksi banyak hal yang didapatkan, mulai dari hal ringan hingga berat; mulai dari seni, sastra, film, bahkan hingga soal politik. Soal ekonomi? Dia mengaku tak terlalu mengetahui. “Aku dibesarkan di forum diskusi sejak mahasiswa,” ini alasan Nong menceritakan awal mula kebiasaan yang kini tak bisa lagi dihentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menimba ilmu di IAIN Syarif Hidayatullah, yang sekarang dikenal sebagai Universitas Islam Negeri Jakarta, mantan penggiat Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) itu memang kerap menyambangi forum-forum diskusi dan seminar. Sering bertemu orang dan berbagi pemikiran membuat Nong tak segan-segan mengungkapkan aspirasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya soal peristiwa 1 Juni 2008, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang diserang FPI. Nong tak takut dan justru mengumpulkan saksi-saksi dan korban kekerasan untuk menuntut FPI. “Aku percaya tujuan mereka mulia, tapi mungkin caranya yang kurang tepat dan sebaiknya jangan mengutamakan kekerasan,” ungkap Nong yang menyebut FPI hanya melaksanakan perintah nahi munkar—mencegah kemunkaran—saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dea kecil, puteri semata wayang Nong, saat itu mondar-mandir dengan jaket pink yang lalu dilepasnya. “Kalau di sini dia sering disebut anak sejuta umat. Dia suka menyapa semua orang,” kata Nong tertawa. Dea memang sering ikut mamanya ke mana-mana. “Pengennya selama mungkin, sehabis pulang sekolah dia kadang ikut saya,” ungkap Nong saat ditanya berapa lama waktunya dihabiskan dengan Dea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Main Film&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Nong menguraikan alasannya keukeuh memprotes UU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, juga perda yang mengatur soal perempuan. Dea anaknya adalah sebab penting di balik kegiatannya. “Karena anak saya perempuan, dan bukan ingin berlagak heroik,” ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang para perempuan masih bisa bernapas lega karena di negara ini masih punya akses bekerja yang sama dengan pria, misalnya. Tatkala ada upaya mengembalikan perempuan ke ranah domestik, Nong beramsal, maka bisa jadi masa mendatang tak lagi ada kebebasan itu. “Gimana nih masa depan anak dan cucuku yang perempuan,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kini Nong ikut main film. Ceritanya, Nong tak berpikir akan mendapat peran sentral dalam film dokumenter menngenai perempuan bikinan Nia Dinata, Pertaruhan, Desember tahun lalu. Saat itu sutradara Iwan Setiawan memintanya menjadi salah satu narasumber, sebab Nong cukup dipercaya mendedahkan perihal sunat perempuan yang kala itu diangkat sang sutradara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat proses editing, Iwan memberitahukan bahwa di bagian ceritanya, perempuan berambut cokelat itu akan dijadikan pemeran yang dominan. “Aku awalnya seperti ngobrol biasa saja kan, karena berpikir cuma diambil secuplik,” kata Nong lalu tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dea kembali. Merasa sedikit bosan menunggui ibunya yang masih berbincang, beberapa menit kemudian Nong meminta seorang temannya mengajak Dea bermain trik sulap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia gadis kecil itu akan memasuki tahun kelima. Semakin lincah, juga semakin penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak tertebak. “Dia pernah nanya, aku keluar dari mana sih dulu (maksudnya ketika lahir?,” kata Nong yang membuatnya harus belajar menjelaskan dengan gaya berpikir anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dea juga pernah bertanya siapa Tuhan itu. “Aku menjawab, Tuhan itu yang menciptakan mama, Dea, dunia ini dan memeliharanya,” kata Nong yang pergelangan tangan kirinya dihiasai arloji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Dea, Nong menghabiskan waktunya di rumah, bareng-bareng memeluk bantal. Nong juga rutin membacakan puterinya sebuha cerita sebelum tidur. Terkadang menonton film ke bioskop bersama. Mengenai perawatan tubuh, Nong mengaku melakukannya saat ada kemauan saja. Biasanya, ia hanya ingin creambath dan facial treatment. “Kalau seperti lulur yang memakan waktu lama, kayaknya labih bagus buat diskusi,” lagi dia tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati hari-hari, Nong sering melakukan kegiatan berdua dengan anaknya. Sejak 2008, Nong memilih menjadi orang tua tunggal setelah berpisah dengan suaminya. “Tapi hubungan kita tetap baik, nggak sampai bermasalah seperti artis-artis di teve,” katanya sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terkiat soal feminis yang kerap dikabarkan kandas membina rumah tangga? “Yah mungkin tapi sebenarnya sejak awal aku berusaha memilih pasangan bukan dari dunia aktivis, biar seimbang,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membela Perempuan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemar berdiskusi, itu mengharuskan Nong sering membaca sebagai kenikmatan dan hobi. Baik karya fiksi dan nonfiksi dikonsumsinya. Utamanya terkait dengan teori-teori sosial dan isu-isu perempuan. Beberapa novel karya perempuan yang difavoritkannya antara lain Saman dan Perempuan Berkalung Sorban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong juga menyukai tokoh perempuan di dunia muslim, seperti Rifaat Hasan dari Pakistan, Fetima Mernissi dari Maroko, Nawal El Saadawi dari Mesir. “Aku juga mengidolakan seorang muslimah lesbian, Irshad Manji,” tambahnya yang juga menyukai pemikir muslim seperti Hasan Hanafi dan Fazlur Rahman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Kartini, menurut Nong, tokoh perempuan itu memunyai keistimewaan masing-masing pada zamannya. Kartini, kata dia, sekalipun isteri utama tapi dia mau dipoligami, mungkin karena rasa cintanya terhadap ayahnya. Itu kenapa pemikiran-pemikiran Kartini lebih mengena dalam diri Nong ketimbang kesetujuannya tunduk pada feodalisme keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya menyukai buku, Nong juga menyempatkan waktu menonton film. Terakhir ia menikmati &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Reader&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Courious Case of Benjamin Button&lt;/span&gt;, dua film nominasi Oscar tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sering bertemu dan mengobrol dengan teman-teman aktivis, kalau untuk sahabat, Nong menyebut kurang dari sepuluh. Bagi dia, sahabat adalah orang yang paling rahasia dirinya. Hingga sekitar pukul 9 malam, Nong difoto dan lalu segera berangkat ke Labuan bersama Dea. (N jacques umam/ezra sihite)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Koran Jakarta, Minggu 12 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1838698538698786985?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1838698538698786985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/demi-masa-depan-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1838698538698786985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1838698538698786985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/demi-masa-depan-anak.html' title='Demi Masa Depan Anak'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SehU__lWh8I/AAAAAAAAAaQ/Sx92gDtn6dw/s72-c/koran_jkt.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3364414988470852379</id><published>2009-04-06T11:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T11:29:32.685-07:00</updated><title type='text'>Dingin</title><content type='html'>masa yang panjang&lt;br /&gt;menjauh&lt;br /&gt;lelah, resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkali-kali mencari pelabuhan&lt;br /&gt;bersama perahu&lt;br /&gt;untuk menetap dan berlabuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetap tak ada arah&lt;br /&gt;rasa aman menjauh&lt;br /&gt;gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biduk hilang&lt;br /&gt;kelelahan&lt;br /&gt;ada banyak kesan&lt;br /&gt;yang terlihat, tersamar&lt;br /&gt;tak tergeser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus melaju&lt;br /&gt;dengan ombak bergolak&lt;br /&gt;pasrah oleh desiran angin&lt;br /&gt;meski sudah dingin&lt;br /&gt;hilang, tak tersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menteng, januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3364414988470852379?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/3364414988470852379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/dingin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3364414988470852379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3364414988470852379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/04/dingin.html' title='Dingin'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2225008913387617351</id><published>2009-03-31T23:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T23:14:17.069-07:00</updated><title type='text'>My Birthday</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdRmR1vI/AAAAAAAAAaA/LzEKFrZLSRs/s1600-h/IMG_3760edit2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdRmR1vI/AAAAAAAAAaA/LzEKFrZLSRs/s200/IMG_3760edit2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319600485841360626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tanggal 23 maret kemarin, usiaku bertambah lagi. Alhamdulillah ya Allah atas nikmat dan karunia yang KAU limpahkan padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap tahun ketika bertambah usiaku, satu hal yang selalu aku rasakan: betapa luar biasanya yang namanya persaudaraan, persahabatan dan pertemanan. di malam itu sepulang dari salihara, aku bersujud, bersyukur dan berharap bahwa suasana seperti ini akan seterusnya, malah makin bertambah dan makin erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada rencana sama sekali kalau ultahku kemudian disyukuri bersama2 di salihara. ini karena kebaikan hati mas goen yang tak pernah kuduga ternyata telah mempersiapkan kue tart yang ia pesan. terima kasih banget mas goen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdkarYyI/AAAAAAAAAaI/_lPCdmIHYQY/s1600-h/kue+tart.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdkarYyI/AAAAAAAAAaI/_lPCdmIHYQY/s200/kue+tart.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319600490892976930" /&gt;&lt;/a&gt;karena ada kue itu maka datanglah sahabat2ku. untuk mbak rury dan mas tony yang meski sibuk mempersiapkan makalah untuk konferensi di Korea tapi masih nyempetin datang, mayang &amp; andy yang membawa dodol "berkah" yang membuat orang2 yang memakannya "terkapar" keenakkan, mas choki yang biasanya jadi penjaga salihara dengan kesibukan chating &amp; fesbuknya jadinya gabung meski harus nunggu dari jam 8 malam, dan yang selalu nemaniku, guntur yang kemudian terkapar keenakkan karena terlalu semangat makan dodol. juga terima kasih buat teman2 kedai salihara &amp; para satpam di salihara. tak lupa mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada saudara2ku, para sahabat, teman2 yang telah mengirim ucapan selamat, doa, dan harapannya baik lewat fesbuk, email atau sms dan telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdcA57mI/AAAAAAAAAZ4/6yxo6sL-ykM/s1600-h/IMG_3765edit.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdcA57mI/AAAAAAAAAZ4/6yxo6sL-ykM/s200/IMG_3765edit.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319600488637394530" /&gt;&lt;/a&gt;andrea, my lovely girl, ga mau ketinggalan ingin tiup lilin. maka dipesanlah pizza...sebelum pizza dimakan kita taruhin lilin2 di atasnya dan jadilah tiup lilin bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih kepada semuanya atas segalanya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2225008913387617351?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2225008913387617351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/03/my-birthday.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2225008913387617351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2225008913387617351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/03/my-birthday.html' title='My Birthday'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SdMEdRmR1vI/AAAAAAAAAaA/LzEKFrZLSRs/s72-c/IMG_3760edit2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2470016331551953456</id><published>2009-02-25T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T03:04:45.213-08:00</updated><title type='text'>Dinner with Hillary R. Clinton</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R2X51JI/AAAAAAAAAZg/2aDaRi7P68g/s1600-h/hillary2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R2X51JI/AAAAAAAAAZg/2aDaRi7P68g/s200/hillary2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307059259928335506" /&gt;&lt;/a&gt;senin siang (16/2) saya dihubungi mbak ade dari kedutaan AS. dia mengabarkan kalau saya diundang untuk ikut dinner bersama Hillary Clinton di gedung arsip nasional. wah, saya kaget dan waktu itu sempat bilang ke dia pikir-pikir dulu karena rabu malam saya sebenarnya sudah komitmen untuk hadir di acara diskusi pak bill liddle di teater utan kayu.karena kak icang yang meminta saya untuk mengurus diskusi tersebut. mbak ade mendesak agar saya harus jawab secepatnya karena daftar nama yang hadir akan dikirim ke washington. saya minta waktu sampai sore dan saya akan mengabarkan mengenai kepastiannya apakah saya bisa hadir atau tidak itu sore itu. setelah saya pikir panjang, ini adalah kesempatan yang luar biasa dan mungkin tak akan saya dapatkan lagi untuk ketemu, bicara, bersalaman langsung dengan Hillary, tokoh idola saya, perempuan luar biasa, saingan terkuat presiden obama pada pemilihan calon presiden di Partai Demokrat. akhirnya sorenya saya telpon mbak ade dan menegaskan kalau saya bisa hadir di malam dinner tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;acara dinner dimulai jam 20.30 tapi undangan harus datang setengah jam sebelumnya. saya tiba di arsip nasional jam delapan kurang sepuluh menit. di depan saya disambut oleh wakil dubes AS dan beberapa staf kedutaan. sejak di depan memasuki gedung arsip, tidak ada kesan penjagaan yang seram dan angker seperti biasanya. malah lebih angker kalau kita memasuki mal-mal besar. saya tidak diperiksa macam-maca,, didetectorlah atau apalah, saya hanya diminta menunjukkan surat undangannya saja. benar-benar jauh dari kesan angker dalam penjagaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memasuki ruangan, saya ketemu dengan ibu lily munir, saad bokhari (staf kedubes AS yang humble), ada mbak nursyahbani, mas bara hasibuan, ibu iris, saya juga melihat pak azyumardi azra dan kemudian lama kelamaan undangan mulai berdatangan: mas komaruddin hidayat, bang asmara nababan, mas pramono anung, ibu mooryati soedibyo, kang teten masduki, pak joko susilo, pak fauzi bowo dan lain-lain..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R6wr7-I/AAAAAAAAAZY/x4rw4L8sJIs/s1600-h/hillary1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R6wr7-I/AAAAAAAAAZY/x4rw4L8sJIs/s200/hillary1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307059261106024418" /&gt;&lt;/a&gt;sebelum jam 20.30 kami diminta memasuki ruang dinner. saya kebagian meja nomer tujuh bersama mbak suciwati, bang asamara nababan, bapak gde natih yang langsung datang dari bali, teman dari PKS, pak lebay, romo dari kristen anglikan dan mr. sullivan (romobongan Hillary).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika Hillary masuk ruangan kami yang di dalam (tanpa dikomando) serentak berdiri. beliau menyalami kami satu persatu termasuk aku yang memang cukup dekat letaknya dari pintu masuk (aduh, seneng banget aku bersalaman dengannya. tangannya sengaja kupegang erat dan lama sambil mengatakan "selamat datang di jakarta", dia tersenyum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;acara dinner dibuka oleh dubes AS trus kemudian ibu lily munir memberi sambutan selamat datang kepada Hillary dan rombongan. sebelum Hillary beri pidato kami dipersilakan mencicipi makanan dulu, nah pas menu es krim yang keluar, Hillary maju ke podium. ia begitu rileks, penuh senyum, ramah menyapa semua yang berada di dalam ruangan. ketika hillary berpidato yang tadinya pertemuan ini tertutup untuk pers tiba-tiba pintu dibuka, serta merta kamera dan wartawan sudah siap merekam semua isi pidato Hillary. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak hal yang disampaikan oleh Hillary dalam pidatonya tersebut yang kemudian dikutip media keesokan harinya. tapi yang menjadi poin penting untuk saya adalah bagaimana dia menerima posisinya sebagai menlu ketika ditawari oleh presiden obama, meski ia merupakan rivalitas terkuat dan kemudian kalah dalam memperebutkan posisi calon presiden AS. Buatnya, ia menerima perannya ini karena didasarkan pada komitmennya sebagai warga untuk berbakti pada bangsa dan dunia yang luas dan mengalahkan egonya yang pernah dikalahkan obama. pemilu AS memang banyak memberikan inspirasi dan mengajarkan banyak hal tentang demokrasi, bukan sekedar kalah dan menang. aduh, jadi panjang banget nulisnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R_PepGI/AAAAAAAAAZo/fzrgkpyY8Wk/s1600-h/hillary3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R_PepGI/AAAAAAAAAZo/fzrgkpyY8Wk/s200/hillary3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307059262308918370" /&gt;&lt;/a&gt;singkatnya setelah acara selesai, hillary masih menyempatkan diri untuk menyapa dan berbincang-bincang dengan para undangan yang berebut mendekatinya termasuk saya. dengan minta bantuan mas teten masduki, direktur ICW, saya meminta untuk mengambil foto mengabadikan momentum ini. dan inilah hasil bidikan kang teten yang mengambil foto aku dan Hillary Clinton. kang teten ketika mengambil gambar ini deg-degan dan dalam kondisi yang harus berjuang makanya hasilnya ya seperti ini. tapi ngga apa-apa yang penting ada fotonya. aku malah merasa bersalah karena ngga mengambil foto kang teten bersama hillary karena kang tetennya ketika ditawari ngga mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aduh senengnya..buatku:Hillary begitu luar biasa, tak ada kesan arogan, mengambil jarak bahkan sebaliknya, Hillary sangat keliatan kepemimpinannya, kepintarannya, begitu dekat, akrab dan sangat ramah. bila amerika seperti ini, dunia akan damai..percaya deh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2470016331551953456?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2470016331551953456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/02/dinner-with-hillary-r-clinton.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2470016331551953456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2470016331551953456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2009/02/dinner-with-hillary-r-clinton.html' title='Dinner with Hillary R. Clinton'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SaZ2R2X51JI/AAAAAAAAAZg/2aDaRi7P68g/s72-c/hillary2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3698862393363038493</id><published>2008-12-22T22:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T17:07:47.144-08:00</updated><title type='text'>Bila Ibu Boleh Memilih</title><content type='html'>Anakku...&lt;br /&gt;Bila ibu boleh memilih&lt;br /&gt;Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar&lt;br /&gt;karena mengandungmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ibu akan memilih mengandungmu !!&lt;br /&gt;Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan&lt;br /&gt;kebesaran Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan bulan nak...&lt;br /&gt;Engkau hidup di perut ibu&lt;br /&gt;Engkau ikut kemanapun ibu pergi&lt;br /&gt;Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak&lt;br /&gt;karena kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, &lt;br /&gt;karena ibu kecewa dan berurai air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ibu boleh memilih untuk ibu berjuang melahirkanmu&lt;br /&gt;Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu !!&lt;br /&gt;Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit&lt;br /&gt;kelahiranmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke&lt;br /&gt;luar ke dunia sangat ibu rasakan&lt;br /&gt;Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua&lt;br /&gt;Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,&lt;br /&gt;Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun&lt;br /&gt;Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah...&lt;br /&gt;saat paling membahagiakan&lt;br /&gt;Segala sakit &amp; derita sirna melihat dirimu yang merah,&lt;br /&gt;Anakku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau&lt;br /&gt;harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,&lt;br /&gt;Maka ibu memilih menyusuimu,!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu&lt;br /&gt;dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat&lt;br /&gt;berharga&lt;br /&gt;Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu&lt;br /&gt;dalam kantuk ibu,&lt;br /&gt;Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak&lt;br /&gt;bisa rasakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku...&lt;br /&gt;Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat&lt;br /&gt;Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle&lt;br /&gt;Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anakku...&lt;br /&gt;Hidup memang pilihan...&lt;br /&gt;Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana&lt;br /&gt;Maka maafkanlah nak...&lt;br /&gt;Maafkan ibu...&lt;br /&gt;Maafkan ibu...&lt;br /&gt;Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle&lt;br /&gt;kehidupan kita,&lt;br /&gt;Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang&lt;br /&gt;Percayalah nak...&lt;br /&gt;Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu&lt;br /&gt;Percayalah nak...&lt;br /&gt;Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://groups.google.co.id/group/si-unair2003/browse_thread/thread/c5347b469701d2ef&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3698862393363038493?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3698862393363038493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3698862393363038493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/12/bila-ibu-boleh-memilih.html' title='Bila Ibu Boleh Memilih'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7519036909462401034</id><published>2008-11-17T22:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T02:42:52.793-08:00</updated><title type='text'>Orang Iseng Lagi</title><content type='html'>teman-teman, untuk kesekian kalinya ada orang yang iseng ngerjain aku lewat dunia internet sehingga susah sekali bagiku yang awam dengan bidang ini untuk melacak siapa pelakunya. bagaimanapun aku terganggu sekali karena nama, email, alamat rumah dan no hpku dicantumin di situ dan orang-orang pada menelponku menanyakan benar dan tidaknya. entah apa niatnya: menghancurkan citraku, menerorku, menakut-nakutiku atau apapun namanya. tapi intinya teman-teman, aku tak takut dan mundur dengan teror-teror seperti ini meski udah menyerang ke pribadiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teror adalah perbuatan yang maha pengecut, norak dan tidak beradab. gaya seperti ini sama dengan gaya yang dipakai oleh orde baru dulu. aku tahu, teror seperti ini ingin menghentikan dan menyurutkan langkah dan semangatku untuk berkarya, menulis, berpikir positif dan akhirnya kita hanya menerima dan berkubang dengan yang dimaui si peneror. aku merasa ngga pernah melakukan cara-cara seperti ini ke siapapun, kalau aku tak suka atau tidak setuju dengan siapapun maka aku ekspresikan dengan terang benderang, baik lewat sikap, aku sampaikan langsung atau diskusi yang sifatnya  argumentatif. tidak dengan cara-cara meneror seperti ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah beredar email gelap yang mengatasnamakan namaku terkait Tragedi Monas yang isinya pengakuan bahwa aku bertobat dan kemudian menguraikan skenario tragedi monas yang melibatkan SBY dan teman-temanku yang mengatakan bahwa tragedi monas adalah peristiwa yang disengaja untuk mengalihakan isu BBM, sekarang ini ada orang yang lagi-lagi iseng mengatasnamakan namaku dengan memasang iklan mencari jodoh. duh, keterlaluan banget. kontan saja, hari-hari ini aku banyak dihubungi oleh orang-orang yang ngga jelas dan tidak aku kenal sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di blog ini aku ingin sampaikan bahwa aku sama sekali ngga pernah memasang iklan apapun. jadi tolong jangan menghubungiku untuk urusan iklan sampah seperti itu. mari kita fokuskan dan konsentrasikan energi, pikiran dan tenaga kita ke arah yang baik dan positif untuk membangun bangsa yang kita cintai ini. terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7519036909462401034?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7519036909462401034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7519036909462401034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/11/orang-iseng-lagi.html' title='Orang Iseng Lagi'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2863826816261353019</id><published>2008-11-13T21:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T22:06:12.964-08:00</updated><title type='text'>Sang Guru</title><content type='html'>dari ujung kabel&lt;br /&gt;suara bergetar&lt;br /&gt;terbayang wajah teduh&lt;br /&gt;mata renta &lt;br /&gt;tak berdaya&lt;br /&gt;penuh aura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu siang datang&lt;br /&gt;sang guru berpesan&lt;br /&gt;menanya kabar&lt;br /&gt;tentang kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: hidupmu sulit anakku&lt;br /&gt;pilihanmu&lt;br /&gt;terus  berjuang&lt;br /&gt;berteriaklah&lt;br /&gt;habiskan nafasmu&lt;br /&gt;ragamu&lt;br /&gt;tenagamu&lt;br /&gt;hidupmu&lt;br /&gt;jangan gentar&lt;br /&gt;jangan takut&lt;br /&gt;karna itu takdirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang guru slalu datang &lt;br /&gt;tanpa raga&lt;br /&gt;seperti malaikat dengan cahya&lt;br /&gt;berbicara tentang hidup&lt;br /&gt;sulit&lt;br /&gt;terjal&lt;br /&gt;jadi biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2863826816261353019?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2863826816261353019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/11/sang-guru.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2863826816261353019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2863826816261353019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/11/sang-guru.html' title='Sang Guru'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-9208265770344012366</id><published>2008-11-08T03:20:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T22:51:01.008-08:00</updated><title type='text'>Aku Dicubit</title><content type='html'>lelaki itu&lt;br /&gt;berjubah di ujung pintu&lt;br /&gt;matanya nanar&lt;br /&gt;merasa paling benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata itu jalang&lt;br /&gt;sudah tak lajang&lt;br /&gt;menatap tajam &lt;br /&gt;menghujam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulewati&lt;br /&gt;tak perduli&lt;br /&gt;ada yang lebih benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki itu&lt;br /&gt;makin nanar, menepi&lt;br /&gt;tak bisa diam, menyeringai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aduh, kepalaku dipukul!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki itu &lt;br /&gt;tersungging di ujung bibir&lt;br /&gt;salahmu, harus dipukul&lt;br /&gt;desisnya, melenguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku marah&lt;br /&gt;tak bisa melawan&lt;br /&gt;mengganjal perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulewati&lt;br /&gt;mata itu siap menerkam&lt;br /&gt;bergerak dua tangan&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;menggerayang&lt;br /&gt;di ujung pinggang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sial, aku dicubit&lt;br /&gt;lelaki suka nyambit&lt;br /&gt;berjubah&lt;br /&gt;mengaku paling tinggi&lt;br /&gt;membawa ayat-ayat suci&lt;br /&gt;yang menginjak harga diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gelap Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya &lt;br /&gt;hilang di ufuk&lt;br /&gt;mendera mencipta bentuk&lt;br /&gt;yang suntuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih terasa&lt;br /&gt;tangan menggerayang&lt;br /&gt;liar&lt;br /&gt;penuh kemarahan&lt;br /&gt;penuh berahi&lt;br /&gt;tak terpuaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya merayap&lt;br /&gt;perlahan lenyap&lt;br /&gt;senyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku limbung&lt;br /&gt;karna tersinggung&lt;br /&gt;gelap diri&lt;br /&gt;jijik dengan diri&lt;br /&gt;menepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengadilan Jakpus, September 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-9208265770344012366?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/9208265770344012366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/11/aku-dicubit.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/9208265770344012366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/9208265770344012366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/11/aku-dicubit.html' title='Aku Dicubit'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3661500735827897595</id><published>2008-10-10T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T00:52:25.965-07:00</updated><title type='text'>’In the Wee Small Hours’</title><content type='html'>&lt;em&gt;Teman-teman, saya muat catatan pinggir TEMPO edisi 6-12 Oktober 2008 di sini. Selamat membaca.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IZINKAN saya menulis tentang dinihari. Tentang jam-jam para insomniak, ketika malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang. Tentang orang-orang yang tak tidur, seperti kau dan aku, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba melupakan kesendirian, atau justru memasuki kesendirian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru (sebuah e-mail datang dan kamu mengingatkan saya, mengutip Paulo Coelho), ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesementaraan, juga kelebihan. Barangkali kedua-duanya yang membuat dinihari mempertautkan manusia dengan yang kekal. Di biara yang jauh dari keramaian, para rahib bangun pukul 03.30 pagi. Masing-masing melakukan doa pribadi di bilik yang sempit. Pada pukul 04.00, misa bersama mulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama Ramadan, makan sahur dilakukan di saat itu pula. Orang bisa mengatakan, fisik kita perlu dijaga dengan beberapa suap nasi sebelum puasa 12 jam. Tapi jangan-jangan semua itu bukanlah buat kesehatan—makan di jam seperti itu justru tidak membantu metabolisme tubuh—melainkan buat merasakan hubungan antara yang indrawi, yang badani, dan transisi saat. Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana—dan tidakkah pengertian tentang ”fana” hanya bisa dimengerti jika ada yang ”bukan-fana”, jika disandingkan dengan yang abadi? Meskipun yang abadi tak pernah kita alami? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelap dinihari, jika yang abadi bisa terasa hadir, mungkin karena ada hubungan antara keabadian dan kuasa, dan ada hubungan kuasa dengan misteri. Ia tak pernah bisa ditebak. Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita—yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas, antara kini yang hadir dan kelak yang kita tak pernah tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan. Gelap tak bisa mutlak. ”Aku tak takut gelap,” kau bilang. ”Dalam gelap aku bisa menemukan kedamaian.” Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya. Ada cahaya surya yang tua, ada cahaya yang dibikin Thomas Alva Edison, ada cahaya bintang yang sporadis, ada kilau lampu-lampu iklan yang kian agresif. Maka gelap adalah selingan dari terang yang gaduh. Kita tahu terang telah jadi bagian dari proyek manusia menguasai bumi—yang tak membuat kedamaian hal yang lumrah. &lt;br /&gt;Tapi tak selamanya gelap sebuah intermezzo. Ia bisa jadi awal putus harapan. Pada 1815, lebih dari separuh abad sebelum Krakatau, sebuah gunung di Nusantara meletus. Sampai setahun berikutnya, debu yang muncrat dari kepundan Tambora itu menutupi langit. Matahari terkurung cadar tebal. Bulan padam. Di Eropa, tahun berikutnya semacam perubahan cuaca terjadi. Tahun itu kemudian diingat sebagai ”tahun tanpa musim panas”. Pada tahun itu pula penyair besar Inggris Lord Byron menulis sebuah sajak yang memukau, Darkness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…dan bintang-bintang &lt;br /&gt;menggelandang di ruang kekal &lt;br /&gt;tanpa sinar, tanpa jalur, &lt;br /&gt;dan Bumi yang dingin &lt;br /&gt;bergoyang, buta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkurung gelap debu Tambora itu, pagi datang dan pergi, tak membawa siang. ”Morn came and went—and came, and brought no day.” Dan ombak mati, pasang berdiam di kuburnya, sementara Bulan, ”tuan putri mereka, telah padam sebelumnya.” Angin pun lingsut di udara yang tak bergerak, awan musnah. Tapi, tulis Byron, ”Gelap tak perlu bantuan dari mereka. Gelap adalah Alam Semesta itu sendiri. She was the Universe.” &lt;br /&gt;Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak. Sebab selalu ada jarak antara alam semesta dengan gelap dan terang. Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itulah kita bisa saling merindukan—kita yang lain, kita yang beda, kita yang mungkin belum pernah bertemu. Di jam-jam awal dari hari, di dinihari, ketika kita dengarkan dengan sedikit tergetar oleh kangen yang tak terelakkan Sting menyanyi, ”In the wee small hours of the morning.” Dan kita dengar trompet Chris Botti meningkah, dan terasa, semua yang akan berakhir sejenak seperti sesuatu yang abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3661500735827897595?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/3661500735827897595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/10/in-wee-small-hours.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3661500735827897595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3661500735827897595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/10/in-wee-small-hours.html' title='’In the Wee Small Hours’'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-6206133719389354072</id><published>2008-10-09T08:16:00.000-07:00</published><updated>2008-10-09T08:20:46.827-07:00</updated><title type='text'>Konstitusionalisme Vs Fundamentalisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Adnan Buyung Nasution&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini timbul berbagai ancaman terkait fundamentalisme agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kemunculan berbagai peraturan daerah syariat yang diskriminatif dan melanggar hak asasi manusia. Kedua, desakan untuk mengegolkan RUU tentang Pornografi yang amat antiperempuan (misogynist) dan tidak mampu melindungi anak. Ketiga, tindak kekerasan yang dilakukan kelompok fundamental terhadap pemeluk agama dan kepercayaan minoritas, rakyat kecil marjinal, juga aktivis pejuang kebebasan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman itu menjadi kian serius saat berbagai kelompok fundamental mulai mengembuskan isu mayoritas vis a vis minoritas ke ruang publik. Simak tuntutan pembubaran Ahmadiyah yang selalu dikaitkan pandangan mainstream kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan rencana pengesahan RUU Pornografi yang kabarnya sebagai hadiah Ramadhan bagi mayoritas. Celakanya, aspirasi fundamentalistik yang dikesankan mendapat dukungan mayoritas itu membuat cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) seolah kehilangan pegangan dan tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, jika benar ada dukungan mayoritas terhadap berbagai aspirasi fundamentalistik, apakah hal itu dapat dijadikan argumentasi yang sahih sebagai pembenaran segala tindakan penyelenggara negara? Pertanyaan itu kerap dijawab serampangan atau disederhanakan melalui ungkapan semacam vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Jika mayoritas berkehendak, maka jadilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman demikian tentu mengandung kerancuan karena majority rule hanyalah salah satu aturan main dalam demokrasi dan bukan fondasi dari demokrasi itu sendiri. Mekanisme kehendak mayoritas hingga kini dan mungkin sampai kapan pun merupakan prosedur yang jauh lebih baik dibanding sistem monarki atau kekhalifahan yang mengandaikan adanya pribadi pemimpin arif bijaksana yang diangkat secara turun-temurun atau lewat penunjukan segelintir orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, demokrasi tidak melulu terkait prosedur. Demokrasi harus memiliki substansi, yaitu prinsip-prinsip pokok yang harus ditegakkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, demokrasi harus berdasarkan prinsip konstitusionalisme yang bertujuan membatasi kesewenang-wenangan kekuasaan, termasuk mencegah adanya tirani dari kelompok mayoritas (tyranny of the majority).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konstitusionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pendirian Republik, Hatta mengupayakan adanya jaminan bagi perlindungan kebebasan individu sekaligus meletakkan fondasi konstitusionalisme di Indonesia. Ia mewakili pendukung prinsip demokratis yang mengajukan penolakan terhadap faham integralistik Soepomo yang mengabaikan hak-hak minoritas dan mengandung ide-ide penyeragaman yang amat berbahaya. Hatta menginginkan adanya suatu negara pengurus yang tidak kebablasan menjadi negara kekuasaan, negara penindas (Risalah Sidang BPUPKI/PPKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mewujudkan konstitusionalisme di Indonesia lalu dilanjutkan dan sempat mendapatkan momentumnya saat Konstituante berhasil dibentuk lewat Pemilu 1955 yang amat demokratis. Anggota konstituante yang berjumlah 544 orang itu telah bersidang selama sekitar 3,5 tahun. Mereka bahkan telah berhasil merumuskan 24 pokok HAM. Namun, sebagaimana kita ketahui, pencapaian itu dimentahkan oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Baru, pekerjaan besar bangsa ini untuk mewujudkan konstitusionalisme terhambat. Rezim otoriter menutup segala saluran dan menggunakan aparatusnya untuk menyelusup dalam rongga-rongga terdalam kehidupan masyarakat bahkan secara aktif memantau kehidupan orang perseorangan. Pada masa itu kebebasan menjadi kosakata yang telah kehilangan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers dan media layaknya koor yang senada dalam menyuarakan kebijakan pemerintah. Suara sumbang dibungkam lewat mekanisme sensor yang berujung pada pembreidelan. Kehidupan kepolitikan dimandulkan dan sebagai gantinya dihadirkan demokrasi seolah-olah. Lawan-lawan politik dan ideologis penguasa diberi stigma sebagai musuh negara dan diperlakukan layaknya warga negara kelas dua. Batas-batas ditentukan dengan ketat dan upaya untuk melampauinya akan digolongkan sebagai tindakan subversif. Pendeknya, Orde Baru telah melucuti hak-hak individu warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki era Reformasi terjadi perkembangan yang cukup baik, terutama setelah amandemen UUD 1945. Kekuasaan negara yang sewenang-wenang dan sentralistik telah dilucuti. Kebebasan warga negara dan otonomi daerah telah mendapatkan jaminan di dalam konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan timbul belakangan saat kebebasan dikotori oleh ekstremisme dalam berekspresi. Otonomi daerah pun ditunggangi aneka kepentingan sektarian untuk mengegolkan berbagai perda diskriminatif dan melanggar HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ancaman demokrasi kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden Monas 1 Juni 2008 seharusnya dapat menyadarkan banyak kalangan tentang kondisi demokrasi kita yang masih mengidap penyakit kronis. Virus perusak demokrasi itu dibawa oleh berbagai kelompok fundamental yang mengotori keadaban publik dengan menggunakan cara-cara kekerasan pada sesama warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan premanisme seharusnya dapat diatasi sebelumnya jika saja negara tidak ragu-ragu dalam menegakkan hukum dan konstitusi, terutama untuk menindak pelaku dan melindungi kelompok-kelompok minoritas, yang marjinal, lemah, dan terancam. Meski pada akhirnya aparat bertindak dan hingga kini upaya hukum telah berjalan, terjadinya insiden itu harus dipahami sebagai ekses dari lambatnya respons negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman demikian, seharusnya saat ini aparat hukum lebih sigap, apalagi dengan menyimak perkembangan serius yang terjadi belakangan dalam proses persidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kelompok telah melangkah lebih jauh dengan melecehkan wibawa hukum. Mereka tidak segan-segan melakukan intimidasi, ancaman, bahkan kekerasan di ruang sidang pengadilan. Di titik kritis ini, tidak ada pilihan lain, penegakan hukum harus mampu menjadi ultimum remedium guna mencegah agar tidak terjadi kondisi ketiadaan norma (normless) dan memastikan tercapainya summum bonum (greatest good).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya ingin sungguh-sungguh meyakinkan segenap bangsa ini, ancaman fundamentalisme agama itu nyata dan berbahaya karena bertujuan menciptakan negara berdasarkan agama. Sejauh ini berbagai kelompok fundamental itu telah menyorong penyelenggara negara hingga tersudut di tepian jurang inkonstitusionalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kita semua harus senantiasa berpegang teguh pada faham konstitusionalisme agar tidak salah langkah dan mampu menjaga bangsa ini tidak terempas dan pecah berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adnan Buyung Nasution Pengacara Senior&lt;br /&gt;Kompas hal 4, Kamis, 9 Oktober 2008 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-6206133719389354072?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/6206133719389354072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/10/konstitusionalisme-vs-fundamentalisme.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6206133719389354072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6206133719389354072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/10/konstitusionalisme-vs-fundamentalisme.html' title='Konstitusionalisme Vs Fundamentalisme'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8484126645078974150</id><published>2008-08-22T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-22T09:58:13.745-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SK7ry1l4QiI/AAAAAAAAASI/SHOti9-9xL8/s1600-h/aku+%26+dea.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SK7ry1l4QiI/AAAAAAAAASI/SHOti9-9xL8/s200/aku+%26+dea.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237382675290407458" /&gt;&lt;/a&gt;(teman-teman, tulisan ini adalah tulisan mas ulil. saya harap tulisan ini berguna untuk kita semua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USAI memberikan ceramah di sebuah kantor di kawasan Jakarta Selatan sekitar enam tahun yang lalu, saya bertanya kepada seorang panitia, di mana saya bisa mengambil air wudu dan melaksanakan salat Asar. Saat saya salat, secara lamat-lamat saya mendengar bisik-bisik di balik punggung, "Lho, Mas Ulil kok salat, katanya liberal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di Boston, saya aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh sebuah kelompok pengajian bernama IQRA. Selain ingin menikmati masakan Indonesia yang dihidangkan oleh ibu-ibu anggota pengajian, saya juga bisa belajar bagaimana teman-teman yang tinggal di Amerika memaknai Islam. Kadang-kadang saya juga memberikan ceramah, tetapi lebih sering menjadi pendengar saja. Kadang saya juga didaulat menjadi imam salat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ramadan, seluruh kegiatan buka puasa hampir tak pernah saya lewatkan. Selain isteri saya memang gemar sekali memasak dan ingin berbagi masakan itu dengan teman-teman Indonesia yang lain, saya juga menikmati pertemuan-pertemuan seperti itu karena membuat saya bisa merasakan "getaran" bulan puasa. Ibadah puasa tidak terlalu asyik jika dilaksanakan sepenuhnya secara "personal" dan "soliter". Sejak kecil, saya menikmati puasa sebagai "tindakan kolektif". Pengalaman sosial seperti itu tak saya jumpai selama di Amerika, sebab di sini jumlah umat Islam sedikit sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengikuti momen-momen buka puasa atau melaksanakan salat tarawih secara bareng-bareng, saya merasakan kembali "suasana sosial" dalam ibadah puasa. Pengalaman sosial dalam beragama ini bukan hanya khas Islam; dalam agama apapun, dimensi "bebrayan" atau sosialitas ini sangat penting. Pengalaman yang membekas pada para pemeluk agama biasanya bukan sekedar "kesyahduan individual" saat seseorang melakukan meditasi untuk berkomunikasi dengan Tuhan, misalnya dalam sembahyang. Pengalaman yang paling membekas biasanya adalah pengalaman beragama secara sosial itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok paguyuban semacam IQRA atau yang lain memiliki makna yang penting bagi masarakat Muslim yang hidup di luar negeri karena membantu mereka untuk mengalami kembali pengalaman sosial dalam beragama dan beribadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, dengan suka cita saya mengikuti kegiatan bulan puasa yang diadakan teman-teman Indonesia di kota Boston. Sekali lagi, saya mendengar bisik-bisik di baik punggung, "Kok Mas Ulil puasa, padahal liberal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK Mei 2001, bersama dengan teman-teman muda di Jakarta, saya mendirikan sebuah kelompok bernama Jaringan Islam Liberal, disingkat JIL. Kata "jil" selain enak diucapkan sebagai akronim, juga merupakan kata Arab yang artinya "generasi". JIL adalah sebuah generasi pemikiran yang muncul di tengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama kelompok ini secara umum ada dua. Pertama, melakukan kritik atas pemahaman keislaman yang fundamentalistis, radikal dan cenderung pada kekerasan. Paham-paham semacam ini muncul bak cendawan setelah era reformasi di Indonesia sejak 1998. Bagi saya, paham Islam yang radikal, eksklusif, dan pro-kekerasan ini sangat berbahaya bukan saja bagi masyarakat Indonesia yang plural, tetapi juga bagi Islam sendiri. Sebagai seorang Muslim, saya tidak mau agama saya"dibajak" oleh kaum radikal-fundamentalis untuk mengesahkan kekerasan atas nama agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lebih rasional, kontekstual, humanis, dan pluralis. Di mata saya dan teman-teman yang menggagas JIL, Islam harus terus-menerus dikonfrontasikan dengan realitas sosial yang terus berubah. Jawaban yang diberikan oleh agama atau ulama di masa lampau, belum tentu tepat untuk zaman sekarang. Oleh karena, sikap kritis dalam membaca pemikiran Islam yang kita warisi dari ulama masa lampau sangat penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua hal yang tertera dalam Quran dan hadis harus dimaknai secara harafiah. Quran dan hadis dibentuk oleh konteks yang spesifik, dan karena itu harus terus-menerus dikontekstualisasikan, terutama ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kehidupan sosial-politik. Bagi saya dan teman-teman JIL, misalnya, sistem pengelolaan "negara" yang pernah dicontohkan oleh Nabi dan sahabat-sahabat sesudahnya di Madinah tidak mesti kita contoh mentah-mentah untuk dipraktekkan pada zaman sekarang, sebab kita berhadapan dengan konteks sejarah yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL sama sekali tidak mengungkit-ungkit masalah ibadah. Saya sadar tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan. Ada dimensi-dimensi tertentu dalam agama yang tak bisa sepenuhnya dipahami secara rasional. Contoh yang baik adalah masalah ibadah. Yang saya maksud di sini adalah ibadah dalam pengertian yang terbatas, yaitu apa yang sering disebut dengan ibadah mahdah alias ibadah murni seperti salat, puasa dan haji. Tata cara ibadah dalam Islam, menurut saya, berlaku sepanjang zaman dan tidak bisa dirasionalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada sejumlah tata-cara ibadah yang bisa didiskusikan ulang. Tidak semua hal berkenaan dengan tata-cara ibadah bersifat "harga mati". Misalnya, saat saya kecil di kampung dulu, ada diskusi hangat antara kalangan NU dan Muhammadiyah mengenai boleh tidaknya menyampaikan khutbah Jumat dalam bahasa selain Arab. Kiai-kiai NU berkeras bahwa khutbah Jumat harus disampaikan dalam bahasa Arab, sebab Nabi dulu memakai bahasa itu dalam khutbah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan Muhammadiyah berpandangan lain: khutbah tujuan pokoknya adalah untuk memberi pengertian dan informasi kepada jamaah. Bagaimana pengertian itu bisa sampai kepada mereka jika tak memakai bahasa yang bisa mereka pahami? Dalam hal ini, cara berpikir Muhammadiyah, menurut saya, cenderung liberal, sementara kiai-kiai NU cenderung konservatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, praktek khutbah dengan bahasa non-Arab sudah diterima secara umum baik oleh kiai NU maupun, apalagi, tokoh-tokoh Muhammadiyah. Meskipun di kampung saya, hingga sekarang masih ada beberapa kiai yang tak bisa menerima khutbah dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Paman saya di kampung yang mengelola sebuah pesantren, masih tetap memakai bahasa Arab dalam khutbah Jumat. Dia tetap berpandangan bahwa khutbah yang disampaikan dalam bahasa lokal, bukan Arab, tidak sah dan karena itu salat Jumat juga menjadi tidak sah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah serupa sekarang muncul dalam konteks salat: apakah kita boleh memakai bahasa non-Arab dalam salat? Sebagaimana kita tahu, salat adalah kata Arab yang secara harafiah artinya doa. Apakah kita harus berdoa hanya dalam bahasa Arab saja, atau bolehkah berdoa dalam salat dengan bahasa lain, misalnya Jawa, Madura, Sunda, atau Batak? Bukankah doa dengan bahasa lokal yang kita pakai sehari-hari lebih baik ketimbang bahasa Arab yang untuk beberapa orang sama sekali tak dipahami? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya umat Islam tidak bisa menerima ide tentang salat memakai bahasa non-Arab. Bahkan kalangan Muhammadiyah yang cukup "liberal" dalam kasus khutbah Jumat, umumnya bersikap konservatif dalam masalah yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah beberapa contoh tata cara ibadah yang masih terbuka untuk didiskusikan. Tetapi, pada umumnya, tata cara ibadah bersifat "fixed" alias harga mati. Jumlah rakaat salat, misalnya, tidak bisa kita diskusikan lagi. Waktu salat juga sudah ditentukan oleh agama. Kita tak usah terlalu jauh mempersoalkan kenapa salat Magrib berjumlah tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, dan seterusnya. Boleh saja kita mereka-reka alasan di balik tata cara itu. Pada akhirnya, hal-hal yang berkaitan dengan ritual itu bersifat ta'abbudi, alias tidak bisa dirasionalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Muslim liberal, saya tak pernah mempersoalkan masalah-masalah yang masuk dalam wilayah ibadah murni itu. Sebuah hadis terkenal menegaskan, "al-salah mukh-kh al-'ibadah", salat atau berdoa adalah "the crux" atau inti ibadah. Hadis ini dengan tepat sekali memotret fenomena keberagamaan bukan saja dalam Islam, tetapi juga dalam semua agama. Kalau kita telaah agama-agama dunia, berdoa, meditasi, sembahyang atau praktek-praktek serupa adalah unsur pokok di sana yang tak bisa dihindarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sembahyang buat saya memiliki kedudukan yang penting dalam keislaman yang saya pahami. Sembahyang di sini saya mengerti dalam dua makna sekaligus, yaitu sembahyang secara teknis yang sering disebut salat dengan tata-cara yang sudah ditetapkan dalam Islam, maupun sembahyang dalam pengertian berdoa dan meditasi secara umum. Saya melakukan dua hal itu sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas menempati kedudukan penting dalam modus keberagamaan saya. Meminjam istilah William James yang dikenal luas melalui bukunya The Varieties of Religious Experience" itu, beragama yang "genuine" ditandai oleh semacam gejala seperti "flu berat" (acute fever). Beragama yang hanya mengikuti tradisi saja tanpa pengalaman spiritualitas yang mendalam oleh James disebut sebagai pengalaman yang menyerupai "baju bekas", (istilah yang dipakai oleh James adalah second hand religious life).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, salat atau sembahyang menempati kedudukan yang penting dalam pemahaman Islam liberal saya. Entah dari mana sumbernya, ada suatu persepsi di sebagian kalangan masyarakat bahwa Islam liberal sama dengan tidak salat, tidak puasa, dan mengabaikan ibadah sama sekali. Ini jelas persepsi yang keliru sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SK7tyNSVmwI/AAAAAAAAASQ/W3Pfc9ivWn4/s1600-h/IMG_2234.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SK7tyNSVmwI/AAAAAAAAASQ/W3Pfc9ivWn4/s200/IMG_2234.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237384863494281986" /&gt;&lt;/a&gt;PERBEDAAN mendasar antara saya beserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memang berarti ketundukan. Muslim berarti orang yang tunduk. Kalangan Islam konservatif, dengan interpretasi tertentu, hendak mengatakan bahwa sebagai Muslim, kita harus tunduk pada perintah Tuhan tanpa reserve, tanpa ba-bi-bu. Kita tak diperbolehkan untuk mempertanyakan kenapa Tuhan memerintahkan hal ini, melarang itu. Tugas manusia nyaris seperti "budak" yang taat tanpa berpikir pada sebuah perintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman keislaman seperti ini, dalam pandangan saya, jelas sama sekali tak tepat. Dalam Quran sendiri, berkali-kali kita menjumpai ayat-ayat yang disudahi dengan sebuah pertanyaan retoris berbunyi "afala ta'qilun", apakah kalian tak memakai akal, atau "la'allakum tatafakkarun" atau "afala tatafakkarun", apakah kalian tak berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang menarik perhatian saya sejak dulu adalah berikut ini, "inna syarra al-dawabbi 'inda al-Lahi al-shumm al-bukm al-lazina la ya'qilun." (QS 8:22). Terjemahan bebas ayat itu: seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas bukan semacam kutukan bagi mereka yang secara fisik menderita cacat tuli dan bisu. Dua kata itu dipakai dalam ayat di atas secara metaforis. Ayat itu sudah menjelaskan dirinya sendiri: tuli dan bisu di sana merujuk kepada orang-orang yang tak memakai akal. Yakni mereka yang hanya tunduk pada tradisi dan pemahaman yang sudah berlaku umum, tanpa memeriksa pemahaman itu secara kritis dengan akal sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai akal adalah perintah Tuhan itu sendiri. Jika seseorang mengikuti perintah agama dengan sikap kritis, itu bukan berarti ia tak tunduk pada perintah tersebut, tetapi justru ia melaksanakan perintah itu sendiri. Sebab, dalam banyak ayat Tuhan mengkritik perilaku mereka yang hanya mengikuti apa yang sudah ada tanpa berpikir kritis. Bacalah ayat berikut ini: qalu wajadna aba'ana kazalika yaf'alun (QS 26:74). Terjemahan bebas: mereka berkata, kami hanya mengikuti saja apa yang telah dilakukan oleh bapak-bapak kami sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu adalah kritik terhadap masyarakat pada masa Nabi Ibrahim yang "ngotot" merawat tradisi keagamaan mereka tanpa berpikir kritis. Mereka menolak dakwah Ibrahim dengan alasan yang sangat "tipikal" pada semua masyarakat manapun: kami hanya mengikuti tradisi yang sudah dijamin teruji; kami tak mau ambil resiko mengikuti anda yang belum jelas reputasinya. Masyarakat manapun memang cenderung konservatif, alias menjaga tradisi dan merawatnya secara membabi-buta, walaupun bukti-bukti rasional menunjukkan bahwa praktek yang ada itu sudah tak tepat sama sekali dan berlawanan dengan semangat zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu relevan sebagai kritik bukan saja untuk masyarakat pada masa Nabi Ibrahim, tetapi juga keadaan umat Islam sendiri saat ini. Semangat taklid buta tanpa berpikir kritis sangat dikecam dalam banyak ayat di Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah "tuli" dan "bisu" yang dikritik oleh Quran: sikap keras kepala, tak rasional, tak mau membuka diri pada perkembangan baru yang ada dalam masyarakat. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsip yang khas: pokoknya agama mengatakan A, ya sudah, saya mengikutinya tanpa bertanya apapun. Orang-orang semacam ini merasa tunduk pada perintah Tuhan, padahal mereka mengabaikan perintah Tuhan yang lain untuk berpikir kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Quran, orang-orang semacam ini disebut sebagai "syarr al-dawabb", binantang melata yang paling buruk. Kata "dabbah" (bentuk tunggal dari kata "dawabb") secara harafiah berarti "kullu ma yadibbu 'ala al-ard", segala hewan yang merangkak atau melata di muka bumi. Meskipun kata "dabbah" biasa dipakai untuk menyebut hewan yang biasa dikendarai sebagai alat transportasi (seperti kuda, keledai, atau unta), yang dimaksud dengan kata itu dalam ayat di atas adalah manusia. Dengan kata lain, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang tak memakai akal mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersembunyi di balik alasan "tunduk pada perintah Tuhan", orang-orang yang disebut "syarr al-dawabb" itu menolak untuk memakai pendekatan yang kritis dalam memahami perintah-perintah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Islam liberal yang saya kembangkan ingin mengajukan cara pandang yang lain. Berpikir kritis, termasuk dalam memahami perintah-perintah Tuhan, adalah bagian dari keislaman itu sendiri. Berpikir secara rasional dalam masalah agama adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Berpikir kritis dalam agama bukan berarti membangkang terhadap agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN mengecualikan aspek ibadah murni, saya cenderung mengembangkan pemamahan keislaman yang rasional, kontekstual, dan humanis. Banyak hal yang selama ini dianggap sebagai perintah agama, sebetulnya, jika kita telaah dengan kritis, hanyalah cerminan dari keadaan sosial pada masa tertentu yang makin tak relevan dengan berlalunya zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah contoh bisa saya sebutkan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, masih banyak negeri-negeri Arab teluk, termasuk Saudi Arabia, yang menolak mengangkat perempuan sebagai anggota parlemen. Berdasarkan "petuah" dan "fatwa" ulama konservatif di negeri-negeri itu, mereka berpandangan bahwa praktek mengangkat perempuan menjadi anggota parlemen berlawanan dengan Islam. Sebuah hadis terkenal sering dijadikan sebagai sandaran argumen, "ma aflaha qawmun wallau amrahum imra'atan." Terjemahan bebasnya: bangsa yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan tak akan beruntung, alias akan gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragama secara rasional dan kritis seperti saya pahami dalam kerangka Islam liberal akan mencoba mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah perempuan tak mampu menjadi pemimpin? Apakah secara empiris itu dibuktikan dalam realitas empiris? Bukankah banyak perempuan yang sukses menjadi pemimpin? Kalau perempuan dalam masyarakat tertentu tak mampu menjadi pemimpin, apakah hal itu karena faktor intrinsik dalam diri mereka, atau karena masyarakat tak memberikan kesempatan pada mereka untuk memperoleh ketrampilan sebagai pemimpin? Taruhlah hadis itu benar diucapkan oleh Nabi, apakah ia tetap relevan diberlakukan hingga sekarang, ataukah itu terkait dengan keadaan spesifik pada zaman Nabi saja? Apakah masuk akal ajaran agama yang konon berasal dari Tuhan menghalangi hak perempuan untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat, padahal jumlah mereka adalah separoh dari penduduk bumi? Tuhan macam apa yang memberikan ajaran semacam ini? Ataukah kita sendiri yang tak tepat memahami ajaran Tuhan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya secara kritis semacam ini bukan melawan esensi Islam sebagai agama ketundukan. Sebagaimana sudah saya tunjukkan di muka, bertanya secara kritis adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Sekali lagi, kita tunduk pada perintah Tuhan bukan seperti "budak bego" yang sama sekali tak berpikir. Kita tunduk tetapi harus dengan cara-cara yang rasional. Tunduk secara membabi-buta tanpa berpikir disebut oleh Quran sebagai tindakan orang-orang yang masuk kategori "syarr al-dawabb", "the ugliest animal", binatang yang teramat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain yang relevan untuk keadaan yang kita saksikan di sejumlah negeri-negeri Islam saat ini adalah masalah hukum hudud yaitu hukum pidana Islam seperti potong tangan, cambuk, dan lontar batu. Sebagaimana kita tahu, hukuman bagi pidana pencurian yang memenuhi syarat-syarat tertentu menurut Quran adalah potong tangan (QS 5:38). Saat ini, muncul sejumlah gerakan Islam yang ingin menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara. Hukum potong tangan adalah salah satu ajaran yang hendak mereka perjuangkan untuk menjadi hukum negara yang tentu bisa di-enforce melalui aparat pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca ayat di atas, kita bisa mengajukan sejumlah pertanyaan: apakah teknik menghukum pidana pencurian bersifat statis? Bukankah teknik pemidanaan dan penghukuman berkembang terus sesuai dengan perkembangan peradaban dan kematangan mental manusia? Bukankah hukum potong tangan itu warisan dari praktek-prektek penghukuman pada masyarakat kuno yang sangat kejam? Bukankah Islam hanya meminjam saja praktek-praktek penghukuman yang sudah ada? Jika perkembangan teknik penghukuman berkembang terus, apakah kita tak perlu meninjau "hukum Tuhan" itu? Bukankah yang penting adalah esensi penghukuman, bukan cara menghukum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bertanya seperti itu adalah bagian dari perintah agama, bukan melawan perintah agama seperti dikesankan oleh kaum Islam fundamentalis di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kritis semacam ini perlu kita kembangkan untuk memahami sejumlah ajaran dalam Islam. Sekali lagi, saya menganjurkan sikap ini di luar masalah ibadah murni. Dalam masalah ritual murni, saya menjalankan saja perintah agama dengan ketentuan-ketentuan yang ada. Meskipun detil-detil ketentuan itu masih bisa tetap diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sikap kritis saya berhenti pada saat berhadapan dengan masalah ibadah murni? Ini pertanyaan yang diajukan oleh beberapa teman kepada saya. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, dan saya tak memiliki pretensi untuk bisa menjawabnya secara memuaskan. Secara umum, jawaban saya adalah sebagai berikut. Masalah-masalah ibadah murni cenderung bersifat arbitrer, alias acak dan tanpa alasan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, kita bisa mengambil sejumlah contoh tindakan arbitrer dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh adalah praktek berlalu-lintas di sebelah kiri seperti kita jumpai di Indonesia. Kita bisa bertanya, kenapa kita tak memakai sistem lain, yaitu lalu-lintas dari sebelah kanan seperti berlaku di banyak negeri Eropa atau Amerika. Tentu kita bisa memberikan alasan pembenar untuk masing-masing praktek itu. Tetapi, pada akhirnya, jawaban yang paling masuk akal adalah: itu semua adalah pilihan suka-suka saja, alias arbitrer. Baik kanan atau kiri tidak mengandung alasan yang subtansial. Yang penting, lalu-lintas aman dan tertib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ibadah murni kurang-lebih sama dengan hal itu, meskipun tidak persis. Kita bisa bertanya, kenapa salat Magrib berjumlah tiga rakaat, kenapa tidak empat, kenapa tidak lima; kita juga bisa mencoba memberikan alasan-alasan pembenar. Tetapi, pada akhirnya, tak ada alasan yang masuk akal kecuali bahwa hal itu bersifat arbitrer. Tuhan sudah menentukan demikian, kita tinggal menjalankannya saja. Bagi saya, semua jenis ibadah yang dipraktekkan oleh agama apapun, sama statusnya: yaitu arbitrer. Yang penting di mata saya adalah bukan bagaimana cara beribadah, tetapi apakah anda bisa menghayati spiritualitas yang "genuine" dengan cara ibadah yang anda ikuti itu atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang beribadah dengan tujuan yang sama: membangun komunikasi dengan Tuhan sebagai Sumber, Pemberi, dan Pemelihara Kehidupan. Masing-masing agama memiliki cara ibadah yang "arbitrer". Tak ada alasan yang substansial di balik tata-cara ibadah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pemahaman Islam liberal yang ingin saya kembangkan; yakni beragama yang secara individual menekankan spirtualitas yang mendalam, dan secara sosial memakai pendekatan yang rasional dan kontekstual. Inilah corak agama yang memenuhi definisi Islam sebagaimana saya pernah pelajari waktu duduk di madrasah ibtida'iyah (setara dengan SD) puluhan tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil dulu, Islam, menurut buku pelajaran tauhid yang saya pakai saat itu, adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk membawa kebahagiaan di dunia sekarang dan akhirat kelak. Hingga sekarang saya masih ingat teks Arab definisi itu: al-Islam huwa al-din al-lazi ja'a bihi Muhammadun SAW li sa'adat al-insani fi al-'ajili wa al-ajili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan ukhrawi, dalam pandangan saya, dicapai melalui pengembangan spiritualitas yang mendalam. Sementara itu, kebahagiaan duniawi dicapai melalui usaha membangun kehidupan sosial-politik yang masuk akal. Definisi Islam seperti saya pelajari waktu kecil itu menarik sekali karena relevan untuk kita terapkan pada hampir semua agama. Inti definisi itu menggambarkan dengan baik sekali fungsi agama: yaitu mencapai kebahagiaan, entah di dunia sekarang, atau dalam kehidupan kelak. Tekanan ingin saya letakkan pada kata "kebahagiaan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang belajar filsafat Islam, akan dengan mudah menemukan relevansi konsep kebahagiaan ini dalam tradisi filsafat Islam yang sangat kuat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Kalau kita telaah karya-karya Al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (w. 1037 M) atau Ibn Miskawayh (w. 1030 M), kita akan menjumpai pembahasan yang menarik tentang konsep kebahagiaan. Dalam pandangan mereka, ada dua jenis kebahagiaan, yaitu kebahagiaan teoretis (al-sa'adah al-nazariyyah) yang diajarkan oleh filsafat, dan kebahagiaan praktis (al-sa'adah al-'amaliyyah) yang diajarkan oleh para nabi. Dua-duanya sangat vital dalam mencapai hidup yang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam filsafat Yunani, terutama dalam tradisi Plato, kita kenal konsep eudaimonia, yaitu kombinasi antara "kebajikan" (arete) dan "pengetahuan" (episteme). Dalam konsepsi ini, kebahagiaan sudah mengandung dua elemen sekaligus, yaitu pengetahuan (antara lain mengenai yang baik dan buruk) dan kebajiikan atau "virtue". Istilah "virtue" ini diterjemahkan dalam tradisi filsafat etika Islam sebagai "akhlaq". Sementara itu, istilah akhlak sendiri sering didefinisikan dalam filsafat Islam klasik sebagai "malakah" atau "habitus", yakni kebiasaan yang terbentuk dalam fakultas mental kita dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu tindakan praktis. Akhlak atau "virtue" dalam pengertian "malakah" adalah semacam "etika yang tertubuhkan" (embodied ethics).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, agama adalah jalan menuju kepada kebahagiaan itu. Kebahagiaan akan dicapai jika seluruh fakultas mental kita diberi keleluasaan untuk bekerja, bukan dikekang atas nama tradisi atau pemahaman tertentu. Oleh karena itu, etika kebebasan menjadi sangat vital dalam usaha mencapai kebahagiaan itu. Mereka yang tak bebas secara mental jelas mengalami depressi, dan itu sama sekali tidak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kebahagiaan juga tidak cukup hanya dengan mengembangkan fakultas mental belaka. Kita harus bertindak secara benar dalam kehidupan sehari-hari. Saat berbuat sesuatu yang benar dan baik, seseorang akan mengalami perasaan bahagia dan bebas. Sebaliknya, seseorang yang bertindak salah akan merasa resah, tertekan, dan tidak bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama adalah jalan mencapai kebahagiaan "teoretis" dan "praktis" semacam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mereka yang mengajarkan keislaman dengan cara merepresi kebebasan akal dan berpikir secara kritis, sama saja mengajarkan kebahagiaan yang tak seimbang, seperti burung dengan satu sayap saja. Tak ada gunanya kita tunduk pada perintah harafiah Tuhan jika kita tak bisa mempertanyakan perintah itu. Bertanya secara kritis adalah bagian integral dalam proses menuju kebahagiaan atau sa'adah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perpsepektif Islam liberal yang ingin saya kembangkan. Inilah cara saya memahami Islam. Saya merasa tenteram dan bahagia dengan pemahaman semacam itu. Sebetulnya, pandangan semacam ini sudah ada pada banyak kalangan dalam masyarakat. Hanya saja, jarang orang yang berani mengatakannya dengan terus terang, entah khawatir "diteror" oleh kalangan Islam radikal-fundamentalis, takut di-cap sesat, atau khawatir kehilangan "posisi sosial" tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak boleh tunduk atau takut pada ancaman kaum radikal-fundamentalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulil Abshar Abdalla&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8484126645078974150?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8484126645078974150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/menjadi-muslim-dengan-perspektif.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8484126645078974150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8484126645078974150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/menjadi-muslim-dengan-perspektif.html' title='Menjadi Muslim dengan Perspektif Liberal'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SK7ry1l4QiI/AAAAAAAAASI/SHOti9-9xL8/s72-c/aku+%26+dea.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3819079199292649364</id><published>2008-08-20T01:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T02:05:46.118-07:00</updated><title type='text'>Kesadaran dan Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKveNijg2VI/AAAAAAAAASA/ES7MZ7Dhmf8/s1600-h/dea+buka+baju.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKveNijg2VI/AAAAAAAAASA/ES7MZ7Dhmf8/s200/dea+buka+baju.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236523315943758162" /&gt;&lt;/a&gt;Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan. Apakah kita sudah merdeka secara individu? Siapakah kita? Apa yang harus kita capai dalam hidup ini? Dari mana kita berasal dan kemana kita akan berakhir? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin kadang-kadang muncul dalam pikiran kita. Bila kita manusia pragmatis, kita tak akan bertanya-tanya seperti ini. Ya udah jalani aja hidup ini, ngapain berat-berat mikir. Kalau jawabannya pake perspektif agama, pertanyaan-pertanyaan di atas sudah terang benderang ada dalam Kitab Suci, tinggal kita mengimaninya. Tapi apakah penjelasan itu cukup? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita resah dengan diri kita sendiri. Apalagi kalau lagi suntuk. Maka untuk mencari jawabannya, saya memilih untuk membuka kembali pernyataan-pernyatan filosof untuk membantu menemukan jawaban dari keresahan kita. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pernyataan eksistensi kita semua, tentang diri kita. Saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan memakai uraian Jean Paul Sartre, seorang filosof eksistensi yang sangat terkenal. Menurut Sartre, di dunia ini ada dua macam bentuk eksistensi. Yang pertama disebutnya dengan istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;etre-en-soi &lt;/span&gt;dan yang kedua dinamakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;etre-pour-soi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Etre-en-soi &lt;/span&gt;adalah suatu cara bereksistensi secara tertutup, utuh menutup dirinya seperti kita lihat pada benda-benda mati. Dia seperti tertutup rapat, tidak ada celah untuk melihat keluar. Karena dia menyatu dengan dirinya secara massif, dia seakan-akan selesai dengan dirinya. Dia tidak memiliki kesadaran sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya dengan eksistensi yang kedua, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;etre-pour-soi. &lt;/span&gt;Dia terbuka, tidak massif, melainkan retak. Karena itu dia dapat melihat keluar dan ini artinya dia memiliki kesadaran, kesadaran bukan saja tentang dunia luar tapi juga kesadaran tentang dirinya sendiri. Bentuk eksistensi semacam ini adalah bentuk eksistensi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kesadaran akan diri sebenarnya adalah pengingkaran akan diri sendiri juga. Dia meretakkan keadaannya yang sekarang, yang tadinya bersifat massif, rapat tertutup, karena dengan menyadari dirinya, dia mempertentangkan adanya kemungkinan yang lain. Dia lalu memproyeksikan dirinya kepada kemungkinan yang lain itu. Pada saat dia menyadari dirinya, maka dia tidak lagi menjadi dirinya, dia menjadi retak dua atau lebih karena dia menjadi dirinya dan juga kemungkinan atau kemungkinan-kemungkinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita melihat bahwa manusia adalah sebuah kemungkinan yang terbuka, dalam arti lain, manusia memiliki kemerdekaan (kebebasan). Dia punya pilihan kemungkinan mana yang akan dia ambil, dialah yang mempertimbangkan kemungkinan mana yang lebih baik dan seterusnya. Ini berarti, kalau pilihannya baik, maka dia akan merasa betapa manisnya kemerdekaan yang dia miliki. Sebaliknya, bila salah maka dia harus mempertanggungjawabkannya sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kemungkinan kedua ini membuat manusia ragu-ragu untuk memiliki kemerdekaan. Takut dengan hal yang buruk adalah wajar. Karena itulah banyak orang yang menyerahkan dirinya dengan pilihan orang lain yang memilihkan untuk kita. Karena kalau pilihan itu salah, kita tak terganggu oleh perasaan bahwa itu adalah tanggung jawab kita dan karena kita mengikuti pilihan orang lain, maka kita bukanlah satu-satunya orang yang melakukan kesalahan itu. Tidakkah lebih baik kalau kita mengikuti orang lain saja, dalam menentukan pilihan-pilihan yang datang setiap saat di dalam hidup ini. Adanya kenyataan ini membuat Kierkegaard berkata: “setiap saat manusia ada dalam keadaan memilih, atau tetap mempertahankan kemerdekaannya atau menjadi budak”. Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memilih untuk menjadi budak. Takut menanggung sendiri dengan konsekuensi dari pilihannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan dari kita takut untuk hidup sebagai dirinya, Dia hidup mengikuti cara-cara hidup yang sudah ditentukan oleh masyarakat sekelilingnya:kantor, keluarga, teman dan lainnya. Masyarakat sudah mengatur apa yang boleh dia lakukan dan apa yang tidak boleh dia lakukan. Kata Heidegger: “Kita gembira dan menjadi bahagia seperti juga mereka; kita membaca dan menilai apapun seperti cara mereka membaca dan menilainya; kita menjadi terkejut tentang hal-hal yang mereka anggap mengejutkan. Mereka, yang dalam kenyataannya kita tidak tahu siapa, adalah salah satu bentuk dari cara bereksistensi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah cara bereksistensi dari kebanyakan orang yang oleh Heidegger disebut dengan istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Das Man&lt;/span&gt;. Hidupnya hanya mengikuti “seperti yang dilakukan semua orang” dan kalau kita tanyakan kepada tiap orang yang ada, ternyata tiap orang ini mengikuti si “semua orang” ini. sehingga “semua orang” ini sama dengan “tidak seorang pun”, dia hanyalah alasan untuk membenarkan cara bereksistensi kita, yang menolak kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan seperti itu disebut oleh Heidegger sebagai keadaan manusia dalam keadaan kejatuhan atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Varfallenheit. &lt;/span&gt;Manusia ada di bawah taraf eksistensinya yang hakiki, yang memungkinkan dia bangkit sebagai individu. Dalam keadaan seperti ini, dia menjadi takut dan tidak menjadi bangga untuk bangkit menjadi seorang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keadaan seperti ini tidak bisa dipertahankan terus menerus karena pada dasarnya dengan adanya kesadaran pada manusia, dia adalah seorang individu. Ada keadaan-keadaan yang memaksa dia untuk keluar dari persembunyiannya di dalam kehidupan bersama masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, mungkin saya termasuk dalam kategori manusia kebanyakan, yang takut dengan pilihan-pilihan sendiri dan konsekuensinya, yang belum merdeka, yang belum bisa memaksimalkan kesadaran diri sebagai individu. Meski saya terus menerus berusaha untuk menjadi individu yang merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, kok serius banget ya? :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3819079199292649364?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/3819079199292649364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/kesadaran-dan-kemerdekaan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3819079199292649364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3819079199292649364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/kesadaran-dan-kemerdekaan.html' title='Kesadaran dan Kemerdekaan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKveNijg2VI/AAAAAAAAASA/ES7MZ7Dhmf8/s72-c/dea+buka+baju.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1676308352643794377</id><published>2008-08-19T07:42:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T07:46:11.524-07:00</updated><title type='text'>Tentang Buku "Pergulatan Iman"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKrcNL5DGCI/AAAAAAAAARg/-eYyMuZuVKo/s1600-h/pergulatan-iman-107x150.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKrcNL5DGCI/AAAAAAAAARg/-eYyMuZuVKo/s200/pergulatan-iman-107x150.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236239635860101154" /&gt;&lt;/a&gt;Mungkin kita sudah biasa membaca atau mendengar persoalan agama dibicarakan dan ditulis oleh orang-orang yang menamakan dirinya tokoh-tokoh agama baik itu kyai, ulama, ustadz, pendeta, romo, bikhu dan sebagainya. Seakan-akan soal agama dan keyakinan hanyalah milik tokoh agama tersebut. Dalam buku ini kita akan membaca sesuatu yang “lain” soal agama. Yaitu bagaimana orang-orang dari latar belakang yang bukan ahli agama mendedahkan pemahaman dan pengalamannya dalam beragama. Mereka berbicara secara blak-blakan soal imannya yang sangat pribadi dan merupakan bagian dari pergulatan hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara yang terangkum dalam buku ini merupakan wawancara yang dilakukan sepanjang tahun 2002 sampai 2005, dimana pembaca bisa menikmati pengalaman keagamaan seorang Munir, pahlawan HAM kita yang kemudian “dibungkam”selamanya. Atau pengalaman Dee Lestari yang saat itu masih beragama Protestan, sekarang menjadi Budhis. Semua wawancara di buku ini merupakan transkrip talk show yang menjadi salah satu program kegiatan Jaringan Islam Liberal (JIL). Acara ini bekerja sama dengan Kantor Berita Radio 68H yang mengudara sejak bulan Juni 2001 dan disiarkan di 30 radio seluruh Indonesia sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di radio, wawancara ini juga dimuat di Jawa Pos dan jaringannya seluruh Indonesia yang juga merupakan program sindikasi media JIL dan website www.islamlib.com. Tujuan program talk show radio ini adalah ingin berinteraksi langsung dengan publik pendengar, berdiskusi dan memperbincangkan secara bebas soal-soal keagamaan dan keislaman yang ramah, toleran, tanpa saling menyalahkan dan merasa diri paling benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara talk show radio ini, di setiap awal bulan, kami mengundang anak muda dari pelbagai latar belakang disiplin selain disiplin agama, untuk berbicara tentang persoalan dan pengalaman keagamaannya. Ada aktivis LSM, aktivis perempuan, ekonom, politisi dan lain-lain. Kami sengaja membuat acara ini untuk mengetahui sejauhmana agama bagi teman-teman muda ini yang memang “tidak sengaja” belajar agama menjadi inspirasi hidup dan aktivitas sosialnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program-program JIL baik di radio, sindikasi media maupun di website bertujuan dalam rangka mencipta ruang publik bagi siapa saja untuk mengungkapkan dan mengekspresikan pergulatan dan perbincangan keagamaannya. Mengutip istilah Irshad Manji, feminis muslim dari Kanada, kita mencoba mengungkap, menjalani dan melakoni  “beriman tanpa rasa Takut” dari siapapun dan apapun karena persoalan Iman adalah persoalan dan tanggung jawab pribadi langsung kita dengan sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diterbitkan bekerja sama dengan Penerbit Nalar dan sekarang sudah tersedia di toko-toko buku. Sebenarnya, rencana penerbitan ini sudah lama dibicarakan tapi baru sekarang terlaksana. Semoga penerbitan buku kumpulan wawancara ini berguna dan menjadi inspirasi untuk semua. Selamat membaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1676308352643794377?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1676308352643794377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/tentang-buku-pergulatan-iman.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1676308352643794377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1676308352643794377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/08/tentang-buku-pergulatan-iman.html' title='Tentang Buku &quot;Pergulatan Iman&quot;'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_O6p0Oc3MO2o/SKrcNL5DGCI/AAAAAAAAARg/-eYyMuZuVKo/s72-c/pergulatan-iman-107x150.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1059973348902912551</id><published>2008-08-01T00:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T05:20:49.451-07:00</updated><title type='text'>Tentang Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGYNz7O_II/AAAAAAAAAHg/vX9GhxBT_k8/s1600-h/IMGA0001.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGYNz7O_II/AAAAAAAAAHg/vX9GhxBT_k8/s200/IMGA0001.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5062494819185523842" /&gt;&lt;/a&gt;Saat ini, hidupku seperti dalam mimpi, karena berbeda dengan dunia nyata yang selama ini kulalui. Tapi bisa juga, aku hidup di dunia nyata dan baru saja keluar dari alam mimpi. Hasrat-hasrat yang selama ini hanya bisa hadir dalam mimpi, kini menjelma dalam dunia nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup dalam dunia nyata tapi berbeda dengan sebelumnya, karena ada beberapa mimpi yang menjelma nyata. Tentu saja, aku saat ini tidak bermimpi tapi memimpikan. Namun jika ditanyakan esok, aku tidak tahu, apakah kenyataan saat ini akan tetap menjadi kenyataan esok hari, atau aku sedang terseret menuju alam impian yang merupakan ‘mimpi masa depan’. Saat ini, ia hadir di dunia nyata setelah sebelumnya berasal dari alam mimpi. Dan bagiku, menyanyangimu adalah mimpi sekaligus impian. Mimpi kemaren, dan impian mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, mimpi menjadi nyata, baik saat ini, ataupun nanti dalam impian. Mimpiku selama ini adalah Cinta sedangkan impiannya adalah Kita. Saat ini yang nyata adalah Cinta namun belum membentuk Kita. Cinta adalah gagasan yang berasal dari mimpi, sedangkan Kita adalah bentuk impian dan harapan mendatang. Cinta telah mempertemukan ‘aku’ dan ‘Kamu’. Cinta ibarat simpul, menautkan dua utas tali. Seperti bejana dia akan mengumpulkan dua jiwa. Ibarat delta, ia adalah muara dari dua alur sungai perasaan. Dan Kita adalah sepasang dari dua raga, dan sekeping dari dua wajah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu memimpikan menjadi pasangan yang ideal. Saling memberi dan menerima, laksana langit dan bumi, seperti sebait yang diliris oleh Mawlana Jalaluddin Rumi dalam puisinya,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menurut akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita, apa saja yang diberikan oleh satunya, yang lainnya menerima&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGD8D7O_HI/AAAAAAAAAHY/fbYnw630HJM/s1600-h/IMG_0463.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGD8D7O_HI/AAAAAAAAAHY/fbYnw630HJM/s200/IMG_0463.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5062472524010290290" /&gt;&lt;/a&gt;Puisi di atas menggambarkan sebuah siklus kehidupan. Langit menurunkan hujan, bumi menerimanya untuk menyuburkan tanah, dari rahimnya tumbuh beraneka ragam tanaman, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk. Pada saat lain, air hujan yang melimpah-ruah, ditampung, diuapkan dan kembali menuju langit, menjadi gumpalan-gumpalan awan, berubah mendung, dan menurunkan hujan. Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan bak ruh dan jasad, tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Jalaluddin Rumi melanjutkan puisinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruh tidak bisa berfungsi tanpa badan, dan tanpa ruh, badan layu dan dingin badanmu tampak dan ruhmu tersembunyi keduanya inilah yang mengatur urusan dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi masyarakat Yunani klasik, cinta diklasifikasikan menjadi tiga. Yaitu, cinta Eros, Philos dan Agape. Tiga perasaan kasih sayang ini sering dikutip orang-orang yang berbicara tentang cinta. Mari kita bahas untuk mengingatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Eros&lt;/span&gt; adalah cinta sensual, cinta ini bersumber dari keinginan untuk memiliki, dorongan menuntut, mendesak, mengambil, bukan memberi. Cinta ini murupakan perwujudan dari ego seseorang yang ingin menunjukkah eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menaklukkan dan memperbudak adalah tujuan dari cinta ini. Orang Yunani kuno melambangkan cinta ini dengan Cupid yang melepaskan anak panah beracun ke jantung manusia. Iqbal melukiskan cinta ini dengan kata-katanya, cinta adalah anak kecil yang bermain membentuk individualitas kita kemudia berkata lirih lepaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Philos&lt;/span&gt; adalah cinta yang tumbuh dari persahabatan dan kebersamaan yang mendalam, orang jawa menuturkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;witing tresna jalaran soko kulina&lt;/span&gt; (cinta bersemi, karena kebiasaan). Ia bergerak, mendesak jauh masuk ke dalam. Ia tidak hanya menuntut, tapi, berusaha membagi, berempati, memahami dan menaklukkan ego masing-masing. Keindahan bukan pada dataran material, tapi imaterial, yang menarik "kita" bukan bersumber dari hubungan individu tapi hubungan sosial, bukan senyuman, namun keakraban, bukan pemberian namun kebersamaan, tidak hanya sekedar simpati namun berempati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan bukan untuk dihilangkan namun dibentuk menjadi ritme-ritme musik kehidupan. Bukankah lagu yang indah berasal dari perbedaan tujuh tangga nada, do, re, mi, fa, so, la, dan si... Perbedaan untuk dipahami, dan dipertemukan. Jarak di sini dilambangkan dengan ruang dan waktu, tempat dan zaman yang memisahkan jasad-jasad. Namun, jarak terpenting yang harus diruntuhkan adalah jarak ruh, yang bersumber dari ego masing-masing pasangan. Pertemuan di sini adalah titik akhir dari proses pengertian dan pemahaman terhadap orang lain, dan diri sendiri, sehingga bisa memahami orang lain dan mampu meruntuhkan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGZej7O_JI/AAAAAAAAAHo/ZWdZf0Cc6UA/s1600-h/IMG_0055.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGZej7O_JI/AAAAAAAAAHo/ZWdZf0Cc6UA/s200/IMG_0055.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5062496206459960466" /&gt;&lt;/a&gt;Cinta &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agape&lt;/span&gt; adalah cinta yang paling tertinggi. Cinta ini ditandai dengan perhatian aktif pada orang yang kita cintai, keinginan untuk diterima di sisinya. Ada kedambaan yang membara untuk memberikan segalanya pada sang kekasih tanpa syarat dan pamrih. Agape adalah cinta spiritual yang jauh menyelam dari dataran badani ke dalam nurani. Jalaludin Rumi mengatakan mencari hati dan meninggalkan tulang. Cinta Agape adalah muara jiwa dari dua jenis cinta di atas, "semangat"nya mewakili cinta Eros dan "empati"nya mewakili cinta Philos. Namun kelebihannya, Agape berusa mencari dimensi-dimensi (sudut-sudut) yang belum diungkap oleh cinta Eros dan Philos. Cinta inilah yang akan memberikan&lt;br /&gt;keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga cinta ini bisa dilihat sebagai sebuah proses. Dari cinta Eros, mendaki menuju Philos: dan Agape sebagai puncak. Namun bisa juga dipahami sebagai satu-kesatuan karakter manusiawi yang harus ada dalam jiwa masing-masing pasangan. Kalau dalam bahasa Al-Quran—Surat al-Rum ayat 31—disebut istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mawaddah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rahmah&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mawaddah&lt;/span&gt; identik dengan cinta kasih (birahi?). Cinta ini menautkan perasaan antara laki-laki dan perempuan, dan bersumber dari masing-masing ego pasangan untuk memiliki dan dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rahmah&lt;/span&gt; (kasih sayang) adalah perasaan sayang, yang bersumber dari empati. Cinta model ini melahirkan perasaan untuk mengayomi, melindungi, dan menyantuni. Seperti perasaan kasih sayang orang tua pada anak, kakak pada adik, saudara terhadap saudara yang lain, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dari perasaan ini mutlak diperlukan dalam pasangan yang mendambakan ketentraman. Ego dan empati sama-sama penting, dengan ego kita mempunyai kekuatan untuk saling memiliki, dengan empati kita mempunyai kekuatan untuk bersama, saling mengisi, dan menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga Tuhan menyemai cinta kasih-Nya dalam ego dan empati yang terhampar di hati Kita. (dun2!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1059973348902912551?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1059973348902912551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/05/tentang-cinta.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1059973348902912551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1059973348902912551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/05/tentang-cinta.html' title='Tentang Cinta'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RkGYNz7O_II/AAAAAAAAAHg/vX9GhxBT_k8/s72-c/IMGA0001.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5091903958777736718</id><published>2008-07-22T02:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T03:03:08.781-07:00</updated><title type='text'>Wawancaraku dengan Ayu Utami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWwDa9rU_I/AAAAAAAAAQo/_EwzPSvUk9Y/s1600-h/n1057007906_74560_5609.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWwDa9rU_I/AAAAAAAAAQo/_EwzPSvUk9Y/s200/n1057007906_74560_5609.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225776515457438706" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah sempat off  selama hampir 7 tahun, Ayu Utami kembali mengeluarkan novel terbaruya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bilangan Fu&lt;/span&gt;. Tentu saja pembaca jangan berharap novel ini akan semanis novel pertamanya, Saman. Dalam novel ini, kita akan melihat kematangan Ayu Utami menulis, bercerita, dan bagaimana dia menafsirkan cerita rakyat serta mengelola begitu banyak berita “ganjil” yang terjadi dalam masyarakat kita. Ayu berhasil merumuskannya menjadi manifesto sikap keagamaan yang ia tawarkan untuk kondisi sekarang: spiritualisme kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk acara peluncuran novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bilangan Fu&lt;/span&gt; yang diluncurkan Minggu malam di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta, aku mewawancarai Ayu Utami seputar proses kreatif penulisan dan latar novel ini dicipta. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbak Ayu, dibanding dengan novel-novel sebelumnya, saya melihat tema yang diangkat dalam novel ini cukup berat yaitu ingin mengritik 3 M: modernisme, monotheisme dan militerisme. Kenapa? Bisakah diceritakan proses awal kenapa mengambil tema ini? Bagaimana proses penulisannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang 3M itu saya rumuskan sambil mendaki gunung Gede, olah raga rutin saya. Biasanya, sambil berjalan saya merenung-renung. Lalu, muncullah ide itu setelah pikiran saya berputar-putar sampai tak begitu bisa saya sadari lagi. Barangkali jalarannya begini. Pada masa Orde Baru, sebagai aktivis kemerdekaan pers, kami tahu bahwa musuh utama demokrasi adalah militerisme. Itu "M" yang pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang? Setelah Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, kita menghadapi ancaman baru. Yaitu, ancaman yang berasal dari ketidakbebasan pikiran. Keengganan bahkan ketakutan terhadap kebebasan pikiran. Ini rupa-rupanya berasal dari beberapa hal. Dalam kasus Indonesia: satu, ketakutan. Ketakutan pada apa? Ketakutan bahwa kemerdekaan akan menghilangkan identitas kita sebagai "bangsa timur", "bangsa beragama", atau apapun yang kita percaya sebagai identitas kita. Sedihnya, ketakutan ini ternyata dipelihara melalui-atau menggunakan-agama. Ditambah dengan meningkatnya kekerasan atas nama agama sepuluh tahun belakangan ini. Kebetulan Indonesia mayoritas muslim. Maka, itulah "M" yang kedua: monoteisme. Saya percaya bahwa Islam maupun Kristen, yakni agama-agama monoteis, memiliki persoalan mendasar dalam kapasitas menerima perbedaan. Ini harus diakui secara jujur tanpa takut. Dua, ketidakbebasan pikiran ini datang dari kemanjaan yang dipelihara oleh kapitalisme. Kapitalisme tak bisa dilepaskan dari modernitas. Itulah "M" yang ketiga. Modernitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah 3M yang saya sebut sebagai ancaman terhadap dunia postmodern: Militerisme, Monoteisme, Modernisme. Hahaha. Ini autokritik sesungguhnya. Sebab, saya punya idealisasi tertentu pada militer. Saya penyuka pria dengan military-look. Tegap. Cepak. Hehe. Saya juga menikmati buah kapitalisme. Saya juga lahir dari tradisi monoteis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya ingin tanya lebih detail lagi. Apa sih yang anda maksud dengan modernisme itu? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebetulnya terminologi yang tepat adalah modernitas. Atau pemikiran modern. Bilangan Fu juga bercerita tentang persoalan lingkungan. Rusaknya lingkungan karena eksploitasi dari manusia modern yang kelewat batas. Dalam skala besar: pemanasan global. Tapi, novel kan harus mengambil skala yang lebih kecil dan terfokus. Maka saya bercerita tentang eksploitasi penambangan gunung gamping di pantai selatan Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa alasan ekspolitasi? Ekonomi! Alasan ekonomi semata. Nah, inilah alasan yang sangat khas datang bersama modernitas dan konconya, kapitalisme. Manusia memandang dunia dari sudut kepentingan ekonomi belaka. Dari sudut kepentingan dirinya belaka. Manusia modern tak punya rasa hormat pada alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhananya begini. Dulu, ketika masih hidup dengan "takhayul" tentang roh-roh penunggu bumi, manusia bersikap hormat pada alam. Masyarakat adat biasanya tidak berburu atau menebang pohon kelewat batas. Mereka permisi sebelum masuk hutan. Nah, manusia modern-yang telah berpikir rasional dan tak lagi takut pada takhayul-kehilangan rasa hormat itu. Jika dulu manusia tradisional melihat alam sebagai subyek, kini alam semata-mata obyek. Dulu bumi harus disajeni, kini bumi hanya untuk dieksploitasi. Manusia modern telah demikian sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik saya yang terutama adalah bahwa pemikiran modern yang terlalu mengagungkan rasio atau akal telah terlampau jauh meremehkan nilai-nilai tradisi, yang sesungguhnya sangat positif terhadap alam, dan juga telah merendahkan bumi. Ah, kita juga tahu, dalam perdebatan filsafat, bahwa rasio itu tak lepas dari kepentingan. Tak lepas dari libido, kata Freud. Tak lepas dari kekuasaan. Akal sehat itu tidak sehat-sehat amat. Kerusakan bumi menunjukkan bahwa rasio telah menjadi alat dari kehendak berkuasa saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nah, dari penjelasan anda tadi, apa sebenarnya yang ingin anda tawarkan dalam mengritik modernisme ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tawaran saya: spiritualisme kritis! Manusia tak hanya punya kepentingan jahat. Manusia juga punya kepentingan baik. Sama seperti manusia tak hanya punya nafsu rendah, tapi juga nafsu luhur. Kita switch, kita alihkan saja. Jadikan akal instrumental itu alat dari kehendak baik. Apa yang mendesak sekarang? Menyelamatkan bumi! Bukan menyelamati akhirat! Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan kritis. Inilah yang patut disyukuri tiada habis dari modernitas, buah rasio. Ini yang saya kira harus kita genjot. Kita kritik diri kita. Kita kritik nafsu-nafsu berkuasa kita. Karena itu, saya menawarkan "spiritualisme kritis." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, ketika rasionalitas berkembang, mereka mencurigai habis-habisan agama. Tuhan sudah mati, kata Nietzsche. Tapi, kesalahan kaum sekularis-dengan menampik agama-adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Karena itu, kita butuh merebut kembali agama. Dan menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka. Kita harus lebih belajar dari agama-agama bumi. Yaitu, sekali lagi, untuk menyelamatkan dunia lebih daripada mendahulukan akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anda juga mengritik monotheisme. Apa yang salah dengan konsep ini?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ada yang salah dengan slogan monoteis ini: kami mencari akhirat, bukan dunia. Dalam Bilangan Fu, saya khususnya menyoroti secara prihatin kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Monoteisme-entah Kristen entah Islam-merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama-agama lokal ini memiliki penghormatan yang luar biasa pada alam. Dikotomi monoteis atas dunia dan akhirat harus dikaji ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh yang pantas membuat kita prihatin adalah, dua tahun lalu, segerombol pemuda dengan atribut Pemuda Persatuan Islam (Persis) di Jakarta memangkasi sebuah beringin tua di Harmoni. Alasannya karena pohon itu dianggap keramat, bahkan jalur busway pun tak boleh merobohkannya. Pemerintah kota juga mempertahankan pohon itu karena nilainya bagi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah cerpen yang sangat puitis dari Marguerite Yourcenar tentang seorang rahib Kristen Ortodoks yang menghanguskan hutan demi mengusir jin dan peri. Pada akhirnya jin dan peri itu bersembunyi di gua pada sebuah bukit cadas. Untuk memenjarakan mereka, sang rahib mendirikan gereja menutup mulut gua itu. Tapi, Perawan Maria membebaskan peri dan jin itu dari balik jubahnya sebagai burung-burung layang-layang. Buat saya: agama tak berhasil membebaskan manusia. Manusia memanjakan nafsu berkuasanya dengan agama, tapi yang suci memberikan kasihnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbak Ayu, setting dan tokoh dalam novel ini tentang pemanjat tebing. Kenapa anda mengambil setting dan tokoh tentang itu? Kenapa si akunya bukan perempuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya belum siap bercerita tentang diri saya sendiri. Hahaha… Saya masih ingin menyembunyikan pribadi saya. Hehehe…. Saya kira penulis justru leluasa untuk menjadi bukan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya awal cerita ini sangat pribadi dan sederhana. Yaitu, kisah masa lalu kekasih saya, Erik Prasetya. Ia memiliki sebuah periode sangat bahagia di masa mudanya, ketika ia menjadi pemanjat tebing, memiliki sahabat, sesama pemanjat, yang ia sayangi, serta kekasih yang ia cintai. Mereka membangun persahabatan yang istimewa antar tiga manusia. Sahabat itu mati dalam kecelakaan di tebing. Setelah itu, hubungan dia dan kekasihnya tak bisa sama lagi. Saya terkesan dengan hubungan yang puitis itu dan tragedi yang mengakhirinya. Betapa rentan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sisa cerita dan pergulatan pemikirannya adalah bagian saya sendiri. Saya menulisnya di masa setelah reformasi. Keprihatinan saya adalah gangguan atas kedamaian dan hak sipil dari gerombolan yang memakai nama agama. Jadi, keprihatinan saya adalah ini: reformasi memberi kita kemerdekaan, tapi masyarakat tidak siap dengan kemerdekaan itu. Dan agama dipakai untuk menolak kemerdekaan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya punya kesan novel Bilangan Fu dibanding novel Saman, sepertinya hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas karena soal tema yang diangkatnya cukup berat, orisinil, dan gaya bahasanya juga lebih berat dan penuh data, tidak secair seperti novel Saman. Apakah anda sengaja memilih seperti ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kok tidak begitu sepakat. Struktur ceritanya sebetulnya sangat padat dan sederhana. Lebih sederhana daripada Saman ataupun Larung. Yaitu, tentang cinta segitiga yang istimewa. Tentang usaha menyelamatkan kawasan karst atau gamping. Memang Saman lebih manis. Karena si "aku" penceritanya adalah perempuan lugu yang sedang jatuh cinta dan melankoli. Larung lebih gelap karena karakter yang memiliki sejenis kegilaan. Bilangan Fu diceritakan oleh karakter yang sinis dan skeptis: Yuda. Memang ia punya cara pandang yang khas dan suka mengomentari banyak hal. Tapi, Yuda yang membuat struktur cerita yang sederhana menjadi tidak biasa. Yuda yang membuat hal sehari-hari jadi nampak aneh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbak, kenapa sih judul novelnya Bilangan Fu? Banyak yang bertanya soal judul ini. Terus, apa sih Bilangan Fu itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula saya ingin menamainya Jalur 13. Semula ceritanya adalah jalur pemanjatan maut berangka 13. Angka yang dianggap sial. Lucunya, angka 13-yang dianggap sial di Barat ini-jika diurai dan dijumlah sebagai 1+3 hasilnya adalah 4. Yaitu Tsi, angka sial di Cina. Hehehe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya semula memang ingin bermain-main dengan sebuah bilangan yang dianggap angker. Tradisi membuat saya berputar-putar pada bilangan 13. Ternyata akhirnya saya berakhir dengan sebuah bilangan yang memiliki properti 0 dan 1 sekaligus. Bilangan ketiga belas dalam sistem bilangan berbasis 12, bukan berbasis 10. Ada banyak hal menarik mengenai perbedaan bilangan berbasis 12 dan 10 ini. Semenarik fakta bahwa jari&lt;br /&gt;kita sepuluh dan fakta bahwa bumi mengelilingi matahari dalam 12 bulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun, bilangan fu adalah bilangan yang metaforis, bukan matematis. Spiritual, bukan rasional. Ia merupakan kritik bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme terlalu matematis. Ketika monoteisme dirumuskan, orang belum mengenal bilangan 0. Konsekuensinya, 1 yang dimaksud bisa sama dengan konsep mengenai 0, yaitu yang penuh sekaligus kosong, tidak terbatas, tidak rasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kenapa "Fu"?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula karena ada alat musik tiup yang bernama Fu. Tapi, perhatikan, bunyi "fu", juga "hu", dan bunyi bersuara bilabial adalah bunyi dasar. Bilabial adalah bunyi konsonan yang dibuat dari aliran udara menggetarkan dua bibir. Kalau kita bernafas keras, kita mengeluarkan bunyi yang mirip ini. Buat saya, itu bunyi nafas. Bunyi kehidupan. Ya.&lt;br /&gt;Bunyi hidup tapi bukan bunyi nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari "ma", seperti dalam "mama" atau "makan"; "pa", seperti dalam "papa" atau "pangan"; "da" seperti dalam "dada". "Ma", "pa", dan "da" adalah bunyi libido. Saya&lt;br /&gt;tulis di Bilangan Fu,  "ma" dan "pa" adalah bunyi perut, yang mencintai rasa kenyang. "Fu", atau variasinya "hu", dalah bunyi hidung, yang dari sana manusia bernafas. Fu adalah bunyi ruh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam novel ini juga banyak tersaji tentang cerita rakyat dan pewayangan. Apakah anda punya tendensi ingin menafsir ulang cerita-cerita tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya. Bagi saya cerita rakyat dan pewayangan, seperti juga kitab suci, terlalu kerap ditafsirkan dengan penyederhanaan berlebihan. Saya ingin menyumbang dalam tafsir yang seharusnya lebih kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, saya ingat, ada seorang guru SD yang protes terhadap cerita rakyat. Menurut dia cerita rakyat itu bukan cerita anak-anak. Contohnya cerita Sangkuriang, yang bercerita tentang hubungan seks. Lha! Memang, cerita rakyat bukan cerita anak-anak. Tapi, bukan berarti tidak boleh diperkenalkan kepada anak-anak juga. Keistimewaan legenda adalah karena ia bisa disampaikan sebagai cerita segala umur, termasuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di lapisan berikutnya ia mengandung bahan dan data yang lebih kompleks. Kita harus memelihara kekayaan itu. Lagi pula, setelah berumur, saya tahu dan percaya tak  ada yang sungguh-sungguh baru di dunia ini. Jadi, kenapa tidak menggarap tema-tema klasik? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berapa lama anda menyelesaikan novel ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Empat tahun penuh kegagalan. Setelah itu, sembilan bulan menuliskannya dalam bentuk yang sekarang ini dengan sangat lancar. Dalam empat tahun sebelumnya, sejak akhir 2003, saya mencoba menulis dan terus merasa gagal. Saya berlatih panjat tebing, penelusuran gua, dan pelbagai lain. Begitu banyak waktu, tenaga, dan uang yang saya habiskan, sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya puas. Saya merasa seperti pemanjat bersih. Yaitu, yang tidak memaksakan ide pada cerita. Seperti tidak memaksakan bor dan paku pada gunung batu. Saya merasa memanjat dengan jalur yang disediakan alam dan dengan peralatan yang tidak merusak tebing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mbak, apa saja hambatan dan tantangan yang dialami ketika menulis novel ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tantangannya, saya tidak ingin mengulangi Saman dan Larung. Saman dan Larung ditulis di masa Suharto yang otoriter. Karena itu, saya ingin membebaskan diri dari linearitas bercerita. Dalam keduanya, saya ingin bercerita yang tidak lurus tidak padat, melainkan longgar. Bilangan Fu tidak. Saya ingin kembali kepada cerita yang sederhana. Apalagi di masa yang khaos dan ribut ini, saya ingin kembali kepada plot yang lurus. Ternyata tidak mudah memberi makna baru pada kesederhanaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertanyaan terakhir mbak. Adakah perasaan "terbebani" karena khawatir novel ini tidak sebagus atau tidak sesukses novel Saman?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak. Sukses itu selalu separuh nasib. Nasib tidak bisa dipaksakan. Saman sukses karena dia yang pertama di zamannya. Dia pemberontakan. Dia menghantar pada masa perubahan. Dia diluncurkan sepuluh hari sebelum Suharto jatuh! Dia membawa gosip pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya yakin bahwa Bilangan Fu lebih bagus daripada Saman. Paling tidak, saya lebih puas terhadap Bilangan Fu dibanding Saman. Secara struktur dia lebih kompak, lebih padat. Secara isi dia lebih berbobot. Saya juga senang bisa melibatkan gambar dari banyak khasanah, bisa memasukkan berita-berita koran yang absurd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sekali lagi Bilangan Fu tidak manis dan lembut seperti Saman. Tapi, itulah hidup. Seperti anggur atau keju. Saya bertambah umur. Saya tidak bisa terus-menerus lembut seperti keju muda. Saya tak bisa terus-menerus manis atau jualan manis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5091903958777736718?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5091903958777736718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/07/wawancaraku-dengan-ayu-utami.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5091903958777736718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5091903958777736718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/07/wawancaraku-dengan-ayu-utami.html' title='Wawancaraku dengan Ayu Utami'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWwDa9rU_I/AAAAAAAAAQo/_EwzPSvUk9Y/s72-c/n1057007906_74560_5609.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5588060394408555213</id><published>2008-07-18T01:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T02:34:54.967-07:00</updated><title type='text'>Irshad Manji dan Muslim Refusenik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWnHRNyV-I/AAAAAAAAAQg/7T7d4zy_lcY/s1600-h/PICT3707.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWnHRNyV-I/AAAAAAAAAQg/7T7d4zy_lcY/s200/PICT3707.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225766685955479522" /&gt;&lt;/a&gt;April lalu, Irshad Manji berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya ini dalam rangka penerbitan bukunya dalam edisi bahasa Indonesia berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini&lt;/span&gt;. Buku yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith &lt;/span&gt;ini sudah diterjemahkan dalam 30an bahasa di dunia. Karyanya ini mengguncang jagad pemikiran keislaman dan dianggap mengancam para otoritas keislaman karena gayanya yang blak-blakan tentang persoalan-persoalan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diakui oleh Dr. Khaleel Mohammed, seorang Imam yang belajar Ilmu Syari’ah di Muhamad bin Saud University Riyadh dan sekarang menjadi Professor Islam di San Diego State University. Dia mengatakan dalam pengantar buku Irshad Manji: T&lt;span style="font-style:italic;"&gt;he Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith&lt;/span&gt; bahwa semestinya dia membenci Irshad Manji. Karena Manji telah mengancam  posisi dia sebagai Imam lewat pemikiran-pemikiran yang kritis tentang Islam. Bila umat Islam menerima pemikiran Manji maka peran dia sebagai Imam yang mempunyai peran penting dalam menggawangi dan merumuskan ajaran Islam, akan selesai dan tidak berguna lagi. Selain itu, kata Mohammed, Manji juga mengancam posisinya sebagai laki-laki karena Manji terang-terangan mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian, yang menurutnya, status itu jelas-jelas dilaknat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mohammed buru-buru menyadari kalau ia tak sepatutnya membenci Manji. Lewat proses kegelisahan yang cukup panjang akhirnya Mohammed mengakui kalau apa yang dilakukan Manji selama ini lewat gebrakan pemikirannya yang selalu mengajak umat Islam untuk bersikap terbuka, toleransi, mengkritik kalangan Islam radikal, dan menentang penindasan, termasuk penindasan-penindasan yang dirasionalisasikan oleh para imam, sheikh, mullah, professor dan siapapun dengan berani berijtihad, adalah benar adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Mohammed menegaskan bahwa dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran Manji, namun karena ajaran Islam itu sangat menghargai kebebasan berpikir maka usaha dan pemikiran Manji harus dipahami sebagai salah satu bentuk ijtihad dirinya yang meski dipuji dan dihargai. Apalagi tindakan Manji selama ini karena didasarkan pada ayat Alquran yang mengatakan: ” Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu..."(Quran, 4:135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya Manji bukanlah berlatar belakang studi Islam. Tetapi ia mempunyai riwayat hidup yang menarik dalam keluarganya yang mempengaruhi pemikiran dan pilihan hidupnya. Sebagai seorang lesbian, ia tidak merasa ”berdosa” atas pilihan orientasi seksualnya meski ia tahu bahwa agamanya tidak memberi tempat pada pilihannya itu. Pertanyaannya: jika Tuhan yang Maha Tahu dan Maha berkuasa tidak ingin menjadikan aku seorang lesbian, kenapa Tuhan tidak menciptakan orang lain untuk menggantikan posisiku? Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMaha Kuasaanya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manji menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas British Columbia dalam bidang Sejarah Ide. Di tahun 1990, dia mendapatkan penghargaan Governor General's Silver Medal untuk lulusan bidang kemanusiaan. Kemudian bekerja di Parlemen Kanada menjadi asisten legislatif, sekretaris media di Pemerintah Ontario dan menjadi penulis naskah pidato untuk pemimpin New Democratic Party. Di usia 24 tahun, ia menjadi editor nasional untuk Ottawa Cittizen, dan menjadi anggota termuda sebagai editor di Canadian daily. Ia juga menjadi host dan produser untuk beberapa acara televisi dan memenangkan Gemini, penghargaan bergengsi televisi di Canada. Tahun 2002, ia menjadi penulis di Hart House Universitas Toronto, dari sinilah Manji mulai menulis buku The Trouble with Islam Today yang membuatnya kontrovesial. Sekarang ia menetap di New York dan memegang Moral Courage Project, sebuah lembaga non profit yang diperuntukkan untuk pemberdayaan anak-anak muda seluruh dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pencarian keislamannya, Manji menemukan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam umat Islam saat ini dalam memahami ajaran Islam yang semestinya. Hal ini, menurut Manji, dikarenakan penafsiran Islam yang literer dan dogmatis yang diajarkan oleh para imam dan otoritas keislaman lainnya. Inilah yang membuat, istilah dia, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam today.&lt;/span&gt; Karena itu Manji berseru keras agar umat Islam harus berani berijtihad, membuka &amp; menafsirkan ajaran Islam kembali dengan pemikirannya sendiri yang sesuai dengan konteks dan persoalan yang dihadapi sekarang ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam, Manji sangat nyaring menggaungkan pentingnya ijtihad di kalangan umat Islam saat ini. Meski Manji bukanlah seorang sarjana muslim yang sengaja dan secara spesifik belajar tentang Islam namun keberhasilan dia adalah dia telah dengan jujur dan berani serta bersikap untuk mengungkapkan sesuatu yang salah yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang "dipraktekkan" dalam masyarakat saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ia menyebut dirinya sebagai Muslim Refusenik. Identitas ini bukan berarti ia menolak untuk menjadi muslim tapi ia menolak bergabung dengan sebuah pasukan robot atas nama Allah, menentang penjajahan otoritas dan pemahaman serta penafsiran Islam yang dominan sekarang ini yang disebarkan oleh para mullah, imam, sheikh dan lain-lain. Islam yang menyebarkan kebencian kepada yang lain, Islam yang menghalalkan kekerasan hanya karena berharap bertemu bidadari dan masuk surga, Islam yang tidak ramah dengan perempuan untuk melanggengkan patriarkhi, Islam yang menolak hak asasi manusia dan sekulerasiasi untuk menegakkan teokrasi dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Refusenik berasal dari kalangan Yahudi-Soviet yang memperjuangkan kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Pemerintah Komunis saat itu menindas dan menghalagi perjuangan dan hak mereka. Mereka menolak untuk pindah ke Israel dan akhirnya dihukum berat bahkan ada yang dibunuh. Namun perjuangan mereka mendapatkan kemenangan dengan tumbangnya kekuasaan Soviet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manji meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini akan mendapatkan hasilnya. Hal ini terbukti dengan karyanya telah diterbitkan dimana-mana dan Manji pun diundang ke pelbagai belahan dunia. Ia berharap umat Islam tidak akan terbelenggu lagi dengan pemahaman-pemahaman literer yang membuat Islam ini terpuruk dan tidak beradab. Manji masih lantang bersuara sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jarang menemukan orang yang berani seperti Manji di tengah konstelasi umat Islam saat ini. Karena pemikirannya yang dianggap mengancam itulah ia mendapat banyak cercaan dan ancaman termasuk diancam dibunuh dari kalangan Islam yang tidak setuju dengannya. Bahkan The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Namun Manji tidak takut mati karena ia punya keyakinan bahwa meski raganya mati tapi gagasan dan pemikiran tetap akan hidup dan tetap diteruskan oleh orang-orang yang setuju dengannya. Selamat datang Irshad Manji!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Dimuat di Media Indonesia tanggal 25 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5588060394408555213?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5588060394408555213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/07/irshad-manji-dan-muslim-refusenik.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5588060394408555213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5588060394408555213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/07/irshad-manji-dan-muslim-refusenik.html' title='Irshad Manji dan Muslim Refusenik'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SIWnHRNyV-I/AAAAAAAAAQg/7T7d4zy_lcY/s72-c/PICT3707.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-4709982371779793969</id><published>2008-06-23T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T00:00:15.764-07:00</updated><title type='text'>Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya muat dalam blog saya ini tulisan tentang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pelurusan fakta seputar tragedi berdarah Monas&lt;/span&gt;. Sekarang ini isunya sangat simpang siur dan ada upaya pemutarbalikkan fakta dan fitnah keji terhadap AKKBB. Lihatlah bagaimana nama saya dipakai dalam email fitnah yang disebar kemana-mana tanpa saya bisa menghentikannya. email itu bilang kalau aksi damai AKKBB memang dalam rangka mengalihkan isu BBM. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Subhanallah&lt;/span&gt;, keji sekali orang yang membuat email tersebut. kalau tidak ada penyerangan terhadap aksi kami yang damai ini, mana mungkin aksi kami diliput secara besar-besaran di media. Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk yang menulis dan menyebar email itu agar sadar dengan perbuatan kejinya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah juga komentar-komentar di blog saya ini, luar biasa kasar dan tidak beradabnya. Terus terang, saya jadi sedih kalau umat kita seperti ini. tapi saya biarkan saja karena saya yakin semua ini dalam proses belajar menjadi manusia yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, artikel pendek ini ditulis oleh saidiman, yang pada aksi tersebut, menjadi dinamisator aksi damai peringatan hari Pancasila. Maafkan saya teman-teman, saya belum bisa &amp; mampu menulis panjang dan berefleksi dengan peristiwa berdarah kemarin di blog ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyerangan, Bukan Bentrok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak Ada Provokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Senjata Api&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini, oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet. Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan atribut serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….” (Sabili No. 25 Th. XV). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keluar Rute&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke pelataran Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menipu Peserta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi peserta aksi. Ini juga adalah dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalihan Isu BBM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa bukti disebut untuk mengalihkan isu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang. Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan. Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.(www.saidiman.wordpress.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-4709982371779793969?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/4709982371779793969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4709982371779793969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4709982371779793969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas.html' title='Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5182380531247447539</id><published>2008-06-17T18:19:00.000-07:00</published><updated>2008-06-17T18:23:27.695-07:00</updated><title type='text'>Indonesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ini catatan pinggir mas goen di Majalah Tempo minggu ini. Tulisan ini bisa jadi renungan kita bersama ketika membicarakan soal keindonesiaan kita. selamat membaca.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: “SBY Pengecut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai “Amir” Majelis Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel pengap, atau dipancung.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, bahkan mengecam Kepala Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati dan beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela diri; ia bukan hewan untuk korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba’asyir, sebab itu pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada hakim, jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua FPI, atau amir yang mana pun.  Keadilan yang sebenarnya tak di tangan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman membentuk, dan dibentuk,  sebuah etika kedaifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang tanpa konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik mengelola sengketa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh orang-orang Indonesia yang prihatin: ”… &lt;em&gt;ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut “bhineka-tunggal-ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna--dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya--dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan itu takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi lokal, “gotong-royong”. Kata itu kini telah terlalu sering dipakai dan disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: “gotong-royong” itu “paham yang dinamis,” lebih dinamis ketimbang “kekeluargaan”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, “gotong-royong” mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan primordial, ikatan “kekeluargaan”. Sebab, ada tujuan yang universal, yang bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--“yang kaya dan yang tidak kaya,” kata Bung Karno, “yang Islam dan yang Kristen”, “yang bukan Indonesia tulen dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gotong-royong” itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap beradab, sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, juga Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno sebagai “egoisme-agama.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika “egoisme” itu dikobarkan. Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: “Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan Ba’asyir. Ataukah bagi  Saudara ia tak punya arti apa-apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan Mohamad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5182380531247447539?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5182380531247447539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/indonesia.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5182380531247447539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5182380531247447539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/indonesia.html' title='Indonesia'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-374119612598808674</id><published>2008-06-16T18:13:00.000-07:00</published><updated>2008-06-17T18:40:00.521-07:00</updated><title type='text'>Maklumat Ke-Indonesi-an</title><content type='html'>&lt;em&gt;Maklumat ini disusun dan dibacakan dua tahun lalu, 1 Juni 2006. Isinya masih sangat relevan sekarang ini. Ayo, kita jaga Indonesia kita dari tangan-tangan orang dan kelompok yang bersembunyi atau terang-terangan, dengan cara halus atau memakai kekerasan, yang ingin mengubahnya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersama-sama di sini, untuk menegaskan kembali Indonesia tempat kita berdiri.   Indonesia sebagai sebuah warisan yang berharga, tapi juga sebuah cita-cita.  Indonesia yang bukan hanya amanat para pendahulu, tapi juga titipan berjuta anak yang akan lahir kelak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersama-sama di sini, untuk menyadari kembali, bahwa Indonesia adalah satu prestasi sejarah namun juga  proyek yang tak mudah. Dalam banyak hal, tanahair ini belum rampung. Tetapi sebuah masyarakat, sebuah negeri, memang proses yang tak akan kunjung usai. Seperti dikutip Bung Karno, bagi sebuah bangsa yang berjuang, tak ada akhir perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu,  kita pernah mengalami rasa bangga tapi juga trauma, tersentuh semangat yang berkobar tapi juga jiwa yang terpuruk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun baik atau buruk keadaan kita, kita bagian dari tanahair ini dan tanahair ini bagian dari hidup kita: ‘Di sanalah kita berdiri, jadi pandu Ibuku’…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah kita berdiri: di awal abad ke-21, di sebuah zaman yang mengharuskan kita tabah dan juga berendah hati. Abad yang lalu telah menyaksikan ide-ide besar yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, namun akhirnya gagal membangun sebuah masyarakat yang dicita-citakan.  Abad yang penuh harapan, tapi juga penuh korban. Abad sosialisme yang datang dengan agenda yang luhur, tapi kemudian melangkah surut.  Abad kapitalisme yang membuat beberapa negara tumbuh cepat, tapi memperburuk ketimpangan sosial dan ketakadilan internasional. Abad Perang Dingin yang tak ada lagi, tapi tapi tak lepas dari  konflik dengan darah dan besi. Abad ketika arus informasi terbuka luas, tapi tak selalu membentuk sikap toleran terhadap yang beda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian memang sejarah tak berhenti, bahkan berjalan semakin cepat. Teknologi, pengetahuan tentang manusia dan lingkungannya,  kecenderungan budaya dan politik, berubah begitu tangkas,  hingga persoalan baru timbul sebelum jawaban buat persoalan lama ditemukan.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Kini makin jelas-lah, tak ada doktrin yang mudah dan mutlak untuk memecahkan problem manusia.  Tak ada formula yang tunggal dan kekal bagi kini dan nanti.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada, yang dibutuhkan, justru sebuah sikap yang menampik doktrin yang tunggal dan kekal.  Kita harus selalu terbuka untuk langkah alternatif. Kita harus selalu bersedia mencoba cara yang berbeda, dengan sumber-sumber kreatif yang beraneka.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat,  Indonesia selalu mampu untuk demikian – sebab Indonesia sendiri, 17 ribu pulau yang berjajar dari barat sampai ke Timur, adalah sumber kreatif yang tumbuh dalam kebhinekaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ibu dan bapak pendiri republik  dengan arif menyadari hal itu. Itulah sebabnya Pancasila digali, dilahirkan, dan disepakati  di hari ini, 61 tahun yang lalu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, Pancasila bukanlah wahyu dari langit.  Ia lahir dari jerih payah dalam sejarah. Ia tumbuh dari benturan kepentingan, sumbang-menyumbang gagasan, saling mendengar dalam bersaing dan berembug. Dengan demikian ia mengakui perbedaan manusia dan ketidak-sempurnaannya. Ia tak menganggap diri doktrin yang maha benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi justru itulah sebabnya kita menegakkannya, sebab kita telah belajar untuk tidak jadi manusia yang menganggap diri maha benar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Indonesia tak menganggap Pancasila sebagai agama – sebagaimana Indonesia tidak pernah dan tidak hendak mendasarkan dirinya pada satu agama apapun.  Nilai luhur agama-agama menghilhami kita, namun justru karena itu,  kita mengakui keterbatasan manusia.  Dalam keterbatasan itu,  tak ada manusia yang bisa memaksa, berhak memonopoli kebenaran, patut menguasai percakapan.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Maka hari ini kita tegaskan kembali Indonesia sebagai cita-cita bersama, cita-cita  yang belum selesai. Maka hari ini kita berseru, agar bangun jiwa Indonesia, bangun badannya, dalam berbeda dan bersatu!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Juni 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-374119612598808674?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/374119612598808674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/maklumat-ke-indonesi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/374119612598808674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/374119612598808674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/maklumat-ke-indonesi.html' title='Maklumat Ke-Indonesi-an'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-4504037350704586215</id><published>2008-06-03T03:54:00.000-07:00</published><updated>2008-06-03T04:00:18.579-07:00</updated><title type='text'>Iklan Petisi Kita</title><content type='html'>Akhirnya iklan petisi “Mari Mempertahankan Indonesia Kita” dimuat di 9 Media. Saya bersyukur dan senang sekali dengan penerimaan kalangan media yang memuat iklan Kami. Awalnya teman-teman di aliansi pesimis dengan dimuatnya iklan ini karena tidak adanya dana dan kekhawatiran kalangan media takut memuatnya. Kalau pun akan dimuat iklan petisi ini hanya akan dimuat di 3 media yang dianggap berani saja. Tapi saya meyakinkan teman-teman aliansi kalau saya bisa memuatnya minimal di 7 media. Dan Alhamdulillah setelah negosiasi dan melobi pihak sana sini akhirnya iklan petisi ini berhasil dimuat di 9 media dengan ukuran yang cukup lumayan. Satu halaman di Koran Tempo (26/5), Majalah Tempo dan Majalah Madina (01/6); setengah halaman di Koran Rakyat Merdeka, Jawa Pos, Media Indonesia (26/5), Sinar Harapan &amp; The Jakarta Post (27/5) serta seperempat halaman di Kompas (30/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak akan bisa melakukan ini semua tanpa bantuan dari FJ, orang yang saya sangat hormati untuk pemuatan iklan di Kompas, Jawa Pos, The Jakarta Pos, Majalah dan Koran Tempo. Juga Budi Rahman pemimpin umum Rakyat Merdeka, mas Kris pemimpin redaksi Sinar Harapan, kak ipung dan pak Alex untuk pemuatan di Media Indonesia, mas Kris untuk di Jawa Pos dan RB untuk di Kompas serta kak Icang untuk di Majalah Madina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kritik dan masukan terhadap iklan petisi ini khususnya pembedaan nama-nama yang dikapital. Perlu saya sampaikan di sini, meskipun ini bukan argumen yang solid dan bagus, pengkapitalan nama itu bukan bermaksud diskriminasi tapi soal strategi media agar kalangan media mau memuatnya karena begitu banyaknya nama-nama yang masuk mendukung petisi ini. Saya juga minta maaf buat teman-teman sudah mengirim form ikut serta dalam petisi ini tapi nama-namanya belum dicantumin. Yang jelas, Aliansi masih terbuka menerima teman-teman untuk terlibat dalam petisi ini yang rencananya petisi ini akan kita serahkan kepada SBY dan JK.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, selasa 3 juni, iklan petisi ini dilaporkan oleh ketua FPI, habib (?) rizieq ini karena dianggap sebagai pemicu penyerangan FPI terhadap aksi damai kami di monas kemarin oleh habib Riziek. Aih-aih kok bisa dia punya argumen seperti itu ya. itu namanya maling teriak maling, udah jelas-jelas kok mereka yang menyerang kita yang massanya didominasi ibu-ibu dan anak. Saya akan menulis tersendiri tentang aksi damai yang diserang Laskar Pembela Islam (duh, malu deh Islam dibawa-bawa di sini) di blog ini. tunggu ya, karena saya lagi sibuk mengurus korban pemukulan dan penyerangan “tentara Islam” ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-4504037350704586215?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/4504037350704586215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/iklan-petisi-kita.html#comment-form' title='33 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4504037350704586215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4504037350704586215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/iklan-petisi-kita.html' title='Iklan Petisi Kita'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>33</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-6831114464668502491</id><published>2008-05-27T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T21:23:20.453-07:00</updated><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>Dua cara aku cintaimu&lt;br /&gt;Yang satu demi diriku&lt;br /&gt;Yang lain sebab hanya kamu&lt;br /&gt;yang Patut terima cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta demiku kutak mau&lt;br /&gt;Hanya berpikir tentangmu &lt;br /&gt;tak lain dari itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta suci adalah&lt;br /&gt;Kala kau sibak&lt;br /&gt;Tirai penghalang pandang penuh pesonaku&lt;br /&gt;Tak perduli puja puji buatku&lt;br /&gt;Bagimu saja segala pujian itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SDzaeMFiCXI/AAAAAAAAAP4/PjbOLdC-Qxo/s1600-h/IMG_1093.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SDzaeMFiCXI/AAAAAAAAAP4/PjbOLdC-Qxo/s200/IMG_1093.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205275481508809074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;** untuk yang sedang jauh..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-6831114464668502491?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/6831114464668502491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/05/cinta.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6831114464668502491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6831114464668502491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/05/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SDzaeMFiCXI/AAAAAAAAAP4/PjbOLdC-Qxo/s72-c/IMG_1093.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-269048939499367510</id><published>2008-05-12T03:37:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T04:22:57.178-07:00</updated><title type='text'>Mari Pertahankan Indonesia Kita!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh Konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga mengatasnamakan umat Islam untuk menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sudah sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan Konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita.&lt;br /&gt;Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita jaga Republik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita kembalikan persatuan kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SCgmG11rFGI/AAAAAAAAAPw/vBdTZNZE8y0/s1600-h/IMG_1227.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SCgmG11rFGI/AAAAAAAAAPw/vBdTZNZE8y0/s200/IMG_1227.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199447668772508770" /&gt;&lt;/a&gt;**Petisi ini dibuat dikarenakan adanya ancaman sekelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk membubarkan dan menghakimi keyakinan seseorang atau kelompok yang berbeda dengannya. Ada agenda dan kegiatan besar yang mengancam negara kita ini yang dilakukan segelintir kelompok untuk mengubah Indonesia yang berlandaskan Pancasila menjadi negara Islam yang berlandaskan kekhalifahan dan keImaman atau lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menolak itu. Negara kita Plural dan beragam, dan tidak hanya mengakui satu agama dan keyakinan. Dalam setiap agama pun banyak keyakinan dan penafsiran. Jangan mau dipaksa untuk mengakui dan memeluk satu keyakinan dan penafsiran. Sekarang ini konstitusi kita yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 sudah terang benderang menghormati kebhinekaan dan menghargai serta membebaskan setiap keyakinan dan kepercayaan semua warganya. Agama dan keyakinan adalah soal pribadi. Tokh, kita masuk surga pun (kalau memang surga itu ada!) juga sendiri-sendiri. Yang penting, tidak saling mengganggu dan saling merusak. Hentikan kekerasan dan perusakan apalagi perusakan tempat ibadah dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergabunglah bersama kami, mempertahankan Indonesia yang Plural dan Bhineka, mempertahankan Indonesia kita..Silahkan kunjungi website Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan (AKBB) di http://akkbb.wordpress.com/petisi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-269048939499367510?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/269048939499367510/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/05/mari-pertahankan-indonesia-kita.html#comment-form' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/269048939499367510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/269048939499367510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/05/mari-pertahankan-indonesia-kita.html' title='Mari Pertahankan Indonesia Kita!'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/SCgmG11rFGI/AAAAAAAAAPw/vBdTZNZE8y0/s72-c/IMG_1227.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-983533328369196710</id><published>2008-04-25T10:33:00.000-07:00</published><updated>2008-04-25T10:37:13.747-07:00</updated><title type='text'>Kartini dan Islam</title><content type='html'>Riwayat Kartini telah menjadi sumber ilham yang tak pernah kering. Tiap tahun di hari kelahirannya pasti bermunculan ulasan tentang tokoh ini dari pelbagai perspektif. Selain pribadinya, hidupnya yang sarat dengan persoalan pun merupakan bahan kajian yang menarik. Kecerdasannya luar biasa. Bayangkan, di usianya yang masih sangat muda, dia berhasil merumuskan dan mendeskripsikan persoalan-persoalan yang terjadi pada bangsanya dalam korespodensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini beruntung karena menguasai bahasa Belanda. Dengan menguasai bahasa ini Kartini terus menerus mendiskusikan setiap pemikiran dan persoalannya dengan perempuan-perempuan dunia Eropa yang banyak  menginspirasikan hidupnya. Kartini adalah jiwa yang menyaksikan kebangkitan sebuah masyarakat yang terlalu lama menderita. Dan ia sendiri menjadi bagian, bahkan salah seorang yang ikut andil dalam kebangkitan bangsa ini lewat goresan tangan dan kegelisahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membahas percikan pemikiran keagamaan Kartini khususnya soal Tuhan dan poligami. Sangat langka menemukan karya yang mengupas khusus soal ini karena selama ini Kartini lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan atau kebangkitan nasional. Padahal sebagai pribadi yang dilahirkan dari ibu yang keturunan kyai tapi dari rakyat biasa, pergulatan Kartini terhadap tema-tema keislaman sangatlah menarik. Yang pernah mengulas secara khusus pemikiran keagamaan Kartini adalah TH. Sumartana (alm) dalam buku yang berjudul &lt;em&gt;Agama dan Iman menurut Kartini&lt;/em&gt;. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya &lt;em&gt;Panggil Aku Kartini Saja &lt;/em&gt;juga sedikit menyinggung soal konsep Kartini tentang Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesepian dalam pingitan, pandangan-pandangan Kartini tentang tema-tema keagamaan itu begitu mendalam. Kartini melakoni dan memahami Islam tidak &lt;em&gt;taken for granted&lt;/em&gt;. Baginya berislam haruslah masuk akal dan sesuai dengan pemikiran. Ia mengakui kalau keislaman yang ia anut adalah semacam turunan dari nenek moyangnya. Seperti pada umumnya orang beragama, ia juga tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih agama apa yang ia kehendaki. Sehingga doktrin dan ritual diwariskan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jiwa pencarian Kartini tak pernah mati, “tibalah waktunya jiwaku mulai bertanya: Mengapa aku lakukan ini, mengapa ini begini dan itu begitu?’” Pergolakan Kartini tentang keislaman begitu dahsyat sehingga ‘sesuatu’ yang menurutnya tak dia pahami dia tinggalkan. Dia lebih mengedepankan hal-hal yang masuk akal, hal yang bersifat substantif dibanding formalitas tapi tak dia mengerti. Kata Kartini, “jadi kami putuskanlah untuk tidak berpuasa dan melakukan hal-hal lain yang dahulu kami kerjakan tanpa berpikir, dan yang kami pikir sekarang ini tak dapat kami kerjakan. Gelap–kami merasa kegelapan–tak seorang pun mau menerangkan kepada kami apa yang kami tidak mengerti.”(Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C Abendanon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti itu tak membuat Kartini meninggalkan agamanya. Bahkan proses pencarian ini semakin meneguhkan keyakinannya. Ia tetap menjadi Islam meski yang paling utama buat dia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Meski ia diperlakukan tidak adil karena posisinya sebagai perempuan, namun pandangan dia tentang Tuhan sangat positif. Kartini tak pernah menyalahkan Tuhan, ia melakoninya sebagai sebuah takdir yang harus ia jalani dengan positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kartini, takdir itu bukan fatalisme atau penyerahan diri sehingga kehilangan kepercayaan diri: hanya pasrah dan menerima kondisi kita. Takdir menurutnya bisa mewujud menjadi suatu upaya dan usaha terus menerus tentang tugas yang diberikan Tuhan untuk meningkatkan diri dan melakukan hal yang terbaik. Ia terus menerus berproses dan mencari. Makanya tak heran, meski dia dikungkung, namun pemikiran-pemikiran cerdas tetap keluar deras melaui tulisan-tulisan. Lewat pemahaman seperti ini, saya melihat, Tuhan di mata Kartini adalah kebajikan. Tuhan hidup dan hadir di dalam hati dan jiwa manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diulas dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya &lt;em&gt;Panggil Aku Kartini Saja&lt;/em&gt;, pandangan Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik dibanding metafisik. Kata Kartini, “Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang Poligami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkungan kehidupan bangsawan Jawa, tempat Kartini hidup, praktek poligami merupakan hal yang lumrah. Kebiasaan dan adat istiadat yang hidup di kalangan masyarakat khususnya di kalangan priyayi Jawa yang berkedudukan tinggi, memang menempatkan kedudukan perempuan tidak sama dengan kaum lelaki. Perempuan hanya berharga apabila ia dihubungkan dengan soal perkawinan. Dan perkawinan itu pun malah menjadi puncak penderitaan perempuan. Karena meskipun menjadi istri sah dari suaminya, para perempuan dituntut dan diharuskan untuk berbagi suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini melihat kenyataan tak adil ini dengan kegeraman, “…saya akan menyinggung kaum lelaki dalam sifat mereka yang selalu mementingkan diri sendiri, egoistis. Celakalah mereka itu,…yang menganggap egoisme lelaki semacam sesuatu yang sah dan adil!”  Kartini tidak membesar-besarkan soal poligami ini, ia tidak berkhayal. Karena ia mengalami kepedihan akibat praktek yang menciptakan ketidak adilan ini di dalam keluarganya yang terjadi pada ibunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu kandung Kartini yang bernama Ngasirah bukanlah raden ayu meski ia menjadi istri sah Bupati Sosroningrat, bapak Kartini. Meski menjadi istri sah dan telah melahirkan delapan anak, Ngasirah tak berhak tinggal di rumah utama dan tidak dianggap sebagai seorang ibu. Ia diperlakukan sebagai pembantu dan sekedar melahirkan anak. Ngasirah harus merangkak-rangkak dan menunduk-nunduk karena ia berasal dari kalangan jelata, sementara ia dan saudara-saudaranya karena berasal dari benih bangsawan bapaknya, harus dihormati dan disembah oleh ibu kandungnya sendiri. Sekalipun Kartini tidak pernah mengungkapkan secara terbuka penderitaan yang dialami ibu kandungnya, bias  dibayangkan bagaimana perasaannya melihat keanehan kehidupan keluarganya. “…saya telah melihat neraka dari jarak dekat – malahan saya berada di dalamnya--…Saya telah menyaksikan penderitaan, dan merasakan sendiri kesengsaraan ibu saya, karena saya adalah anaknya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan Kartini terhadap poligami di kalangan bangsawan Jawa pada akhirnya membawa dia pada kesadaran bahwa ia sendiri sudah hidup dalam bayang-bayang musuh besar yang sedang dilawannya. Ia sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang amat bengis dan kuat yang didukung adat istiadat bahkan juga dibenarkan oleh agamanya, Islam. Tulis Kartini, “Saya putus asa….Sebagai manusia saya merasa seorang diri tidak mampu melawan kejahatan berukuran raksasa itu, dan yang—aduh, alangkah kejamnya! Dilindungi oleh ajaran Islam dan dihidupi oleh kebodohan perempuan sebagai korbannya! Aduh! Saya pikir mungkin pada suatu ketika nasib menimpa kepada saya suatu siksaan yang kejam yang bernama poligami itu! Saya tidak mau! mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali…”(Surat kepada Ny.Abendanon-Mandri tertanggal Agustus 1902).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragusnya tiga tahun kemudian setelah ia menulis itu,  kejahatan besar yang selama ini ia lawan menimpa dirinya. Ia menikah dengan lelaki yang sudah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak. Sebulan sebelum ia menikah, ia menulis surat kepada Ny. Abendanon bahwa ia merasa telah mati sia-sia. Secara fisik dan moral telah patah, tak mempunyai kekuatan apa-apa lagi. Ia merasa gagal dalam perjuangannya, tak suatu pun hasil yang dicapainya. Semuanya, segala cita-cita telah runtuh oleh egoisme orang-orang karena dilandasi tradisi dan agamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, Kartini tidak memberontak lagi, tidak menjeritkan kegelisahan dan protesnya terhadap kedudukan dan nasib perempuan Jawa termasuk soal poligami. Nampaknya Kartini berusaha berdamai dengan keadaan yang dialaminya. Meski menurut saya, usaha itu tak berhasil. Kartini tetap lah tak bisa berlangsung lama dalam kehidupan pernikahannya. Empat hari setelah melahirkan anaknya, ia meninggal membawa cita-cita dan perjuangannya meski cita-cita dan perjuangannya itu tak akan pernah mati sampai detik ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Dimuat di Koran Tempo, tanggal 22 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-983533328369196710?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/983533328369196710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/kartini-dan-islam.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/983533328369196710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/983533328369196710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/kartini-dan-islam.html' title='Kartini dan Islam'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8516781066888969414</id><published>2008-04-07T09:31:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:43:12.675-07:00</updated><title type='text'>Kado Kartini dan Partisipasi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_pOdk2bOaI/AAAAAAAAAPY/wE8cnwRii3A/s1600-h/nong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_pOdk2bOaI/AAAAAAAAAPY/wE8cnwRii3A/s320/nong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186544190885673378" /&gt;&lt;/a&gt;Meski hari Kartini masih dua minggu lagi, namun ada kado yang sangat penting di hari Kartini tahun ini untuk tidak kita lewatkan. Kado itu adalah ditetapkannya kuota 30 persen untuk keterlibatan perempuan dalam proses politik yang secara legal masuk dalam UU Partai Politik. Pengesahan UU ini telah ditetapkan awal Desember tahun lalu. Semestinya saat ini partai politik sudah mulai bekerja dalam mencari perempuan-perempuan potensial yang layak dilibatkan dalam proses politik untuk memenuhi kuota 30 persen ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kemajuan mendasar UU Partai Politik baru ini, &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, pendirian partai politik (parpol) yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 2. Isinya menyatakan, pendirian dan pembentukan partai politik menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kepengurusan partai politik. Pasal 1 Ayat 5 menyatakan, kepengurusan parpol di tingkat pusat disusun dengan menyertakan sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan; Pasal 20 menyebut kepengurusan parpol di tingkat provinsi dan kabupaten/kota disusun dengan memerhatikan keterwakilan perempuan 30 persen yang diatur dalam AD dan ART partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, kaderisasi. Pasal 31 menyatakan, parpol melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai ruang lingkup tanggung jawab dengan memerhatikan keadilan dan kesetaraan jender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga aspek tersebut merupakan terobosan besar dalam sejarah produk perundang-undangan di Indonesia. Parpol berdasarkan UU Partai Politik Tahun 2007 ini dituntut penuh komitmennya untuk ikut mendorong tercapainya keadilan dan kesetaraan jender di Indonesia melalui  pelibatan perempuan dalam politik yang tertuang pada aspek pendirian, kepengurusan, hingga pendidikan politik yang merupakan hulu proses perjuangan politik perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya peraturan yang berupa &lt;em&gt;affirmative action &lt;/em&gt;ini merupakan tantangan dan peluang bagi perempuan. Karena harus diakui Indonesia masih merupakan negara yang tergolong sangat minim dalam partisipasi perempuan di wilayah politik. Karenanya masih diperlukan kebijakan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;em&gt;Data Pembuka Mata &lt;/em&gt;terbitan LIPI dan Unicef Mei 2001 menyebutkan bahwa ketimbang Laos, Indonesia masih kalah jauh dalam memberikan peluang bagi perempuan untuk berada duduk di eksekutif. Padahal Pemilu 1997 dan Pemilu 1999 jumlah pemilih perempuan lebih besar ketimbang pemilih lelaki. Tapi nyatanya potensi besar perempuan di Indonesia masih terabaikan kalau tidak mau disebut agak 'dipinggirkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar data yang dikeluarkan CETRO tentang &lt;em&gt;Data dan Fakta: Keterwakilan Perempuan Indonesia di Partai Politik dan Lembaga Legislatif, 1999-2001&lt;/em&gt;, jumlah perempuan di Parlemen juga tidak banyak meningkat, baik pada masa Orde Baru (periode 1997-2002) maupun pasca Orde Baru (1999-2004). Bahkan ketika pemilu di era Reformasi, penurunan keterwakilan perempuan sangatlah kecil. Perempuan Indonesia yang menjadi anggota DPR tak sampai 15 persen, begitu juga di lembaga MPR, jumlahnya masih minim, di bawah 20 persen.Bila dihitung secara matematis, dari setiap delapan anggota DPR hanya satu perempuan, begitu juga di lembaga MPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia sedikit lebih baik ketimbang Myanmar yang mempunyai sekitar 1-2 persen perempuan di pemerintahan, tapi jauh tertinggal dari Laos, Brunei, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, apalagi Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sampai 2004 hanya memiliki perempuan di Parlemen sekitar 9 persen, sedang di pemerintahan tak lebih dari dua persen, jauh tertinggal dibanding Filipina dengan 25 persen perempuan di pemerintahan dan 12 persen di parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hambatan Partisipasi Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan yang paling besar untuk memenuhi kuota 30 persen adalah dari partai politik itu sendiri. Mereka beralasan hal itu dikarenakan kurang tersedianya perempuan yang “bagus” dan layak untuk bisa masuk ke parpol, apalagi untuk legislatif. Padahal saya melihat ini lebih dikarenakan parpolnya kurang punya keinginan kuat untuk mencari, meyakinkan, dan juga menawarkan programnya kepada perempuan-perempuan yang layak untuk terlibat di parpolnya. Seperti diketahui, baru-baru ini Pusat Kajian Gender UI meluncurkan hasil kajiannya yang menemukan dan mengumpulkan ratusan perempuan potensial dari 5 daerah yang sangat layak untuk dilibatkan dalam parpol sebagai jawaban atas persoalan ini . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dari kalangan perempuan pun ada kekecewaan terhadap parpol karena parpol dalam setiap aktivitas politiknya relatif minim melibatkan perempuan dalam persoalan-persoalan yang krusial khususnya yang berdampak pada isu publik. Persepsi tentang politik yang didominasi hanya untuk dunia laki-laki ini juga menjadi faktor yang dominan. Hal ini dipertegas lagi dengan hasil survey LSI yang memperlihatkan bahwa 65 persen partai politik tidak mewakili aspirasi perempuan untuk berbagai persoalan. Karena itu perempuan-perempuan ini kemudian lebih memilih bekerja dan beraktivitas untuk pemberdayaan masyarakat di luar parpol atau di luar kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan lainnya yaitu masih adanya keraguan di kalangan parpol dan masyarakat dalam menerima perempuan secara penuh. Akhirnya mereka selalu mempertanyakan soal kualitas untuk memperlihatkan keraguan itu atau sikap penolakan itu. Padahal, hal itu tidak terjadi sebaliknya, diberlakukan pada laki-laki. Tidak pernah ada pertanyaan akan kualitas laki-laki yang sebenarnya sudah terbukti gagal membangun sistem politik demokratis yang menyejahterakan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya aturan kuota 30 persen ini sebenarnya lebih memotivasi dan mengajak perempuan untuk mau bekerja di parpol sehingga ada keseimbangan dalam perumusan kebijakan publik khususnya yang terkait dengan perempuan. Karena itu pertanyaan mengenai kualitas tidaklah tepat dan relevan diajukan dalam kondisi di mana keterlibatan aktif perempuan dalam politik saja masih sangat rendah. Saat ini, perempuan bisa berpolitik saja sangat berat, apalagi selalu dibenturkan pertanyaan seputar kualitas. Pertanyaan tentang kualitas politik perempuan adalah pertanyaan yang keliru memahami upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta membuktikan, meski dengan jumlah partisipasi yang minim, kehadiran perempuan di parpol yang kemudian masuk legislatif telah memberikan beberapa hasil menggembirakan untuk kepentingan perempuan, antara lain lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Kewarganegaraan, dan Undang-Undang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian di berbagai negara juga memperlihatkan, keterwakilan perempuan dalam jumlah 30persen dapat menghasilkan keputusan yang lebih memerhatikan kepentingan dan pengalaman perempuan yang selama ini kurang terwakili. Persoalannya sekarang adalah bagaimana meyakinkan parpol agar benar-benar  memberikan tempat kepada perempuan. Karena ini akan berdampak sangat positif untuk parpol, kesejahteraan masyarakat dan perkembangan demokrasi di Negara kita tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di koran &lt;em&gt;Seputar Indonesia&lt;/em&gt;, minggu tanggal 6 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8516781066888969414?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8516781066888969414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/kado-kartini-dan-partisipasi-perempuan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8516781066888969414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8516781066888969414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/kado-kartini-dan-partisipasi-perempuan.html' title='Kado Kartini dan Partisipasi Perempuan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_pOdk2bOaI/AAAAAAAAAPY/wE8cnwRii3A/s72-c/nong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1063320878822981289</id><published>2008-04-02T01:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T02:04:34.265-07:00</updated><title type='text'>Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_Cmn02bOXI/AAAAAAAAAPA/AA-AMTHNDlw/s1600-h/irshad+manji1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_Cmn02bOXI/AAAAAAAAAPA/AA-AMTHNDlw/s200/irshad+manji1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183826374235470194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;My name is Irshad. I’m a faithful muslim. I speak out against violance and human rights abuses in the name of  God. Courage is not the absence of fear. Courage is the recognition that some things are more important than fear. &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membuka website www.irshadmanji.com, maka kalimat-kalimat di atas akan kita temukan dibanner website itu. Kata-kata yang tegas dan terang benderang itu terus menerus diulang, menggedor kesadaran dan keberanian kita untuk ikut berjuang seperti dia tanpa ada rasa ketakutan dalam melawan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia atas nama Tuhan dan agama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan kita di Indonesia nama Irshad Manji mungkin dianggap berjenis kelamin laki-laki. Yang benar Manji berjenis kelamin perempuan yang mengancam posisi laki-laki dengan gebrakan pemikiran dan tindakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diakui oleh Dr. Khaleel Mohammed, seorang Imam yang belajar Ilmu Syari’ah di Muhamad bin Saud University Riyadh dan sekarang menjadi Professor Islam di San Diego State University. Dia mengatakan dalam pengantar buku Irshad Manji: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith &lt;/span&gt;bahwa semestinya dia membenci Irshad Manji. Karena Manji telah mengancam  posisi dia sebagai Imam lewat pemikiran-pemikiran yang kritis tentang Islam. Bila umat Islam menerima pemikiran Manji maka peran dia sebagai Imam yang mempunyai peran penting dalam menggawangi dan merumuskan ajaran Islam, akan selesai dan tidak berguna lagi. Selain itu, kata Mohammed, Manji juga mengancam posisinya sebagai laki-laki karena Manji terang-terangan mengakui kalau dirinya adalah seorang lesbian, yang menurutnya, status itu jelas-jelas dilaknat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mohammed buru-buru menyadari kalau ia tak sepatutnya membenci Manji. Lewat proses kegelisahan yang cukup panjang akhirnya Mohammed mengakui kalau apa yang dilakukan Manji selama ini lewat gebrakan pemikirannya yang selalu mengajak umat Islam untuk bersikap terbuka, toleransi, mengkritik kalangan Islam radikal, dan menentang penindasan, termasuk penindasan-penindasan yang dirasionalisasikan oleh para imam, sheikh, mullah, professor dan siapapun dengan berani berijtihad, adalah benar adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Mohammed menegaskan bahwa dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan pemikiran Manji, namun karena ajaran Islam itu sangat menghargai kebebasan berpikir maka usaha dan pemikiran Manji harus dipahami sebagai salah satu bentuk ijtihad dirinya yang meski dipuji dan dihargai. Apalagi tindakan Manji selama ini karena didasarkan pada ayat Alquran yang mengatakan: ” Wahai orang-orang yang beriman! jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu..."(Quran, 4:135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalaman Masa Kecil Manji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manji dilahirkan di Uganda pada 1968 dari pasangan Muslim yang keturunan Arab-Mesir dan India. Antara tahun 1971 dan 1973, keluarganya merupakan salah satu dari ribuan muslim Uganda yang hijrah ke Barat karena tekanan dikatator militer saat itu, Jenderal Idi Amin Dada. Saat itu Jenderal Idi Amin hanya membolehkan masyarakat kulit hitam saja yang menempati negeri ini. Untungnya, Ayah Manji dan adik-adiknya termasuk keluarga yang mempunyai status yang cukup tinggi karena memegang bisnis perdagangan sebuah merk kendaraan yang prestisius. Tahun 1972, dengan bantuan pemerintah British, keluarga Manji diboyong ke Vancouver British Columbia, tepatnya di daerah Richmond, sebuah daerah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;middle class&lt;/span&gt; di wilayah Vancouver. Manji saat itu berusia 4 tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Manji sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan selalu memrotes sesuatu yang membuat dia tidak bisa menerimanya, baik di lingkungan keluarga atau agamanya. Seperti yang ia ceritakan dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam Today&lt;/span&gt;, bagaimana dia memrotes tindakan ayahnya yang memukul pembantunya yang bernama Tomasi, yang berkulit hitam. Ayahnya memperlakukan pembantunya seperti budak. Tindakan itu tidak bisa dia terima tapi dia dan ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya punya pemahaman bahwa dia bisa melakukan apapun terhadap budaknya itu. Begitu juga terhadap dia, ibu, dan saudaranya. Ibunya pernah dipukul ayahnya dan ia melarang Manji untuk membela dan mengobati luka-luka ibunya. Ayahnya juga mengancam Manji kalau Manji melaporkan perbuatannya itu ke polisi. Manji sendiri pernah dipukul ayahnya sewaktu ibunya tidak di rumah sehingga dia kemudian lari dan bersembunyi di atas atap rumahnya. Di atas atap itu, dia membayangkan bisa hidup secara bebas dan jauh dalam mengeksplorasi semua tindakan, pemikiran dan cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manji menggambarkan ayahnya sebagai tipe laki-laki yang sangat keras, galak, berkuasa dan menganggap dirinya sebagai kepala keluarga yang setiap ucapan dan tindakannya harus dibenarkan. Tipe lelaki seperti ini adalah prototype lelaki yang dipahami dalam pemahaman Islam mainstrem bahwa ayah (laki-laki) adalah segala-galanya, tidak bisa dilawan dan harus dituruti terus. Istilah Manji ketika merumuskan sosok ayahnya itu, ”tak pernah aku mendapatkan dan menemukan nilai cinta &amp; kebahagiaan darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah beradaptasi hidup di Barat, ayahnya menemukan sebuah penitipan anak-anak (semacam chid care) gratis yang dikelola oleh Gereja Baptis Rose of Sharon. Setiap hari Minggu ia dititipkan ayahnya karena ia tidak suka dan tidak bisa melayani anak-anak sementara ibunya saat itu bekerja sebagai agen Avon (salah satu produk kosmetika perempuan) yang menjajakan produknya dari rumah ke rumah. Di gereja itu, Manji mendapatkan lingkungan yang cocok dengan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan dia yang dianggap nakal dan subversif selalu dijawab oleh para pelayan di gereja itu dengan sabar tanpa pernah dimarahi atau dilarang. Misalnya pertanyaan: Yesus datang darimana, kapan Yesus hidup, siapa yang dinikahinya dan lain-lain. Semakin banyak ia bertanya, semakin senang orang-orang gereja itu menjawabnya. Sampai-sampai karena keaktifannya bertanya ia dianugerahi sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Most Promising Christian of the Year&lt;/span&gt;. Ia mendapat edisi buku bergambar yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;101 Bible Stories&lt;/span&gt;. Manji mengakui kalau ia sangat beruntung dengan periode hidup ini karena ia tidak mengenal terlebih dahulu Alquran sebagai satu-satunya buku yang merupakan sumber kekayaan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia mendapatkan anugerah itu, ayahnya langsung mengeluarkan Manji dari gereja itu. Ia kemudian dimasukkan ke sekolah umum, Burnett Junior High, dan juga sekolah agama, madrasah. Tadinya Manji membayangkan kalau lingkungan madrasah akan sama seperti gereja. Tapi ternyata berbeda sama sekali. Pertanyaan dan kegelisahan yang keluar darinya soal agama yang selalu dia tanyakan ke gurunya, Mr. Khaki, selalu  dianggap berbahaya dan subversif. Ia bertanya soal isu-isu keperempuanan misalnya soal  jilbab, soal kenapa perempuan yang tidak bisa menjadi imam dan pemimpin, pemisahan laki-laki &amp; perempuan, soal kebencian Islam terhadap Yahudi dan lain-lain. Mr Khaki selalu menjawab kalau ajarannya memang sudah begitu dan meminta Manji membaca Alquran terus menerus. Karena rasa ingin tahunya yang sangat besar, Manji membaca Alquran dengan terjemahan Inggris dan kemudian ia mengajak Mr. Khaki untuk berdiskusi lagi. Eh, Manji malah dikeluarkan dari madrasah karena terlalu banyak bertanya. Hal ini berbeda ketika ia berada di lingkungan gereja yang ia jalani sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamannya di madrasah itu sangat berkesan pada Manji dalam memahami ajaran Islam. Tentu saja maksudnya kesan jelek yang mendalam. Akhirnya untuk dua puluh tahun kemudian Manji mendalami sendiri Islam di perpustakaan-perpustakaan dan melalui tutor Bahasa Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya Manji bukanlah berlatar belakang studi Islam. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas British Columbia dalam bidang Sejarah Ide. Di tahun 1990, dia mendapatkan penghargaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Governor General's Silver Medal&lt;/span&gt; untuk lulusan bidang kemanusiaan. Kemudian bekerja di Parlemen Kanada menjadi asisten legislatif, sekretaris media di Pemerintah Ontario dan menjadi penulis naskah pidato untuk pemimpin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;New Democratic Party&lt;/span&gt;. Di usia 24 tahun, ia menjadi editor nasional untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ottawa Cittizen&lt;/span&gt;, dan menjadi anggota termuda sebagai editor di Canadian daily. Ia juga menjadi host dan produser untuk beberapa acara televisi dan memenangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gemini&lt;/span&gt;, penghargaan bergengsi televisi di Canada. Tahun 2002, ia menjadi penulis di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hart House&lt;/span&gt; Universitas Toronto, dari sinilah Manji mulai menulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam Today&lt;/span&gt; yang membuatnya kontrovesial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bukunya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa seluruh Dunia. Tahun ini akan terbit dalam bahasa Indonesia. Sekarang Manji menetap di New York dan sedang memimpin sebuah program yang bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Courage Moral Project&lt;/span&gt;, sebuah program yang dikhususkan untuk anak-anak muda seluruh dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Feminis Muslim yang Lesbian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terbuka Manji mengakui kalau dia adalah seorang feminis yang lesbian. Tentu saja dia menyadari kalau pilihannya itu beresiko terhadap pemahaman dan keyakinan keislamannya. Karena dalam pemahaman mayoritas umat Islam, agama yang dianutnya, dan agama lain pun, tak menerima bahkan mengutuk pilihan orientasi seksualnya. Ia mengakui ada pergulatan dalam dirinya apakah tetap menjadi muslim karena pilihan orientasi seksualitasnya itu atau keluar dari Islam. Bagi dia, sangatlah tidak adil untuk membenturkan dua pilihan hidupnya: menjadi lesbian membuat dia merasa bahagia dan indah, di sisi lain Islam adalah agama yang ia pilih dan jalani secara sadar, bukan sekedar karena Islam adalah agama keturunan yang ia anut dari kecil dan dari orang tuanya. Islam membuat ia merasa bahagia ketika menjalaninya karena ia menemukan banyak sumber kehidupan yang ia dapatkan dalam Islam. Ia katakan bahwa kebanyakan umat Islam atau orang beragama memeluk agamanya karena turun temurun, given, bukan pilihannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_CmxU2bOYI/AAAAAAAAAPI/HY25kPe6KLw/s1600-h/irshad+manji2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_CmxU2bOYI/AAAAAAAAAPI/HY25kPe6KLw/s200/irshad+manji2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183826537444227458" /&gt;&lt;/a&gt;Manji mengenal teman perempuan spesialnya ketika ia berusia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian ia memberitahu soal pilihannya ini kepada ibunya, Mumtaz Manji. Respon ibunya, kata Manji, sangat memahami psikis dan pilihannya, tidak ada kata protes, sesal atau gugatan. Dalam bukunya Manji mengakui kalau ia menjadi lesbian karena ia merasa hidup dalam keluarga yang penuh kesedihan di bawah seorang ayah (laki-laki) yang membenci keindahan dan mensabotase rasa cintanya pada laki-laki. Ia menemukan cinta dan kebahagian pada sosok perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Manji sebagai lesbian semakin terbuka ketika ia menjadi presenter dalam acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;QueerTelevision&lt;/span&gt; untuk salah satu TV di Toronto, tahun 1998. Ia langsung mendapat banyak hujatan, kritikan dan cercaan dari penonton yang tidak suka dan tidak setuju dengan persoalan orientasi seksual yang ”lain” terutama dari kalangan agama khususnya Islam dan Kristen. Acara ini memang membahas secara tuntas soal-soal kehidupan LGBT (lesbian, gay, biseks, transeksual/transgender).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Manji berharap acara yang dipandunya itu bisa menciptakan sebuah dialog atau rekonsiliasi yang baik tentang tema homoseksualitas dengan Islam. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, banyak yang menuntut agar Manji keluar dari Islam. Di tengah tuntutan itu, Manji menjawab bahwa sangatlah tidak adil untuk meminta dia keluar dari Islam karena pilihan orientasi seksualnya ini. Pertanyaan dia: jika Tuhan yang Maha Tahu dan Maha berkuasa tidak ingin menjadikan aku seorang lesbian, kenapa Tuhan tidak menciptakan orang lain untuk menggantikan posisiku? Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMaha Kuasaanya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang selalu dikatakan dari kalangan Islam yang tidak setuju homoseksualitas adalah ayat Alquran dalam kasus Nabi Luth AS. Tapi Manji balik berargumen bahwa dalam Alquran pun Allah mengatakan: ”Sekiranya Tuhanmu berkehendak, Dia akan membuat kamu sebagai satu suku, tetapi Dia telah mencipta kamu bersuku-suku.” Manji mengakui kalau soal homoseksualitas ini betul-betul menguji keimananannya. Namun dia berkesimpulan bahwa perdebatan soal ini lebih karena penafsiran atas ayat Tuhan tapi bukan karena ayat Tuhan itu sendiri. Masing-masing pihak mempunyai landasan ayatnya sendiri-sendiri yang semuanya diakomodasi dalam Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Muslim Refusenik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pencarian keislamannya, Manji menemukan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam umat Islam saat ini dalam memahami ajaran Islam yang semestinya. Hal ini, menurut Manji, dikarenakan penafsiran Islam yang literer dan dogmatis yang diajarkan oleh para imam dan otoritas keislaman lainnya. Inilah yang membuat, istilah dia, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Trouble with Islam today&lt;/span&gt;. Karena itu Manji berseru keras agar umat Islam harus berani berijtihad, membuka &amp; menafsirkan ajaran Islam kembali dengan pemikirannya sendiri yang sesuai dengan konteks dan persoalan yang dihadapi sekarang ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemikir dan aktivis Islam, Manji sangat nyaring menggaungkan pentingnya ijtihad di kalangan umat Islam saat ini. Meski Manji bukanlah seorang sarjana muslim yang sengaja dan secara spesifik belajar tentang Islam namun keberhasilan dia adalah dia telah dengan jujur dan berani serta bersikap untuk mengungkapkan sesuatu yang salah yang dirasakan seorang muslim tentang Islam yang "dipraktekkan" dalam masyarakat saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ia menyebut dirinya sebagai Muslim &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Refusenik&lt;/span&gt;. Identitas ini bukan berarti ia menolak untuk menjadi muslim tapi ia menolak bergabung dengan sebuah pasukan robot atas nama Allah, menentang penjajahan otoritas dan pemahaman serta penafsiran Islam yang dominan sekarang ini yang disebarkan oleh para mullah, imam, sheikh dan lain-lain. Islam yang menyebarkan kebencian kepada yang lain, Islam yang menghalalkan kekerasan hanya karena berharap bertemu bidadari dan masuk surga, Islam yang tidak ramah dengan perempuan untuk melanggengkan patriarkhi, Islam yang menolak hak asasi manusia dan sekulerasiasi untuk menegakkan teokrasi dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Refusenik&lt;/span&gt; berasal dari kalangan Yahudi-Soviet yang memperjuangkan kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Pemerintah Komunis saat itu menindas dan menghalagi perjuangan dan hak mereka. Mereka menolak untuk pindah ke Israel dan akhirnya dihukum berat bahkan ada yang dibunuh. Namun perjuangan mereka mendapatkan kemenangan dengan tumbangnya kekuasaan Soviet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manji meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini akan mendapatkan hasilnya. Ia berharap umat Islam tidak akan terbelenggu lagi dengan pemahaman-pemahaman literer yang membuat Islam ini terpuruk dan tidak beradab. Manji masih lantang bersuara sampai sekarang. Ia menulis artikel dan buku, mengisi seminar dan diskusi, rajin berdiskusi dan menjawab pertanyaan siapa saja di blognya, wawancara di pelbagai media, bahkan ia membuat film dengan judul Faith without Fear yang diproduksi oleh PBS TV. Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidupnya dalam merekonsiliasi antara keyakinan agama dan kebebasannya (freedom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Oprah Winfrey memberikan penghargaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chutzpah&lt;/span&gt; karena keberanian, kelantangan dan keteguhan Manji dalam menyuarakan keyakinan dan perjuangannya. Majalah Ms menyebut Manji sebagai “Feminis Abad 21”, The World Economic Freedom Forum memilihnya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Young Global Leader&lt;/span&gt;. Sementara The Jakarta Post menuliskan Manji merupakan salah satu dari tiga perempuan Islam yang memberi perubahan positif pada Islam saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jarang menemukan orang yang berani seperti Manji di tengah konstelasi umat Islam saat ini. Karena pemikirannya yang dianggap mengancam itulah ia mendapat banyak cercaan dan ancaman termasuk diancam dibunuh dari kalangan Islam yang tidak setuju dengannya. Bahkan The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Namun Manji tidak takut mati karena ia punya keyakinan bahwa meski raganya mati tapi gagasan dan pemikiran tetap akan hidup dan tetap diteruskan oleh orang-orang yang setuju dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya sikap Mohammed di atas, saya juga sangat setuju untuk tidak mempersoalkan pilihan orientasi seksual Manji yang berbeda dengan mainstream. Juga tidak menjadi dalih untuk menolak pemikiran dan usahanya selama ini dalam menghidupkan kembali ijtihad yang harus dilakukan umat Islam saat ini. Mengutip  sebuah ungkapan Arab: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;undur ma qaala, wala tandur man qaala&lt;/span&gt;: lihat yang dia lakukan selama ini, jangan mempersoalkan bagaimana orangnya. Kita mesti mengapresiasi, mendukung dan mengikuti pemikiran dan perjuangannya selama ini. Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Tulisan ini dimuat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jurnal Perempuan&lt;/span&gt;, edisi Maret-April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1063320878822981289?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1063320878822981289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/muslimah-lesbian-yang-gigih-menyerukan.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1063320878822981289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1063320878822981289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/04/muslimah-lesbian-yang-gigih-menyerukan.html' title='Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R_Cmn02bOXI/AAAAAAAAAPA/AA-AMTHNDlw/s72-c/irshad+manji1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8567876535255756268</id><published>2008-03-24T03:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T01:53:27.954-07:00</updated><title type='text'>Usiaku Bertambah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R-euBU2bOUI/AAAAAAAAAOo/bPuvIftaT_A/s1600-h/IMG_1376.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R-euBU2bOUI/AAAAAAAAAOo/bPuvIftaT_A/s200/IMG_1376.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181301234113132866" /&gt;&lt;/a&gt; Kemarin usiaku bertambah. Aku senang karena Andrea meniup lilin untukku dengan antusias. Banyak ucapan dan doa mengawali tambahnya umurku (duh, aku makin tua nih!). Aku ucapkan terima kasih buat orang-orang terdekatku, keluarga dan teman-teman semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada puisi yang dirangkai Dewi, sahabatku yang sekarang belajar di Jerman,untuk ultahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perkasa Mahmada&lt;br /&gt;Yang tak dinujum derita&lt;br /&gt;Kepadanya tiada cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak hujan dirasa&lt;br /&gt;Kepadanya tiada lara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lara itu indah Mahmada&lt;br /&gt;Lara itu perkasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kata-kata bagus dari mbak gadis yang membuatku termotivasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;learning year by year, moment by moment to be free in our minds and hearts, we make freedom posible every minute of our lives.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalimat-kalimat dari mbak Soe Tjen yang membuatku makin bangga dan bahagia menjadi ibu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terkadang, ucapan selamat seharusnya tidak hanya disuguhkan pada yang telah lahir. Namun juga pada yang melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pada saat itu, seorang ibu telah merelakan tubuhnya untuk manusia baru. Kepada Nong, yang telah berbuat banyak pada perempuanlainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selamat Nong dan selamat juga pada ibu Nong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku berharap, semua doa yang dipanjatkan keluarga dan semua temanku semoga terkabul, Amiiinnn...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8567876535255756268?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8567876535255756268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/03/usiaku-bertambah.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8567876535255756268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8567876535255756268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/03/usiaku-bertambah.html' title='Usiaku Bertambah'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R-euBU2bOUI/AAAAAAAAAOo/bPuvIftaT_A/s72-c/IMG_1376.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7577209219497510768</id><published>2008-03-21T22:18:00.000-07:00</published><updated>2008-03-21T22:26:40.873-07:00</updated><title type='text'>Belum Ada Keinginan Kuat</title><content type='html'>INILAH.COM, Jakarta – Peran politik kaum perempuan semakin diharapkan. Undang-Undang Politik yang baru bahkan mewajibkan partai politik mengadopsi peran ini dengan mewajibkan partai politik memenuhi kuota sebesar 30%, baik dalam struktur kepengurusan partai politik maupun di parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, kewajiban ini tak ototmatis memuluskan jalan kaum hawa terjun ke dunia politik. Sebab tidak adanya keinginan yang kuat dan keras dari partai politik untuk melibatkan perempuan selama ini menjadi hambatan utama. "Pemenuhan kuota 30% untuk perempuan hanya bisa terealisasi bila ada kemauan kuat dari partai politik," kata Nong Darol Mahmada, Manajer Program Freedom Institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada INILAH.COM, Nong mengutarakan pandangannya mengenai kesiapan politisi perempuan dalam menyambut tantangan itu. Berikut ini, petikan wawancaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebenarnya seberapa siap politisi perempuan memenuhi kuota 30% baik di parlemen maupun di kepengurusan partai?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau misalnya ada keinginan yang kuat atau niat baik dari partai, kuota itu bisa terlaksana. Jangankan 30%, lebih dari itu sebenarnya juga bisa. Hanya saja selama ini nggak ada keinginan atau usaha yang sangat keras dari partai untuk merealisasikan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian yang dilakukan pusat-pusat kajian gender, partai-partai politik masih belum punya keinginan yang kuat untuk itu. Padahal potensi perempuan untuk mengisi kuota itu sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jadi potensi perempuan untuk terlibat dalam politik sebenarnya lebih besar dari 30%?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sangat-sangat besar. Kalau ada keinginan dan usaha yang keras dari parpol, bisa melebihi 30%. Karena sekarang itu kan perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan pengalaman sudah semakin banyak. Begitu juga kalangan perempuan yang memegang sebuah organisasi atau berkecimpung dalam kegiatan kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma itu, nggak ada keinginan dari parpol untuk secara kreatif mencari perempuan-perempuan yang potensial dan layak dalam menduduki posisi di parlemen dan partai politik mereka. Itu saja problemnya, menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakan Anda melihat ada persoalan gender dalam hal ini, sehingga politik itu didominasi kaum laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan hanya persoalan itu saja. Persoalan patriakis itu kan sudah mengakar, itu kan persoalan budaya. Tapi, budaya politik di kita masih lebih melihat bahwa permainan politik itu lebih didominasi atau hanya milik laki-laki. Terus yang kedua, masih menggunakan politik sebagai kepentingan pribadi, bukan konstituen. Bahkan, hanya untuk kepentingan parpol saja. Konstituen selalu hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada keterkaitan erat antara orientasi partai dengan kuota perempuan di partai politik?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, kalau kita membaca usulan nama caleg perempuan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dalam pemilu kemarin kan umumnya begitu. Kita juga bisa melihatnya dari beberapa perempuan yang kini terlibat di beberapa partai politik, lebih seperti itu dibandingkan misalnya yang laki-lakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politisi perempuan seperti Maria Ulfah, salah satunya, lebih memiliki perhatian kepada konstituen ketimbang kepada partai politik. Malah mereka sering bentrok dengan partai politik, karena dianggap terlalu berkomitmen terhadap konstituen ketimbang partai politik. Saya melihatnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kalau partai politik menginginkan keterlibatan perempuan, apakah partai politik harus mengubah orientasi politiknya menjadi fokus terhadap kepentingan konstituen?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kan partai politik itu memang seharusnya untuk konstituen kan? Artinya begini... saya melihat, ketika perempuan itu terlibat dalam parpol itu, perjuangannya cukup keras. Ia bukan hanya memperjuangkan suara-suara konstituen, tapi juga berjuang untuk di parpolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memakluminya. Buat saya, itu nggak masalah, karena kita semua kan baru menjalani sebuah tahap proses menuju ke kedewasaan politik. Tapi kita berharap bahwa suatu saat nanti partai politik benar-benar memperhatikan konstituen. Lebih berkomitmen ke konstituen tanpa harus mengurangi komitmennya terhadap parpol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Artinya Anda melihat dominasi laki-laki di partai politik lebih berorientasi pada kepentingan pribadi ketimbang jika partai politik dipegang perempuan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benar. Itu yang dinamakan sebagai politik laki-laki. Jadi mereka bersaing keras untuk diri pribadi. Ini mungkin terlalu stereotip, tapi bisa juga dibilang bahwa kadang dalam keterlibatan laki-laki di politik kurang memaksimalkan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, emosional itu penting. Karena di situ yang namanya empati, simpati, erat kaitannya dengan menjaga hubungannya dengan konstituen ini. Jangan dianggap hal yang emosional itu negatif. Nggak, sama sekali. Itu bisa menyeimbangkan semuanya. Empati, simpati, dan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan laki-laki di partai politik lebih menonjolkan unsur rasional. Kalau menilai, selalu hitam putih. Sedangkan perempuan kan nggak seperti itu. Nah, karena itu pentingnya perempuan di partai politik juga menyangkut soal-soal seperti itu. [P1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://www.innphotoes.com/berita.php?id=15414&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7577209219497510768?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7577209219497510768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/03/belum-ada-keinginan-kuat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7577209219497510768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7577209219497510768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/03/belum-ada-keinginan-kuat.html' title='Belum Ada Keinginan Kuat'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8581728253166901842</id><published>2008-02-23T19:31:00.000-08:00</published><updated>2008-03-06T23:41:21.765-08:00</updated><title type='text'>Kenyamanan dan Kemerdekaan</title><content type='html'>Malam ini, dua kata itu datang menggugatku. Ada sms yang mampir ke hpku dengan memakai dua kata itu. Aku tersentak, ingat jalan hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R8DrhH4Q7rI/AAAAAAAAAOY/aStpq6yrMdA/s1600-h/IMG_0873.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R8DrhH4Q7rI/AAAAAAAAAOY/aStpq6yrMdA/s200/IMG_0873.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170391326504578738" /&gt;&lt;/a&gt;Aku pernah merasakan rasa nyaman yang luar biasa dalam beberapa waktu, tapi aku merasa tak punya kemerdekaan. Kemerdekaan yang aku jalani waktu itu harus dengan wajah ganda: aku tetap bertahan dengan kenyamananku supaya aku tak hilang kemerdekaanku. untuk menjalani kemerdekaanku aku butuh strategi agar tak menyakiti orang-orang yang tak suka dengan pemikiran dan pilihan hidupku. Bagi sebagian orang aku dibilang penakut dan munafik tapi waktu itu buatku adalah kompromi dan pilihan menjalani hidupku sendiri. GM pernah komentar tentang hidupku: takdirmu Nong, sejak menemukan kehidupanmu kamu selalu melakoni hidup dengan wajah ganda seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, aku berontak. Mungkin persis seperti awal-awal Indonesia mau merdeka dari Belanda dulu. Untuk mendapatkan kemerdekaan ini aku perlu lobi, aksi dan yang lainnya (hehe..maksa banget gitu loh) Sekarang aku mendapatkan kemerdekaan itu. Namun aku alami sekarang malah sebaliknya. Aku merasa merdeka tapi aku tak merasakan kenyamanan. Banyak tuduhan macam-macam dan aku jadi merasa gelisah, tak nyaman. Sempat membuat hidupku terganggu tapi sekarang aku tak perduli lagi. Ini pilihan hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku bertanya, apakah untuk hidupku dua kata ini harus terus menerus dihadap-hadapkan? Tak bisakah dua-duanya didapatkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa, sebenarnya aku ingin mendapatkan kenyamanan dan kemerdekaan sekaligus. Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkannya. Definisiku sementara, kenyamanan membuat kita lelap dan menganggap hidup ini selesai, tdk menantang lagi.  Sementara kemerdekaan membuat kita terus mencari dan berpetualang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya aku mendapatkan dua-duanya: kenyamanan dan kemerdekaan. Tapi kalau ngga bisa, aku memilih kemerdekaan. Dengan pilihan ini aku merasa terus menerus hidup dan berproses. Bukankah hidup ini memang berproses terus menerus sampai kita mati? semoga aku bisa dan Mari Kita Rayakan Kemerdekaan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8581728253166901842?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8581728253166901842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/02/kenyamanan-dan-kemerdekaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8581728253166901842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8581728253166901842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/02/kenyamanan-dan-kemerdekaan.html' title='Kenyamanan dan Kemerdekaan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R8DrhH4Q7rI/AAAAAAAAAOY/aStpq6yrMdA/s72-c/IMG_0873.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7399119401347146127</id><published>2008-02-21T03:09:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T00:10:36.906-08:00</updated><title type='text'>Kamu-Kamulah SURGA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R72WsX4Q7qI/AAAAAAAAAOQ/6freCiS_pek/s1600-h/IMG_0940.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R72WsX4Q7qI/AAAAAAAAAOQ/6freCiS_pek/s200/IMG_0940.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169453636359614114" /&gt;&lt;/a&gt;tahukah kamu kuciumimu&lt;br /&gt;di saat terlelap&lt;br /&gt;tahukah kamu kudekap kamu&lt;br /&gt;saat kamu bermimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu ya cuma kamu&lt;br /&gt;pemilik hatiku&lt;br /&gt;tahukah kamu hatiku ini&lt;br /&gt;adalah hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu di setiap tidurku&lt;br /&gt;ku kagumi wajahmu&lt;br /&gt;nanti kau kan tahu&lt;br /&gt;nanti kau dengar bahwa aku begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;reff:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R71dvX4Q7pI/AAAAAAAAAOI/STD3bUTrjeo/s1600-h/IMG_1023.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R71dvX4Q7pI/AAAAAAAAAOI/STD3bUTrjeo/s200/IMG_1023.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169391015736438418" /&gt;&lt;/a&gt; kamu, kamu adalah surga yang ada&lt;br /&gt;dalam hidupku dalam kenyataanku&lt;br /&gt;kamu, aku adalah penghuni surga&lt;br /&gt;ucapkan salam pada hidup dan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu saat kamu menangis&lt;br /&gt;adalah air mata ku yang jatuh berlinang&lt;br /&gt;tahukah kamu saat kamu tersakiti&lt;br /&gt;adalah aku yang pertama terluka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah kamu ya cuma aku&lt;br /&gt;yang punya cinta untukmu&lt;br /&gt;tahukah kamu ya cuma aku&lt;br /&gt;yang rela mati untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Lagu ini ciptaan Ahmad Dhani yang sekarang lagi populer dengan band baru pimpinannya, The Rock.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7399119401347146127?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7399119401347146127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/02/kamu-kamulah-surga.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7399119401347146127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7399119401347146127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/02/kamu-kamulah-surga.html' title='Kamu-Kamulah SURGA'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R72WsX4Q7qI/AAAAAAAAAOQ/6freCiS_pek/s72-c/IMG_0940.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2801206520116071762</id><published>2008-01-17T23:41:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T00:29:43.906-08:00</updated><title type='text'>Slamet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5BhmIyaDhI/AAAAAAAAANw/zzzMAWBnZS0/s1600-h/pedagang+gorengan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5BhmIyaDhI/AAAAAAAAANw/zzzMAWBnZS0/s320/pedagang+gorengan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156728881161047570" /&gt;&lt;/a&gt;Rabu kemarin (16/1) lagi-lagi ada berita yang menyayat hati kita semua. Slamet seorang pedagang gorengan di Pasar Badak Pandeglang Banten terpaksa mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Saya sedih karena saya juga berasal dari kebupaten yang  sama, Pandeglang. Saya yakin, Slamet bukannya ngga tahu kalau bunuh diri dalam agamanya itu dosa, tapi ia sudah tak tahan dengan tekanan hajat hidup yang semakin berat. Sebagai pedagang kecil pendapatannya terus menurun, sementara minyak tanah semakin sulit didapat dan harganya terus naik. Ditambah melonjaknya harga bahan-bahan pokok dagangannya: tempe, tepung terigu, tepung tapioka, sayuran dan minyak goreng.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kita tahu, Slamet adalah satu dari ribuan pedagang makanan yang terkena dampak dari buruknya pemerintah mengatur negeri ini. Tidak pernah jelas sampai sekarang bagaimana  program pemerintah membantu masyarakat miskin. Dulu saya pernah ikutan menandatangani persetujuan untuk pengurangan subsidi BBM karena akan dialihkan subsidinya ke rakyat miskin berupa kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sosial lainnya. Namun pada prakteknya hal itu sulit sekali. Ternyata banyak kebijakan pemerintah semakin membuat masyarakat miskin susah. Banyak slamet-slamet di negeri ini dan saya tak mampu melakukan apa-apa untuk membantu mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berita tentang Slamet dan lainnya terabaikan. Semua perhatian dan berita dicurahkan ke Soeharto, termasuk doa. Nasib Slamet semakin terpinggirkan, dan mungkin akan terlupakan. Peristiwa Slamet ini mengetuk hati kita, dan menggugah nurani bahwa hari demi hari masa depan rakyat kecil semakin tak pasti di negeri ini. Slamet adalah tumbal dari pembiaran dan ketidakpedulian, serta kesewenang-wenangan Pemerintah yang terus menerus berlangsung.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5Bh0IyaDiI/AAAAAAAAAN4/cL_bDWSJMuY/s1600-h/Nong+demo+di+kejakgung.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5Bh0IyaDiI/AAAAAAAAAN4/cL_bDWSJMuY/s200/Nong+demo+di+kejakgung.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156729121679216162" /&gt;&lt;/a&gt;Hari Rabu siang itu saya mampir ke Utan Kayu dan bertemu dengan Mas Goen. tiba-tiba mas goen meminta saya untuk membuat acara doa dan renungan untuk Slamet. Tentu saja saya menyanggupinya meski acara dan persiapannya sangat mendadak. Saat itu juga langsung dibicarakan tehnis acaranya dan siapa aja yang akan diundang untuk memimpin doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, sekitar 50 orang hadir di Kedai Tempo, Komunitas Utan Kayu, Kamis 17 Januari. Kita larut dalam kesedihan dan keprihatinan. Kematian Slamet yang tragis memanggil dan membuat kita berkumpul di Kedai Tempo. Saya terharu karena dalam waktu yang sangat mendadak dan tidak terjadwal sama sekali, tokoh-tokoh agama dan masyarakat lintas agama itu datang untuk berdoa dan menyatakan keprihatinan. Berkali-kali saya menyeka air mata saya mendengar doa dan ungkapan keprihatinan yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh agama yang memimpin doa. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5BiGYyaDjI/AAAAAAAAAOA/uJRvsoY4MSY/s1600-h/musda+mulia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5BiGYyaDjI/AAAAAAAAAOA/uJRvsoY4MSY/s200/musda+mulia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156729435211828786" /&gt;&lt;/a&gt;Siti Musdah Mulia dari ICRP memulai dengan doa, ungkapan duka, dan keprihatinan. Selanjutnya diikuti dengan tokoh-tokoh lintas agama yang lain, Zafrullah Pontoh (JAI), Pdt Albertus Patty dari GKI, Pdt Martin Sinaga dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Pdt Gomar Gultom dari PGI, Bikhu Bhadravidya dari Majelis Buddhayana Indonesia, Romo Benny Susetyo dari KWI, Romo Jus Felix Mawengkang, MSC, dan ditutup Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dalam acara malam itu juga dibacakan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang ditulis Tahun 1986 “The Death of Sukardal”, kisah tukang becak yang gantung diri karena becaknya dirampas oleh petugas. Goenawan Mohamad juga memberikan orasi: menceritakan sosok Slamet yang  meninggalkan seorang istri, empat orang anak dan hutang yang belum&lt;br /&gt;terbayar. Slamet  memiliki hutang 5 juta  dan baru terbayar 2.5 juta. Slamet tak mampu lagi membayar sisanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Acara tersebut ditutup pemutaran sebuah film berjudul “Kematian di Jakarta” karya Ucu Agustin yang mengisahkan kematian orang-orang terlantar di Jakarta. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Di acara itu, saya juga secara spontan meminta sumbangan untuk membantu keluarga yang ditinggalkan Slamet, minimal untuk membayar utangnya. Malam itu terkumpul dana sebesar 2 juta rupiah. Rencananya, sumbangan ini akan terus dilanjutkan pengumpulannya oleh Radio Utan Kayu Jakarta dan kemudian akan langsung diberikan ke keluarga Slamet. Semoga tak ada lagi Slamet atau Sukardal lainnya di negeri ini. Meski sepertinya harapan itu sangat sulit terjadi mengingat kondisi bangsa dan kebijakan pemerintah kita masih seperti ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2801206520116071762?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2801206520116071762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/01/slamet.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2801206520116071762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2801206520116071762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/01/slamet.html' title='Slamet'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R5BhmIyaDhI/AAAAAAAAANw/zzzMAWBnZS0/s72-c/pedagang+gorengan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-8384682668848388769</id><published>2008-01-15T12:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-14T21:35:50.937-08:00</updated><title type='text'>Umi</title><content type='html'>Aku kangen Umi. Rasa ini membuatku selalu berdoa dan pasrah menjalani hidup, ngga ngoyo dan ambisius. Rasa ini membuatku rehat dari kelelahan mengejar keinginan hidupku yang menggebu-gebu, apapun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R4xCDYyaDfI/AAAAAAAAANg/355BpW-OipU/s1600-h/100_0050.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R4xCDYyaDfI/AAAAAAAAANg/355BpW-OipU/s200/100_0050.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155568299393289714" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin, aku membuka-buka kembali diaryku ketika umiku sakit. Waktu itu aku masih kuliah di IAIN sekitar tahun 1997. Umiku bersabar dan bertahan dengan kesakitannya selama 8 tahun, menurutku waktu yang sangat lama sekali untuk sebuah penderitaan, yang akhirnya di pertengahan Januari 2004 Tuhan mengakhiri kesakitannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, aku tak habis pikir dengan ulah Tuhan yang memberi kesakitan yang lama untuk umiku. menurutku, ini benar-benar ngga adil. sering kali aku kemukakan gugatan dan kemarahanku itu kepada Umiku bila aku bermanja-manja sambil tidur-tiduran di sampingnya ketika ia masih hidup. Jawaban umi, "Allah sayang sama Umi, Nong. Kamu jangan begitu sama Allah. Ambil hikmahnya aja." Aku tak seperti Umi, aku marah besar saat itu sama Tuhan. terus terang, aku tak pernah menemukan hikmahnya dari itu semua, selain aku melihat penderitaan umi dan kemudian kehilangan umi. Buatku kalau pun Tuhan menghukum Umiku, mestinya tak sekejam itu. Umiku orang yang sangat baik, berkorban banyak untuk ibu, saudara-saudaranya, suami dan anak-anaknya dan betul-betul mengabdi untuk masyarakatnya. kenapa Tuhan tega sama umiku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember lalu, ada pidato kebudayaan D. Zawawi Imron, penyair senior dari Madura. selesai pidato, dia membacakan puisi IBU. Zawawi membacakannya dengan penuh seluruh. Aku bergetar, menangis, aku ingat Umiku.. langsung aja aku ingin mendapatkan teks puisi itu. tadi malam, puisi itu dikirimkan oleh guntur, orang Madura juga. terima kasih gun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R4xC1YyaDgI/AAAAAAAAANo/FnNNBJX_hrA/s1600-h/umi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R4xC1YyaDgI/AAAAAAAAANo/FnNNBJX_hrA/s320/umi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155569158386748930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau&lt;br /&gt;Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting&lt;br /&gt;Hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila aku merantau&lt;br /&gt;aku ingat sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku&lt;br /&gt;di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan&lt;br /&gt;lantaran hutangku padamu tak kuasa aku bayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu adalah gua pertapaanku&lt;br /&gt;dan ibulah yang meletakkan aku di sini&lt;br /&gt;saat bunga kembang menyerbak bau sayang&lt;br /&gt;ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi&lt;br /&gt;aku mengangguk meskipun kurang mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kasihmu ibarat samudra&lt;br /&gt;sempit lautan teduh&lt;br /&gt;tempatku mandi, mencuci lumut pada diri&lt;br /&gt;tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh&lt;br /&gt;lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku&lt;br /&gt;kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan&lt;br /&gt;namamu ibu, yang akan kusebut paling dahulu&lt;br /&gt;lantaran aku tahu&lt;br /&gt;engkau ibu dan aku anakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila aku berlayar lalu datang angin sakal&lt;br /&gt;Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala&lt;br /&gt;sesekali datang padaku&lt;br /&gt;menyuruhku menulis langit biru&lt;br /&gt;dengan sajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1966&lt;br /&gt;dari buku : Madura, Akulah Darahmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-8384682668848388769?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/8384682668848388769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/01/umi.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8384682668848388769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/8384682668848388769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2008/01/umi.html' title='Umi'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R4xCDYyaDfI/AAAAAAAAANg/355BpW-OipU/s72-c/100_0050.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7182894712210280757</id><published>2007-12-22T01:34:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T03:59:41.904-08:00</updated><title type='text'>KH. Ilyas Ruhiyat, Guruku, Telah Tiada</title><content type='html'>Selasa (18/12) jam 16.30 saya mendapat sms dari Pak Abdul Khobir, salah seorang menantu KH. Ilyas Ruhiyat yang juga guru saya di SMA dulu:  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Innalillahi wainna ilaihi roji’un&lt;/span&gt;, telah wafat bapak kita tercinta Pak Ilyas Ruhiyat hari ini di Cipasung Tasikmalaya. Mohon dimaafkan semua kesalahan dan kekhilafannya”. Saya langsung membalas: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allahummaghfirlahu warhamhu…&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3JB8YyaDeI/AAAAAAAAANY/JbK3P6X2ib4/s1600-h/ilyas-ruhiyat-sbp.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3JB8YyaDeI/AAAAAAAAANY/JbK3P6X2ib4/s200/ilyas-ruhiyat-sbp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148249829739728354" /&gt;&lt;/a&gt;KH Ilyas Ruhiyat, pimpinan Pesantren Cipasung dan mantan Rais ‘Am PBNU, meninggal dunia di usia 73 tahun 11 bulan. Ia meninggal karena sakit stroke dan penyakit komplikasi lainnya. Setelah sempat dirawat Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama 40 hari dan kemudian dipulangkan ke rumahnya Cipasung karena dianggap kondisinya membaik. Namun kondisi itu hanya berlangsung dua minggu. Dengan didampingi dua putrinya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah Rahayu serta beberapa santrinya, beliau menghembuskan nafas terakhir.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata para santrinya dan kalangan nahdhiyin, pak Ilyas (sejak di pesantren saya selalu memanggilnya Bapak) merupakan kiai besar atau dalam istilah sunda &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ajeungan, &lt;/span&gt;yang penuh kharisma dan sangat bewibawa. Pembawaannya yang kalem, nada bicaranya yang sangat datar dan senyumnya yang selalu tersungging di bibirnya merupakan ciri khas beliau. Dalam kepribadiaannya itu tersimpan ketegasan dan kekonsistenannya dalam bersikap. Sejarah mencatat bagaimana sikap beliau yang tidak mau terkooptasi kekuasaan saat beliau menjadi Rais ‘Am mendampingi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Muktamar di Cipasung tahun 1995. Saat itu, negara begitu kuat mengintervensi semua ormas termasuk NU. Di tangan pak Ilyas, NU bisa tetap bersikap independen meski terus dikuyek kuyek. Pak Ilyas pun dikenal sebagai pribadi yang tidak haus kekuasaan dan posisi. Meski ditawarkan untuk tetap menjabat Rais ‘Am, tapi ia lebih memilih berhenti, konsentrasi ke pesantren, dan menyerahkan posisi itu kepada KH. Sahal Mahfoudz.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ilyas memang tidak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis, melontarkan pendapat di media, atau sering menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam seminar-seminar dan Konferensi namun, mengutip tulisan Ulil Abshar Abdalla di milis Jaringan Islam Liberal,  pak Ilyas adalah sebuah mazhab tersendiri. Gaya kekiaian pak Ilyas adalah salah satu di antara corak kekiaian yang berkembang dalam tubuh NU. Pesantren Cipasung yang diasuh olehnya merupakan contoh pelaksanaan dari prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi 'l-jadid al-aslah, &lt;/span&gt;memelihara yang lama yang baik, menyerap yang baru yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamini pernyataan Ulil ini. Pak Ilyas tidak pernah alergi dan sangat terbuka menerima gagasan progressif dan baru yang datang dari luar. Apalagi gagasan itu untuk memajukan pemikiran santrinya dan kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren. Setiap tamu dari kalangan mana pun, NU atau non NU, Islam atau non Islam, pasti disambutnya dengan ramah. Makanya tak aneh bila di lingkungan Pesantren Cipasung banyak santri dan pengurus pesantren, termasuk anak-anaknya pak Ilyas, yang aktif di LSM-LSM yang bergerak dalam pemikiran dan pemberdayaan masyarakat. Di sini, santri dikondisikan tak hanya belajar mengaji saja tapi juga dituntut berpikir kritis dan menjadi aktivis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung karena selama saya nyantri di Cipasung enam tahun saya tinggal di rumah beliau, di Asrama Esa. Saya bisa melihat secara langsung bagaimana pak Ilyas menjalankan kehidupan rumah tangganya, mendidik dan memperlakukan anak-anaknya serta “mencuri” dengar setiap pembicaraan dengan tamu-tamunya. Sebagai santri yang masih junior, saya belum banyak mengerti dan belum sempat diajar ngaji langsung olehnya. Sebagaimana layaknya kyai besar, pak Ilyas hanya memegang santri kelas advent dan pengajian khusus kyai-kyai seluruh Tasikmalaya. Hubungan saya dengannya seperti ayah dan anak. Kalau saya dianggap “nakal” olehnya pasti saya dimarahi langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3Ia4oyaDdI/AAAAAAAAANQ/Fah4NVo-bac/s1600-h/KH+Ilyas.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3Ia4oyaDdI/AAAAAAAAANQ/Fah4NVo-bac/s200/KH+Ilyas.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148206884361735634" /&gt;&lt;/a&gt;Ibu Hj Dedeh Fuadah, istri pak Ilyas yang meninggal enam bulan lalu (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;allahumaghfirlaha&lt;/span&gt;), buat saya sudah seperti ibu sendiri. Beliaulah yang menjadi guru mengaji pertama saya di pesantren ini. Kepada isterinya ini, pak Ilyas sangat mencintai dan menyayanginya sampai akhir hayatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ayah, saya melihat, Pak Ilyas merupakan figur ayah yang moderat dan toleran bahkan sangat moderen untuk ukuran kyai NU. Biasanya seorang kyai besar yang memiliki pesantren besar seperti beliau ini “memaksa” anak-anaknya hanya belajar di pesantren dan kuliah di sekolah agama misalnya IAIN atau perguruan tinggi di Timur Tengah, agar menguasai ilmu-ilmu agama supaya bisa melanjutkan posisinya. Atau untuk anak perempuannya, dijodohkan atau dianjurkan menikah dengan anak kyai besar dan pintar mengaji. Tradisi seperti ini biasa kita lihat dalam pola pendidikan dan cara pernikahan di keluarga pesantren-pesantren besar di NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3IYloyaDcI/AAAAAAAAANI/88wfbTpIST4/s1600-h/acep+zam2+noor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3IYloyaDcI/AAAAAAAAANI/88wfbTpIST4/s200/acep+zam2+noor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148204358920965570" /&gt;&lt;/a&gt;Namun hal itu tidak terjadi dalam keluarga pak Ilyas. Anaknya yang pertama, Acep Zam Zam Noor dikenal sebagai seniman, pelukis dan penyair besar lulusan seni rupa ITB. Ia menikah dengan perempuan dari keluarga yang tak berbasis pesantren. Dua anak perempuannya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah Rahayu kuliah di IKIP Bandung dan bersuami bukan berlatar belakang pendidikan pesantren. Meski tak menguasai kitab kuning dan hanya berpendidikan sekuler, anak-anak dan menantunya kini bahu membahu memajukan Pesantren Cipasung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi kesan mendalam saya ketika nyantri di Cipasung adalah hubungan yang sangat baik antara Pesantren Cipasung dan umat Ahmadiyah. Hal ini dikarenakan  sikap pluralis dan toleran pak Ilyas dalam membina hubungan dengan masyarakat sekitarnya termasuk dengan umat Ahmadiyah. Sekitar 500 meter dari pesantren Cipasung berdiri komplek pemukiman Ahmadiyah. Dulu, saya sering iseng main ke tempat itu. Ketika Muktamar NU di Cipasung tahun 1995, pemukiman ini juga dijadikan tempat menginap bagi sebagian peserta muktamar. Bila Ahmadiyah dianggap sesat dan salah, semestinya dari dulu pak Ilyas dan pesantren Cipasung sudah menyesatkannya dan berdakwah untuk mengembalikan akidah umat Ahmadiyah di situ. Tapi hal itu tak terjadi. Malah saya melihat hubungan antara mereka dari dulu sangat harmonis. Bahkan ada kerabat dekat pak Ilyas dari turunan ayahnya yang menjadi kaum Ahmadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang hubungan baik yang sudah terjalin lama itu dihancurkan dengan adanya penyerangan oleh kelompok yang merasa akidah dan dirinya paling benar. Ironisnya penyerangan kaum Ahmadi saat itu dilakukan ketika keluarga besar Cipasung sedang dirundung duka karena Ibu Hj Dedeh Fuadah, isteri tercinta pak Ilyas meninggal Juni lalu. Ini betul-betul memperlihatkan bahwa yang melakukan penyerangan itu adalah bukanlah orang Tasikmalaya atau masyarakat sekitarnya. Saya perlu menyinggung hal ini karena untuk mengingatkan kembali sikap pak Ilyas yang sangat toleran terhadap umat Ahmadiyah di saat kelompok ini sekarang sedang dalam proses penghabisan oleh kelompok-kelompok yang merasa paling benar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita kehilangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ajeungan &lt;/span&gt;yang menjadi panutan untuk semuanya. Ribuan orang berduyun-duyun menghantar kepergiannya. Proses pemakamannya dilakukan dengan estafet dari mesjid ke komplek pemakaman yang berjarak 300 meter dan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Beberapa orang bersaksi bahwa langit pun ikut serta menghantarkan kepergiannya ke rumah abadinya. Terlihat di langit ada pelangi yang sangat indah, meski saat itu hujan tak turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu malam kemarin saya mendapat sms dari Pak Khobir lagi: Semoga anak-anak dan cucu-cucunya bisa meneruskan perjuangan beliau.” Saya kira, tak hanya anak dan cucunya yang harus meneruskan perjuangannya, kita juga wajib turut meneruskannya dan mencontoh sikap dan tindakannya untuk kelangsungan hidup bangsa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7182894712210280757?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7182894712210280757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/kh-ilyas-ruhiyat-guruku-telah-tiada.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7182894712210280757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7182894712210280757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/kh-ilyas-ruhiyat-guruku-telah-tiada.html' title='KH. Ilyas Ruhiyat, Guruku, Telah Tiada'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R3JB8YyaDeI/AAAAAAAAANY/JbK3P6X2ib4/s72-c/ilyas-ruhiyat-sbp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2776072562487999279</id><published>2007-12-11T02:25:00.000-08:00</published><updated>2007-12-11T02:18:48.238-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Perempuan Baik-Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R146D34F-8I/AAAAAAAAAMs/ew541q3Qrd4/s1600-h/Russell.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R146D34F-8I/AAAAAAAAAMs/ew541q3Qrd4/s200/Russell.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142611662716926914" /&gt;&lt;/a&gt;Bertrand Russell, sang filosof dari Inggris, pernah menulis satu artikel tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bahaya menjadi Manusia baik-baik&lt;/span&gt;. Menurut Russell, manusia baik-baik berbahaya karena kehilangan kedirian dan kekritisan dirinya. Manusia diatur oleh diluar dirinya, manusia yang ditundukkan oleh moralitas yang berlaku di masyarakat. Sehingga kita harus jaim (jaga image, jaga citra diri) untuk menutupi kedirian kita. Akhirnya kita bisa menjadi hipokrit supaya tetap terjaga citranya di mata publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku gelisah dengan diriku: apakah aku termasuk perempuan baik-baik? Sebenarnya pertanyaan ini biasa-biasa aja dan sedikit norak. Tapi untuk situasiku sekarang yang kebetulan aku berstatus perempuan dan ditengah munculnya kembali RUU Porno akan disahkan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trend&lt;/span&gt; perda Syariah yang mewajibkan perempuan menutup tubuhnya dan tidak keluar malam dll, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ujug-ujug&lt;/span&gt; soal ini menjadi krusial. Betulkah aku telah menjadi perempuan baik-baik? Aku sangat perduli dengan istilah “baik-baik” ini sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya, tak mesti perempuan yang menjadi baik, lelaki pun harus baik. Tapi coba perhatikan di sekeliling kita. Tuntutan yang menyerukan agar menjadi manusia yang baik lebih banyak diperuntukkan kepada yang berjenis kelamin perempuan. Baca kitab suci, baca nasihat ulama, dengar ceramah agama, lebih banyak anjuran dan kewajiban yang dikhususkan buat perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil pun aku selalu diwanti-wanti untuk menjadi perempuan baik, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;almaratu sholihah&lt;/span&gt;. Sehingga aku, dibanding dengan saudaraku yang laki-laki,  banyak diwanti-wanti untuk tidak bolehnya dari pada bolehnya. Kata nenekku, perempuan itu banyak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pamali&lt;/span&gt;nya. Makanya dalam Islam misalnya akhirnya perempuan harus ”ditutupi” supaya tidak macam-macam, supaya terlindungi, atau tidak ”menggoda” ke lawan jenisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R147iH4F--I/AAAAAAAAAM8/RiXXYlYL4Ws/s1600-h/nongdea.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R147iH4F--I/AAAAAAAAAM8/RiXXYlYL4Ws/s200/nongdea.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142613281919597538" /&gt;&lt;/a&gt;Menurutku, banyaknya aturan terhadap perempuan untuk menjadi baik-baik tidak sesuai dengan imbalannya. Kalau pun masuk surga, perempuan cuma jadi pendamping suami atau malah jadi bidadari dari lelaki yang masuk surga. Tidak independen dan tidak bebas lagi layaknya lelaki yang masuk surga dengan mendapat banyak bidadari minimal 40 bidadari, karena ujung-ujungnya tetap menjadi ”milik” lelaki. Hahaha...Betulkah? nanti kita buktikan di surga. Kalau aku sudah gila begini, aku berpikir, mending aku hidup dan menikmati surga dunia aja. Persoalannya, adakah surga dunia? Ya, kita nikmati dan rasakan aja surga menurut persepsi kita sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kegelisahan itu, aku mengsms beberapa teman. Aku menanyakan persepsi teman-temanku soal apa itu perempuan baik-baik. Jawabannya ada yang serius dan ada yang main-main. Responnya malah banyak yang mengkhawatirkanku. Kamu kenapa, Nong? Ada apa, Nong? Dan lain-lain. Seakan-akan aku lagi punya persoalan serius banget. Padahal aku biasa-biasa aja, cuma sekedar gelisah. Hidup kan kadang seperti ini. Dinamika hidup, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kesimpulan dari jawaban teman-temanku: perempuan baik-baik adalah ukuran, definisi dan konstruksi lelaki dengan memakai aturan agama dan aturan lain-lain, wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jawaban sms teman-temanku. Terima kasih atas replynya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Islamiati Fatwa&lt;/span&gt; (temanku di Melbourne, dia ini liberal abiz deh meski bapaknya konservatif): Baiknya tergantung konteks. Pake jilbab di Banten akan dibilang baik kalau di Aussie bisa dicurigai militant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sarah ”Aci” Santi&lt;/span&gt; (teman baikku di Freedom Institute. Aku banyak belajar hidup darinya): Istilah itu cuma definisi sosial. Bentukan budaya dalam satu sisi tidak adil pada perempuan karena ekspetasi yang berlebihan terhadap perempuan. So pertanyaannya kalau gitu perempuan boleh keluar dari definisi itu? Tetap ada koridor etika, Nong. Koridor itu buatku adalah hati hatimu, nurani. Maka sering-sering tengok diri sendiri dan berdialog dengan hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Trisno S. Sutanto&lt;/span&gt; (teman gendutku yang senang minum bir dan makan celeng. orangnya cerdas dan kalau sudah menulis, bagus. Katanya dia Kristen Liberal): Istilah itu dari lelaki dan tergantung kebutuhan, baik-baik di ranjang, di dapur, punya dan melihara anak, sopan berpakaian (pake jilbab), kerja domestik dll. Seharusnya perempuan sendiri yang menetukan tapi agama dan masyarakat kan milik lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R146QH4F-9I/AAAAAAAAAM0/XrLUf7CQE_o/s1600-h/ayu.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R146QH4F-9I/AAAAAAAAAM0/XrLUf7CQE_o/s200/ayu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142611873170324434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ayu Utami&lt;/span&gt;: Di Utan Kayu, banyak plang kos-kosan isinya ”hanya menerima wanita baik-baik”, kalau kamu pasti ga bisa masuk di kosan itu. (apa maksudnya coba?)&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Goenawan Mohamad&lt;/span&gt; (Wartawan senior sekaligus filosof, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suhu&lt;/span&gt; saya dalam menjalani hidup ini): Perempuan baik-baik adalah perempuan yang menyerah kepada ukuran ”baik” yang berkuasa di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Martin Sinaga &lt;/span&gt;(Pendeta yang sangat liberal, yang tidak mau kehilangan Tuhannya): terjemahan kata itu adalah ”perempuan dengan integritas”. Kalau liberal ya konsisten liberal,  kalau puritan ya tetaplah puritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ucu Agustin&lt;/span&gt; (penulis dan filmmaker otodidak, gaya hidupnya menjadikan hidupku lebih hidup): Teh Nong perempuan baik-baik. Semua perempuan itu baik. Yang jahat dan salah pasti lelaki, hehe...itu sih kuyakin sudah lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hidayat ”Wedhatama” &lt;/span&gt;(Temanku yang arif dan bijaksana dalam menjalani hidup): Saat nurani telah menjadi imam bagi setiap orang, maka tak ada yang lebih berhak menjawab pertanyaan moral selain diri yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ari ”ape” Perdana&lt;/span&gt; (laki-laki yang baik, yang hidupnya selalu lurus): Nong, di sebelah rumahku ada kos dengan plang ”menerima wanita baik-baik”. Jadi menurutku, perempuan baik-baik itu yang diterima di kost itu, hahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau menjadi perempuan baik-baik bila ”berbahaya” seperti yang digambarkan Russell. Bila aku memilih definisi mas Goen, aku sekarang berproses tidak menyerah dan mencoba keluar dari ukuran yang sudah terdefinisikan dan terkonstruksi itu. Bisakah itu? waktu yang akan menjawabnya. Kalau pun aku kalah, ngga apa-apa. Yang penting aku sudah mencobanya sebagai ijtihad hidupku dan tahapan hidup yang harus aku jalani. Jadi teman-teman, menurutmu apa yang dimaksud dengan perempuan baik-baik itu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2776072562487999279?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2776072562487999279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/menjadi-perempuan-baik-baik.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2776072562487999279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2776072562487999279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/menjadi-perempuan-baik-baik.html' title='Menjadi Perempuan Baik-Baik'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R146D34F-8I/AAAAAAAAAMs/ew541q3Qrd4/s72-c/Russell.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-6226567932106962192</id><published>2007-12-06T03:22:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T03:13:04.028-08:00</updated><title type='text'>Nabi Itu Monogami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1fgPX4F-4I/AAAAAAAAAMM/sje64kU7s5o/s1600-h/buku+cahyadi.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1fgPX4F-4I/AAAAAAAAAMM/sje64kU7s5o/s320/buku+cahyadi.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140824054378658690" /&gt;&lt;/a&gt;Terbitnya buku ini tak kalah kontroversinya dengan poligami Aa Gym beberapa waktu lalu yang berakibat pesantren dan usaha bisnisnya makin sepi. Meski penulisnya menolak kalau ia menulis buku ini bukan lah karena faktor itu. Konon saking kontroversinya, buku ini sempat ditarik dari peredaran karena membuat gerah aktivis dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski yang memberi pengantar buku ini adalah istri pertama Presiden partai tersebut, Sri Rahayu Tifatul Sembiring. Wajar saja karena buku ini ditulis oleh Ustadz Cahyadi Takariawan yang merupakan salah seorang anggota Majelis Syuro PKS. Majelis ini menempati posisi tertinggi dalam struktur partai yang berideologi Islam ini. Sementara sudah jadi rahasia umum kalau ikhwan partai ini lazim melaksanakan praktek poligami dengan tujuan untuk perluasan dakwah Islam. Mereka juga meyakini bila poligami merupakan solusi ideal relasi suami istri bila sang suami ”tergoda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Isinya memang benar-benar menelanjangi praktek poligami yang banyak menyengsarakan kaum istri dan anak serta lebih khusus lagi kata penulis, berakibat buruk pada dakwah Islam. Artinya penulis mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan sebagian besar koleganya di partai. Dalam pendahuluannya, penulis mengakui bahwa sebenarnya tema ini merupakan tema yang selalu dia hindari karena supersensitif bahkan hipersensitif. Menurutnya, menulis masalah poligami bukanlah wilayah aman untuk mengungkapkannya. Keputusan penulis untuk  tetap menulis tema ini, tentulah sangat tidak populer. Bahkan cenderung menentang arus, atau mungkin juga kebijakan partai.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari awal penulis menekankan bahwa ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Hal ini dikarenakan banyak fakta dan kasus yang akhirnya ia sendiri punya kesimpulan kalau poligami itu bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga tapi malah menghancurkan institusi keluarga khususnya perempuan dan anak. Meski penulis mengakui pada kasus-kasus tertentu seperti menolong janda dan anak korban konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi kenyataannya sangat jarang suami yang berpoligami karena alasan tersebut. Mayoritas berpoligami karena perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik, lebih pintar dan lebih segalanya dibanding istri pertamanya. Buku ini banyak mengungkap data dan fakta yang didasarkan pada kasus-kasus praktek poligami yang memang menjadi kecenderungan partai dimana penulis terlibat dan dari pengaduan para kliennya karena profesinya sebagai konsultan pernikahan dan keluarga di Jogja Family Center (JFC). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1knMn4F-5I/AAAAAAAAAMU/6konAENNnFM/s1600-h/IMG_0378.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1knMn4F-5I/AAAAAAAAAMU/6konAENNnFM/s200/IMG_0378.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141183547436301202" /&gt;&lt;/a&gt;Karena itulah penulis menyarankan agar suami membahagiakan dan memaksimalkan diri dengan satu istri. Dari situ, penulis mengeksplorasi argumen-argumen doktrin Islam tentang monogami yang menurut saya argumen tersebut mendekonstruksi argumen tentang poligami dalam Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami membenarkan perbuatannya tersebut pada dua hal: Alquran surat al-Nisa ayat 3 yang membolehkan poligami sampai empat dan mengikuti Sunnah Nabi. Padahal kata penulis, bila kita melihat kehidupan keluarga Nabi secara cermat, sesungguhnya Nabi itu melakukan monogami. Karena dalam kurun waktu kehidupan rumah tangga Nabi, Nabi itu sangat monogami. Kehidupan rumah tangga Nabi dengan Khadijah itu berlangsung 25 tahun, sementara Nabi mempraktekan poligami itu hanya 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan pernikahannya itu lebih dikarenakan menolong janda-janda sahabat beliau yang meninggal akibat perang untuk membela Islam. (hal xviii) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ayat Alquran yang menjadi acuan poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil, bukan pada bolehnya praktek poligami tersebut. Sikap adil susah sekali ukurannya karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kepuasan materi dan seksual semata. Anugerah perasaan inilah yang merupakan salah satu kelebihan manusia. Seperti yang diulas dengan bagus oleh Bintu Syathi Aisyah Abdurrahman dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Istri-istri Nabi&lt;/span&gt;, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis, malah cenderung penuh intrik dan saling cemburu karena mereka saling bersaing untuk memperebutkan perhatian Nabi. Untuk sekualitas lelaki seperti Nabi saja, yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, Beliau cukup kerepotan mengelola perasaan dan menghadapi isteri-isterinya. Apalagi untuk manusia biasa seperti kita semua. Karena itu kata penulis, kita ini bukan Nabi, isteri kita pun bukan Aisyah. Makanya jangan coba-coba berpoligami. (hal 238)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1konH4F-6I/AAAAAAAAAMc/09Qr24SPEWw/s1600-h/IMG_0442.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1konH4F-6I/AAAAAAAAAMc/09Qr24SPEWw/s200/IMG_0442.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141185102214462370" /&gt;&lt;/a&gt;Ada juga yang berargumen berpoligami itu karena untuk menghindari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zina&lt;/span&gt;. Istilahnya, dari pada selingkuh kan lebih baik poligami. Menurut penulis, kok bisa poligami dibandingkan dan disejajarkan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zina &lt;/span&gt;(selingkuh). Penyejajaran seperti ini kata penulis, merupakan cara berpikir yang tak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyambung&lt;/span&gt;, dan ungkapan tersebut tidak pada tempatnya sebagai alasan untuk melakukan poligami. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain poligami. Misalnya dari pada suami berpoligami lebih baik berpuasa untuk menjaga diri atau konsentrasi dan fokus ke isteri atau onani dan masturbasi atau berkebiri atau berlari-lari untuk membuang energi atau bertobat setiap hari atau aktif dalam kegiatan berorganisasi atau segera naik haji atau banyak pilihan erbuatan yang lebih baik dan positif. Jadi bagi penulis, suami tak mesti berpoligami, atau lebih ekstrim lagi berselingkuh, karena pilihan untuk tetap beristri satu tetap yang paling realistis. (hal.99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengakui, banyak yang bertanya kenapa ia tak berpoligami. Jawabannya karena ingin bahagia dengan satu istri. Dengan memarodikan lagu Aa Gym, penulis menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jagalah istri, jangan kau sakiti&lt;br /&gt;Sayangi istri, amanah ilahi&lt;br /&gt;Bila diri kian bersih, satu isteri terasa lebih&lt;br /&gt;Bila bisa jaga diri, tidak perlu menikah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suami berpoligami&lt;br /&gt;Dakwah akan terbebani&lt;br /&gt;Demarketing menjadi jadi&lt;br /&gt;Dakwah bisa dibenci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah istri, jangan khianati&lt;br /&gt;Jagalah diri, tak perlu poligami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1kpl34F-7I/AAAAAAAAAMk/YG8BPuox1CU/s1600-h/aa+gym.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1kpl34F-7I/AAAAAAAAAMk/YG8BPuox1CU/s320/aa+gym.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141186180251253682" /&gt;&lt;/a&gt;Buku ini jelas-jelas diperuntukkan untuk suami baik yang punya niat berpoligami atau tetap monogami. Bagi yang berniat poligami, setelah membaca buku ini pasti tak akan jadi menambah istrinya. Bagi yang setia dengan satu istri, pasti akan semakin membahagiakan istrinya. Bagi yang sudah berpoligami, ada dua kemungkinan: membenarkan atau menolak mentah-mentah isi buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja buku ini tak hanya layak dibaca para suami atau lelaki meski isinya memang lebih banyak diperuntukkan untuk kaum Adam. Bagi perempuan pun, buku ini sangat bermanfaat karena banyak kiat dan nasihat agar para istri tidak dipoligami. Sayang sekali, bukunya sangat sulit untuk didapatkan sekarang. Salut untuk Ustadz Cahyadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di majalah GATRA, 5 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-6226567932106962192?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/6226567932106962192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/nabi-itu-monogami.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6226567932106962192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/6226567932106962192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/12/nabi-itu-monogami.html' title='Nabi Itu Monogami'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R1fgPX4F-4I/AAAAAAAAAMM/sje64kU7s5o/s72-c/buku+cahyadi.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2161499361225024766</id><published>2007-11-20T21:47:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T23:14:53.705-08:00</updated><title type='text'>Andrea</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KQzl36K7I/AAAAAAAAAME/fBYCcVk2zd8/s1600-h/dea+dan+mama.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KQzl36K7I/AAAAAAAAAME/fBYCcVk2zd8/s200/dea+dan+mama.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134825741170125746" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Andrea Azalia Ardhani-Wibowo. Panggilan sayangnya Dea atau Ea. Ada ceritanya kenapa anakku aku beri nama Andrea. Sehari sebelum aku melahirkan ketika aku berangkat ke RS. Bunda untuk operasi Ceasar, aku mendengar lagu The Corrs. Terus terang aku gugup dan takut mau melakukan operasi ini. Seumur hidup aku belum pernah sakit yang serius dan merasakan tinggal di rumah sakit. Kalaupun aku nginap di RS itu pun nungguin yang sakit misalnya ketika teh neng dan umi di rawat di rumah sakit. Ketika dokterku memutuskan aku ga bisa melahirkan normal dan harus dicesar, ih kebayang deh alat-alat dan kamar operasi yang serem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nervous&lt;/span&gt; seperti itu, aku merasa tenang dan damai ketika mendengarkan lagu-lagu The Corrs. Aku ngefans banget ama grup musik bersaudara ini, yang personnilnya cantik-cantik –yang ganteng satu-- dan kemampuannya yang oke, ini menurutku yang awam dengan musik. Apalagi si vokalisnya yang bernama Andrea. Nama yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari tersisih karena moment tiba-tiba ini. Ujug-ujug aku ingin menamakan anakku seperti vokalis the Corrs yang menurutku nama itu genderless, bisa untuk laki-laki dan cantik untuk perempuan. Sewaktu aku beritahu nama anakku ke teman-teman di Utan Kayu, mereka khususnya Ging Ginanjar, langsung heboh kalau anakku bernama Andrea Harono, plesetan dari Andreas Harsono, yang menekuni jurnalisme sastrawi sekarang www.andreasharsono.blogspot.com . Hehe..aku cuma mesem-mesem aja mendengar plesetan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KNjl36K6I/AAAAAAAAAL8/lR5Qu-D8GnI/s1600-h/andrea+the+corrs.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KNjl36K6I/AAAAAAAAAL8/lR5Qu-D8GnI/s200/andrea+the+corrs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134822167757335458" /&gt;&lt;/a&gt;Lain lagi respon orang tuaku khususnya Ema, istri abahku sekarang. Dia protes karena nama anakku tidak islami. Kok namanya tidak ada Siti-nya atau islamnya sama sekali seperti Aisyah, Fatimah, Mahmadah seperti ibunya? Padahal Azalia itu berasal dari kata Arab yang artinya suci, azali he..he..he.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses melahirkan Andrea aku rekam utuh dengan minta bantuan suster yang membantu operasiku. Ketika aku memperlihatkan ke keluargaku saat mereka menengokku di RS, Abahku menangis tersedu-sedu melihat film itu. Ia teringat umiku yang sudah meninggal beberapa tahun lalu dan karena kengeriannya melihat perutku “dibuka” dan berdarah-darah. Abahku tadinya  merupakan seorang figur bapak yang sangat patriarkhi, sangat keras, prototype suami kyai-jawara, yang tak pernah perduli dengan kesulitan &amp; kerepotan yang dialami istrinya. Baginya isteri itu harus merawat, melayani suami meski umiku sangat kerepotan dengan anak-anaknya dan sejuta kegiatan rumah tangga lainnya. Belum lagi kegiatan umi di luar sebagai guru. Abahku juga sangat berjarak dan tidak pernah dekat dengan anak-anaknya. Semuanya sungkan dan takut kepada abah. Kalau ada keinginan apa-apa, kami selalu menyampaikannya ke umi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0J6u136K0I/AAAAAAAAALM/igoUkBYSLfA/s1600-h/dea+%26+abah.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0J6u136K0I/AAAAAAAAALM/igoUkBYSLfA/s320/dea+%26+abah.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134801470309935938" /&gt;&lt;/a&gt;Tapi setelah umiku sakit terserang stroke, sifat-sifat abahku berubah total. Abah menjadi sangat egaliter dan sangat memahami kemauan umi dan anak-anaknya. Apalagi setelah umiku meninggal, abah sangat mengerti dan menghormati pemikiran anak-anaknya. Beliau hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tut wuri Handayani&lt;/span&gt; aja, setiap tindakan &amp; keputusan anak-anaknya merupakan tanggung jawab anak-anaknya dan tidak pernah mengintervensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada wartawan salah satu majalah Islam datang ke Abah. Ia hendak wawancara abahku berkaitan dengan pemikiran dan keterlibatanku di JIL. Si wartawan ini sebelumnya mewawancarai dan mengambil foto-fotoku. Aku tak mengira kalau laporan tentang JIL itu sampai harus melibatkan abahku. Selama ini, di rumah dan di hadapan Abah karena aku sangat menghormati abah, aku selalu memakai kerudung. Dengan membawa foto-fotoku yang tak berjilbab, si wartawan ini cerita ke abahku kalau aku di Jakarta sudah melepas jilbab dengan bukti foto-foto yang dibawanya dan juga tulisanku serta transkrip wawancaraku. Abahku dengan enteng menjawab: “Abah bangga punya anak seperti Nong. Ngga sia-sia abah nyekolahin dia tinggi dan jauh. Dia punya cita-cita dan idealisme yang berdasar pendidikan dan hasil pergulatannya selama ini. Abah ngga akan pernah mempersoalkan Nong selama dia bisa mempertanggungjawabkannya bahkan abah akan selalu dukung anak abah ini.” Saya ngebayangin mungkin wartawan ini lemes dengar kata-kata abah ini.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KJeV36K5I/AAAAAAAAAL0/eSBHaU9JncQ/s1600-h/dea+mau+bobo.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KJeV36K5I/AAAAAAAAAL0/eSBHaU9JncQ/s200/dea+mau+bobo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134817679516511122" /&gt;&lt;/a&gt;Kembali ke anakku. Kini, Deaku berusia 3 tahun 3 bulan. Dia sudah bisa diajak ngobrol dan makin memahami kondisi mamanya. Namun sifat manjanya makin menjadi-jadi, apalagi bila menjelang tidur. Aku selalu menemaninya tidur meski proses untuk tidur bareng aku sulitnya luar biasa. Berbeda kalau ditidurin mbaknya, tidurnya cepat banget. Denganku, tak cukup dengan membacakan buku-buku cerita, dengerin musik lullaby atau nonton film-filmnya sambil dia muter-muter lari-lari di tempat tidur dan aku menerangkan isi film itu, bahkan terkadang minta digendong pakai kain panjang keliling taman di apartemenku lantai 4. Padahal berat badannya sudah hampir 18 kg. Kadang kalau dia udah bete banget karena susah tidur, dia maksa minta &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nenen&lt;/span&gt; (bayangin, udah usia 3 tahun lebih masih minta ngenyot payudara mamanya. Apa yang didapatkan wong air susunya udah ga ada lagi. Duh anakku!). Meski kegiatan-kegiatan menjelang tidur itu melelahkan tapi aku sangat menikmatinya. Yah, kadang-kadang aku cape karena seharian penuh dengan kegiatan tapi untuk Deaku, aku enjoy banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku berangkat kerja, aku juga mengantarkan dia sekolah. Sekarang dia sekolah tiap hari. Udah hampir dua bulan ini dia ngelakoni rutinitas seperti itu. Kadang-kadang ia ngambek ngga mau sekolah, mungkin karena bosen. Sejak usia setahun, dea aku “sekolahin” di Tumble tot Ambassador. Sebelumnya 2 kali seminggu kemudian bertambah di tahun berikutnya 3 kali seminggu. Bila ngambek ngga mau sekolah, maunya ikut ke kantor. Untung kantorku ngga ketat-ketat banget dan sangat family care. Jadi aku bisa leluasa mengajaknya. Menjelang tidur siang, anakku aku pulangkan dan aku kembali dengan aktivitas kantor dan kegiatanku. Begitulah kehidupan aku dan anakku satu-satunya, Andrea.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2161499361225024766?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2161499361225024766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/11/andrea.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2161499361225024766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2161499361225024766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/11/andrea.html' title='Andrea'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/R0KQzl36K7I/AAAAAAAAAME/fBYCcVk2zd8/s72-c/dea+dan+mama.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-4488909414448806670</id><published>2007-09-24T03:08:00.001-07:00</published><updated>2007-09-24T03:46:38.317-07:00</updated><title type='text'>Bubar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RveOzA9JCYI/AAAAAAAAAKk/P4TqJ3U6p8c/s1600-h/kuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RveOzA9JCYI/AAAAAAAAAKk/P4TqJ3U6p8c/s200/kuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113712908983404930" /&gt;&lt;/a&gt;Sekarang ini lagi ramai di milis-milis tuntutan pembubaran Komunitas Utan Kayu yang ditandatangani oleh Muzakir HS dan Elisia Purba atas nama Garda Depan Pembebasan. Dua nama ini tak pernah kedengaran sebelumnya, begitu juga organisasinya. Saya ngga tahu, apakah saya yang kuper selama ini atau memang mereka yang tidak terkenal namanya. Kata Guntur, mereka orang gila..(jangan gitulah gun..) Tapi saya penasaran juga. makanya saya cari-cari namanya di google dan di yahoo, nama-nama itu tak ketahuan. Yang saya tahu cuma Garda Kemerdekaan, yang kebetulan saya ikut mendirikannya, dan Garda Bangsa, yang punya PKB Gus Dur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngga tahu, apakah tuntutan ini telah diajukan ke polisi atau aparat yang terkait atau hanya sekedar gertakan aja. Saya juga belum dengar pernyataan ini ada konferensi persnya atau ngga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, sebelum saya berkomentar lebih lanjut, silahkan baca tuntutan mereka itu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bubarkan Komunitas Utan Kayu!&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;(1) Seniman Garda Depan Pembebasan (GDP) dengan ini mendesak kepada Pemerintah untuk membubarkan Komunitas Utan Kayu (KUK). &lt;br /&gt;(2) Kami mengimbau pihak kepolisian supaya menutup areal di jalan Utan Kayu 68H itu agar tidak digunakan bagi kegiatan kesenian yang mengancam martabat bangsa. &lt;br /&gt;Telah diketahui luas, bahwa KUK adalah tempat penyebaran ide-ide liberalisme yang mengutamakan humanisme universil dengan mendatangkan seniman-seniman asing secara besar-besaran. KUK juga menjadi tempat berkumpulnya kelompok Islam Liberal dan bekas-bekas tapol G30S/PKI yang ateis dan Marxis. &lt;br /&gt;(3) Kami menuntut agar dominasi KUK dalam bidang sastra harus diakhiri. &lt;br /&gt;(4) Kami menuntut agar Goenawan Muhammad diusut. &lt;br /&gt;(5) Kami menuntut agar Harian Kompas memecat Hasif Amini sebagai redaktur budaya dan diganti oleh Saut Situmorang yang jelas-jelas berprinsip "sastra untuk rakyat tertindas".&lt;br /&gt;(6) Kami menuntut agar Koran Tempo memecat Nirwan Dewanto sebagai redaktur budaya dan diganti oleh sastrawan yang ditunjuk oleh Saut Situmorang serta DEWAN penandatangan Manifesto Ode Kampung. &lt;br /&gt;(7) Kami menuntut agar jurnal Kalam dilarang terbit. &lt;br /&gt;Bersama ini pula kami menyerukan apabila Polisi gagal bertindak, para seniman boemipoetera yang progresif mengambil alih areal Jalan Utan Kayu 6H, termasuk stasiun radio dan teater, dan membuang jauh-jauh buku-buku liberalisme dan marxisme-leninisme dari perpustakaannnya. &lt;br /&gt;SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!!! &lt;br /&gt;GARDA DEPAN PEMBEBASAN (Mudzakir H.S. Ketua &amp; Elisia Purba, Sekretaris I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RveUdg9JCbI/AAAAAAAAAK8/Qsb05Cg-N2s/s1600-h/IMG_0003ok.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RveUdg9JCbI/AAAAAAAAAK8/Qsb05Cg-N2s/s200/IMG_0003ok.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113719136685984178" /&gt;&lt;/a&gt;Gimana setelah baca tuntutan ini teman-teman? Mengerikan kan? Main bubar, main pecat, main ambil alih dan main buang (he..he..he..kayak syair lagu dangdut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kucing Garong&lt;/span&gt;). Memangnya mereka ini siapa? Gimana kalau mereka megang negara ini ya? Tak terbayangkan deh diktatornya dan fasisnya mereka itu.. Kata Mariana Amiruddin, teman saya di Jurnal Perempuan, "gila nih orang. Orde Baru banget sih, pake bawa-bawa PKI segala. Gaya-gayanya persis kayak FBR or FPI yang bisanya main gertak. Indonesia mundur seribu langkah kalau begini terus." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata-katanya, mereka cuma bisa menuntut dan menuntut, bukan bekerja, baca, berpikir, menulis dan berkarya untuk meruntuhkan dominasi (kalau memang ada dominasi) TUK. Mestinya mereka bersaing dong dengan karya, bukan minta bantuan polisi atau aparat pemerintah untuk membubarkan KUK. Duh, pegel! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat ketika Jaringan Islam Liberal (JIL) dituntut untuk bubar dan diusir dari Utan Kayu. Saya dan teman-teman serta didukung banyak pihak melawan dan menghadapinya. Meski pihak mereka berbondong-bondong bawa pasukan dengan mengatasnamakan Tuhan dan kebenaran, kami tidak takut karena kami juga punya Tuhan dan kebenaran kami. Bagi kami, tak ada seorang pun yang berhak membubarkan dan mengusir kami. Kami tak pernah melakukan onar, kejahatan kriminal dan kejahatan-kejahatan lain yang melanggar hukum. Kami, di JIL, pekerjaannya hanya membaca, berpikir, menulis, dan berkarya, memproduksi ide dan gagasan sesuai dengan kemampuan dan kebisaan kami. Apakah itu salah? Soal bahwa pemikiran kami dianggap berbeda, mestinya itu saja yang dicounter. Toh kami memakai forum yang terbuka. Mereka yang tidak setuju bisa melakukan cara-cara yang baik untuk mengekspresikan ketidak setujuannya. Lihat saja di toko buku, begitu banyak buku yang tidak setuju dan mengkritik JIL, begitu juga dikhutbah-khutbah Jumat atau pengajian. Kami pun diancam dibunuh lewat telepon atau sms. Respon kami? Kami tak pernah marah, mencak-mencak bahkan menyerang siapapun. Alhamdulillah, kami biasa-biasa aja tuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RvePnA9JCaI/AAAAAAAAAK0/81XaDQn3ynE/s1600-h/GM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RvePnA9JCaI/AAAAAAAAAK0/81XaDQn3ynE/s200/GM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113713802336602530" /&gt;&lt;/a&gt;Begitu juga dengan Teater Utan Kayu dan KUK secara umum. Jadi buat yang tidak setuju dengan KUK atau TUK, pakailah cara-cara yang elegan dan berbudaya (maksudnya apa ya?). Berkaryalah! Seperti kata mas Goen (sapaan akrab Goenawan Mohamad) dalam tulisannya ketika meresponi orang-orang yang tidak setuju terhadap TUK: kalau cara mengkritiknya ke TUK seperti sekarang ini misalnya bikin majalah Boemipoetra yang bahasanya kacau balau dan vulgarnya ga karuan; nyebarin fitnah di milis-milis, ”maaf kami sekarang sedang sibuk bekerja dan berkarya.” saya membenarkan itu, Komunitas Utan Kayu itu memang ngga pernah sepi dari bekerja dan berkarya. Kalau ngga percaya, datanglah ke Utan Kayu. Hidup mas Goen!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-4488909414448806670?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/4488909414448806670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/09/bubar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4488909414448806670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/4488909414448806670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/09/bubar.html' title='Bubar'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RveOzA9JCYI/AAAAAAAAAKk/P4TqJ3U6p8c/s72-c/kuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3888879632896809457</id><published>2007-09-05T03:48:00.000-07:00</published><updated>2007-09-05T04:36:50.431-07:00</updated><title type='text'>Penghargaan</title><content type='html'>Duh, lama juga aku tak mengisi blogku ini. Malu rasanya dan terbebani juga bila blog ini isinya cuma itu-itu aja. Membosankan. Bukannya ngga mau ngisi, saking banyaknya yang mau aku ceritakan dan kutulis di blog ini malah jadinya tertunda-tunda terus. Karena kerjaanlah, ngurus anaklah, banyak ngelamun, banyak masalah tapi yang utama adalah malasnya itu loh. Padahal internet di kantor selalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;on line&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6N7CVsnDI/AAAAAAAAAKE/HM_2LQ0ccvI/s1600-h/IMG_0034.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6N7CVsnDI/AAAAAAAAAKE/HM_2LQ0ccvI/s200/IMG_0034.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106675072864394290" /&gt;&lt;/a&gt;Baiklah, aku mulai lagi nulis di blog ini dengan bercerita tentang Penghargaan Achmad Bakrie yang diselenggarakan 14 Agustus lalu. Basi memang, tapi ga apa-apa. Yang jelas Ahmad Sahal, yang sekarang lagi belajar di Upen Amrik, penasaran ingin tahu tentang acara ini. Abis katanya heboh sih karena Romo Magnis, teman baik sahal sekaligus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;master&lt;/span&gt;nya di STF, menolak menerima penghargaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang banget akhirnya Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2007 berjalan sukses. Di tengah ramainya sms yang memboikot acara ini, ternyata yang datang ke acara ini banyak juga. Yang menggembirakan lagi, teman-teman dekat pun yang tadinya aku anggap akan memboikot, ternyata hadir dan mengucapkan selamat. Duh, lega banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, di internal Freedom Institute pun ada perdebatan apakah penyelenggaraan acara ini perlu diadakan atau nggak. Hal ini dikarenakan kami juga ingin mengikuti persepsi publik bahwa kami sensitif terhadap korban Lapindo. Tapi kami akhirnya memutuskan bahwa tradisi penghargaan harus diteruskan dan dilestarikan karena penghargaan ini tak ada kaitannya dengan soal korban Lapindo atau apapun. Meski tentu saja ada konsekuensinya yaitu kontroversi di sana sini. Bukankan hidup ini lebih indah dan menarik bila ada kontroversi? Aha! Itu pertanyaan yang tak releven sama sekali :-) sssttt...terus terang, pelajaran inilah yang aku dapatkan dalam menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6S0CVsnFI/AAAAAAAAAKU/WqWhthtXG_s/s1600-h/IMG_0022.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6S0CVsnFI/AAAAAAAAAKU/WqWhthtXG_s/s200/IMG_0022.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106680450163448914" /&gt;&lt;/a&gt;PAB tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seperti yang sudah ditulis di atas sebabnya adalah adanya kasus lumpur Sidoarjo yang melibatkan salah satu perusahaan Bakrie, PT. Lapindo. Freedom Institute dianggap terkait erat karena lembaga ini sejak awal didukung oleh Pak Aburizal Bakrie dan nama penghargaannya pun didedikasikan kepada (alm) Achmad Bakrie, ayahanda pak Aburizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, acara ini pun dilumpuri dengan isu Lapindo. Teman-teman aktivis yang pro korban menganggap Freedom Institute betul-betul tidak memihak dan sensitif terhadap korban. Secara pribadi aku menganggap pengaitan kasus lumpur Lapindo dan PAB Freedom Institute tidak relevan sama sekali. Buatku, penghargaan terhadap orang-orang berilmu harus terus kita lestarikan dan tradisikan. Apalagi kita tahu tradisi penghargaan untuk kalangan pemikir di Indonesia masih sangat langka. Alangkah sayangnya bila penghargaan ini harus dihentikan gara-gara kasus Lapindo. Tokh, kasus Lapindo pun sekarang ini sedang terus menerus dicarikan jalan keluar dan penyelesaian yang terbaik untuk para korban lumpur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6T3CVsnGI/AAAAAAAAAKc/Su-8UIJpWww/s1600-h/aba.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6T3CVsnGI/AAAAAAAAAKc/Su-8UIJpWww/s200/aba.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106681601214684258" /&gt;&lt;/a&gt;Bahkan Freedom Institute dan keluarga Bakrie ingin penghargaan ini terus diperluas ke pelbagai bidang ilmu. Makanya tahun ini ada penambahan 2 yaitu sains dan teknologi. Padahal awalnya cuma 2 kategori yaitu untuk pemikiran sosial dan kesusateraan, terus 2 tahun berikutnya ditambah untuk kedokteran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tak ada manusia yang sempurna, tapi kita selalu berusaha menuju ke kesempurnaan itu. Saya kira pak Aburizal dan keluarga pun seperti itu. Beliau memberikan hartanya untuk penghargaan ini dalam rangka menuju ke kesempurnaan itu. Kita tak bisa menolak niat baik dan kebaikan orang untuk melakukan pekerjaan yang mulia.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada mas Putu Wijaya yang luar biasa tegarnya ditengah gempuran sms-sms yang memintanya menolak penghargaan ini. Suatu keputusan yang sangat sulit untuknya dan aku selalu gelisah karena takut mas Putu tiba-tiba menolaknya. Kepada pak Jorga Ibrahim yang aku banyak belajar dari pengetahuan &amp; kebijakannya, pak Sangkot Marzuki yang sangat sulit dihubungi dan kepada Pak Hasil Sembiring dari BB Padi yang telah mengajak wisata padi. Untuk Romo Magnis, aku juga salut dan sangat menghargai sikapnya. Kepada teman-teman semuanya di Freedom Institute, Bigguns, tim fotografer, dokter Priyo, dokter Agus, pak Sucipto serta timnya dan semua teman-teman yang hadir di acara PAB. Terima kasih banyak. Semoga penyelenggaraan PAB tahun depan akan semakin baik dan penghargaannya bertambah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3888879632896809457?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/3888879632896809457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/09/penghargaan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3888879632896809457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3888879632896809457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/09/penghargaan.html' title='Penghargaan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rt6N7CVsnDI/AAAAAAAAAKE/HM_2LQ0ccvI/s72-c/IMG_0034.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2964393330767747019</id><published>2007-06-14T22:38:00.000-07:00</published><updated>2007-06-15T07:52:42.580-07:00</updated><title type='text'>Kangen Umi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RnKng1zIM8I/AAAAAAAAAJ8/I0oLFFKxXQk/s1600-h/00264.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RnKng1zIM8I/AAAAAAAAAJ8/I0oLFFKxXQk/s200/00264.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076303912639148994" /&gt;&lt;/a&gt; Malam-malam ini aku sering didatangi Umi, panggilanku untuk ibuku, yang telah wafat 4 tahun lalu. Sebelum-sebelumnya, Umi sering datang menyapaku tapi tak sesering sekarang. Ia datang, membelai rambutku, mengecup keningku dan membesarkan hatiku. Memang selama ini, bila aku kangen dan merasa pusing dengan persoalanku, dia pasti datang dalam mimpiku. Aku ingat, ketika Umi masih hidup, permintaannya bila meninggal dan kemudian datang menyapaku, aku harus mengirim doa dan membaca surat Yasin untuknya. Aku selalu memenuhi permintaannya. Meski tanpa itupun, aku selalu mendoakan dan mengingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku berziarah di makamnya. Aku bersimpuh dan merasakan benar-benar kangen padanya. "Aku ingin menyusulmu, Umi..tapi sekarang anakmu punya tanggung jawab yang besar: harus membesarkan dan membahagiakan cucumu. Aku mohon dan berharap, dampingi aku terus meski secara fisik umi tak di sisiku. terima kasih selalu menengok dan menyapaku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, Umi sudah bahagia di alam sana dan akan selalu hidup untukku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allahummagfirlaha, warhamha..&lt;/span&gt;. Umi, Nong kangen banget..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2964393330767747019?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2964393330767747019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/06/kangen-umi.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2964393330767747019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2964393330767747019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/06/kangen-umi.html' title='Kangen Umi'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RnKng1zIM8I/AAAAAAAAAJ8/I0oLFFKxXQk/s72-c/00264.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-81089421556054306</id><published>2007-06-08T04:53:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T05:25:15.275-07:00</updated><title type='text'>When They Say Your Husband is a Terrorist</title><content type='html'>This article about Rahayuningtyas. She is the wife of Arif Sunarso or Arismunandar alias Zulkarnaen alias Daud. Arif Sunarso is said to be a chief commander of the Jemaah Islamiyah (JI) and is one of the key suspects in the Bali bomb case who is still a fugitive to this day.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlGhlzIM1I/AAAAAAAAAJE/YGRCvAuPKVE/s1600-h/IMG_0235.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlGhlzIM1I/AAAAAAAAAJE/YGRCvAuPKVE/s200/IMG_0235.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073663998105760594" /&gt;&lt;/a&gt;It is close to seven fifteen in the evening when I set out from the hotel with my husband and a friend who is a journalist. Our destination is a simple house located behind the Pondok Pesantren Al-Mukmin, an Islamic boarding school in Ngruki, Cemani, Sukoharjo Regency, Central Java. The fence gate is shut when I arrive at the house. Inside, I can see a woman praying. This house—right in front of the residence of Ustadz Wahyuddin, Assistant Director of the Al-Mukmin Ngruki boarding school—is the home of Rahayuningtyas, known to her friends as Ning. She is the wife of Arif Sunarso or Arismunandar alias Zulkarnaen alias Daud. Arif Sunarso is said to be a chief commander of the Jemaah Islamiyah (JI) and is one of the key suspects in the Bali bomb case who is still a fugitive to this day. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The house actually belongs to Ning’s mother, Ny. Aminah Sugiarti, a widow. Before Ning returned home to this house, she and Arif lived in rented houses and moved several times. No one from the house responds to my repeated knocking on the gate. It happens to be the time of shalat Isya (the Muslim evening prayer). A number of people who have just finished praying at the Mosque pass us by. Some of them take a moment to stop and greet us, asking, “Who are you looking for?” and I answer that I want to meet with Mbak Ning. Since the gate is not locked, I summon the courage to enter the yard and call out a greeting directly before the door to the house. The person who comes out is Ny. Aminah, a woman in her fifties. She greets us warmly and asks us to come in. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We enter the front room, which resembles a hall screened by a curtain of cloth with a brown floral motif.  There is not a single table or chair in the space. The only piece of furniture is a small wardrobe with a mirror that is pressed against the wall. An ordinary motorcycle helmet lies on top of the wardrobe. My first impression upon entering the house is that it is has never been maintained or repaired. Nonetheless, the size of the house, which is wedged next to the girls’ dormitory of the Al Mukmin Ngruki boarding school, is reasonably large—covering at least eighty square meters and containing several rooms. Here and there, the plasterboard of the house looks broken down or perforated, as do some parts of the roof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The interior walls are no longer clean; the white color of their paint has turned brown-ish. Luckily, not much of the surface has as yet peeled off. The single window of the house gapes open because its glass has been broken. In the living room, a gray carpet measuring no more than five square meters serves as a place for receiving guests. A space on the left side of the house, probably intended as a garage, appears badly neglected, decorated in dust and spider webs. The doors of the rooms have evidently never been painted, and they look very dim and dingy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We chat briefly with Ny. Aminah, introducing ourselves, and I explain my reason for wanting to meet Ning. Then Ning herself comes in from an inner room, carrying a tray of water and cakes. She is accompanied by her two youngest children, Amaturrachim (five), and Abdurrachman (three). In fact, Ning and Arif have six children, three of whom—Abdullah (twelve), Yahya ( ten), and Amaturrachman (nine)—have been entrusted to the care of Arif’s parents in Gebang, Masaran, Sragen, Central Java, while the eldest, Maryam (fourteen) has been sent to stay with Ning’s older brother, Dr. Yusuf, in an Islamic boarding school in Bekasi. Ning, the third of four siblings, was born in Wonosobo, on 6 March 1969, of Ny. Aminah Sugiarti and the late Hasyim BA. Hasyim, an activist in the Komando Jihad (Konji) with Abdullah Sungkar, was imprisoned under Suharto’s New Order until the end of his life. His status was ambiguous: there never was a trial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlFS1zIM0I/AAAAAAAAAI8/Z1ciKt-H3EQ/s1600-h/nong+jilbab.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlFS1zIM0I/AAAAAAAAAI8/Z1ciKt-H3EQ/s200/nong+jilbab.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073662645191062338" /&gt;&lt;/a&gt;When I first see Ning, I am surprised. This is because, long before I came to this house, I had heard that Ning always wore the cadar (the full head-to-toe Islamic veil) and that she was a very introverted person. According a Tempo reporter some time before, she was only willing to receive journalists from behind a hijab, the gauze panel of the cadar that hides a woman’s face but allows her to see out. Because of that story, I had originally planned to wear a cadar myself. As it turned out, I could not find these clothes before my departure for Solo,  and I am wearing only an ordinary long jilbab (Islamic head scarf)—and fortunately Ning is not wearing a cadar, just an ordinary jilbab; and she is willing to receive male visitors. Ning assents and has no objection when I propose that we talk together, in company, in the living room. I am here with my husband and a Tempo news correspondent (male) who came with me to Solo. Also present is Haris, Ning’s youngest sibling—a reserved and mysterious young man—and their mother, who intermittently jumps into the conversation and adds to Ning’s replies. I am struck by the smoothness of Ning’s face; wrapped in a white jilbab and lit by the beam of a 10 watt bulb, she looks fresh and bright for her thirty-two years. There is nothing in her appearance to suggest that she is facing serious problems: having a husband who ‘people say’ is a chief commander of JI which took an active role in the Bali bombing, and is, to date, a fugitive from the police. Her face is cheerful, and she continually laughs as she talks and answers my questions. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because of these first impressions, I am moved to ask about Ning’s current circumstances of no longer wearing a cadar. I am curious to learn why she wore a cadar in the past, and then let it go.  At first she is reluctant to reply. But finally she does answer. “I am already grown up, have six children and no longer feel beautiful. I don’t attract the attention of men the way I used to. Besides, I don’t want people to think I’m self-righteous [paling benar] by wearing a cadar. Because being self-righteous is evil. My experience when I wore a cadar was that people were afraid of me and didn’t want to talk to me.” But when she stopped wearing the cadar she could talk with her neighbors. In fact, for the last three months, she has been working as a teacher at one of the kindergartens in the Ngruki area. In this new environment, there is no one who knows that she is the wife of a JI command leader. “The only one who knows about my problems is the school principal, the one who hired me,” she says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stroking the heads of the two children who have begun to doze in her lap, she continues her story. “I started wearing a cadar when I was eighteen, when I was still a mustami’ (auditor or listener) at the Mu’alimat Pesantren Ngruki.” Ning tells me repeatedly that she has never received formal education except for elementary school. When she finished elementary school she entered the Pesantren Ngruki, which was behind her house, but only as an informal student. &lt;br /&gt; “Coming back to the cadar,” I said, “were there any outside pressures, for example, in your environment?” &lt;br /&gt; “No! Wearing a veil is a teaching and a rule from Allah that Muslim women must follow. Especially if her position is not that of a slave,” she says. She believes that in Islam, women are aurat [an Islamic concept for a part of the body that may not be exposed during a ritual; also a term for genitals] and, for this reason, must be covered and guarded. At first, she only wore a regular jilbab to cover her head, like others. She decided to wear the cadar when she returned home from Bandung, after meeting with some friends who wore cadars. She confesses that before she decided to adopt the cadar, she had to read many books to convince her to take this decision. What is more, Ning felt she was coming of age (akil baligh)–a time when many of the men she knew were proposing marriage to her. But strangely, she says, laughing, she chose Arif as a husband, someone she barely knew beforehand, a year after she began to wear the cadar. Indeed, after they married, her husband strongly supported her in continuing to wear the cadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlIDlzIM2I/AAAAAAAAAJM/o71YqHGn0tM/s1600-h/IMG_0213.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlIDlzIM2I/AAAAAAAAAJM/o71YqHGn0tM/s200/IMG_0213.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073665681732940642" /&gt;&lt;/a&gt;Ning was introduced to Arif by her brother, Dr. Yusuf. It was in 1988: Arif came over to her brother’s house in Bekasi, just for a friendly visit. Ning happened to be there at the same time. Arif’s taciturn, simple and intelligent manner captured the interest of Yusuf’s wife, Dewi, in arranging a marriage between him and Ning. Her husband agreed with the idea. At last, Ning and Arif were brought together. The reason why Ning wanted to marry Arif, aside from her brother’s encouragement, was that she saw at once Arif’s character as a man who was clever and responsible. Two days later they were wed, in a menikah sirri ceremony in the home of Ning’s mother. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word sirri comes from the Arabic word meaning ‘secret’. But it is widely understood in Indonesia to refer to a marriage that does not involve the officials of the Bureau of Religious Affairs (Kantor Urusan Agama), where Indonesians must register their marriages; in other words, a couple married in a sirri wedding do not register their marriage in the civil records. This kind of wedding is usually performed by individuals who come from the same group and are married directly by their imam (mosque leader) or each moslem’s community leaders. Or it is performed by a couple who do not wish to deal with the complications of the bureaucracy. From the perspective of the teachings of Islam, the sirri wedding is legal provided that there are two witnesses and the bride is married by a wali (a male who is legally responsible for her, usually her father or her relative). In the case of Ning and Arif, Ning was married by her brother, as her legal guardian; the witnesses were several teachers from the Pesantren Ngruki such as Ustadz Wahyuddin, who is now the director of the school. Their wedding was attended only by Ning’s family; Arif’s parents in Sragen were not  advised of their son’s wedding at all. None of their neighbors was aware that they got married. Truly sirri... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two days after the wedding, Ning’s adventures began. As Arif’s wife, she was always moving from place to place, following the rhythm of her husband’s livelihood as a trader. Wherever her husband went, Ning followed. Although Ning does not seem open to elaborating further, Ny. Aminah says that she never knew for certain where her daughter and son-in-law were. If she ever asked Arif about this when they dropped in to visit in Ngruki, his answer was always, “They are safe who live on God’s earth” (Mereka aman tinggal di Bumi Allah). Ny. Aminah knew about the lives of her daughter, son-in-law and grandchildren’s only through the letters Ning sent, postmarked from various places: Lampung, Batam, Sumatra, Malaysia, Riyadh, Jeddah, Kuwait, and even, once, Germany. Ning interrupts her mother. “That was just the postmark. I asked friends to mail the letters from those places. But I was still in Indonesia: in Lampung, Batam, Sumatra, Jakarta and most of all, East Java.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ask her why their whereabouts must be kept secret from her mother. Ning does not answer. She just explains that her husband had to make a living to support his family, selling Muslim clothing and scented oils in many different places. In Surabaya, she says, she had a small warung (street stall). As if to make this explanation more convincing, she adds, “My neighbors know about that. You can ask them, you know! (Bisa dicek kok!)” Now the warung has fallen to pieces, she says, because it was destroyed by officers looking for traces of her husband. Not a single family document was saved, including her children’s birth certificates. “Everything was lost,” she says softly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a wife facing allegations that her husband is a commando leader of Jemaah Islamiyah, a terrorist organization that is now a focus of worldwide attention, and that he is known by the name of Zulkarnaen, Ning is bewildered. Each time she hears these things, she says, she feels as if she is watching a cartoon film. Ning claims that she is not shocked or amazed. She says it’s like seeing and hearing a fantasy, a fictional reality like an animated film. She knows only that her husband did business. Her husband never told her anything about his outside activities. Arif is the quiet type of husband. Ning admits that as a family they often moved from place to place and that her husband often went away for long periods. As his wife, she could only obey and support whatever he was doing, including helping him in his trade. About her husband’s many aliases, Ning is evasive. She says that his real name is simply Arif; Sunarso was his name when he was a boy. The name ‘Zulkarnaen’ is a pen name of her eldest child, Maryam, who likes to write. ‘Zulkarnaen’ means a person who possesses the weapons of knowledge and religion (dien). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlJcVzIM3I/AAAAAAAAAJU/_jVzM9vAilQ/s1600-h/IMG_0223.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlJcVzIM3I/AAAAAAAAAJU/_jVzM9vAilQ/s200/IMG_0223.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073667206446330738" /&gt;&lt;/a&gt;Today Ning does not know where her husband is; there has been no contact between them. She says that the last time she saw her husband was on the fourth or fifth day of the Muslim month of Syawal, at Lebaran in the year 2002. At the time Ning was at her brother’s place in Bekasi, because she had been sick throughout the fasting month. Arif visited her there. A policeman happened to come by, but because he did not know Arif’s face, Arif was not arrested. Ning also says that it was she who asked her husband to get away, because she had a premonition that her husband was going to be implicated in the Bali bombing case. “I dreamed there was someone being chased. In the dream the person’s face was not clearly visible. It was only after Arif left that it became clear that the one being chased was him,” she says. At first, her husband did not want to flee; he wanted to hold out with the family. Even when the Bali bombing case was at its height of public attention, they were able to make a round trip to Surabaya twice. Arif also managed to bring his three children to his parents in Sragen, Central Java because Ning was ill and needed intensive treatment in Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ning is not worried about her husband’s situation. She always remembers the message he left when he departed, “It is enough to have God as our protector, because He is the best protector possible” (Cukuplah Allah sebagai pelindung kita, karena Dia sebaik-baiknya pelindung). Ning would also acquiesce if her husband were to marry again in his place of refuge. As a faithful Muslim, she accepts polygamy, because as she sees it, “I cannot forbid what is already permitted in the Koran.”  She has also never blamed her husband for what he has done.  Even if it is true that her husband did what the authorities have accused him of doing, and even if what he did is a violation in the eyes of the law, as far as Ning is concerned, her husband is carrying out a task that is holy and true according to the Qur’an and the Hadis [traditional collection of stories about the words and deeds of the Prophet and providing guidance on religious questions –Ed.]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Currently, Ning is able to take care of only her two youngest children, although it is her desire that all of her children to be raised and educated under her own guidance. Ning will educate her children in religious schools, like those she and her husband attended before them. For Ning, children are seeds. A mother must be able to nurture these seeds so that they may grow into human beings who can carry out God’s mandate to become caliph on earth (melaksanakan amanah Allah menjadi khalifah di bumi). But what are the twists of fate, conditions and problems that prevent her from creating a family that is whole? Her husband has gone, who knows where, and four of her children are not by her side. Closing this night of talk, Ning gently says, “Me, I feel as if I am sailing, cast ashore, left behind by my husband and children” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya ini seperti berlayar yang terdampar dengan ditinggal suami dan anak-anak.&lt;/span&gt;) Ning’s two children are by now fast asleep in her lap. I know there is much about her husband that Ning has left unsaid. There is still much I would like to ask, but the night is getting late. So I take my leave, carrying with me a warehouse full of mystery about the shared life of Ning and Arif: a couple forever wandering from place to place, carried by their conviction in one goal: to become a human being who can carry out the mandate of establishing the law of Islam on the face of this earth—even if it must be achieved by violent means and sacrifices that create victims because of that conviction. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reference : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Latitude&lt;/span&gt; July 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-81089421556054306?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/81089421556054306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/06/when-they-say-your-husband-is-terrorist.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/81089421556054306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/81089421556054306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/06/when-they-say-your-husband-is-terrorist.html' title='When They Say Your Husband is a Terrorist'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RmlGhlzIM1I/AAAAAAAAAJE/YGRCvAuPKVE/s72-c/IMG_0235.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7996740911252134595</id><published>2007-05-09T04:50:00.000-07:00</published><updated>2007-12-27T22:54:01.581-08:00</updated><title type='text'>Terorisme dan Demokratisasi di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktZUgEiILI/AAAAAAAAAIg/YpPR3Yr66d8/s1600-h/terorisme.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktZUgEiILI/AAAAAAAAAIg/YpPR3Yr66d8/s200/terorisme.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065240414649458866" /&gt;&lt;/a&gt;Apa yang tersisa dari tragedi WTC 11 September 2001 dan rentetan pemboman yang terjadi di Indonesia? Jawabannya, terorisme! Siapa yang mengira, kalau Indonesia dengan penduduk mayoritas Islam dan Islamnya dikenal sebagai Islam yang moderat dengan representasi ormas NU dan Muhamadiyah, ternyata sekarang dikenal sebagai sarang teroris. Dan ini sudah terbukti setelah tragedi Bali, tragedi terdahsyat yang dilakukan teroris setelah tragedi WTC 2001 dan beberapa peristiwa pemboman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, rentetan pemboman ini merupakan pukulan yang dahsyat untuk Indonesia. Mungkin kalau tidak ada tragedi Bali dan rentetan pemboman lainnya, isu terorisme di Indosesia akan selalu diabaikan dan UU Terorisme tidak pernah dilegalkan. UU Terorisme selama ini selalu menjadi perdebatan di kalangan masyarakat karena dianggap akan mengembalikan kekuasaan militer dan mengancam kebebasan yang selama ini baru dinikmati masyarakat Indonesia. Peraturan ini dikhawatirkan akan merenggut demokrasi yang baru dibangun dan coba ditegakkan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim terbanyak di dunia mempunyai peran dan posisi yang sangat penting bila bisa menegakkan dan menjalankan kehidupan demokrasi dalam sistem negaranya. Hal ini bisa menjadi model dan rujukan negara-negara Islam yang kebanyakan sangat minim dan rendah responnya bahkan cenderung menolak demokrasi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Negara Muslim dan Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;HARUS diakui, di tengah arus meningkatnya jumlah rezim demokratis atau yang semakin demokratis pada akhir abad ke-20, kecenderungan melegakan itu tidak terjadi di negara-negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim. Negara-negara Muslim ini umumnya dianggap tidak memiliki pengalaman demokrasi yang memadai, dan, menurut Adrian Karatnycky, masih paling resisten terhadap penyebaran demokrasi (1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terungkap, misalnya, dalam penelitian Bill Lidle dan Saiful Mujani pada tahun 1997/1998 terhadap seluruh (48) negara Muslim. Penelitian itu menemukan bahwa hanya tiga negara (Mali, Banglades, dan Siprus) atau 8,7 persen yang dapat dikategorikan demokratis. Sementara, negara semidemokratis cukup besar (sekitar 30 persen), termasuk Indonesia. Proporsi paling besar adalah otoritarianisme/ sultanisme, sekitar 60,9 persen. Selain itu, proporsi negara-negara Muslim yang mempunyai rezim paling represif di dunia sangat besar, lebih dari separuhnya (2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktamwEiIMI/AAAAAAAAAIo/xXc1ULVafpY/s1600-h/Sunset.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktamwEiIMI/AAAAAAAAAIo/xXc1ULVafpY/s200/Sunset.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065241827693699266" /&gt;&lt;/a&gt;Namun, di balik kecenderungan ini, sebenarnya peran Islam dalam politik di negara-negara Muslim mulai mengalami perubahan secara signifikan sejak tahun 1970-an. Kelompok-kelompok Islam tidak lagi menjadi sekadar unsur reaktif dalam komunitas politik, namun mulai tampil sebagai sumber inisiatif bagi perkembangan dan perubahan politik. Gerakan-gerakan mereka menyuarakan aspirasi yang menghendaki partisipasi yang lebih besar dalam proses politik dan terwujudnya masyarakat yang lebih islami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan, dalam menghadapi tantangan bagaimana menerapkan konsep dan struktur Islam ke dalam realitas sosial-politik modern yang terpengaruh Barat, gerakan demokratisasi di dunia Islam berlangsung dalam kerangka sistem negara yang sudah ada (kecuali kasus revolusi Islam Iran). Sehingga aspirasi ganda itu, Islamisasi dan demokratisasi, membentuk kerangka bagi hampir seluruh isu penting di dunia Islam dewasa ini (Esposito &amp; Voll:1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ini menempatkan negara-negara Muslim menjadi arena perbincangan yang paling menggairahkan mengenai tema-tema demokrasi, termasuk di Indonesia. Para cendekiawan Muslim bergerak aktif dalam banyak kelompok dan organisasi yang menuntut demokratisasi, dan sering menyatakan, ciri utama gerakan politik Islam adalah karakter demokratis dan pluralis mereka. Mereka lazimnya berpendapat, demokrasi adalah sebuah ide universal. Tidak ada versi demokrasi yang khas Islam, meski nilai dan prinsip Islam amat mendukung gagasan universal tentang demokrasi. Dari perspektif perbandingan, kedalaman dan keluasan keterlibatan Muslim dengan literatur mengenai demokrasi dan modernitas itu amat luar biasa. Sejak akhir tahun 1980-an, negara-negara Muslim menjadi tempat utama bagi perdebatan yang hidup mengenai demokrasi dan gagasan-gagasan pluralisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terorisme menjadi Isu Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun, disadari atau tidak, belakangan ini telah terjadi pergeseran besar dalam wacana politik di Indonesia. Jika selama dua dasawarsa lalu isu demokrasi dan seluruh turunannya seperti hak asasi manusia, civil society, pluralisme, dan penghargaan terhadap kelompok minoritas menjadi topik utama dalam hampir setiap forum dan karya akademik, trend ini telah digantikan oleh isu terorisme. Pergeseran ini tentu tidak dapat dilepaskan dari kampanye besar-besaran politik luar negeri Amerika Serikat (AS) untuk memerangi terorisme (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;war on terrorism)&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah, isu terorisme ini menempatkan negara-negara Muslim pada posisi yang tidak mudah, termasuk Indonesia, terutama dalam kerangka proses demokratisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada tataran wacana, perbincangan mengenai tema-tema demokrasi mengalami stagnasi. Padahal, untuk mengukuhkan proses demokratisasi, perbincangan dan perdebatan di ruang publik amat dibutuhkan untuk mengontestasi pemikiran dan alternatif pemikiran guna menemukan tata cara, prosedur, dan nilai-nilai demokrasi. Hal ini menjadi penting dalam rangka melakukan penataan seluruh perangkat yang menyokong sistem politik, ekonomi, hukum, dan sosial. Sayang, saat ini perdebatan seperti itu relatif telah terhenti dan diganti isu terorisme yang tak banyak memberi manfaat bagi proses demokratisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kampanye perang terhadap terorisme menimbulkan kesulitan bagi pemerintah Indonesia untuk menyusun kebijakan politik dalam negeri. Dalam tataran ide, pemerintah setuju dengan kampanye itu, karena terorisme merupakan kejahatan transnasional yang tidak identik dengan negara dan agama tertentu, sehingga terorisme menjadi musuh bersama semua negara. Namun, karena sejak awal terbangun citra, terorisme terkait erat dengan Islam radikal (dan ini tidak lepas dari kampanye AS), maka banyak pemerintah negara-negara Islam mengalami kesulitan menentukan kebijakan terhadap kalangan Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan ini terjadi karena negara-negara Muslim memiliki ketergantungan amat besar di bidang ekonomi, politik, dan militer terhadap AS. Sementara, pemerintah negara-negara Muslim juga tidak mungkin begitu saja mengabaikan kekuatan politik Muslim domestik dan bersedia menuruti kehendak AS untuk memerangi kelompok-kelompok Islam radikal di dalam negeri. Karena, kekuatan politik Muslim di negara-negara itu cukup kuat meski tidak selalu menentukan. Akibatnya, muncul beragam tindakan yang berbeda di masing-masing negara, khususnya Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, isu terorisme telah menjadikan isu-isu tentang kelompok minoritas Muslim di banyak negara non-Muslim menjadi terabaikan. Beberapa rezim seolah menjadi pembonceng gratisan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;free rider&lt;/span&gt;) dan menggunakan isu terorisme untuk menekan kaum minoritas Muslim. Misalnya, Vladimir Putin seolah mendapat pembenaran untuk menghancurkan kaum Muslim di Chechnya. Israel seolah mendapat alasan bahwa yang mereka lawan bukan sebuah bangsa Palestina yang menuntut hak, tetapi perang melawan kaum Muslim teroris. Demikian juga yang terjadi di Xinjiang, Cina; di Moro, Filipina; dan di Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di negara-negara itu konflik yang melibatkan kaum minoritas Muslim telah terjadi sejak lama. Namun, konflik itu menjadi berbeda ketika Pemerintah AS bersedia memberi bantuan keuangan dan militer untuk memerangi terorisme. Dalam hal ini, AS tidak lagi menekankan isu-isu demokratisasi dan HAM sebagai landasan kebijakan politik luar negerinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, isu terorisme seakan dijadikan alasan pembenaran bagi beberapa rezim untuk memberlakukan undang-undang yang cenderung antidemokrasi. Misalnya, Pemerintah Malaysia (dan Singapura) menggunakan Internal Security Act untuk menangkap beberapa aktivis Islam garis keras. Juga Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No 15 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberlakuan undang-undang seperti ini dikhawatirkan akan mematikan kebebasan pers dan kebebasan publik karena rezim biasanya mempunyai tafsir resmi yang monopolistik tentang siapa saja dan tindakan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai teroris dan terorisme. Tafsir resmi seperti ini, jika disalahgunakan, akan dapat dipergunakan untuk menangkap para aktivis gerakan mahasiswa, kelompok oposisi, cendekiawan kritis, aktivis Muslim, dan siapa saja yang dianggap oleh rezim dapat mengganggu stabilitas negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, isu terorisme menjadi semacam undangan menarik bagi militer untuk masuk dan bermain dalam wilayah politik. Dalam hal ini, pemberlakuan undang-undang antiteroris memberi kesempatan kepada militer sebagai satu-satunya kekuatan politik domestik yang dapat diandalkan untuk menanggulangi terorisme, karena militer memiliki kekuatan senjata dan keterampilan tempur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktbOwEiINI/AAAAAAAAAIw/2b9tvDCWqDk/s1600-h/terorisme2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktbOwEiINI/AAAAAAAAAIw/2b9tvDCWqDk/s200/terorisme2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065242514888466642" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya, dilema demokratisasi di dunia Muslim ini tidak akan makin berlarut jika dilakukan dua hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, harus dibedakan antara terorisme dan radikalisme karena perlakuan terhadap keduanya berbeda. Terorisme harus diperangi dan dibasmi karena mengganggu keamanan dan stabilitas politik. Sedangkan radikalisme (agama) cukup dihadapi dengan penegakan hukum karena menyangkut pemahaman keagamaan tertentu yang diekspresikan dalam aksi-aksi kekerasan terhadap kelompok yang memiliki pemahaman berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, AS seharusnya dapat mendudukkan persoalan secara proporsional saat menggalang semua kekuatan internasional untuk mendukung kebijakannya memerangi terorisme. Orang akan sulit memahami keterkaitan antara perang melawan terorisme dengan serangan AS ke Irak. Perang melawan terorisme pasti diamini semua negara, tetapi serangan ke Irak sampai saat ini hanya tinggal Inggris yang mendukung. Demikian juga dengan kebijakan Pemerintah AS yang memperlama pengurusan visa bagi penduduk negara-negara Muslim. Dalam hal ini, AS tidak mampu merumuskan secara tepat pemahaman tentang terorisme dalam bentuk kebijakan operasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan jika proses demokratisasi di dunia Islam khususnya Indonesia tidak berlangsung secara meyakinkan hanya karena isu terorisme yang kini menjadi satu-satunya isu politik global. Padahal, jika demokratisasi ini berlangsung mulus, kita akan menyaksikan sebuah tatanan politik global yang berkeadaban, dan tentu saja sangat mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Program of  Global Youth Exchange&lt;/span&gt;, Japan Government, Japan, Februari 2003. Lihat tulisan terkait : Terorisme dan Islam Warna Warni&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7996740911252134595?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7996740911252134595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/05/terorisme-dan-problem-demokratisasi-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7996740911252134595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7996740911252134595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/05/terorisme-dan-problem-demokratisasi-di.html' title='Terorisme dan Demokratisasi di Indonesia'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RktZUgEiILI/AAAAAAAAAIg/YpPR3Yr66d8/s72-c/terorisme.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-3992209235455405232</id><published>2007-04-27T19:20:00.000-07:00</published><updated>2007-05-01T07:18:31.868-07:00</updated><title type='text'>Surga Kartini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RjShKj7O_GI/AAAAAAAAAHQ/Xq83zrcw-mk/s1600-h/IMG_0266.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RjShKj7O_GI/AAAAAAAAAHQ/Xq83zrcw-mk/s200/IMG_0266.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058845484258360418" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam tulisan ini saya mencoba memunculkan kembali pemikiran keagamaan Kartini yang, menurut saya, sangat liberal. Sangat langka menemukan karya yang mengupas khusus tentang pemikiran keagamaan Kartini. Yang paling bagus adalah buku TH. Sumartana tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Agama dan Iman menurut Kartini&lt;/span&gt;. Saya bangga, merasa terwakili dan sangat terinspirasi bila membaca pergolakannya yang ia ungkapkan lewat surat-surat tentang Tuhan, surga, neraka, takdir, dan bagaimana ia berislam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesepiannya dalam pingitan, pandangan-pandangan dia tentang tema-tema keagamaan itu begitu mendalam. Kartini melakoni dan memahami Islam tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taken for granted&lt;/span&gt;. Baginya berislam haruslah masuk akal dan sesuai dengan pemikiran. Ia mengakui kalau keislaman yang ia anut adalah semacam turunan dari nenek moyangnya. Seperti pada umumnya orang beragama, ia juga tak pernah diberikan kesempatan untuk memilih agama apa yang ia kehendaki. Sehingga doktrin dan ritual diwariskan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jiwa pencarian Kartini tak pernah mati, “tibalah waktunya jiwaku mulai bertanya: Mengapa aku lakukan ini, mengapa ini begini dan itu begitu?’” Pergolakan Kartini tentang keislaman begitu dahsyat sehingga ‘sesuatu’ yang menurutnya tak dia pahami dia tinggalkan. Dia lebih mengedepankan hal-hal yang masuk akal, hal yang bersifat substantif dibanding formalitas tapi tak dia mengerti. Kata Kartini, “jadi kami putuskanlah untuk tidak berpuasa dan melakukan hal-hal lain yang dahulu kami kerjakan tanpa berpikir, dan yang kami pikir sekarang ini tak dapat kami kerjakan. Gelap–kami merasa kegelapan–tak seorang pun mau menerangkan kepada kami apa yang kami tidak mengerti.”(Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C Abendanon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap keislaman seperti itu tak membuat Kartini meninggalkan agamanya. Bahkan proses pencarian ini semakin meneguhkan keyakinannya. Ia tetap menjadi Islam meski yang paling utama buat dia adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Meski ia diperlakukan tidak adil karena posisinya sebagai perempuan, namun pandangan dia tentang Tuhan sangat positif. Kartini tak pernah menyalahkan Tuhan seperti saya, yang kadang menggugat Tuhan karena menciptakan saya berjenis kelamin perempuan. Kartini melakoninya sebagai sebuah takdir yang harus ia jalani dengan positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kartini, takdir itu bukan fatalisme atau penyerahan diri sehingga kehilangan kepercayaan diri: hanya pasrah dan menerima kondisi kita. Takdir menurutnya bisa mewujud menjadi suatu upaya dan usaha terus menerus tentang tugas yang diberikan Tuhan untuk meningkatkan diri dan melakukan hal yang terbaik. Ia terus menerus berproses dan mencari. Makanya tak heran, meski dia dikungkung, namun pemikiran-pemikiran cerdas tetap keluar deras melaui tulisan-tulisan. Lewat pemahaman seperti ini, saya melihat, Tuhan di mata Kartini adalah kebajikan. Tuhan hidup dan hadir di dalam hati dan jiwa manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RjKwaz7O_EI/AAAAAAAAAHA/56mzh8aLuCw/s1600-h/kartini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RjKwaz7O_EI/AAAAAAAAAHA/56mzh8aLuCw/s200/kartini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058299306152229954" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti yang diulas dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Panggil Aku Kartini Saja&lt;/span&gt;, pandangan Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik dibanding metafisik. Kata Kartini, “Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan Kartini ini. Buat saya, surga dan neraka ada di dunia, di diri kita. Dengan mencipta surga di dunia, kita mendapat motivasi yang luar biasa menjalani hidup ini, sesulit apapun, seperti hidup yang dialami Kartini. Meski ia hidup di era feodalisme jawa yang sangat kuat, yang mengagungkan superioritas laki-laki, yang tak memberi tempat dan kebebasan untuk perempuan, tapi ia masih bisa mencipta pemikiran-pemikiran cerdas yang tak akan pernah tuntas dikupas sepanjang masa. Kita tahu, di dunia nyata, mungkin hidup Kartini bagai di neraka: dipingit, tak bisa sekolah, dipoligami, tak ada kebebasan dll. Namun di dunia ide dan cita-cita, Kartini telah menemukan surganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reference : www.islamlib.com, 30 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-3992209235455405232?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/3992209235455405232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/surga-kartini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3992209235455405232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/3992209235455405232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/surga-kartini.html' title='Surga Kartini'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RjShKj7O_GI/AAAAAAAAAHQ/Xq83zrcw-mk/s72-c/IMG_0266.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-126770772055391045</id><published>2007-04-20T19:24:00.000-07:00</published><updated>2007-04-20T20:48:59.504-07:00</updated><title type='text'>Membangun Fikih yang Pro-Perempuan</title><content type='html'>Judul Buku:   &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hal-hal yang tak terpikirkan &lt;br /&gt;tentang isu-isu Keperempuanan dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis:   Syafiq Hasyim&lt;br /&gt;Penerbit:   Mizan, Februari 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku:  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fiqh Perempuan&lt;br /&gt;   Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis:  KH. Husein Muhammad&lt;br /&gt;Pengantar:  KH. MA. Sahal Mahfudh&lt;br /&gt;   Dr. Andree Feillard&lt;br /&gt;Editor:   Faqihuddin Abdul Kodir, M.A.&lt;br /&gt;Penerbit:  Rahima, LKiS, The Ford Foundation; April 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua buku ini mencoba membicarakan problematik posisi perempuan dalam Islam. Selama ini sebagian ulama dianggap cenderung menafsirkan hadis yang merugikan perempuan sehingga terbentuk "fikih patriarki". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RimIOuBqQ0I/AAAAAAAAAG4/bLyz5gAm-zQ/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RimIOuBqQ0I/AAAAAAAAAG4/bLyz5gAm-zQ/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055721843154633538" /&gt;&lt;/a&gt;BENARKAH seorang perempuan tak boleh menjadi pemimpin negara? Kontroversi tentang apakah seorang perempuan boleh menjadi pemimpin negara masih saja terjadi di kalangan umat Islam Indonesia. Masih hangat dalam ingatan kita saat Megawati mencuat namanya sebagai calon presiden. Padahal, sebagai ketua partai yang menang di Pemilu 1999, mestinya ia memperoleh posisi itu. Namun, yang terjadi adalah penolakan yang keras, khususnya dari kalangan Islam. Bukti dari penolakan itu misalnya deras bertebaran selebaran dalil-dalil Alquran dan hadis yang mengharamkan perempuan menjadi presiden. Mereka memunculkan kembali hadis-hadis dan cerita-cerita masa lalu tentang jeleknya bila perempuan menjadi presiden. Umat tersedot untuk meyakini bahwa perempuan memang tak pantas dan tak layak menjadi pemimpin negara. Tak hanya itu. Di kalangan parlemen, politisi muslim yang tergabung dalam Poros Tengah membangun aliansi kekuatan menolak perempuan menjadi presiden. Istilah ABM (asal bukan Mega) kemudian menjadi populer hingga akhirnya Megawati kandas menjadi presiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halal atau haramnya perempuan menjadi pemimpin adalah perdebatan kalangan ulama sejak dulu. Ini disebabkan oleh perbedaan para ulama dalam menafsirkan Alquran. Sayangnya, dari dulu sampai saat ini, penafsiran Alquran didominasi oleh cara pandang laki-laki, yang akhirnya lebih menguntungkan kepentingan laki-laki dan merugikan perempuan. Begitu juga dengan hadis, yang menjadi sumber ajaran kedua setelah Alquran. Yang dimunculkan sebagian ulama adalah hadis-hadis yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;misoginis &lt;/span&gt;(hadis yang merendahkan perempuan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan dan hasil pemikiran atau ijtihad para ulama klasik terhadap penafsiran Alquran dan hadis atau biasa disebut fikih menjadi landasan legal-formal umat Islam dalam beribadah dan berkehidupan sosial. Dalam fikih itulah semua kehidupan umat Islam diatur, dari kehidupan pribadi seperti nikah, puasa, zakat, salat, dan khitan, hingga kehidupan sosial dan politik. Akibat dari kecenderungan menafsirkan Alquran oleh sebagian ulama yang didominasi laki-laki, dan hadis yang diambil adalah hadis-hadis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;misoginis&lt;/span&gt;—meminjam istilah Syafiq Hasyim—fikih menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fikih patriarki&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah dua buku yang masing-masing berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hal-Hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-Isu Keperempuanan dalam Islam &lt;/span&gt;karya Syafiq Hasyim dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender&lt;/span&gt; karya K.H. Husein Muhammad mencoba memunculkan kembali dan mengkritik persoalan-persoalan perempuan yang selama ini "tak terpikirkan" yang tertuang dalam fikih. Biasanya kritik atau dekonstruksi terhadap persoalan perempuan langsung menukik pada persoalan teologi, seperti yang sudah dikerjakan oleh Rifaat Hasan, pemikir perempuan Islam asal Pakistan. Padahal, fikih selama ini tidak lagi dipandang sebagai kerja intelektual yang memiliki kenisbian kebenaran dan kontekstual serta memiliki makna substansial dan rasional yang dikembangkan, tapi telah menjadi agama dengan kesakralan dan keabadian maknanya (Husein: hlm. xxiv). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesakralan dan keabadiannya itu, umat Islam tidak berani mengutak-atik rumusan fikih itu dan bersikap nrimo saja. Padahal, banyak persoalan perempuan dalam fikih, seperti yang ditunjukkan oleh dua penulis dalam dua buku ini, yang melakukan distorsi pesan-pesan kearifan dan kerahmatan agama. Pesan dan rahmat agama itu sebenarnya memperlihatkan kepada umatnya makna-makna humanitas universal dan ajaran-ajaran agama yang memberi makna humanitas kontekstual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RimHAuBqQyI/AAAAAAAAAGo/tMGdFZ4woMU/s1600-h/101_0146.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RimHAuBqQyI/AAAAAAAAAGo/tMGdFZ4woMU/s200/101_0146.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055720503124837154" /&gt;&lt;/a&gt;K.H. Husein, misalnya, mencontohkan tentang kepemimpinan perempuan dalam sebuah negara. Dalam fikih, hampir semua sepakat bahwa kepemimpinan perempuan tidak dibolehkan. Ini merujuk pada QS An-Nisa: 34, bahwa "Laki-laki adalah qawwam (pemimpin) atas perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." Posisi laki-laki dalam ayat ini sangat superior karena kata qawwam dan melebihkan. Kalangan mufasir seperti Ar-Razi, Ibnu Katsir, dan az-Zamakhsyari berpendapat superioritas laki-laki di situ mutlak adanya. Ar-Razi dalam tafsirnya, At-Tafsir al-Kabir, juz X 88, mengatakan kelebihan laki-laki atas perempuan meliputi dua hal: ilmu pengetahuan, pikiran, akal (al-'ilm) dan kemampuan (al-qudrah). Artinya, akal dan pengetahuan laki-laki melebihi akal perempuan dan untuk pekerjaan-pekerjaan keras laki-laki lebih sempurna dibandingkan dengan perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut K.H. Husein, semua superioritas yang dimutlakkan tadi kini tak dapat dipertahankan lagi. Ini bukan saja karena hal itu dipandang sebagai bentuk diskriminasi yang tidak sejalan dengan dasar-dasar kemanusiaan universal, melainkan juga karena fakta-fakta sosial telah membantahnya. Sekarang, telah semakin banyak kaum perempuan yang memiliki potensi dan melakukan peran yang selama ini dipandang hanya dan harus menjadi milik laki-laki. Karena itu, karakteristik yang menjadi dasar argumen bagi superioritas laki-laki bukanlah sesuatu yang tetap dan berlaku sepanjang masa, melainkan merupakan produk dari sebuah proses sejarah yang berlangsung secara evolutif dan dinamis. Apalagi Alquran telah merekam kepemimpinan perempuan dalam cerita Ratu Balqis yang sukses secara gemilang memerintah negerinya, Saba' (Husein: 21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal menarik yang akan kita dapatkan dalam kedua buku ini. Pertanyaan yang cukup sensitif antara lain mengenai boleh-tidaknya perempuan menjadi imam di tengah makmum lelaki, boleh-tidaknya perempuan berazan di masjid seperti layaknya laki-laki, tentang khitan perempuan, batasan aurat, dan pemakaian jilbab. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan kita temukan di kedua buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Syafiq, kita akan menemukan berbagai macam pendapat dari kalangan ulama tradisional sampai pemikir Islam modern. Dalam setiap bab, dengan sistematis meski tidak begitu dalam, Syafiq merunut tokoh demi tokoh untuk menjelaskan setiap persoalan perempuan secara tematis dan historis. Dalam penutup tulisannya, Syafiq memberikan alternatif cara membaca fikih yang membebaskan, bukan fikih patriarki, yakni dengan meminjam metode aliran filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure, yaitu tazamuni (sinkroni) dan istqathi (diakroni). Dan Syafiq lebih memilih cara baca istqathi karena cara baca model itu, khususnya dalam konteks fikih, menggunakan makna-makna yang dikandung oleh teks-teks fikih masa lalu sebagai pengetahuan sejarah makna, bukan sebagai pengikat makna. Cara baca seperti itu diharapkan akan mengembangkan makna-makna teks fikih yang sesuai dengan kebutuhan sekarang, bukan kebutuhan masa lalu (Hasyim: 266). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam buku K.H. Hussein, kita akan menemukan pergulatan dirinya sebagai kiai pesantren yang terganggu karena "agama" menjadi salah satu faktor penyebab ketidakadilan terhadap perempuan. Dengan bahasa pesantren yang menjadi gaya tulisannya ini, K.H. Husein mencoba membentuk sebuah pemikiran yang cukup utuh dan sistematis mengenai fikih perempuan dalam perspektif keadilan gender. Menariknya, buku ini disusun ala sistematik tematis fikih klasik: fikih ibadah, fikih pernikahan, sosial kemasyarakatan. Sebagai orang yang memiliki latar belakang tradisi kitab kuning yang cukup kuat, K.H. Husein mampu membaca dan memetakan berbagai ketimpangan hubungan laki-laki dan perempuan melalui berbagai ragam referensi secara teliti dan kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buku ini merupakan karya yang saling melengkapi dan memperkaya wacana Islam dalam kajian fikih. Pemikiran dan pendapat yang diulas di dalamnya memberikan nuansa dan masukan baru untuk ritual-ritual yang biasa dilakukan umat Islam, khususnya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan perempuan. Untuk sebuah awal, apalagi untuk Indonesia, kedua buku ini cukup berhasil membangun fikih yang pro-perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reference: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Majalan TEMPO&lt;/span&gt; NO. 22/XXX/30 Juli - 5 Agustus 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-126770772055391045?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/126770772055391045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/membangun-fikih-yang-pro-perempuan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/126770772055391045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/126770772055391045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/membangun-fikih-yang-pro-perempuan.html' title='Membangun Fikih yang Pro-Perempuan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RimIOuBqQ0I/AAAAAAAAAG4/bLyz5gAm-zQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1767948528343343710</id><published>2007-04-08T20:19:00.000-07:00</published><updated>2007-04-08T23:52:30.912-07:00</updated><title type='text'>Peraturan Daerah Syariat dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm1ByOWmxI/AAAAAAAAAFw/nAkErsuVzBU/s1600-h/women+islam+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm1ByOWmxI/AAAAAAAAAFw/nAkErsuVzBU/s200/women+islam+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051267499339193106" /&gt;&lt;/a&gt; Di tengah trend peraturan daerah (perda) syariat saat ini yang terjadi di pelbagai daerah, tema perempuan kaitannya dengan syariat Islam seakan tak bisa dipisahkan. Berbicara tentang syariat Islam maka sebenarnya berbicara tentang pengaturan perempuan. Coba kita perhatikan, tak ada satu pun aturan dalam perda-perda tersebut yang tak mengatur tentang perempuan: bagaimana perempuan berpakaian, bersikap dan berperan. Karenanya saya sepakat dengan Muslim Abdurrahman dalam wawancaranya beberapa tahun lalu di website islamlib.com bahwa yang menjadi korban pertama penerapan syariat Islam adalah perempuan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, trend di atas bisa dibilang masih baru. Saya bersyukur menjadi perempuan Islam Indonesia. Terlepas dari tradisi Islam, peranan perempuan di Indonesia lebih maju dibanding negara-negara Islam. Kalau kita melihat di negara-negara yang berdasar Islam, nasib perempuan sangat memprihatinkan. Perempuan diperlakukan seperti mahluk yang lemah dan tak mempunyai akal pikiran; mahluk yang harus diatur, diarahkan dan berbahaya. Kita bisa baca pengalaman perempuan-perempuan di bawah rezim Taliban yang runtuh beberapa tahun lalu. Begitu juga di negara Arab Saudi atau Kuwait dan negara Arab lainnya. Perempuan benar-benar tidak dianggap sebagai manusia yang utuh, yang mempunyai kebebasan, pilihan, akal pikiran dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, benarkah perempuan dalam Islam seperti yang tercermin dalam dalam negara-negara Islam itu? Bagaimana sebenarnya Islam memosisikan perempuan?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perempuan yang dilahirkan dari orang tua yang beragama &amp; bertradisi Islam dan kemudian secara sadar memilih Islam sebagai agama yang saya peluk, tentu saya ”terganggu” dengan pemahaman Islam seperti ini. Saya tak percaya kalau agama yang saya anut mendiskriminasikan jenis kelamin saya, perempuan. Karena saya percaya tidak mungkin Allah, sang pencipta, menciptakan manusia (laki-laki &amp; perempuan) dan kemudian bersikap tidak adil pada salah satu ciptaannya. Atas dasar itulah, saya mulai menelusuri literatur yang berkaitan tentang tema perempuan dalam Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm37COWm0I/AAAAAAAAAGI/GFx5i_5SAis/s1600-h/IMG_0122.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm37COWm0I/AAAAAAAAAGI/GFx5i_5SAis/s200/IMG_0122.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051270681909959490" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata yang saya jumpai dalam Islam, perempuan menempati posisi sangat istimewa. Apalagi kalau kita memahami bagaimana era sebelum Islam. Islam diturunkan di saat kondisi sosial sedang mengalami era kegelapan (jahiliyah) khususnya kepada perempuan. Saat itu, laki-laki memang segala-galanya, inilah yang disebut dengan sistem patriarkhi. Tidak ada penghargaan sama sekali pada perempuan. Dalam tradisi jahiliyah, terdapat tradisi menanam anak perempuan hidup-hidup (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wa'du al-banât&lt;/span&gt;), anak perempuan tidak berhak menerima warisan bahkan sebaliknya anak perempuan seperti benda yang bisa diwariskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami juga menjadi bagian tradisi jahiliyah itu. Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, ketika Ghilan bin Salamah al-Tsaqafi masuk Islam dia memiliki istri lebih dari sepuluh. Seorang sahabat lain, Qays bin al-Harits al-Asadi memiliki delapan istri. Rasulullah Saw memerintahkannya mereka berdua untuk memilih dari istri-istrinya empat orang dan menceraikan sisanya. Ketika Rasulullah Saw ditinggal istri tercintanya, Khadijah, Khulah bint Salimah al-Hakim menga¬jukan dua calon istri sekaligus, sebagai pengganti Khadijah, yaitu, Aisyah bint Abi Bakr dan Saudah bint Zam'ah. Dari “penawaran” ini menunjukkan poligami sudah bagian dari tradisi Bangsa Arab yang mendarah daging. (Binth Syathi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nisâ' al-Nabî&lt;/span&gt;: 85)     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kondisi seperti ini, jelas Islam sangat revolusioner dalam mengangkat derajat dan posisi perempuan. Alquran, kitab suci agama Islam, diwahyukan kepada Nabi Muhamad penuh dengan cita-cita sosial dalam mendobrak keterbelakangan dunia di masa ketika ia ditumbuhkan. Nabi Muhamad Saw dengan ajaran barunya berusaha melepaskan belenggu tradisi jahili pada saat itu, yaitu menaikan harkat perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti sejarah mencatat gebrakan-gebrakan yang dilakukannya. Ini terlihat dalam ayat-ayat Alquran dan perilaku Nabi terhadap perempuan, baik isteri-isterinya, anak-anaknya maupun sahabatnya. Konsep perempuan dalam Al-Qur’an secara jelas dan gamblang menyatakan posisi dan peran perempuan setara dengan laki-laki. Yang dimuliakan di sisi Allah bukan perbedaan jenis kelamin, akan tetapi nilai ketakwaan (QS. Al-Hujarat/49: 13). Begitu juga dalam pemberiaan pahala yang diberikan Allah terhadap amal perbuatan seseorang. Ini tidak ada perbedaan jenis kelamin. Allah hanya menilai besar kecilnya nilai amal tersebut (QS. Al-Ahzab/ 33: 35, QS. Al-Jin/72: 38, QS. Ali-Imran/3: 195, QS. An-Nisa/4: 124, QS. An-Nahl/16:97, QS. Al-Mu’min/40: 40, QS. At-Taubah/ 97: 2). Alqur’an juga jelas mengatakan perempuan adalah partner (pasangan, saudara kembar, saudara kandung). Begitu juga laki-laki adalah partner perempuan (QS. An-Nisa/4: 1, QS. An-Nahl/16: 72, QS. Al-Baqarah/2: 187, QS. Ar-Ruum/30: 21, QS. Al-A’raf/7: 189, QS. Asy-Syuara’/42:11, QS. At-Taubah/ 9: 71, QS. Al-Hujurat/ 49: 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada nilai-nilai kuantitatif yang melebihkan keunggulan laki-laki dalam ayat-ayat Al-Qur’an, itu tidak mengurangi nilai kesetaraan. Karena ayat-ayat itu dipahami sebagai ayat yang sebenarnya punya nilai praktis atau kompromi yang sangat revolusioner dalam konteks Arab masa itu. Misalnya mengenai hak waris, saksi atau keunggulan laki-laki dalam rumah tangga. Padahal posisi perempuan pada saat itu, sangat tidak diharapkan kelahirannya (QS. At-Takwil/81: 8, QS. At-Taubah/ 9: 16, QS. An-Nahl/l6: 58-59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam sepuluh tahun sesudah Rasulullah SAW wafat, perempuan kembali dihadapkan pada otoritas politik yang memapankan nilai androsentrisme. Masa inilah yang menjadi jembatan berlangsungnya sejarah androsentrisme dalam Islam dan dilembagakan secara halus melalui bahasa agama yang tercantum dalam kitab tafsir, hadis, dan fikih, serta dikembangkan pada masa kekuasaan Bani Umayah dan Abasiyah, bahkan hingga sekarang. (Nasaruddin Umar, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan tradisi tasauf yang jauh dari lingkaran otoritas politik, perempuan menempati tokoh sentral yang diakui ketinggian spiritualitasnya bisa melebihi laki-laki. Seperti dikatakan Ibnu Arabi, sufi sejati adalah mereka yang mengubah sifat dirinya menjadi perempuan. Hal ini disebabkan sifat jamaliyah yang dimiliki perempuan (Haidar Baqir, 2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Abu Abdurrahman as-Sulami (wafat 1021) merincikan kesalehan 82 perempuan "kekasih Tuhan" dalam bukunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dzikir an-Niswah al Muta’abbidat ash-Shufiyyat&lt;/span&gt;, yang menunjukkan kualitas spiritualitas perempuan tidak terhalang karena jenis kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhnKACOWm1I/AAAAAAAAAGQ/_3aV6TUgwcY/s1600-h/women+islam3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhnKACOWm1I/AAAAAAAAAGQ/_3aV6TUgwcY/s200/women+islam3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051290559018605394" /&gt;&lt;/a&gt; Menurut Gamal al-Banna dalam Bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-Mar’ah al-Muslimah Bayna Tahrîr al-Qur’ân wa Taqyîd al-Fuqâhâ’&lt;/span&gt;, ada dua sebab kenapa kondisi perempuan menjadi terbelenggu lagi : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, kuatnya adat dan budaya Jahiliyah yang sangat merendahkan martabat perempuan, dan Islam pun tidak bisa mengubahnya secara frontal, namun perlahan-lahan dan kadang “berkompromi”. Ini misalnya terlihat dari pengkuan Umar bin Khattab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahi ma kunna na’idd al-nisâ’a hatta anzala Allah fîhinna mâ anzala&lt;/span&gt; (Sumpah, kami dulu tidak pernah peduli terhadap hak perempuan, sampai Allah memerintahkan kami untuk peduli pada hak-hak mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga seorang perempuan mengadu kepada Rasulullah ditampar suaminya. Rasulullah menyuruh perempuan tersebut membalas tamparan sang suami sebagai realisasi ayat qishâsh al-Quran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anna al-nafs bi al-nafs wa al-'ayna bi al-'ayn&lt;/span&gt;..., sekaligus bukti kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dan masyarakat Arab waktu itu bereaksi keras, bagaimana mungkin perempuan yang sebelumnya tidak dihargai sama sekali, tiba-tiba diperbolehkan membalas perlakuan sama terhadap laki-laki? Sebagai "kompromi" turun ayat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-rijâl qawwâmûn 'alâ al-nisâ'&lt;/span&gt;—yang sering dipahami laki-laki berkuasa atas perempuan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, hilangnya kebebasan dari masyarakat Islam setelah meninggalnya Nabi dan Khulafa’ al-Rasyidin. Kebebasan itu hilang karena dua sebab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) lahirnya kekuasaan dinasti-dinasti kerajaan yang otoriter dan despotik, yang selalu mengutamakan kekerasan. Ingat penyerbuan Madinah dan perusakan Ka’bah di Makkah oleh Yazid bin Muawiyah. Kondisi ini menciptakan masyarakat ‘patriarkhi’ yang identik dengan ‘kelelakian’ ‘kejantanan’: kekerasan, dan kediktatoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) lahirnya ulama-ulama fikih yang dekat dengan kekuasaan dan mereka tidak hanya sekedar ulama fikih namun juga ‘legislator’ yang membuat aturan, dan undang-undang yang berpihak pada kekuasaan. Sejak zaman ini, perempuan dikekang dan dipasung melalui aturan-aturan yang ada dalam fikih. Ketika fikih sudah menjadi undang-undang positif, maka, fikih akan kaku dan beku, padahal hal ini bertentangan dengan kodratnya sebagai pemahaman (al-fiqh) yang subur akan penafsiran dan perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada para ahli fikih lain yang menentang kedudukan ulama fikih di atas, yaitu ulama fikih yang tugasnya mengarang buku dan mengajar. Mereka sangat menentang menjadikan fikih sebagai hukum positif, seperti Malik bin Anas yang menolak ketika Abu Manshur, seorang khalifah Abbasiah, ingin menjadikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-Muwaththa’&lt;/span&gt; karangannya dijadikan hukum positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm1KSOWmyI/AAAAAAAAAF4/SQdvjFG50KI/s1600-h/women+isalam2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm1KSOWmyI/AAAAAAAAAF4/SQdvjFG50KI/s200/women+isalam2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051267645368081186" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh karena itu menurut Khaled Abu el Fadl dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Atas Nama Tuhan&lt;/span&gt; (2004), hukum Islam harus dibebaskan dari praktik ‘otoriter’ ini: mejadikan fiqh sebagai hukum positif. Karena hukum Islam secara kukuh menentang kodifikasi dan penyeragaman (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islamic law has staunchly resisted codification or uniformity&lt;/span&gt;). Metodologi hukum Islam memiliki ciri yang terbuka dan antiotoritarianisme (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tradisional Islamic methodology has been its open-ended and anti-authoritarian character&lt;/span&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi persoalan dewasa ini seperti yang saya gambarkan di atas: adanya perda-perda syariat yang memperlakukan syariat Islam sebagai perangkat aturan (ahkâm) berdampak pada aturan itu menjadi mapan, statis, dan tertutup sehingga tidak menyisakan ruang yang luas untuk pengembangan dan keragaman. Khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Singkatnya, hukum Islam pada era modern ini dipandang sebagai perangkat aturan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahkâm&lt;/span&gt;), bukan sebagai sebuah proses pemahaman (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fiqh&lt;/span&gt;). Kecenderungan ini berpotensi melahirkan otoritarianisme dalam memahami hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya perdebatan-perdebatan mengenai perempuan, haruslah diletakkan pada perdebatan fiqh; sebagai ilmu yang berusaha memahami dan menggali hukum-hukum syariat Islam. Baik perdebatan ini bersumber dari teks-teks Alquran maupun Hadis. Meski masih kuat adanya sikap misoginis dalam ajaran atau doktrin Islam seperti yang tergambar dalam Hadis namun hal itu tak menghapus nilai-nilai universal yang sangat jelas termaktub dalam Alquran. Dengan memperlakukan teks seperti ini, Islam tidak akan kehilangan semangat pembebasan terhadap perempuan. Dan perda syariat yang mengatur perempuan semestinya tak diperlukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi : Opini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, Sabtu 7 April 2007&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;my last safhah&lt;/span&gt;, terima kasih atas masukan dan diskusinya untuk tulisan ini..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1767948528343343710?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1767948528343343710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/peraturan-daerah-syariat-dan-perempuan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1767948528343343710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1767948528343343710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/peraturan-daerah-syariat-dan-perempuan.html' title='Peraturan Daerah Syariat dan Perempuan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rhm1ByOWmxI/AAAAAAAAAFw/nAkErsuVzBU/s72-c/women+islam+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-89251254172258025</id><published>2007-04-04T04:08:00.000-07:00</published><updated>2007-04-04T04:15:04.903-07:00</updated><title type='text'>Jalan Panjang menuju Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOHqSOWmuI/AAAAAAAAAFY/dh3og_HZIwo/s1600-h/images3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOHqSOWmuI/AAAAAAAAAFY/dh3og_HZIwo/s200/images3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5049528767728753378" /&gt;&lt;/a&gt; Bulan April ini mas Hamid, koordinator Jaringan Islam Liberal, menikah. Tepatnya tanggal tujuh di Gedung Arsip Nasional. Buat saya, keputusannya ini luar biasa dan dahsyat. Tadinya saya menganggap pernikahan tidaklah penting untuknya. Sama seperti teman baik saya lainnya; mba Ayu Utami, mas Erik, dan Andy Budiman. Ternyata persoalannya bukan penting dan tidak penting, tapi belum menemukan jodoh. Iya, mas Hamid sering mengatakan itu kalau saya rewel bertanya tentang kehidupan pribadinya. Kenapa sih mas ga menikah? Kalau si ini gimana? Kalau si itu gimana? Selalu jawabnya, ah pegel, Nong. Nah, sekarang terjawab sudah siapa perempuan yang diinginkannya. Itulah Fathia Syarif. Hmmm, beruntunglah mba Fathia karena mendapatkan mas Hamid, jenis lelaki yang sedikit ada di dunia ini, yang bisa diajak apa saja dan bicara apa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, sampai saya berangkat ke Melbourne dan mereka menikah, saya belum pernah ketemu mba Fathia, perempuan yang dipercaya mas Hamid menemani hidupnya. Saya hanya mendengar ceritanya saja. Tiap hari saya mendengar tentangnya. Saat itu, mas Hamid memang sedang puncak-puncaknya kasmaran (semoga berada di puncak terus!). Mas Hamid berubah layaknya yang sedang kasmaran: wajahnya ceria, bersinar dan matanya berbinar-binar terus. Tak pernah terucap kata lelah atau mengeluh meski dia sering cerita kalau dia belum tidur sama sekali. Terus cerita dan cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mas Hamid ketemu dengan rumah hatinya, kita sering ngobrol soal pernikahan. Dia selalu mengeluhkan teman-temannya, termasuk saya, karena setelah menikah terus berubah. Pembelaan saya waktu itu, saya berubah karena harus toleran dan kompromi dengan teman hidup saya bila ingin langgeng. Ini bagian dari konsekuensi pilihan saya memilih suami saya, bagaimanapun dan siapapun dia. Trus mas Hamid bilang, “kalau nanti saya menikah saya ngga mau berubah. Hidup saya sih seperti ini ya pasangan kita harus terima. Kalau kamu, Nong, pegel banget.” Saya cuma tertawa kalau sudah dibilangin begitu. Apalagi kalau mas Hamid udah bilang kata pegel, hmm bikin saya kangen deh. Khas banget gitu loh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOHzCOWmvI/AAAAAAAAAFg/pcz0_8U6npM/s1600-h/images2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOHzCOWmvI/AAAAAAAAAFg/pcz0_8U6npM/s200/images2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5049528918052608754" /&gt;&lt;/a&gt; Makanya ia sering mengingatkan lewat sms-smsnya bila saya bercerita tentang keluarga. Salah satunya smsnya kira-kira begini, “Nong, salah satu kesalahan Tuhan adalah menciptakan institusi pernikahan. Karena itu untuk menebusnya, Tuhan memberi kita Teman.” Dan saya menyetujuinya. Meski sekali-kali saya pegel karena urusan keluarga, saya beruntung punya teman-teman yang sangat baik khususnya dengan mas Hamid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal, kita semua dekat seperti saudara. Yang menyatukan kita adalah kita benar-benar menjadi liberal yang kaffah. Kita merasa satu ide, satu perjuangan. Meski saya dan mas Hamid dari segi usia, pengalaman hidup dan intelektual berbeda, tapi itu tidak menjadi alasan kami untuk tidak menjadi teman dekat yang sangat baik. Saya tak merasa sungkan untuk bercerita tentang apapun. Saya kira, bukan hanya saya yang punya perasaan istimewa berteman dengan mas Hamid seperti ini, teman-teman yang lain pun merasakan hal yang sama, merasa cocok dan trust dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, mas Hamid datang ke ruangan saya, duduk di sofa seperti biasa dan langsung cerita tentang mba Fathia. Dia bilang, “aku lagi nunggu Fathia nih menjawab tawaranku menikah. Dia minta waktu seminggu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener nih, mas? Apa keputusan itu ngga terlalu cepat?”, Saya bertanya serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngga, karena aku udah merasa banyak kecocokan dengannya. Nong, dia itu JIL banget loh. Pokoknya keren deh, ngga megelin. Dan lagian ngapain lama-lama pacaran untuk seusiaku. Dari dulu, aku kan pengen menikah. Kalau dia mau menikah, aku senang banget, kalau dia inginnya pacaran saja ya kita jalan aja. Tapi kalau bisa sih aku ingin cepat menikah. Pegel nong begini terus,” tuh kan mas Hamid bilang pegel lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOH_yOWmwI/AAAAAAAAAFo/WG28u01cSzw/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOH_yOWmwI/AAAAAAAAAFo/WG28u01cSzw/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5049529137095940866" /&gt;&lt;/a&gt; Alhamdulillah, tawaran mas Hamid diterima. Saya ikut senang dan bahagia ketika mendengar berita ini. Saya ngebayangin keputusan mba Fathia ini berdasarkan pertimbangan kiri kanan, depan belakang, dianalisa dari berbagai perspektif: filsafat, sosiologi, politik, sejarah, agama, sholat istikharah, tanya kyai khas, dan lainnya. Intinya dia bersedia dengan mantap diperisteri dan dinikahi mas Hamid. Saya percaya, pasti ini keputusan yang luar biasa juga untuk mba Fathia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, “konstelasi politik” mas Hamid berubah dengan cepat. Tiap detik selalu ada yang berubah. Awalnya dia bilang akan menikah bulan Mei. Wow, tentu saya senang karena saya sudah ada di Jakarta dan akan ikut bersibuk-sibuk ria untuk pernikahan agung mereka. Eh, seminggu saya di Melbourne, saya di sms mas Hamid kalau pernikahan mereka dimajukan bulan April. Saya sempat protes kenapa waktu pernikahannya dimajukan. Saya berharap sekali, bisa melihat dan ikut menjadi saksi pernikahan mereka. Saya sedih, mungkin karena saya terlalu kegeeran, merasa menjadi teman baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, tak berapa lama kemudian saya disms lagi olehnya, minta tulisan untuk souvenir pernikahannya. Kesedihan saya hilang oh ternyata mas Hamid masih menganggap saya sebagai teman baiknya. Saya masih bisa terlibat dalam pernikahan mereka meski sekedar lewat tulisan ringan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, selamat ya mas Hamid, selamat ya mba Fathia. Semoga bisa menjadi pasangan yang langgeng, bisa mencipta keluarga yang sakinah (Jangan lupa, mas Hamid selalu bilang kalau niatnya berkeluarga salah satunya ingin punya anak. Duhh, arabnya ternyata belum hilang mas!), mawaddah dan penuh rahmah. Doa dan harapan yang selalu diucapkan pada setiap pasangan yang akan menikah. Saya yakin, mas Hamid dan mba Fathia bisa mewujudkan harapan ini. Separoh lebih hidup mas Hamid dihabiskan untuk menunggu pilihan hidupnya dan akan sangat terasa pendek mewujudkannya bersama mba Fathia. Seperti ucapan mas Hamid yang sering dikatakannya ke saya, pernikahan dan keluarga tak selayaknya menjadi alasan kita berubah. Mas Hamid dan mba Fathia bisa membuktikan bahwa pernikahan bukanlah kesalahan dan hukuman Tuhan, tapi bagian dari kenikmatan Tuhan. Selamat berbahagia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-89251254172258025?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/89251254172258025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/jalan-panjang-menuju-pernikahan_04.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/89251254172258025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/89251254172258025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/04/jalan-panjang-menuju-pernikahan_04.html' title='Jalan Panjang menuju Pernikahan'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RhOHqSOWmuI/AAAAAAAAAFY/dh3og_HZIwo/s72-c/images3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5769571026002240951</id><published>2007-03-31T23:23:00.000-07:00</published><updated>2007-04-01T05:39:54.494-07:00</updated><title type='text'>Melbourne, Kebebasan dan Kursus Inggris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg9RNMJOBII/AAAAAAAAAEM/Qhq70OecBSw/s1600-h/IMG_0080.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg9RNMJOBII/AAAAAAAAAEM/Qhq70OecBSw/s200/IMG_0080.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048342994345657474" /&gt;&lt;/a&gt; Sudah lima minggu lebih saya menikmati dan melewati hidup di Melbourne. Melbourne adalah kota multikultural dengan beragam orang, bangsa, polah, makanan dan lainnya; kota yang tiap minggunya ada pertunjukan seni, festival dari bermacam budaya dan bangsa; kota yang penuh dengan gedung-gedung cantik, modern dan juga tua; kota dengan transportasi publik yang sangat baik; kota yang dimana-mana tersedia taman yang nyaman dan terbuka untuk publik; kota yang betul-betul menghargai pentingnya keberadaan ruang publik untuk warganya; kota yang sadar dengan sejarah karenanya museum terserak dimana-mana; kota yang sungguh tertata dan terencana. Saya betul-betul menikmati kota ini. Saya beruntung bisa singgah 10 minggu lebih di kota ini dan saya masih punya lima minggu lagi untuk merambahi kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa di sini karena bantuan dari TAF. Terima kasih saya haturkan untuk Douglas, mba Robin, John, kak Budhi, Kathleen dan teman-teman TAF lainnya. Dan juga dukungan yang penuh dan luar biasa dari mas Celi dan teman-teman Freedom Institute. Juga mas Indra yang menjaga Andrea. Karena merekalah saya di sini sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya tak yakin bisa pergi selama dan sejauh ini. Ketika saya mendapat kabar dari TAF kalau saya disetujui didanai ke Melbourne, saya sempat ragu, maju mundur. Bahkan sempat kepikiran belajar di Singapur saja. Lokasinya lebih dekat dan saya bisa bebas pulang kapan saja. Tapi beberapa teman menyarankan untuk tetap di Melbourne. Bahkan mas Celi bilang ‘kamu harus menikmati kebebasanmu sekarang, Nong. Kamu harus nikmati itu. Tak ada kemewahan selain kamu menikmati kesendirianmu. Kalau kamu tetap di Jakarta atau kamu milih Singapur, kamu akan tetap disibukkan dengan keluarga dan pekerjaanmu. Jadi, pergilah dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;enjoy your freedom&lt;/span&gt;.” Meski saya sudah memilih Melbourne tapi saya tetap gamang. Aneh, kok diberi kebebasan malah seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah saya merasa segamang ini. Biasanya setiap saya mau pergi ke luar negeri, saya menyambut dan merayakannya dengan suka cita. Ada kebanggaan saya punya kesempatan mengenal langsung negeri lain. Saya sudah pergi ke US, Jerman, Jepang, Bangkok, London, dll dan saya antusias banget. Saya suka berpetualang dan banyak mendapat belajar hidup dengan mengunjungi tempat-tempat baru, asing, dan senang mengenal orang-orang baru. Tapi sekarang menjadi lain. Mungkin karena posisi saya sekarang sudah beda, bukan pribadi yang seperti dulu, saya sebagai ibu sekarang. Ini benar-benar sulit dan dilematis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg-ebsJOBMI/AAAAAAAAAEs/rNiHHifIWss/s1600-h/deasenyum.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg-ebsJOBMI/AAAAAAAAAEs/rNiHHifIWss/s200/deasenyum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048427905849099458" /&gt;&lt;/a&gt;Saya ngga bisa ngebayangin bisa ninggalin anakku karena aku sangat dekat banget. Andrea tidak akan tidur kalau mamanya belum datang dari kantor dan aktivitas kerjanya. Meski dia harus nunggu sampai jam 12 malam karena aku sering bikin dan ngehadiri diskusi dan ‘acara’ lainnya. Dia memang anak yang betul-betul ngerti pekerjaan dan posisi mamanya. Kedekatanku dengan anakku mungkin juga karena dia masih menyusui meski usianya sudah 2,5 tahun. Keberangkatanku ke Melbourne ini dijadikan cara untuk menyapihnya. Sebenarnya dari usia 1,5 tahun aku sudah coba menyapihnya. Berbagai cara sudah dilakukan tapi ngga mempan terus. Jadi waktu itu saya ngga bisa bayangin kalau saya tak ada di sisinya. saya khawatir dia ngga bisa tidur karena saya tak disisinya, khawatir dia sakit, khawatir dia kangen dan seribu kekhawatiran lainnya. tapi anakku memang benar-benar ngerti mamanya. Duh Ea, mama kangen banget…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya putuskan dan niatkan belajar bahasa inggris di Melbourne. Saya pilih Hawtorn English Language Center (HELC) &lt;a href="http://www.hawtornenglish.com"&gt;www.hawtornenglish.com&lt;/a&gt;, milik University of Melbourne. Saya sengaja memilih tempat ini karena letaknya tak terlalu dekat dengan pusat kota Melbourne. Saya juga homestay di North Balwyn yang jaraknya lumayan jauh dari City. Tempat kosku seperti di komplek perumahan Tanjung Barat, perumahannya cukup mewah, nyaman dan akses kemana-mana sangat mudah. Lokasiku ini penting agar saya tak terlalu terhanyut mengikuti hiruk pikuk pelbagai acara di city. Dan yang terpenting lagi, di HELC ini tidak terlihat ada orang Indonesianya. Di sini banyaknya orang Korea, Cina, Jepang, Middle East, Turki, Spanish, dan beberapa orang Prancis. Ada sekitar 6000-an siswa. Beda kalau di city, dimana-mana, di setiap sudut, kita menemukan orang-orang Indonesia. Jadi saya pengennya belajar, belajar dan belajar. Supaya ngga suntuk belajar, kadang Sabtu dan Minggu serta di waktu libur saya pergi ke city, ketemu dengan teman-teman dan berpetualang dengan keramaian hiruk pikuk Melbourne. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ingat tujuan saya di sini itu belajar bahasa Inggris, kadang saya merasa sesak nafas karena sampai sekarang saya kok masih belajar Inggris aja. Hey, kemana aja selama ini? Dulu-dulu saya malas banget, bukannya ngga mau dan ngga tahu kegunaannya belajar inggris ini. Cuma megelin aja gitu loh. Kalau cuma sekedar baca, ngomong dikit dan ngerti omongan orang sih aku mampu. Tapi ternyata itu tak cukup bila ingin mendapatkan banyak hal di dunia ini. Saya nyesel banget sekarang, padahal teman-temanku udah melanglang buana studi dimana-mana karena inggrisnya udah bagus. Sementara saya masih begini-begini aja. Duh, ketinggalan banget deh. Tapi udahlah, masih untung aku diberi kesempatan seperti ini. (Jangan mengeluh terus, Nong…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama, saya di test penempatan kelas. Speaking, listening, reading ok semua. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perfect&lt;/span&gt; dan kamu sudah level advance, kata mereka. Eh, pas writing saya jatuh banget nilainya karena saya menulis sesuatu yang menurut mereka, tidak ilmiah dan tidak akademis. Karena aku homesick banget, aku menulis tentang perasaan kangenku ke dea. Trus, saya juga belum pernah ikut tes IELTS jadi ngga tahu kriteria writing itu seperti apa. Mereka minta aku memilih aku mau masuk kelas mana: English for Academic purposes (EAP) 1 atau  EAP 2?  Saya memilih yang pertama dengan pertimbangan saya udah lama tak belajar serius bahasa Inggris dan waktuku juga tak terlalu lama di sini, cuma 10 minggu. Buatku jadinya tak terlalu ngotot ngejar dan mengikuti kelas yang sudah lanjut. Saya khawatir, jangan-jangan saya tak bisa mengikutinya kalau saya masuk di EAP 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg9R3MJOBJI/AAAAAAAAAEU/ASaaJMKaopI/s1600-h/IMG_0110.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg9R3MJOBJI/AAAAAAAAAEU/ASaaJMKaopI/s200/IMG_0110.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5048343715900163218" /&gt;&lt;/a&gt; Ada sekitar 15 orang di kelasku. tiga orang Spanish (manis dan cantik), satu orang Turki (itu loh mba ade, yang dibelakangku yang ngacungin tangannya), empat orang Arab Saudi (pasti cowok semua dan megelin lagi. Mereka sok-sok banget, sombong karena merasa dari negara kaya), empat orang Korea dan satu orang Cina (pokoknya wajah dan ngomongnya Cina banget). Kelas ini diajar oleh 2 orang guru namanya Ivonne dan Katryn. Dua-duanya Oz dan ngomongnya oz banget gitu loh. Beda kalau kita dengerin inggris amerika dengan inggris oz, saya ngerasa lebih susah paham omongan mereka. Pronouncitionnya banyak beda dengan inggris amerika, kadang juga ada beberapa yang lain dengan inggris british. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini kelas untuk tujuan akademis, setiap hari kita diberi kiat bagaimana cara menulis, mengambil point-poin yang disampaikan dosen atau tulisan, meresume tulisan dan juga presentasi pakai power point. Setiap hari kita disuruh nulis esai dari mulai tema yang sangat sederhana sampai tema yang lumayan sulit. Minggu pertama saya disuruh menulis tentang Indonesia. Saya coba nulis dan saya dapat pujian (nanti saya tampilkan tulisan itu diblog ini). Trus kita disuruh nulis tentang small cars, animals, colour, membandingkan sesuatu antara di negeri kita dengan Melbourne (saya pilih membandingkan transportasi publik. Nanti saya masukkan juga di blog ini), censorship, pollutin, poverty, unemployment, women discrimination (saya menulis dalam konteks masyarakat Islam). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat merasa sedikit stress karena harus nulis dalam bahasa inggris terus. Udah gitu dengerin orang ngomong bahasa inggris terus. Trus harus ngomong inggris terus. Kan cape ya, harus mikir terus. Ini benar-benar ngga biasa dan ngga pernah seperti ini. Saya jadi ingat Sahal ketika dia pulang beberapa bulan lalu. Badan dia tambah kurus dan langsing. Ketika saya tanya kenapa dia begitu dia jawab karena dia lari terus untuk menghindari ngobrol inggris. Ah sahal, ada-ada aja. Di Jakarta atau kalau saya diminta menulis dalam bahasa inggris, saya pasti minta diterjemahin orang. Saya selalu bilang, ini kerjaan Lanny hehehe…Jadi lima minggu ini saya merasa luar biasa banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kondisi perasaan saya masih naik turun karena kadang masih homesick dan kadang merasa kesepian dan belum terbiasa jauh dari anak, keluarga, kerjaan dan teman-teman. Ingat kebebasan? Ternyata kita memang tak pernah merasa bebas meski kebebasan itu udah kita genggam. Hmmm.. Dalam seminggu selalu ada satu masa dimana saya merasa kangen banget ama Andrea. Ini bener-bener ngga bisa dirasionalisasi dan dialihkan ke yang lain. Tiba-tiba muncul rasa kangen banget, ingin memeluknya dan karena ngga bisa, saya akhirnya menangis keras-keras, ngga bisa ngapa-ngapain. Padahal hampir setiap malam saya selalu melihatnya (terima kasih YM). Dalam lima minggu kemarin, itu terjadi tiga kali, di kelas. Saya lari ke toilet, nangis sekencang-kencangnya supaya lega tapi tetap tak bisa ngerjain apa-apa. Duh. kok anak bisa luar biasa gitu ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar bahasa inggris 10 minggu tentu tak berharap mendapat banyak. Waktunya sangat pendek, padahal bahasa itu kebiasaan, tuntutan dan kebutuhan. Seperti halnya makan, minum, tidur dan gituan (hehehe..yang terakhir nggalah). Saya tetap berusaha dan melakukan yang terbaik untuk inggris saya meski kadang merasa terbebani karena khawatir tak mendapatkan apa-apa dari waktu 10 minggu ini. Padahal pengorbanan dan ongkosnya sangat mahal sekali. Btw, TAF nanti marah ngga ya? Kata Sukidi, “jangan kuatir, teh Nong, nanti bisa dilanjutin di Jakarta.” Bisa kah? Semoga bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5769571026002240951?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5769571026002240951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/melbourne-kebebasan-dan-kursus-inggris.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5769571026002240951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5769571026002240951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/melbourne-kebebasan-dan-kursus-inggris.html' title='Melbourne, Kebebasan dan Kursus Inggris'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg9RNMJOBII/AAAAAAAAAEM/Qhq70OecBSw/s72-c/IMG_0080.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-5854564586674420779</id><published>2007-03-30T06:00:00.000-07:00</published><updated>2007-04-01T05:34:28.933-07:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun Jaringan Islam Liberal</title><content type='html'>Bulan Maret ini, tak hanya saya yang merayakan ulang tahun. Jaringan Islam Liberal (JIL), yang didirikan enam tahun lalu, juga merayakannya. Tak seperti ultah saya, sejak awal ultah JIL selalu kita rayakan. Bukan untuk merayakan JIL itu sendiri, tapi untuk merayakan dan mengingatkan pentingnya perjuangan kebebasan “berpikir” dalam beragama khususnya Islam. Tak hanya itu, kegiatan tahunan ini juga diperuntukkan sebagai ruang publik yang secara bebas mendedah dan mendiskusikan tema-tema yang dianggap ‘berbahaya” dalam perdebatan normatif dan doktrin Islam. Ruang seperti ini sangat mewah dan langka kita temukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal didirikan, JIL dihadirkan untuk mengisi kelangkaan itu. Makanya tak heran bila kegiatan yang JIL lakukan “mengganggu” sebagian orang yang sudah merasa mapan dengan agamanya. Sejak awal JIL dianggap “mengancam”. Berbagai tuduhan negatif selalu ditimpakan ke JIL dan orang-orang yang terlibatnya. JIL menjadi stigma untuk orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran dan aktivitas JIL. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Ultah JIL. Setiap tahun kami berusaha selalu merayakan kegiatan tahunan ini. Meski ancaman datang menghadang dan keterbatasan dana yang kami miliki. Kegiatan ini sebisa mungkin kami rayakan dengan meriah sampai tiga hari bahkan pernah lima hari berturut-turut dengan memutar film, diskusi dan kadang ada bursa buku pilihan. Setiap tahun kami yang di JIL selalu membahas dan mendiskusikan terlebih dahulu tema dan film apa yang penting untuk kami munculkan di tiap ultah JIL. Bulan ini ultah JIL diselenggarakan dari tanggal 22 – 24 Maret dengan mengambil tema sekularisme. Menurut ceita teman-teman di JIL, peserta yang datang membludak dan antusias. Sampai-sampai Teater Utan Kayu (TUK), tempat diskusinya, tak cukup memuat banyaknya peserta yang ingin menghadiri dan menyimak diskusi JIL. Begitu juga Kedai Tempo terlihat penuh dan berdesak-desakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0Sb8JOBGI/AAAAAAAAAD8/93eJFwab0NQ/s1600-h/IMG_0134.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0Sb8JOBGI/AAAAAAAAAD8/93eJFwab0NQ/s200/IMG_0134.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047711028562756706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun terakhir ini ultah JIL selalu berbarengan dengan ultah saya. Mestinya ultah JIL diselenggarakan awal Maret, persisnya tanggal 3 Maret, berbarengan dengan munculnya milis islamliberal@yahoogroups.com yang diasuh mas Luthfi.. Tahun lalu diselenggarakan pada tanggal sama seperti tahun ini karena disesuaikan dengan kedatangan TV ABC Australia yang ingin mengambil profil JIL. Mereka membuat acara Islam Indonesia dan mengambil JIL sebagai salah satu representasi Islam Indonesia &lt;a href="http://http://www.abc.net.au/compass/s1765937.htm"&gt;http://www.abc.net.au/compass/s1765937.htm&lt;/a&gt;. Dan tahun ini diselenggarakan di tanggal itu karena menyesuaikan waktu TUK dan kesiapan teman-teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja berbarengan ultah JIL dengan ultah saya bukan berarti JIL milik dan identik dengan saya. Ini untuk menjawab kekecewaan salah satu teman saya karena saya terlalu ‘dominan” perannya sekarang di internal JIL. Saya selalu tekankan, JIL milik semuanya bukan milik para pendirinya. Meski saya, mas ulil, mas luthfi, anick, burhan, sahal, mas Goen ngga ada, ngga terlibat dan ngga hadir di ultah JIL ternyata acara ultah JIL sukses luar biasa seperti yang diceritakan mas hamid dan novri dimilis internal kami. Ini menunjukkan JIL sekarang bukan punya siapa-siapa dan tak identik dengan siapa-siapa tapi milik semuanya. Seperti lampu yang menerangi kita, siapapun yang menikmati terangnya lampu itu tak perlu tahu siapa yang menemukan dan menciptakannya. Saya ingin JIL seperti itu. Saya yakin, JIL akan ada dan hidup terus karena banyak orang yang akan menjaga dan merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah saya tulis di atas, di ultah sekarang saya tidak hadir. Saya merasa betul-betul kehilangan moment ini.  Seperti juga mas ulil, mas luthfi, anick, sahal, mas goen dan teman-teman yang tak bisa hadir. Makanya saya meminta teman-teman JIL menceritakannya untuk kami. Saya berterima kasih pada Novri yang dengan luar biasa kerennya menceritakan ultah JIL dengan detail. Saya udah meminta izin Novri kalau laporannya akan saya muat diblog ini. Terima kasih Novri. Terima kasih Lanny, Umdah, Guntur dan mbak Ade yang dengan kerja kerasnya berhasil menyelenggarakan ultah JIL sekarang. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung baik materi dan lainnya. Tak bisa saya sebutkan nama-namanya di sini, karena saking banyaknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia laporan Novri, selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung membludak, mungkin sampai 350-an orang. Sejak jam tiga sore, mereka sudah menyemut dan minum teh botol di kedai. Ada banyak orang mungkin dari STT Jakarta ataupun STF Driyarkara. Tapi orang yang tidak kita kenal benar-benar banyak. Saya lihat lebih banyak dari tahun kemarin. Orang seakan penasaran, ada apa dengan JIL. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu khusus yang diundang JIL emang dikit yang datang. Hanya ada Pak Fikri Jufri, Mas Tosca Santoso, Pak Zulkifli Lubis, Qodari, Rahman Toleng, Bu Tini Hadad, Zumrotin, Amanda, dll. Sejak awal saya sudah suruh Rusdi (operator TUK) agar nyetel liputan TV ABC Australia yang meliput ultah JIL tahun lalu tentang Islam Indonesia. Kita cuma setel yang edisi progresif yang menampilkan senyum Mas Luthfi, Syafii Anwar, Dhani Dewa, dan  Nong Darol Mahmada. Film itu diluncurkan ke layar dengan volume yang sengaja dikencangkan agar ketahuan kita lagi kenduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menyaksikan film, Mas Hamid Basyaib, Koordinator JIL, mulai sambutan soal betapa tidak seberapanya usaha yang dilakukan JIL di tengah gelombang konservatisme di Indonesia, dan betapa beratnya merawat oase kebebasan yang kita ciptakan. JIL memang tidak kehabisan moral, tapi material memang tidak ada. Karena itu, Mas Hamid mengetuk hati orang-orang untuk juga sumbangsih material di samping moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saiful Mujani atau yang akrab kami panggil kak ipung, ketua yayasan JIL, selanjutnya ngomong soal perlunya "bersedekah" gagasan untuk menjaga keseimbangan neraca moderasi Islam di Indonesia. Kalau ada yang ekstrem di kanan, harus ada yang ekstrem di kiri agar yang tenggah-tengah tetap stabil. Tapi yang lebih penting dari itu, Kak Ipung berpesan agar yang tengah-tengah ini jangan mau enak sendiri; tidak berbuat apa-apa, oportunistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Zul pertama ingin menanya apa prestasi jil dalam beberapa tahun ini. Tapi melihat kompleksitas perkaranya, dia lebih suka melihat proses, bukan hasil. Ini masih on going process. Pendek kata, dia tetap support JIL karena menghidupkan suasasa komunitas utan kayu. Pak Fikri Jufri saya agak lupa dia ngomong apa karena waktu itu saya sedang ngobrol sama Trisno. Terakhir Bu Zumrotin yang kasih selamat, dan minta nggak banyak sambutan, tapi langsung makan-makan aja. Tentu hadirin sepakat amin... Kita makan, stok kurang, karena dipesan hanya 150 porsi. Tapi ada banyak kue dari simpatisan yang datang, dari Mbak Amanda dan Emak yang konon isteri Direktur Astra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saatnya diskusi. Wah, teater penuh sesak. Sampai hanya tersisa ruang setengah meter dari meja pembicara untuk tempat saya moto-moto. Mungkin banyak fans Franky B. Hardiman, Ioanes Rakhmat, dan Kak Ihsan Ali-Fauzi yang datang. Sampai-sampai, di luar pintu banyak juga yang hanya bisa liat-liat suasana diskusi di dalam. Franky bicara soal mayarakat post-secular. Ioanes hanya memberi memaparkan pendapat Berger dan satu orang lagi tetnang sekularisme. Maklum, dia baru dihubungi empat hari sebelum acara untuk menggantikan Eri Seda yang harus ke Singapura ngantar ibunya berobat. Kak Ihsan bintangnya malam itu. Penjajakan teoretis tentang sekularisme dipaparkan dengan banyak referensi dan analisis yang baik dari Kak Ihsan. Tapi waktu sesi diskusi agak kurang greget karena penanya banyak yang nggak mutu. Tapi dari sisi kuantitas pengunjung, kita menang malam itu. Jamaah bertambah, hati kita dibesarkan oleh antusiasme banyak orang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Kedua&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Film Jesus Camp diputar jam 2 dan Soldier of God setelahnya. Penonton sekitar 50 orang saja. Tapi diskusi dengan Rizal “Celi” Mallarangeng, Samsurizal Panggabean dan Dick van der Meij sungguh menarik. Dick bilang ke saya kalau dia justru banyak dapat pengetahuan dari diskusi malam itu ketimbang memberi pengetahuan tentang sekularisme dalam prakteknya. Mas Celi tentulah bintang di forum apa pun. Tapi Rizal Pangabedan tak kalah menggigit dan kocaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, peserta di hari ini agak berkurang. Tapi hanya susut setengah meter dari depan meja pembicara dari pada malam sebelumnya. Tapi kualitas diskusi malam ini benar-benar punya greget. Mas Celi dapat porsi pertanyaan paling banyak tentang praktek sekularisme di Amerika dan tantangan di Indonesia dengan adanya perda-perda syariah. Seperti biasa, Celi adalah orang yang selalu optimis kalau modernisasi akan tetap memperkuat sekularisasi walau di Indonesia saat ini aspirasi agama di tingkat kultural makin menguat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dia dianggap orang dalam istana, peserta banyak juga yang berpesan agar pemerintah lebih tegas terhadap aspirasi-aspirasi syariah yang sudah mewabah di beberapa daerah. Itu terutama disampaikan Yenni Rosa Damayanti. Tapi Celi mengingatkan pentingnya bersabar, kayak ustad aja, mungkin karena sebelumnya ketemu Kiai Gontor dengan saya, dan pentingnya mempertimbangkan sensitifitas masalah. Celi juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemberontakan daerah dan karena itu harus lebih arif menghadapi masalah. Dia juga mengingatkan betapa perlunya tetap menghargai kompromi-kompromi sejarah yang telah dicapai para founding father kita dengan mengakomodasi nagara ketuhanan, depertemen agama, pesantren, dan undang-undang seperti perkawinan yang sebetulnya tidak ideal juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsurizal Panggabean juga tampil memikat. Dia banyak cerita tentang kontradisksi-kontradiksi yang terjadi dalam penerapan syariah di banyak negara, dan terutama di Aceh. Kocak betul abang kita ini malam itu. Mereka yang rewel-rewel dengan syariah itu, belum sampai saja ilmunya, katanya. Dia juga mengingatkan, inilah masa di mana kita melihat Indonesia sebenarnya, dengan segenap warna-warninya sembari optimis bahwa aspirasi agama yang ngawur-ngawur di mana-mana itu tak akan mengubah apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dick tampak puasa bicara dan tidak komentar banyak. Tampaknya, filolog ini lebih banyak ingin mendengar ketimbang berkomentar. Dan dia salut besar dengan diskusi kita dan berpesan pada saya untuk selalu mengundangnya dalam acara-acara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, Franky tampaknya terkesan betul dengan forum diskusi kita. Dia juga merasa bahwa dia merasa mendapat tempat yang betul-betul menantang untuk diskusi karena tesis-tesis dia, terutama tentang post-secular society, dan dia menganggap masyarakat Indonesia sudah sampai ke situ, banyak mendapat tantangan. Dia minta rekaman audio-visual diskusi kemarin, katanya untuk introspeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari ke 3&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kiranya diskusi tentang sekularisme sudah berakhir dengan optimisme Celi dan Rizal Pangabean yang menyimpulkan sekularisme tetap akan berjaya dengan modernisasi. Rupanya tidak. Pada hari ketiga, keempat pembicara kita, Saiful Mujani, Gadis Arivia, Martin Sinaga, dan Dadi Darmadi benar-benar memikat. Pengunjung pun tak susut, bahkan tampak lebih banyak dari hari kedua. Jika pada hari kedua jarak yang tersisa antara pembicara dan peserta jadi satu meter, pada hari ketiga ini, jaraknya menyusut jadi 75 centi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan sponsor Tolak Angin rupanya menginspirasi Saiful Mujani untuk membuka pembicaraan. Di situ tertulis kalimat, Orang Pintar Sayang Keluarga. Nah, Saiful mengubahnya jadi Orang Sekuler (Mesti) Sayang Keluarga. Itu penting karena nasib sekularisme bergantung pada keluarga. Keluarga menentukan tingkat populasi. Dalam hitung-hitungan demografis, bagi Saiful, dalam hitungan ratusan tahun yang akan datang, sekularisme akan mati. Sebabnya sederhana, orang sekuler tidak sayang keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang non-sekuler justru berkembang-biak dengan begitu cepat, bahkan perkembangbiakan itu tidak hanya dari satu betina, tapi dari banyak betina. Orang non-sekuler ini, taruhkan PKS, memacu jumlah populasi mereka dengan cepat. Saya jadi teringat salah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan Israel saat ini adalah cepatnya pertumbuhan populasi orang Arab-Israel berbanding orang Israel umumnya yang sekuler, maju, dan terdidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan lelucon, kira-kira begitulah Saiful mewanta-wanti. Sebab selama ini, orang sekuler tidak perhatian terhadap keluarga, sibuk dengan aktivitas mereka, malas kawin, dan kalau kawin pun, malas punya anak. Karena itu, bagi Saiful, optimisme Celi dan Rizal P sehari sebelumnya pantas untuk diragukan. Diskusi terbuka kembali. Saiful yang membuka tabir itu. Ia bagai mendapat wahyu lalu memberi fatwa tepat saat berada di meja presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, tesis besar Saiful itulah pusat pembicaraan yang perlu didiskusikan. Tapi Gadis Arivia yang tampil sebelum Saiful bicara soal pasca-sekularisme, hampir mirip dengan pembicaraan Franky sebelumnya. Saya merasa, Gadis bicara apa yang seharusnya, bukan apa yang seadanya. Ia berkaca pada kasus Iran dan Afganistan lewat dua novel Reding Lolita in Teheran dan Kite Runner. Tampak ia mengkhawatirkan nasib sekularisme sembari berharap kita semestinya sudah melampaui itu. Tapi uraiannya mengena pada tema malam itu, tentang tantangan sekularisme. Katanya, kita hanya ingin menjaga jernihnya kolam kita bersama untuk tetap bisa dimasuki dan direnagi oleh semua kalangan, baik yang sekuler maupun nonsekuler, yang berjilbab maupun tidak berjilbab. Tapi, di Indonesia kini, banyak indikasi ingin mencemari kolam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang ingin melampaui sekularisme, tapi faktanya kita belum melampaui itu, kata Saiful. Ungkapan Saiful ini sekaligus membantah harapan Gadis dan juga tesis Franky tentang masyarakat pasca-sekularisme. Saiful menandaskan bahwa masa depan sekularisme cukup gelap. Tapi apakah kita akan menyaksikan orang-orang mengucapkan rest in peace terhadap sekularisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Martin, menanggapi saya yang bertanya pada Saiful yang bagi saya mengandaikan sejarah akan berjalan linear dan seakan-akan tidak ada dinamika dan perubahan orientasi pada kedua pihak, yang tumbuh sekuler dan nonsekuler, mengingatkan, studi Yudi Latif tentang Perkembangan Inteligensia Muslim Indonesia justru menunjukkan bahwa dalam seratus tahun terakhir, intelektual Islam di Indonesia justru merasa baju Islam terlalu sempit. Dia mengutip ungkapan Amien Rais. Karena itu, Martin merasa, dalam tubuh umat Islam pun ada pergulatan dalam memilih baju yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, Martin lebih fokus pada pembicaraan bagaimana pandangan dunia sekuler tumbuh dalam konteks kekristenan Indonesia sejak zaman Belanda. Untuk melompat ke masa sekarang, setelah reformasi, orang Kristen Indonesia justru menyaksikan fundamentalisme yang tidak hanya anti-sekularisme, tapi juga anti-Kristen, terutama dalam kasus-kasus kekerasan terhadap umat Kristen sejak reformasi bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadi Darmadi tidak banyak mengeluarkan pandangan baru. Dia hanya mengutip kekhawatiran Paus Benediktus yang tampak gundah akan sekularisme dan mengharapkan umat Katolik menemukan kembali identitas dirinya. Kediktatoran relativisme, itulah yang dilihat Paus dalam sekularisme. Selebihnya dia ngomong kurang terfokus, mungkin karena dia juga baru dihubungi untuk bicara tiga hari sebelumnya, untuk menggantikan Saiful. Eh, ternyata Saifulnya juga datang dan justru menjadi bintang yang tiada taranya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi tanya jawab dan tanggapan tidak banyak yang menarik, kecuali munculnya beberapa penanggap dari suporter Gadis Arivia dan aktivis Kapal Perempuan yang terus bilang "Jangan berwacana terus". Mari aksi! Mahasiswi filsafat UI yang cakep-cekep juga datang untuk memberi support kepada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;godmother&lt;/span&gt; mereka, Gadis Arivia. Mereka inilah yang tampaknya dapat disebut sejumput masyarakat pascasekular yang diomongin Gadis sebelumnya. Tapi mereka berada dalam samudera masyarakat antisekularisme dan mungkin juga prasekularisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, diskusi malam terakhir itu tak kalah menariknya dari malam sebelumnya, kalau bukan malah lebih menarik. Moral JIL terus terangkat, dan jemaah tampak terus bertambah. Mbak Amanda ingin acara seperti itu terus diadakan tiap bulan. Mbak Tamalia Alisyahbana juga berharap hal serupa. Saya minta Amanda mencarikan uangnya, katanya akan membantu. Intinya, JIL &lt;span style="font-style:italic;"&gt;never die&lt;/span&gt;. Panjang umur Jaringan Islam Liberal...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-5854564586674420779?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/5854564586674420779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/ulang-tahun-jaringan-islam-liberal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5854564586674420779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/5854564586674420779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/ulang-tahun-jaringan-islam-liberal.html' title='Ulang Tahun Jaringan Islam Liberal'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0Sb8JOBGI/AAAAAAAAAD8/93eJFwab0NQ/s72-c/IMG_0134.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1105460783683871961</id><published>2007-03-26T03:03:00.000-07:00</published><updated>2007-03-30T06:52:00.696-07:00</updated><title type='text'>Di Melbourne Usiaku Bertambah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0V1cJOBHI/AAAAAAAAAEE/GngM7CSoha0/s1600-h/IMG_0148.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0V1cJOBHI/AAAAAAAAAEE/GngM7CSoha0/s200/IMG_0148.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5047714765184304242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jumat 23 Maret, ketika saya lagi istirahat sekolah saya mendatangi ruang komputer. Iseng-iseng buka email dan saya mendapat ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman di milis internal JIL : “Selamat ulang tahun Mba Nong”. yang menarik ada ucapan selamat dari mas ulil yang bilang “keren kamu ya Nong, ulang tahunnya di Melbourne. Padahal biasanya di Pandegalang.” Persisnya sebenarnya Labuan, bukan Pandeglang, tempat saya dilahirkan dan menjalani masa kecil saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, bulan ini saya ulang tahun. Ada yang berbeda dibanding ulang tahun sebelumnya. Seperti kata mas Ulil, saya sekarang berada di Melbourne sejak tanggal 22 Februari lalu. Saya dapat beasiswa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;short course&lt;/span&gt; dari TAF. Kalau di Jakarta, saya ngga punya waktu dan selalu ada alasan untuk tak bisa belajar. Karena kerja lah, aktif di sini di sana, ngurus anak dan lain-lain. Di sini saya benar-benar dipaksa belajar. Meski saya harus pontang panting mengendalikan perasaan yang tercabik-cabik. Duh, kenapa ya kalau lagi belajar pasti banyak godaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Melbourne, saya tinggal bersama keluarga imigran England-Jepang. Di sini susah banget nyari yang benar-benar OZ, kebanyakan pendatang. Bahkan walikotanya pun orang Cina. Keluarga yang saya tempati ini suami orang England namanya Alvin. Sedang isterinya orang Jepang, namanya Tami. Mereka udah puluhan tahun tinggal di Melbourne dan udah mapan. Tami tipe isteri rumahan yang pandai masak terutama masakan Jepang (jelaslah namanya juga orang Jepang :-)). Saya betah dan enjoy banget karena makannya enak terus dan mereka berdua baik banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop eh ultah. Di moment yang cukup penting dalam hidup saya ini, saya jauh dari keluarga dan teman-teman. Tengah malam, saya sempat terbangun: sedih, ingat Umi saya yang sudah meninggal, ingat andrea (anakku yang lagi lucu-lucunya), keluarga, teman terdekat dan tiba-tiba merasa kesepian sekali. saya telpon indra, suami saya, dan dia langsung ngucapin selamat ulang tahun dan berdoa untuk kebaikanku. Di kamar yang sunyi dan sendiri, saya juga berdoa untuk hidup saya dan mereka semua. Setelah itu, pikiran saya enteng memasuki fase baru dengan bertambahnya usia saya. “Wah, saya makin tua nih. Harus tambah dewasa dan tidak boleh terbawa perasaan terus,” tekadku. Saya review kembali hidup saya: Apa ya yang sudah saya perbuat selama ini? Adakah hidup saya ini berguna untuk orang kebanyakan? Adakah prestasi saya? Jawabannya, ternyata saya belum banyak melakukan apa-apa. Hidupku masih begini-begini aja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, seperti biasa saya sekolah. Saya sudah tak mengharapkan ada perayaan, ucapan, atau apalah di ultah tahun ini. Yang terpenting, saya sudah berdoa dan bertekad menjalani dan melakoni kehidupan yang lebih baik di tahun ini dan seterusnya. Lagian sebenarnya dalam tradisi keluarga saya pun tak pernah ada perayaan ultah-ultahan. Bahkan tanggal lahir anak-anaknya pun kadang ngga jelas. Versi A begini, versi B begitu. Keluarga saya santri banget yang tak terlalu perduli dengan pernak pernik kelahiran. Bagi Abah dan Umi saya (panggilan untuk orang tua saya), merayakan ultah dengan meniup lilin itu tradisi Kristen, tradisi Barat katanya. Saya ingat, waktu kecil saya merengek minta ke Umi dirayain ulang tahun dengan mengundang teman-teman. Umi saya bilang, “Jangan nong, tradisi Kristen kok diikuti. Pamali.” Pamali itu artinya berdosa. Makanya di keluarga saya, ngga ada itu perayaan ultah-ultahan. Malah sebaliknya, tradisi kita selalu merayakan kematian. Ada 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun dan seterusnya. Tiap tahun terus menerus dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru merasakan ultah saya dirayakan dan dianggap berarti ketika saya bersuami. Keluarga suamiku sangat menghargai kehidupan. Setiap ultah anggota keluarga pasti dirayakan dan disyukuri bersama-sama. Itu yang membuat saya merasa kehilangan di tahun ini.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata perasaan saya salah. Hari itu, saya sengaja pulang terlambat dengan berkubang dulu di perpustakaan. Pulang sekolah ternyata keluarga Alvin sudah mempersiapkan pesta ultah yang cukup meriah. Semua keluarganya berkumpul dan beberapa temanku diundangnya. Duh, saya begitu terharu. Ternyata di muka bumi ini kita tak pernah benar-benar sendiri. Semua orang menyayangiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, rumah benar-benar meriah. Tami masak makanan Jepang: sushi, sashimi, sabu, sop dan lain-lain. Alvin membuat cake ulang tahun, salad, dan Pizza vegetarian. Semua minuman tersedia: champign, wine, bir, soft drink sampai air zam-zam he..he.. Pokoknya malam itu benar-benar meriah. Ketika mereka meminta saya meniup lilin, saya menghela napas dalam-dalam, mata saya terpejam dan berdoa suatu saat saya diberi kesempatan bisa membalas kebaikan mereka, trus puuuh… lilin-lilin itu saya tiup...mereka semua memberi selamat dan mendoakanku. Suasananya jadi begitu mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai perayaan ultah di keluarga Alvin, indra menelpon kalau andrea, anakku, ingin tiup lilin untuk mamanya. Maka cepat-cepatlah aku menyalakan laptopku dan connect internet. di layar laptopku, andrea sudah manteng dengan lilin ulang tahun dan pizzanya. "Met ulang tahun, mama," kata andrea dan suamiku. aku jadi makin terharu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata mas Ulil, buatku ultah sekarang memang benar-benar keren. Bukan sekedar ultahnya di Melbourne tapi juga karena ultah saya dirayakan oleh orang-orang yang tadinya saya anggap mereka tak perduli saya, bukan saudara, bahkan sebagai teman pun baru ketemu dan kenal. Ternyata saya salah. Mereka dan keluargaku luar biasa. Meski jauh dari keluarga &amp; teman terdekat, ulang tahun sekarang benar-benar berarti dan berkesan. Terima kasih Alvin, terima kasih Tami, terima kasih dea, terima kasih mas in, terima kasih semuanya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-1105460783683871961?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/1105460783683871961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/di-melbourne-usiaku-bertambah.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1105460783683871961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/1105460783683871961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/di-melbourne-usiaku-bertambah.html' title='Di Melbourne Usiaku Bertambah'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/Rg0V1cJOBHI/AAAAAAAAAEE/GngM7CSoha0/s72-c/IMG_0148.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7092204963160779155</id><published>2007-03-24T23:32:00.001-07:00</published><updated>2007-03-24T23:52:57.027-07:00</updated><title type='text'>Is There a Rainbow in Islam?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYcJgAOn5I/AAAAAAAAADc/mWzd9OUDclU/s1600-h/DSC01235.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYcJgAOn5I/AAAAAAAAADc/mWzd9OUDclU/s200/DSC01235.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045751382050512786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;In 1997, Nong Darol Mahmada became furious with God. Her mother-who had been active in organizing Islamic prayer meetings in her neighborhood in Labuan, Banten, West Java-was struck with an incurable illness that would leave her crippled for life. Nong thought that God had abandoned them. "My mother was a good person and a devoted wife. Why would God let her suffer? When she became ill, everything fell apart." At Nong's father's pesantren  religious school, the enrollment dropped from around 500 to 100. "My mother used to take care of everything," Nong says. "No one could replace her. I thought, why doesn't God see that by making my mother sick He was losing so many people who had praised Him?' I was very angry."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong's relationship with God has been a passionate affair. As a young woman, she desired only to devote herself to religion. As a middle-school student at her father's pesantren, she dreamed of leaving the school to live alone in a rented room where she could spend more time in solitary praise of God. Nong found her inspiration in Rabi'ah al-Adawiyah, an 8th century woman Sufi from the area that is now Iraq, who was well-known for her concept of divine love. "Rabi'ah didn't marry, she spent all her time performing wirid," says Nong, referring to the practice of reciting the Qur'an to praise God, usually done after completing the five daily prayers or h.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong lost interest in school, preferring to spend her time reciting the Qur'an and praying. One night in the middle of her devotions, she got up and left her room. She walked alone through the dark streets until she arrived at the small prayer room (musholla) at the bus terminal. She prayed there alone until dawn. That incident led her teacher to reprimand her, warning that a bus terminal was a dangerous place for a young woman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This was not Nong's first scolding. She had grown up in a very strict religious environment under her paternal grandmother, since her parents were busy running the religious school. Nong's grandmother believed in a literal adherence to Islamic scripture. It was she who made sure that Nong wore a jilbab, the scarf worn by many of Indonesia's Muslim women to cover the hair, neck and chest. Nong remembers her grandmother warning her, "If you don't wear a jilbab and cover your hair, when you die your hair will burn in the fires of hell." Once she watched her grandmother yank the hair of her older sister, which had been fashionably curled and styled in a ponytail. "Hey, you're going to hell! You'll be burned up!" her grandmother shouted, pulling on her granddaughter's offending coiffure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was not until Nong entered university at the Syarif Hidayatullah State Academy for Islamic Sciences (IAIN) in Jakarta that she was introduced to interpretations of Islam that challenged her grand`mother's thinking. Exposed to a new world of books and Qur'anic interpretations, she came across the works of Fatima Mernissi, a Moroccan Muslim feminist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fatima says that the jilbab exists for the political self-interests of men," Nong says. "I became convinced that the command to wear the veil was very political. I saw the revelation of the Qur'anic verse about the veil to have been meant not as a requirement but as an appeal. It was revealed during the time of the Prophet Muhammad, when people harassed Muslim women as a way of attacking the Prophet. But now there is no difference if I wear jilbab or not. It's a warning. The Prophet saw the clothing traditions of the Quraishi women at the time, and he said, 'pull your coverings over your chests.' There was no command to cover your hair. I wear modest clothes that don't attract people's attention-that's my jilbab."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On campus, Nong began to participate in discussions with her new friends, and she felt that her previous understanding of Islam had been backward. "All that I experienced in the pesantren made me restless at university. It seemed that what I had understood to be true wasn't right. How, I asked myself, could I have accepted those kinds of teachings? I felt really out of it."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like Nong, Ulil Abshar-Abdalla was raised in an orthodox Islamic tradition. His father was the head of a pesantren in Pati, Central Java, and believed that formal schooling was syakkun fil Rab, a symptom of doubt in God. Ulil's father was distressed to see his son reading books written in Latin letters rather than the holy texts written in Arabic. For Ulil's father, true knowledge was contained in these Arabic texts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ulil was drawn to read widely, despite his father's warning that such books would lead him astray. By the time he was of middle-school age, Ulil had read h (Upheaval in Islamic Thinking), the journal of Ahmad Wahib, a young Indonesian Islamic intellectual writing in the 1970s and who died at a young age. Wahib introduced Ulil to the notion of freedom of thought, not yet a popular concept among Indonesian Islamic thinkers. In the introduction to his journal, Wahib wrote, "I believe in God, but God is not a land forbidden to thought. God exists not in order for his existence to be un-thought. God takes shape not in order to hide from the light of critique." Wahib believed that God was living, fresh and flexible: "He does not want to be fixed in place."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahib's writings fuelled Ulil's search for new thought. Ulil also found a teacher to offer him encouragement. He says, "Kyai Sahal [Mahfudz] introduced me not only to modern Arab thinkers but also to the thought of Cak Nur [Nurcholish Madjid, a progressive Indonesian Muslim thinker] and Gus Dur [Abdurrahman Wahid, a leader of Nahdlatul Ulama, the largest Muslim organization in Southeast Asia and former president of Indonesia]. It gave me a sense of pride in Islamic thought. He also introduced me to Western philosophy. Many kinds of books were available in his school library back then." (Sahal Mahfudz is now the head of the Majelis Ulama Indonesia, an organization of Indonesian Islamic intellectuals.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Books, however, were not enough to give Ulil a clear path. He also sought a social environment that could provide an answer to his restless questioning. "I entered the fundamentalist milieu and became a member of their religious community. For two years I was one of them."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fundamentalist outlook inspired Ulil to even greater devotion. Previously he had followed Islam simply as a social tradition; now he grew to see Islam as not just a set of religious rules but as a compass to guide society and state. He remembers thinking at the time, "This is amazing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Ulil's perspective changed again after listening to a lecture by a young Islamic intellectual, Imanuddin Abdurrahim, at the Salman Mosque in Bandung. "[Imanuddin] had once been jailed by Suharto's New Order government. I listened to him speak and I read his books, and it was very inspiring. His background was in physics and he had a very logical way of thinking. He said that the law of God is natural law, having an objective quality, and that it does not discriminate between one group or another."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imanuddin gave an example that stuck in Ulil's mind. "There are two buildings, one a mosque and the other an office," Ulil recounts. "The office installs a lightning rod, but the mosque does not. When a storm comes, the mosque will be hit by lightning, even though it is a place for the worship of God. Because it does not follow the [natural] law of God, it will face the consequences. This means that if Muslims want to progress, they cannot depend only on religious texts that were produced in a certain social and historical context, as if they were God's law, without considering how social laws have developed. Social law is not static. The mistake of the fundamentalists is to see it as static."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil came to see fundamentalism as archaic. He became more deeply convinced of this in the midst of political shifts following the fall of Suharto in 1998. Radical Islamic movements, such as the Islamic Defenders' Front (FPI) and Laskar Jihad, injected religious emotion into political conflicts that had been brewing across the nation during Suharto's thirty-three-year regime-often they advocated violence as a moral response. In areas such as Ambon and Poso in eastern Indonesia, the issues at stake became colored as an inter-religious war. In Javanese cities, vigilante squads of the FPI attacked cafés and discotheques, claiming that they were protecting the public from sin. There were raids and "sweepings" in boarding houses in Central Java, enforcing curfews in the name of preventing immoral acts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This fundamentalism comes from a sense of desperation, a feeling of disappointment," says Ulil. "They're disappointed because Muslims once knew a golden age and now they feel degraded. They are experiencing political fragmentation, they are being left behind in science and economics. Looking at American policy in Palestine, they become spectators of injustice. 'Has God left us out?' That's their fundamental question. They feel belittled. Fundamentalism gives them a sense of pride. The real challenge, though, is regain their pride by confronting the roots of the backwardness in certain fields, not to withdraw into a conservative group."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong interjects, "Fundamentalist Muslims are unproductive, exclusive and they don't follow the developments of the times. As Ulil says, religion is a living organism that makes us feel enthusiasm. If we feel enthusiasm, then what Nietzsche said, 'religion is already dead,' that couldn't possibly happen."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid Basyaib adds, "These days people just react to situations, which at the level of discourse are dominated by aggressive Islam or uneducated Islam," adds Hamid Basyaib. "These movements aren't terrifying, but they do promote rigidity, backwardness and literalist thinking."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1999, Ulil, who graduated from the Institute for Islamic and Arabic Knowledge in Jakarta, met with a number of friends, including Goenawan Mohamad, Luthfi Assyaukanie, Ihsan Ali Fawzi, Nong Darol Mahmada, Ahmad Sahal and Hamid Basyaib, all of whom shared many of Ulil's views and his determination to address Indonesia's growing fundamentalism. Ulil says, "We've seen radical Islam grow militant, systematic and organized, while liberal Islam has been unorganized, weak-seeming, not militant, not resistant and unassertive in giving voice to its perspectives. The Liberal Islamic Network was in fact motivated by the appearance of these radical Islamic movements."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's January 4, 2001 in Jakarta, and a meeting is underway in a wood-floored study with dark blue walls, the office of Goenawan Mohamad, a columnist for the Indonesian newsmagazine Tempo and one of the founders of the Jakarta-based Institute for the Study of the Flow of Information (ISAI). The space is furnished simply with a table and six black-varnished wooden chairs, and a long wooden bench covered in red pillows. The walls are decorated with paintings and posters from European art exhibitions. An easel stands near the door, holding drafting paper covered with pen strokes. The seven people in the room have been engaged in serious discussion for hours.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan picks up a phone and calls Dahlan Iskan, the Chief Editor of the Jawa Pos newspaper, to ask him for some space to publish liberal Islamic thought. They have already agreed to appoint Nong Darol Mahmada to work on a funding proposal, while Luthfi Assyaukanie will be in charge of planning and managing a mailing list for discussing liberal Islam on the Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The Liberal Islamic Network was born in that meeting," says Nong. "All we want is to provide a choice for interpreting Islamic teachings."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A lot of people don't realize that reading the Qur'an cannot be value-free," Ulil adds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"In other words, the Qur'an can be read from different perspectives or angles. Each angle has its own validity. Even though each of these angles is valid, that doesn't negate the possibility of mutual critique. Without mutual critique, there's no possibility of us learning from each other."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These days, Islamic liberal thinkers take inspiration from many sources, including the work of Charles Kurzman, whose book Liberal Islam: A Sourcebook differentiates between those Islamic revival movements which reject modernity and claim to be searching for the pure Islam practiced in the time of the Prophet Muhammad, and liberal Islam, which supports a division between state and religion in its search for a route to modernity. Ulil explains, however, that even within the liberal Islamic community there are varying opinions about secularism. Some argue that an attempt to separate politics and religion is impossible in today's world, or even that it is an old-fashioned notion belonging to another era when secularism seemed much simpler. In today's modern society, religion carries with it a cultural identity, and despite attempts to marginalize it, it returns in much more complex forms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This makes it difficult to find the point at which liberal Islam diverges from literal Islam-that's our term for the fundamentalist movements. On some matters our positions meet-about pornography, for example, because pornography does damage ideals about the family, and our religion places a great emphasis on the family. Just like the Christian conservative George Bush, their rhetoric is filled with references to family values," Ulil says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, as Kurzman explains, a respect for the rights of women and non-Muslims, freedom of thought, anti-theocracy and support for democracy provide liberal Islam with a wide space in which to move.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia's Liberal Islamic Network spreads their viewpoints not only by publishing newspaper articles and hosting mailing list debates, but also by sponsoring radio talk shows and Friday bulletins, and they have plans to launch their own magazine. Funds for their operations come from The Asia Foundation and The Freedom Institute, a nonprofit organization headed by the Indonesian pro-democracy figure Rizal Mallarangeng. The Liberal Islamic Network has found that of all these channels for publicizing their thought, it is syndicated media that has been the most effective to date.&lt;br /&gt;Ulil says, "People's reactions to the articles we published in the Jawa Pos were amazing. I didn't realize it until I visited local communities, especially in East Java and Eastern Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not everyone, however, has had a positive reaction to the Liberal Islamic Network. The most heated response came after Ulil published an article in the Kompas newspaper entitled "Freshening Up Islamic Understanding" (Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam)on November 18, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At seven o'clock in the evening, several weeks after the article appeared and two days before the Muslim holiday of Idul Fitri, Nong received a call on her cell phone from Hamid Basyaib. Hamid was in Jakarta, but Nong had already returned to her parents' home for the holidays.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nong, Ulil has had a death fatwa issued against him. Look at Detikcom [a news website]. I've been trying to call Ulil but I can't get through. His cell phone isn't ringing. Ulil has to hear this. You let him know, okay, Nong? Try to call him."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Okay, I'll contact him later," Nong replied easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After talking to Hamid, Nong opened her laptop and logged onto the Detikcom website. Sure enough, she found a news item saying that a group of religious scholars called the Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) in Bandung, West Java had issued a fatwa calling for Ulil's death. Trying not to panic, Nong interrupted her father, who was busy watching television. "Father, a death fatwa has been issued against Ulil. Did you have anything to do with it?" Nong's father replied that he had known about the plans for the group of religious scholars to meet, but that he didn't know anything about a fatwa concerning Ulil. Her father assured her that the fatwa wasn't really serious.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile, Ulil was in a car driving through Central Java on the road home for the holidays with his wife and child when his cell phone rang with a message: "What about those religious teachers in Bandung? How should it be followed up in Bandung?" Ulil did not understand the message.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What I imagined at the time was that it wouldn't be the FUUI who would execute Ulil, but that it would be taken up by radicals on the street and they would kill him," Nong remembers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil stood accused of insulting the Muslim community and spreading enmity and hatred through society by way of his writings. But Athian Ali Muhamad Dai, head of the FUUI, denied that his organization had issued such a fatwa against Ulil. "We never issued a death fatwa especially about Ulil in our press release. We only called upon the state apparatus to dissolve that network, then we noted that whoever insulted Islam could reasonably expect the death penalty." Athian stated that he had already turned over Ulil's case to the police, complaining that what Ulil wrote in his article was an evil act against religion. Athian says he had reported Ulil to the police based on complaints from the Muslim community in Bandung. "Around 700 people complained. We distributed a questionnaire for this purpose-this was also what the police wanted, proof of how much influence this act had on society. Some people who were so fed up that they wanted to see Ulil hang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For his own part, Athian considered Ulil's thinking dangerous for, he argued, it positioned the human mind above God. "It's a perfect example of insulting Islam," he said. "Ulil dares to say there is no law of God, there is only the law of man. He calls the Islamic punishment of stoning to death and other matters things that 'not meaningful'." Athian claimed that he would not forbid Ulil from having an alternative interpretation of Islam as long as he did not spread his ideas by writing in the mass media. "If Ulil wants to scream and shout in his room or with his own group, that's not a problem. If Ulil wants to say he has no religion at all, that's not a problem. But don't say those things while claiming to be a Muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzan Al-Ashari from the Majelis Mujahidin Indonesia-a fundamentalist organization that counts among its members Abu Bakar Baasyir, the man accused of complicity in several terrorist bomb blasts in Indonesia-said that he disagreed with the plan to issue a fatwa against Ulil. "I heard about that," he said, "but the fatwa doesn't exist. It's just a speculative thing." Fauzan said he was, however, among those who supported the FUUI in its attempts to have the police investigate Ulil. He suggested that the way out of the debate was to muhabalah-to leave the decision in God's hands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"For example," explained Fauzan over the telephone, "we ask for a sign from Allah within three days, that one of us should be struck by lightning and that's how we'll know which of us is wrong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai Tempo, an open-air Jakarta cafe, feels relaxed this March 24th afternoon. It is near the Jaringan Islam Liberal offices, and Nong and her friends like to meet here, drinking coffee or bottled tea, enjoying the breeze that wafts in from the open sides of the café. But Nong Darol Mahmada's cell phone rings often and she looks tired. She's organizing a campaign against the U.S. war on Iraq, a campaign involving the Liberal Islamic Network and a number of well-known Indonesian performers, including Iwan Fals, Franky Sahilatua and Trie Utami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"When the Bali bombings occurred," Nong says, "I thought the fundamentalist groups would fade, because people would see that they were wrong. But now the Iraq war becomes a new justification for the fundamentalist attitude toward America or the West. Everything we've been working for-democracy, freedom of thought-all seems in vain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She turns to Ulil. "What are we going to do now?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, you know, we'll just continue with our agenda," he answers, already on his feet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Linda Christanty is a journalist and writer. &lt;br /&gt;Reference : Latitudes, July 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7092204963160779155?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7092204963160779155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/is-there-rainbow-in-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7092204963160779155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7092204963160779155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/is-there-rainbow-in-islam.html' title='Is There a Rainbow in Islam?'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYcJgAOn5I/AAAAAAAAADc/mWzd9OUDclU/s72-c/DSC01235.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-2781669779923478864</id><published>2007-03-24T21:07:00.000-07:00</published><updated>2007-03-25T09:39:59.080-07:00</updated><title type='text'>Syahidah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYGMgAOnzI/AAAAAAAAACs/0gaJYFSmdAE/s1600-h/IMG_0050.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYGMgAOnzI/AAAAAAAAACs/0gaJYFSmdAE/s200/IMG_0050.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045727244334309170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 27 Januari 2002. Seorang perempuan yang mengenakan mantel modern bergaya barat, selendang di leher dan dagu, bermata cokelat bagai kulit rusa, berambut ikal panjang, dilengkapi make up yang sempurna, tersenyum hangat dan riang ketika memasuki pusat perbelanjaan di Yerusalem. Ia mendatangi toko sepatu dan pakaian seraya melihat-lihat seperti layaknya pengunjung lain. Tak seorang pun mengira kalau di tas punggungnya terdapat sepuluh kilogram bahan peledak yang dibubuhi banyak paku. Sebuah bom yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia gugup dan bergegas menuju pintu toko, berhenti, lalu memasukkan tangannya ke ransel untuk mengambil bedak dan lipstik. Ketika berusaha menahan pintu dengan satu kaki agar pintu itu tetap terbuka sambil memegang cermin untuk merapikan make up-nya, tasnya tersangkut. Ia berusaha memutar posisi untuk melepas tas, namun tas itu langsung meledak. Bum! Perempuan itu langsung tewas beserta satu orang Israel yang sudah tua serta ratusan orang yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu bernama Wafa Idris. Dia menjadi pelaku bom bunuh diri perempuan pertama dalam Islam. Di pagi hari sebelum bom meledak, almarhum Yasser Arafat, pemimpin Palestina saat itu, berpidato mengobarkan semangat kesyahidan kepada lebih dari seribu perempuan Palestina, “Kalian adalah Pasukan Mawarku yang akan menghancurkan tank-tank Israel.” Kalimat itu langsung direspons Wafa di sore harinya. Ia menjadi syahidah pertama, Pasukan Mawar Arafat. Peran yang mungkin luhur dan mulia. Kisah ini diceritakan dengan detail oleh Barbara Victor dalam bukunya Army of Roses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, peran perempuan Palestina berubah. Mereka tak lagi menjadi ibu yang terpaksa melepas putranya ditawan, isteri yang merelakan suaminya raib, saudari yang menyaksikan saudaranya tewas diterjang peluru atau meledakkan diri. Mereka mulai memilih opsi meledakkan diri dan mengambil posisi setara dengan lelaki yang selama ini melakukan peran itu. Mereka konon akan mendapat imbalan yang sama: kemuliaan hidup di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perempuan seperti Wafa yang miskin dan dicerai suami karena tak bisa punya anak—alasan yang cukup untuk membuat perempuan merasa tidak berharga—kesetaraan dan imbalan surga adalah inti dari harapan yang benar-benar memikat. Bom bunuh diri menjadi jalan satu-satunya untuk menjadi perempuan sempurna (al-mar’ah al-kamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesetaraan untuk Wafa benar-benar pantas diragukan. Seperti ditulis Barbara, di tempat dimana pemahaman Islam masih sangat konservatif, tak sepenuhnya laki-laki dapat menerima perempuan sebagai sesama, atau menghormati mereka sebagai prajurit yang berkedudukan setara dengan mereka. Hubungan antara calon syahidah dan laki-laki yang merekrut, membujuk, serta melatihnya, sudah berbeda sejak awal hanya karena ia perempuan. Perempuan seperti Wafa mungkin hanya “dimanfaatkan” untuk menjadi martir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan imbalan surga. Tak ada imajinasi tentang surga buat perempuan. Selama ini, tata kehidupan surgawi digambarkan dengan sangat maskulin. Tak heran bila laki-laki yang memilih bom bunuh diri sangat mendambakan kehidupan di sana. Mereka meyakini, ketika jasad lepas dari raga, empat puluh bidadari akan menyambut dan mereka akan tinggal di sana selamanya dengan pelayanan bidadari-bidadari itu. Kita tak tahu, bagaimana nuansa surga tatkala menerima jasad syahidah. Akankah ia disambut empat puluh bidadara (istilah nenek saya ketika menyebut bidadari laki-laki)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghormati Wafa karena keberaniannya memilih cara mati seperti itu. Mungkin juga itu sesuai dengan kondisi negerinya. Namun pilihan Wafa itu hendaknya tidak menginspirasi perempuan-perempuan lain untuk ikut serta. Pilihan medang juang untuk setara, tentu banyak jalannya. Begitu juga dengan cara berjihad. Ada banyak pintu menuju surga, kata Cak Nur. Kita pun tak pernah tahu, seperti apa surga buat kaum perempuan. Jadi, sudah selayaknya kita membuat surga di dunia. []&lt;br /&gt;^ Kembali ke atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: &lt;a href="http://islamlib.com/id"&gt;http://islamlib.com/id&lt;/a&gt;, 19/03/2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-2781669779923478864?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/2781669779923478864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/syahidah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2781669779923478864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/2781669779923478864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/syahidah.html' title='Syahidah'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYGMgAOnzI/AAAAAAAAACs/0gaJYFSmdAE/s72-c/IMG_0050.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-568185440211588891</id><published>2007-03-24T21:04:00.000-07:00</published><updated>2007-03-25T09:23:06.536-07:00</updated><title type='text'>Moderate Indonesian Muslim Rejection of the US Attack on Iraq</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYD0wAOnyI/AAAAAAAAACk/rwEmFZI1L3U/s1600-h/syahidah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYD0wAOnyI/AAAAAAAAACk/rwEmFZI1L3U/s200/syahidah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045724637289160482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;In this essay, I reflect on how moderate Muslims in Indonesia came to terms, in late 2002, with George W. Bush’s zealous preparations to attack Iraq. The topic is quite important, as Indonesia is well known to have the world’s largest Muslim population, and the majority of Indonesia’s Muslims are moderate and tolerant in their religious views. At the time, there were “pro” and “contra” views of the planned attack. The fundamentalist camp saw it as ammunition – proof that the United States of America was indeed the Great Satan. The fundamentalists could not differentiate between U.S. citizenship and U.S. government policy. Consequently, they pursued U.S. citizens on the streets in what are known locally as “sweepings,” although no major or violent incident ensued.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile, the moderate Muslim camp saw the U.S. plan as having the potential to destroy the image and future of Islam, which it had worked extremely hard to develop as part of a mature civil society. For some time, Muslim organizations like Nahdhatul Ulama (NU, the nation’s largest), Muhamadiyah (the second largest), and my own Liberal Islam Network (Jaringan Islam Liberal, JIL) have launched numerous and various activities to create an Islamic community that is tolerant, moderate, pluralist, and emancipative. These are activities that have received American support through USAID. In bringing the danger posed by U.S. war plans to the attention of the Indonesian public, Muhamadiyah leader Dr. Syafi’I Maarif carefully focused his harsh criticism on Bush administration policy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In early October 2002, in my capacity as JIL representative, I contacted friends representing “moderate” Islamic organizations. These included elements from the NU – Lakpesdam, Muslimat, Fatayat, and others; from Muhammadiyah – Pemuda Muhamadiyah (its youth wing), Mahasiswa Muhamadiyah (students), Aisyiyah (women), and others; and campus-based groups such as those from the State Islamic University (Universitas Islam Negeri) and Paramadina Mulya Universitas in Jakarta. I felt the need to survey their attitudes towards the planned attack on Iraq, and to my surprise, they all expressed the same opinion, rejecting this U.S. policy. JIL itself, long before these inquiries were made, had condemned and rejected the planned attack through interviews on our weekly radio talk shows and articles published on our website and syndicated media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, JIL’s serious objections conveyed through media were deemed insufficient. A more tangible action was needed so that all parties would see this condemnation in concrete form. We finally decided upon October 8 as the date to express our objections through a mass demonstration at the U.S. Embassy in Jakarta. At that time, not one organization or institution had demonstrated at the Embassy against the planned attack. If we may so claim, “moderate” Islamic organizations pioneered these demonstrations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many were were surprised, never expecting such an action plan from us. The U.S. Embassy called me the day before the action. There was concern that the planned demonstration would provide justification for violent acts by fundamentalist groups that had long despised the United States. I replied that the demonstration would prove positive for the moderate Muslim community, because the insane U.S. plan had to be rejected outright, and that this matter had no connection whatsoever to the actions of fundamentalist groups. Indeed, if the moderate Muslim camp remained quiet and did not react to the planned attack, its lack of action would boomerang and set a bad precedent in the ongoing development of Islam in Indonesia. Further, our demonstration aimed to underline to fundamentalist groups that the planned attack was the policy of the Bush administration, which should not be equated with the American people, most of whom rejected this policy of their own government. We chose to see the planned attack on Iraq in terms of humanitarian concerns, as such an attack would represent a threat to world peace and cause unnecessary civilian deaths.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fundamentalist groups were also surprised about our planned demonstration. They primarily believed that no such action could issue from and be coordinated by JIL. Their reason: JIL and its like-minded friends were considered very pro-American because we agree with and campaign for what they call the “western ideas” of tolerance, pluralism, and democracy; and furthermore the U.S. government had funded some of our activities. Naturally, we viewed this as a feeble argument. Just because JIL, the NU, and Muhamadiyah had received funds from the United States did not mean we could shut our eyes to the arbitrary policy of its government. What we rejected and despised was the policy of the Bush administration to attack Iraq, not Americans per se. Accordingly, we condemned the “sweeping” actions launched against U.S. citizens by fundamentalist organizations at the time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Basis of our Rejection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For us, all the statements and official documents issued by the U.S. government about the planned attack on Iraq were illogical and full of contradictions, displayed a pervasive hatred and a lust for war, and failed to make any connection to the September 11 tragedy, “Al Qaida,” or even the “war on terror.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moreover, the plan contravened the United Nations Charter, whose Preamble pledges nations to “save succeeding generations from the scourge of war” and which was established to “take effective collective measures for the prevention and removal of threats to the peace” (Article 1 section 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We believe that the reasons put forth in the official document outlining the “preemptive attack” (the “Bush Doctrine”) violate international law. The UN Charter prohibits unilateral cross-border military actions without the justification of self defense, yet there was not a single reason for the U.S. government to need to defend itself against Iraq. UN Security Council Resolution 678 also prohibits any country from invading another without that body’s consent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, this attack would be undertaken after Iraq had endured more than ten years of economic sanctions that caused suffering to millions of Iraqi civilians, particularly women and children, because the sanctions had destroyed access to clean water. Such economic sanctions themselves stand in direct contradiction to the Additional Protocols to the Geneva Convention of 1977, which prohibits the use of economic blockades against civilians as a method of war. Economic sanctions are perhaps responsible for more deaths in Iraq than the murders committed throughout history with the use of what are known as weapons of mass destruction (John and Karl Muller, Foreign Affairs, May/June 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Weakness of Bush’s Position&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The reason the U.S. government gave for the attack was that the Iraqi regime was developing weapons of mass destruction – chemical, biological, and nuclear weapons – that threatened international security. This reason was proffered repeatedly, although, in fact, these weapons were in evidence only in the past, during the Iran-Iraq war, when their development received the full support of the United States government itself in the form of raw materials, storage facilities, and technical expertise. These facts have been underlined by agencies of the United Nations, international NGOs, and even sources within the U.S. Congress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now the so-called weapons of mass destruction claimed to be in Iraq’s possession have failed to surface. Indeed, even if Iraq had possessed such weapons, the United States would have had no right to attack, just as Iraq has no right to attack the U.S., despite the latter’s possession of weapons of mass destruction in far larger number and scale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In our view, this war was perpetrated for no other reason than to fulfill American hegemonic and imperialistic ambitions, and this is clearly indicated by the “Bush Doctrine.” The war was waged to make all other nations vassals to the American Empire, parties to an eventual Pax Americana. Considered from the perspective of “threat,” it is the U.S. ambition to become a global empire that represents the true “clear and present danger” to peace, welfare, and humanity on earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With our demonstration, we took the following stance:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.        We opposed the planned devastation of the Iraqi state and people – we opposed it in the highest and most steadfast terms. This in no way implies that we supported the dictatorship of then-president Saddam Hussein in all its manifestations, which had for almost a quarter century caused great suffering to the vast majority of Iraq’s people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.        We appealed to U.S. and world leaders to heed a very clear lesson from history – that war leads only to disaster and misery; that it would serve no purpose but to increase suffering in the world in this time of heightening tension. War causes deep wounds in our civilization because it not only causes suffering for the victims, but also betrays the spirituality and humanity of the perpetrators.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am convinced that war, in the sense of one country attacking another, will surely never produce a clear winner and that the combatants will reap only failure – failure as human beings and the failure of cultural backwardness. War is not the way to ring in the twenty-first century. After the experience of the previous twenty, this century should be devoted to perfecting the humanity of all people; it should bring us greater consciousness that we are all bound together in one great humanity; and it should demonstrate the logic of cooperation, not confrontation, between the inhabitants of our earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Such are my reflections, subjective though they may be, on the U.S. attack on Iraq. As one member of one organization working toward a better future for the millions of Indonesia’s Muslims, I hope to see no further attacks by one country on another in the name of world peace or the democratization of the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reference: &lt;a href="http://kyotoreview.cseas.kyoto-u.ac.jp"&gt;http://kyotoreview.cseas.kyoto-u.ac.jp&lt;/a&gt;, March 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-568185440211588891?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/568185440211588891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/moderate-indonesian-muslim-rejection-of.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/568185440211588891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/568185440211588891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/moderate-indonesian-muslim-rejection-of.html' title='Moderate Indonesian Muslim Rejection of the US Attack on Iraq'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgYD0wAOnyI/AAAAAAAAACk/rwEmFZI1L3U/s72-c/syahidah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-7565213665856442799</id><published>2007-03-24T20:54:00.000-07:00</published><updated>2007-03-25T09:17:50.741-07:00</updated><title type='text'>Perempuan dan Kue Donat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgX0GAAOnvI/AAAAAAAAACM/vOnQiOA5PXY/s1600-h/jco.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgX0GAAOnvI/AAAAAAAAACM/vOnQiOA5PXY/s200/jco.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045707341455859442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah televisi swasta ketika sedang sahur, saya mendengar Ustadz Jefri al-Buchori, da’i yang sekarang naik daun, sedang memberi petuah-petuah keagamaan. Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli. Menurut teman-teman saya, Ustad Uje, begitu panggilan akrabnya, kerap sekali menyinggung soal ini di setiap ceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perempuan, tentu saya terusik dengan perumpamaan seperti itu. Bagaimana mungkin perempuan disamakan, meski sekadar umpama, dengan kue donat. Itu namanya kiyas dengan sesuatu yang salah (qiyâs maal fâriq) dalam ilmu logika atau mantiq. Perempuan dan kue donat sudah jelas berbeda. Kue donat hanyalah sekedar barang mati, yang diracik manusia, kemudian dibeli dan dimakan. Sementara perempuan adalah manusia yang mempunyai akal budi. Bahkan menurut Ibn ’Arabi, seorang sufi yang filsuf, perempuan merupakan manifestasi Tuhan yang paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu diketahui, kue donat paling enak dan mahal, yang sekarang lagi trend pun—sampai-sampai orang harus bersabar ngantri untuk membeli—sama sekali tak berbungkus plastik. Jadi, alih-alih ingin memromosikan keunggulan perempuan yang berjilbab, dia malah keliru mengambil perumpamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sebuah acara talkshow di televisi yang sama tentang perda syariat beberapa bulan lalu, saya juga mendapatkan penjelasan yang menggelikan dari seorang walikota yang rajin mengeluarkan perda tentang pewajiban jilbab di daerahnya. Menurutnya, paling tidak ada tiga alasan pewajiban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, karena daerah itu bersuhu dingin. Dengan jilbab, perempuan-perempuan di sana tak lagi kedinginan dan masuk angin. Kedua, sejak diturunkanya perda jilbab, menurutnya, tidak terdengar lagi kasus penjambretan. Perempuan-perempuan pun tidak perlu lagi memakai perhiasan. Ketiga, pelajar putri yang selama ini tak mampu memiliki perhiasan, tidak perlu malu lagi masuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, baik perumpamaan yang dibuat Ustad Uje maupun alasan walikota di atas, amatlah dibuat-buat. Alasan yang dibut-buat tentang baiknya pemakaian jilbab itu kini menjadi trend di kalangan kita, bahkan harus diatur dalam peraturan daerah. Saya bukannya anti terhadap jilbab, tapi saya anti terhadap pemaksaan pemakaian jilbab. Karena secara hukum syar’i, mengutip guru saya, M. Quraish Shihab, masih ikhtilaf (ragam pendapat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita kembali ke sejarah tentang anjuran pemakaian jilbab dalam Islam, konteksnya sangat terang benderang. Jilbab berasal dari kata jalaba, yang artinya menghimpun dan membawa. Pada era Nabi, yang dimaksud jilbab adalah pakaian yang besar dan longgar, menutupi seluruh tubuh dari kepala hingga kaki. Dan pada masa itu, tak hanya perempuan yang memakai pakaian itu tapi juga laki-laki. Sampai sekarang kita masih melihat hal seperti itu di tanah-tanah Arab. Pakaian seperti ini berfungsi sebagai pelindung dari panas dan debu yang pekat di padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat al-Ahzab ayat 59, anjuran jilbab juga sangat berkait-erat dengan ”alasan rasionalnya” (al-’illah)—bukan alasan buatan seperti walikota di atas. Alasan pertama, ”supaya mereka mudah dikenal” (dzâlika adnâ an yu’rafna) dan kedua, ”agar mereka tidak diganggu” (fa lâ yu’dzayna). Dahulu, jilbab juga berfungsi untuk menandai perempuan merdeka dan budak. Perempuan budak memang bisa diperlakukan sewenang-wenang sesuai kehendak yang punyanya. Namun untuk konteks sekarang, situasi itu sudah tak relevan lagi. Bahkan dalam Islam, sistem perbudakan sudah dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan untuk menghindari pelecehan terhadap perempuan, saya rasa bukan dengan membungkus perempuan rapat-rapat seperti kue donat yang dibungkus plastik, tapi dengan cara yang lebih manusiawi dengan memberdayakan akal budi. []&lt;br /&gt;^ Kembali ke atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: &lt;a href="http://islamlib.com/id"&gt;http://islamlib.com/id&lt;/a&gt;, 16/10/2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3167590035480492970-7565213665856442799?l=nongmahmada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nongmahmada.blogspot.com/feeds/7565213665856442799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/perempuan-dan-kue-donat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7565213665856442799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3167590035480492970/posts/default/7565213665856442799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nongmahmada.blogspot.com/2007/03/perempuan-dan-kue-donat.html' title='Perempuan dan Kue Donat'/><author><name>nong darol mahmada</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14799214221858608604</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RfbLs3yvEJI/AAAAAAAAAA4/IPmkC5OY9jo/s320/nongandah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgX0GAAOnvI/AAAAAAAAACM/vOnQiOA5PXY/s72-c/jco.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3167590035480492970.post-1136230535124821985</id><published>2007-03-24T20:50:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T03:09:25.330-07:00</updated><title type='text'>A Critic upon Jilbab</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgXyUwAOnuI/AAAAAAAAACE/PZc8VLa0ZVw/s1600-h/bk_kritik_jilbab.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_O6p0Oc3MO2o/RgXyUwAOnuI/AAAAAAAAACE/PZc8VLa0ZVw/s200/bk_kritik_jilbab.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5045705395835674338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;What is Liberal Islam Network’s (JIL) interest in publishing a book on hijâb (recognized as jilbab in Indonesia)? Actually this question is a personal one because the answer must necessarily be subjective. I’m very conscious of the fact that my thoughts on this issue are derived from my personal experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember that when I was a child my grandmother was very strict about wearing a veil though then it was merely a piece of cloth for covering the head. She was a pious Muslim up to her death (âllâhummâghfirlâhâ). To her, the hair of an adult (baligh) woman should not be exposed since it is aurat (part of the body which may not be visible). If anyone breaks this rule, her hair would be burnt in hell. Surely, the idea of burning in hell haunts me and worse still as a statement coming from someone I adore. Hence, when I grew up and became an adult, I faithfully wore the veil due to the fear of the consequences for not wearing it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nevertheless, my decision to wear the veil did not stop my criticism and my search for the answer to the question of why it is that a woman’s head and hair happen to be aurat and thus have to be covered. Why is it that women are deemed aurat so that they must be covered while a man’s aurat is limited only from the knee up to his navel? That curiosity triggered me to study more about the veil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apparently, the matter is not as simple as I had been led to believe. It is not merely about definitions of aurat and burning in hell. It is far more complicated than that. For example, in every case of the implementation of Islamic sharia, the first step is to always make women wear veils. Similarly, for example, in several regions in our country, the first consequence of implementing Islamic sharia in the region would be the obligation upon women to wear veils. Thus the regulation of wearing the veil is singled out as it is the most physical evidence or indicator of the success of the implementation of Islamic sharia law. It is almost as if wearing the veil is synonymous with Islam itself. The question is this: Is it true that wearing the veil is an essential aspect of Islamic sharia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The answer is certainly lengthy and not a black or white one. Even though the veil is merely a part of a woman’s outfit, this concept has a long history. The word Jilbab is derived from the word jalaba meaning to gather and to carry. In the period of the prophet Muhammad SAW the Jilbab was an outfit covering the whole of an adult woman’s body. In contrast, the head covering outfit in Indonesia was initially recognized as a veil, but by the ‘eighties the word jilbab became more popular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilbab in the sense of being merely a head cover is acknowledged only in Indonesia. In several Muslim countries it is a full body cover. The jilbab-like costume known variously as the chador in Iran, the pardeh in India and Pakistan, the milayat in Libya, the abaya in Irak, the charshaf in Turki, and lastly, the hijâb in a number of Arab-African countries like Egypt, Sudan and Yemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually the concept of hijâb is not exclusive to Islam. For instance in the Old Testament, the Jews Holy Book, the hijâb was referred to as tif’eret. Similarly in the Bible, the Holy Book of the Christians, the terms of zammah, re’alah, zaif and mitpahat all refer to the veil. Even according to Eipstein, as quoted by Nasa-ruddin Umar in his article contained in Journal of Ulumul Quran, the concept of hijâb (in the sense of a head cover) predated the samawi (sky revealed) religions (Jew and Christian). According to Mr Nasar, this sort of wear became established in the Code of Bilalama (3.000 SM) and continued in the Code of Hammurabi (2.000 SM) and the Code of Asyiria (1.500 SM). The regulation of wearing the veil was practiced in several ancient cities like Mesopotamia, Babilonia, and Asyiria. (Kompas, 25/11/02)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The tradition of wearing the veil was an aspect of family law amongst the Assyrians. This law stipulated that wives, daughters and widows should wear the veil whenever they go out into public space. In analyzing this concept further, when Adam and Eve were evicted from the garden of Eden, covering their genitals was the first thing they had to do (aurat) (QS. Thaha/20: 121). In this regard, the Jewish literature mentions that the use of hijâb began with the original sin: the sin of eve tempting her husband, Adam, to eat the forbidden fruit. The consequence is that Eve and her clan (women) were cursed not only to wear the hijâb but also to menstruate and to be restricted by menstrual regulations. The difference between the concept of hijâb in the Jewish and Christian traditions and in Islam, is that hijâb has no relation at all with original sin or with menstruation. In the Islamic concept, hijâb and menstruation have their own contexts. The accentuation of the Hijâb is much more closely related to ethic and aesthetic issues.&lt;br /&gt;The hijâb institutionalization in Islam is based on two verses of Qur’an QS. Al-Ahzab/ 33: 59 dan QS. An-Nur/24: 31. These verses affirm the regulations in regard to dress for Muslim woman. In surah An-Nur, the word khumur is a plural form of khimar, meaning veil. While the word juyub is the plural form of jaib, means ash-shadru (chest). Hence the sentence and to draw their veils over their bosoms, is a reaction to the dressing traditions of the women of Arab Jahiliya. In the era of ignorance, the Jahiliya period, women used to go out in public with naked breasts and would reveal their necks in order to show off their adornments as illustrated by Al-Allamah Ibnu. For instance, Imam Zarkasyi wrote that in this period the women wore dresses that revealed their necks and chests as well as other parts of their bodies. They also drew their veils backwards while leaving the front parts wide open. Consequently, they were commanded to draw their veils forward in order to cover their chest.” Moreover, dress codes even incited the war between the unbelievers (kafir) of Mecca with the Muslims at the battle of Uhud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The tradition is political, discriminative and elitist-natured. Surah Al Ahzab contains the verse about hijâb revealed after the battle of Khandaq (5 Hijriyah), while surah An-Nur was revealed long after that. They are political because the verses are revealed in order to answer the attack by the munafik (unbelievers who pretend to be Muslims, hypocrites), in this case Abdullah bin Ubay and friends. This attack of munafik “used” the Muslim women by slandering the wives of prophet, especially Aisha. The event is known as al-ifk.* In that period, this event was so important so that it was affirmed in five separate verses: QS. An-Nur/23: 11-16. The problems this has created for Muslim women are incessant though the verses were intended to protect Muslim woman from acts of disrespect. Allah has decreed that the reason for wearing jilbab is so that women maybe recognized and not annoyed and so that the free can be distinguished from slaves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus the laws can be understood to be both elitist and discriminative, since this verse distinguishes between free and slave Muslim woman. Here the ambiguity of Islamic law regarding slavery can be observed. On the one hand Islam is opposed to slavery yet on the other hand, it still supports the distinction of dress for different classes. In my opinion, to avoid ambiguous interpretation, the interpretation should stress the ethical issue of the verse, and not be read merely as a code about the regulation of dress. There should be no difference between a free woman and a slave, good manners and modesty should apply equally to both.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Muslim world, many books have been written about hijâb which mention that it is a good Muslim woman’s clothing which separates woman and limits contact between women and men who are not family. The verses do not deliver explicit orders rather they provide expectations about woman’s modesty and the regulations applied to the prophet’s wives. Fatima Mernissi in Women in Islam, has written that in the beginning of Islam the Prophet did not set up a dichotomy between the his own private space and his wives’ with that of other Muslims’. QS. Al-Ahzab/33:53 affirms that there was originally no dichotomy between public and private space.&lt;br /&gt;Th
